Endless Winter

Endless Winter
Chapter 6 : Labyrinth


__ADS_3

Dua hari yang lalu....


"Aku tahu ini bakal susah, tapi bisakah kalian pikirkan lagi?! Apa kalian ingin meninggalkan dia begitu saja?!!" Ucap Eryka yang memohon.


"Tetap saja, aku sebagai temannya... masih memikirkan dan mengkhawatirkan dia. Aku juga mencoba memberitahunya akan mara bahaya yang menimpa dirinya jika dia tidak berhenti." Ungkap Julian yang angkat bicara.


"...Jika demikian, apakah tetap kalian biarkan begitu saja?" Ucap Eryka dengan sangat lirih.


"..." Kali ini mereka tidak bisa menjawab satu pun.


"Dimana empati kalian?! Ada yang salah dengan diri kalian!" Eryka mulai memperlihatkan keseriusannya.


"...Maaf Eryka, kami sudah berusaha keras. Namun, dia sangat keras kepala dan tidak mendengarkan peringatan dari kami!" Sela Zeta.


"Oh begitu ya. Tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa kalian lagi. Semoga kita tidak melihatnya tinggal nama." Ucap Eryka yang meluapkan kekecewaan lalu pergi begitu saja.


"..."


____________------------___________-------------________


"Kamu yakin melakukan semua ini, Lex? Kita bisa meminta bantuan ataupun menunggu lainnya, seperti teman-teman yang lain." Saran Eryka meragukan Alex.


"Sampai kapan kita akan menunggu lebih lama lagi? Mereka mesti tidak akan ikut! Aku pun tak memaksamu ikut jika kau menolak." Sahut Alex sedang membereskan persiapan dan mulai angkat kaki.


"Tunggu, Alex!!!...."


"Huh... ada apa lagi? Berapa kali pun kau memperingati ku, aku tetap tidak akan merubah keputusan ku." Ucap Alex dengan nafas dalam.


"Tidak, bukan itu... mengapa kau tidak mengajakku? Alih-alih sendirian di tempat berbahaya, lebih baik ada yang menemani mu di sana." Bisik Eryka dengan tersipu malu.


"Huh... kenapa tidak bilang dari tadi. Lantas, mengapa kau harus malu untuk mengucapkan itu, Eryka? Ayo ikuti aku!"


Kemudian, petualangan mereka berdua telah dimulai...


"Untuk apa dia ikut?" Tanya Alex menunjuk seorang penjaga.


"Ayolah, aku sudah susah payah menyewa dia. Daripada kita berdua kan. Dia itu penjaga istana kerajaan Lo!" Jawab Eryka.


"Perkenalan, saya Natan. Penjaga kerajaan baru siap menemani dan mengawal Anda."


"Hei...hei... jangan bercanda kau ini! Masa aku sudah susah payah malah mendapatkan penjaga pemula seperti ini!" Seru Eryka mengerutkan keningnya.


"Sebenarnya kerajaan tak menyediakan jasa seperti yang Anda sebutkan. Anehnya pada bagian itu---" Jelas Natan.


"Sial... Raja sialan! Dia memberikan yang lemah! Terkutuk lah kau, Raja Sialan!!" Teriak Eryka dengan umpatan.


"Tenang saja, aku bisa menjaga diriku sendiri!" Sahut Alex dengan percaya diri.


"Kau payah! Kau mana mungkin tahu apa yang akan kau hadapi! Itu sama saja dengan bunuh diri, bodoh!" Tegas Eryka sembari menarik baju Alex.


"Oh jadi kau sudah tak mempercayai ku lagi? Aku pikir kau yang selalu mendukung dan mempercayai ku setiap saat."


"Grrrrr... kau ini!!!"


Aliran darah Eryka seketika mendidih mendengarkan kebisingan tersebut.


Dengan cekatan, Si Penjaga melerai kedua orang berkepala panas, memberikan ruang cukup untuk mereka berdua.


"Tenanglah! Bagaimana sih kalian ini! Percayalah, semuanya akan kacau jika diselesaikan dengan kekerasan!" Ucap Natan sebagai penengah.


"Kita sudah jauh-jauh kesini! Apa kau rela kembali pulang selama 4 hari tanpa membawa apa-apa?"


"Ugh... baiklah! Terserah kau!" Ucap Eryka melangkah lebih dulu.


"Kelihatannya dia marah tuh!" Bisik Natan.

__ADS_1


"Ya, aku tahu!" Jawab Alex sambil membisik.


"Hoi... Cepat gerakan kaki mu itu! Kau mau mati membeku di tempat seperti ini?!" Teriak Eryka dari kejauhan.


"Baik... baik, aku datang!"


Beberapa jam kemudian....


"Ini kah tempatnya?"


"Benar... ini tempat dimana Sang Putri disekap."


Sampai lah mereka di kastil kuno megah nan misterius dengan pemandangan tak mengenakkan mata. Seperti tanah tak bertuan, dilihat beberapa tembok sudah berlumut, berbagai macam bagian juga sudah tak utuh.


"Hmmm... Sepertinya kita salah tempat. Mana mungkin ada kehidupan di sini!" Celetuk Natan.


"Tidak, ini sudah benar! Mari kita masuk, Sang Putri sudah menunggu kita!" Tuturnya yang bersikeras.


"Memangnya kau tidak takut?" Sindir Natan.


"Kenapa harus takut? Rasa takut ku ini sudah tertutupi oleh kebesaran rasa tanggung jawab ku." Imbuhnya sambil menghiraukan peringatan Natan.


"Wah... wah...!" Ujar Natan tersanjung.


"Biasalah, dia itu sok kuat!" Ejek Eryka.


"Haha... waktunya bekerja!" Ungkap Natan yang menarik sebilah pedang dan perisai besar dari punggungnya.


Kemudian, mereka berdua menyusul Alex ke dalam...


"Sial, kita kehilangan jejaknya! Apa yang harus kita lakukan?"


"Mungkin dia tidak terlalu jauh ke dalam, pikirku. Lebih baik tetap bersama dan temukan bocah itu."


"Lebih baik kita ke kiri saja." Ucap Eryka.


"Jangan! Mending ke kanan saja. Kanan itu selalu membawa keberuntungan." Timpal Natan sambil menunjuk lorong kanan.


"Tidak... tidak mungkin... aku seratus persen yakin, Alex sudah lewat jalur kiri. Aku mendengar suaranya!" Papar Eryka tak mau kalah.


"Baiklah kita selesaikan dengan lempar koin. Aku ekor, kau kepala."


Natan pun melambungkan sebuah koin perak, dan menangkapnya sambil menutupinya dengan tangan yang lain.


"Kurasa ini ekor..."


Membukanya perlahan, dan ternyata tak terduga--- Kepala, jalur kanan untuk kanan untuk Eryka.


"Aaaah...!!!! Tidak mungkin!" Keluh Natan sambil melempar koinnya ke lantai.


Tanpa disadari, koin tersebut memantul cukup cepat dan tak sengaja memicu tombol jebakan di tembok. Membuat lantai yang dipijak terbuka lebar, keduanya pun terjun bebas tanpa sepengetahuan.


"Aaaah... dasar kau ini! Mengapa kau melakukan hal bodoh seperti itu? Hah?!" Pekik Eryka menunjuk-nunjuk Natan.


"Ini bukan salahku, koin keparat inilah yang menjadi penyebabnya! Koin pembawa kemalangan!" Seru Natan.


"Dasar kau ini bisa-bisanya..." Heran Eryka menepuk jidat.


"Memangnya ini bakal menjadi pencarian harta karun kah? Bisa-bisanya ada harta Karun di tempat sesuram ini!?!" Seru sekali lagi Natan memandangi tumpukan koin emas berserakan.


"Apa? Harta? Hah?! Wow...!!! Emas!!!" Ujar Eryka berlari dan terjun bebas ke tumpukan emas.


"Hati-hati, sepertinya ini juga termasuk salah satu jebakan berbahaya dari tempat ini!" Peringatan dari Natan.


"Bisa tidak kau berhenti berpikiran negatif semenit saja?!! Lupakan semuanya, ayo nikmati harta ini bersama ku!" Ucap Eryka yang bak berenang di tumpukan koin emas.

__ADS_1


Natan yang antisipasi, selalu memperhatikan segala hal hingga sudut ruangan tersebut. Tanpa alasan, pandangannya selalu tertuju ke tumpukan koin emas. Terus fokus, dan tak percaya apa yang ia lihat--- ia sampai mengucek matanya agar tak salah lihat.


"Hei kenapa kau diam saja?! Lihatlah harta berserakan ini, kenapa kau tidak menikmatinya?" Pinta Eryka yang masih berbaring.


"Menikmati apa?" Balas Natan dengan datar.


"Ya menikmati harta emas ini lah! Pake nanya segala!" Bentak Eryka.


"Koin emasnya bergerak... Dan sekarang sedang mengerumuni mu!"


"Hah? Apa yang kau maksud...?"


*Ziiiiiiiiiing.......!!!!!!


Suara menggema dari perisai Natan yang dipukul...


Seketika Eryka yang asyik dengan dunianya, membuatnya tersadar dan berteriak histeris meminta bantuan. Sedangkan Natan hanya menghela nafas dan terus memukuli perisainya membuat gelombang kejut cahaya yang sanggup mengusir para serangga.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Natan menjulurkan tangannya.


"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa koin-koin itu bisa hidup? Aku seharusnya tidak meminum banyak minuman beralkohol!" Gumam Eryka memegangi kepalanya.


"Itulah mengapa jangan terlalu gegabah! Lihatlah sekarang!" Ejek Natan dengan raut wajah nyengir.


"Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya? Hah?!!!" Seru Eryka sembari menarik kerah Natan.


"Kau tak sadarkah? Ini seharusnya sudah dari awal kita masuk labirin ini!" Jelas Natan.


"Labirin katamu? Coba jelaskan!" Perintah Eryka.


"Begini... setelah aku memukul perisai ini, aku mendapatkan penglihatan sekitar cukup luas, juga sanggup menghilangkan efek negatif seperti ilusi yang kau alami. Kau harus tahu, persimpangan terowongan yang hendak kita lewati, sebenarnya adalah monster ular raksasa yang siap menunggu mangsanya masuk ke dalam mulutnya terbuka lebar. Nasib baik kita dapat terhindar dari itu... Haha...!" Ungkap lebih dalam dari Natan.


"Ah... astaga! Kenapa harus begini! apa jangan-jangan Alex dalam bahaya?" Tanya Eryka dengan penuh kekhawatiran.


"Tenang saja, sepertinya dia mengetahui semua jebakan dari labirin mematikan ini. Dari penglihatan ku, dia berjalan santai dan seperti ada yang membimbingnya kemari. Itu baru dugaanku."


"Syukurlah dia baik-baik saja. Kalau begitu apa yang kita tunggu? Kita harus bergerak cepat!"


"Ya... begitulah!"


_____________--------------_________--------------__________


"Lalu aku harus kemana?" Tanya Alex kepada seseorang.


"Lurus saja, dan perhatikan langkah mu. Jangan sampai melenceng menginjak ubin salah!" Ucap suara dari kepala Alex.


"Ugh... lama sekali! Apa tidak ada jalan pintas menuju King Orc?" Keluh Alex.


"Hmmm... mungkin ada. Jika kau menemukan lubang yang berbentuk persis seperti seseorang berpostur raksasa, itulah jalan pintasnya. Ikuti dan temukan lubang tersebut." Saran suara misterius.


"Uh... baiklah!" Ucap Alex dengan nada ragu.


-


-


-


-


-


-


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2