Endless Winter

Endless Winter
Chapter 9 : Frozen Peak King


__ADS_3

"Bagaimana? Akan ku beri waktu untuk berpikir!Pilihlah dengan bijak!"


Setelah itu mengatakan itu, Akemi pergi meninggalkan guild petualang.


"Aku tetap tidak akan bergabung dengannya! Meskipun, yang dia katakan benar." Ucap Riyo yang menyilang tangannya dan membuang muka.


"Untuk sekarang, kita belum bisa membuktikan perkataannya barusan! Jadi, kita coba mulai mengambil misi pertama kita!"


Chika pergi menuju papan besar yang berisikan berbagai macam permintaan misi.


"Hei, bagaimana dengan misi ini? Hanya menelusuri reruntuhan menara tua, tetapi bayarannya cukup menggiurkan!" Saran dari Hinata.


"Apa kau bilang? Bayaran tinggi! Tunggu apalagi, ayo berangkat sekarang!" Ujar Riyo yang penuh semangat.


"Tunggu! Aku rasa misi ini cukup aneh. Bayarannya yang tidak masuk akal ini, mungkinkah cukup berbahaya untuk kita ambil?" Ucap Chika yang khawatir.


"Aaah... Kau ini selalu saja takut! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan! Kita hanya menelusuri saja dan kembali untuk mengambil bayaran. Sesimpel itu kan?" Riyo berusaha membujuk Chika.


"Benar yang dikatakan Riyo! Tidak perlu terlibat pertarungan. Jika memang dalam kondisi terdesak, aku akan menggunakan sihir teleportasi agar kita bisa kabur." Ucap Hinata dengan santainya.


"Ah...Hmmm.... Baiklah, kalau kalian memaksa!"


"Nah, bagus! Kita harus mempersiapkan diri dulu untuk keberangkatan besok!" Ucap Hinata yang memberikan daftar apa saja yang akan dibawa.


_______---------_______----------_______


Sementara itu, di Mirage Tower...


Aris dan Gravestone sedang memperhatikan sesuatu yang agak janggal.


"Hmmm... Apakah Maria sudah berubah? Sekarang dia mempunyai empat lengan yang tidak biasa." Pikir Aris yang memperhatikan sosok tinggi besar yang menyerupai Maria.


"Aku rasa dia cukup berbeda kalau dikatakan sebagai Maria." Ucap Gravestone.


Sosok itu berdiri dari singgasananya, lalu menatap keduanya.


"Ah sial... dia merasakan kehadiran kita! Apa yang harus kita lakukan?" Aris mulai panik.


"Jangan panik! Jangan buat gerakan secara tiba-tiba!"


Sosok itu mulai mengangkat Staff raksasa nya seperti ingin memusnahkan kedua orang malang itu.


Hawa es yang menimbulkan rasa takut yang berlebihan membuat mereka terus bergemetar.


"Ah... kau sudah kembali, Frostnox! Kenapa tidak memberitahuku sejak awal? Oh, kau ingin memberikan kejutan ya! Ya ampun, kau ini bisa bisa saja!"


Mereka terselamatkan berkat kedatangan Maria yang menyapa sosok tinggi itu. Kemudian, sosok itu menurunkan Staff raksasanya dan duduk kembali ke singgasananya Maria.


"Hei, itu singgasanaku! Apa? Kau ingin sekali duduk di situ? Boleh, kau bisa duduk selama kau mau!" Maria terlihat seperti berbicara sendiri.


Maria menengok dan baru menyadari kehadiran dua bawahannya.

__ADS_1


"Loh, Gravestone? Aris? Sejak kapan kalian kembali?" Tanya Maria yang heran.


"Si-Si- Siapa sosok tinggi besar itu?!" Teriak Aris ketakutan.


"Oh... dia? Dia adalah penjaga lantai yang menjaga menara ini." Jelas Maria.


Tiba-tiba, terdengar suara hentakan benda yang sangat keras sehingga mereka bertiga kaget bersamaan.


"Eh... Ah ya aku mengerti! Jadi dia adalah teman lamaku yang lama menghilang, yaitu Frostnox atau bisa dikenal dengan Frozen Peak King. Dia adalah penguasa daerah Frozen Peak yang tidak jauh dari hutan Sigor. Lalu, Sigor forest adalah daerah yang ku kuasai saat ini." Penjelasan dari Maria.


"..."


"Jadi, apa yang membuatmu kesini, oh wahai penguasa puncak beku? Apa? Oh... Jadi begitu ya. Ternyata Kelinci percobaan kita sudah mulai melakukan pergerakan ya."


Aris dan Gravestone terheran-heran, bagaimana ia bisa tahu maksud dari Frostnox.


"Bagaimana kamu bisa memahaminya? Dia tidak mengatakan sepatah katapun."


"Itu karena dia hanyalah sebuah boneka yang ku buat. Ah... iya... Hanya sebuah boneka... Hanya sebuah setumpukan kayu terukir. Niat hati mengerjai kalian, malah teringat kembali masa lalu yang suram." Nada suara Maria terlirih-lirih.


Kemudian, Frostnox berubah menjadi boneka yang terjatuh seperti benang yang terpotong.


Rasa amarah setelah mengetahui telah dikerjai, berubah menjadi rasa duka terhadap Boss mereka.


"Tidak apa-apa, Boss. Kami turut bersedih atas masa lalu mu!"


"Kalau boleh tahu, apa yang terjadi selama ini?" Tanya Gravestone.


Lalu, Maria meninggalkan ruang tahta. Sementara kedua orang itu kebingungan dan heran dengan yang mereka lihat.


"Boss kita penuh dengan teka-teki ya!" Ucap Aris yang tidak mengerti sama sekali.


"Ya, aku jadi penasaran apa yang dibalik topeng berlubang yang ia kenakan." Ucap Gravestone yang bertanya-tanya.


Gravestone tiba-tiba terpikirkan sesuatu...


"Mau melihat ruang lain di menara ini?" Tawar Gravestone.


"Boleh, ketika masuk kesini aku selalu dibawa ke ruang ini melulu." Aris dengan senang hati menerimanya.


"Mari! Kita akan menelusuri tempat suram ini!"


Gravestone langsung memegang tangannya Aris, kemudian dia mengeluarkan sebuah batu kristal bersinar kebiruan. Secara tidak langsung, mereka menghilang seperti berpindah ke tempat lain.


Tak lama kemudian, mereka muncul kembali di ruang gelap seperti lorong yang panjang.


"Dimana kita? Kenapa di sini gelap sekali? Dan apa yang terjadi tadi?" Aris yang kebingungan.


Gravestone tidak menjawab pertanyaan satu pun dari Aris. Kemudian, ia hanya menjentikkan jari secara tiba-tiba obor-obor yang berbaris dengan rapi mulai menyala satu per satu, sehingga menerangi seluruh ruangan.


"Wow... tempat apa ini? Keren sekali!" Ucap Aris yang kagum.

__ADS_1


"Tempat dimana semua artefak yang dimiliki Maria disimpan di ruangan rahasia ini."


Lorong itu dihiasi berbagai macam hiasan cantik dan eksotis. Bagian tepi terdapat 5 kapsul penyimpanan. Di kiri ada dua, lalu di sebelah kanan ada tiga.


"Di dalam sini, adalah replika boneka benang istimewa yang Maria buat. Cantik bukan?" Perjelas oleh Gravestone.


"Apakah mereka semua terlihat mirip teman-temannya Maria? Karena satu dari lima replika ini terlihat persis dengan yang sedang duduk di singgasana tadi."


"Ah... kemungkinan sih begitu, aku juga tidak tahu kalau mereka semua adalah teman lamanya Maria sejak dulu."


"Hmmm... jadi begitu ya. Lantas, bagaimana dengan gerbang raksasa di depan kita itu?" Tanya Aris yang penasaran.


"Oh itu? Gerbang itu adalah penghalang dari ruangan artefak penyimpanan yang aku maksud. Kita masuk saja!"


"Loh? Memangnya boleh? Baiklah kalau begitu."


Di dalam, mereka melihat banyak sekali berbagai macam artefak langka. Pandangan mereka tertuju ke sebuah artefak yang berbentuk bulu yang terbakar berwarna keunguan.


"Lihatlah benda ini! Bulu yang sangat indah!"


"Itu adalah artefak bentuk pulpen bulu yang terbuat dari bulu Phoenix kuno. Namun, Maria tidak memberitahuku apa fungsi dari artefak ini." Jelas Gravestone.


Kemudian, artefak selanjutnya adalah 'Smiles Cry Controller'.


"Artefak ini adalah topeng yang dibuat langsung oleh Maria sendiri, dimana pengguna bisa mengendalikan mencuci otak dan mengendalikan korban yang telah mengenakan 'Smiles Cry Victim'. Namun, topeng yang digunakan untuk korban telah hilang lama sekali!" Perjelas lagi oleh Gravestone.


Benda selanjutnya yang mereka lihat adalah 'Iron Slime'.


"Sesuai dengan namanya, ini juga termasuk makhluk hidup yang sangat suka menempel ke besi yang kuat."


Tiba-tiba, Slime itu melompat dan menempel ke Aris.


"Ahhhh... apa ini? Lepaskan aku dari benda ini! Menjijikkan sekali!" Ucap Aris yang meronta-ronta.


Sedangkan, Gravestone mencoba melepaskannya malah berujung sia sia.


"Hei... tunggu slime-nya masuk ke dalam tubuhmu! Lihat itu!"


"Eh... Eeeeeeh!!!! Apa dia berbahaya? Apakah ada efek sampingnya? Apa yang akan terjadi padaku? Cepat katakan, Warrance!" Aris yang panik sambil menarik-narik kerahnya Gravestone.


"Ahahaha... aku juga tidak tahu yang pasti. Tetapi, akan ku siapkan pemakaman mu untuk berjaga-jaga." Ucap Gravestone dengan senyuman pahitnya.


"Aaaahh... Jangan bercanda kau, Gravestone! Jangan buatku khawatir!" Aris yang semakin panik.


"Semoga tenang di sana ya, Aris!" Salam terakhir dari Gravestone sambil meninggalkan Aris sendirian.


"Eh...? Aaaaahhh! Sialan kau, Gravestone!" Teriak Aris yang ketakutan setengah mati.


-


-

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2