Endless Winter

Endless Winter
Chapter 4 : Hide and Died


__ADS_3

Lagi dan lagi... Gadis itu mendapati dirinya terbangun lagi di tengah hutan yang sama. Sejenak ia berpikir semuanya itu hanya mimpi. Namun, bagaimana dia menjelaskan sebuah syal dipeganginya selama ini.


Secara tiba, gadis itu kembali merasa kesakitan amat luar biasa pada kepalanya. Setiap kali kepalanya sakit, ingatannya akan kembali secara berkala.


Kali ini, Yukki mendapatkan gambaran ingatan lamanya tentang keberadaan kakaknya. Dia melihat seseorang wanita yang entah kapan mereka pernah bertemu sebelumnya--- rambut ungu, pupil merah, dengan kulit pucat dan telinga runcing.


"Wah... wah... apa yang membuat kalian jauh jauh ke tempat sedingin ini?"


"Tetap di belakang ku, Yukki! Sepertinya dia berbahaya!"


"..." Yukki mulai mendekap ke kakaknya.


"Apa yang membuat kalian tersesat? Tidak punya peta? Buta arah? Atau jangan-jangan, kalian belum sadar akan labirin tanpa ujung ini. Hehehe..." Ujar wanita misterius itu.


"Apa maksudmu? Siapa sebenarnya kamu ini?!"


"Yah... perkenalan tak penting untuk ku. Melihat dua serangga terjebak membuatku ingin menghisap habis darah mu, terutama gadis kecil itu, rasanya akan lebih nikmat!" Wanita itu mengeluarkan sabit raksasanya.


Keduanya mulai mundur perlahan menjauhi wanita seram tersebut.


"Aku terpikirkan sebuah ide yang bagus! Akan ku hitung 1 sampai 100 sembari kalian berlari dan bersembunyi dari kejaran sabit melayang ini... Kalau tertangkap pun, kalian pasti tahu akan konsekuensinya." Saran Wanita itu.


"Kakak, aku takut!" Rengek Yukki mendekap ke kakaknya.


"Tidak apa-apa, kakak ada di sini! Tak ada yang harus ditakuti!" Sang Kakak mengusap kepala adiknya dengan lembut.


"Baiklah, satu, dua, tiga, empat, lima..." Wanita itu berbalik dan menutup kedua matanya.


Kedua saudara itu tidak terpikir apapun, hanya berlari sambil menggendong adik tercintanya entah kemana.


"Yang terpenting adalah lari sejauh mungkin, menemukan tempat aman, dan keselamatan Yukki." Dalam pikiran Sang Kakak.


Beberapa menit kemudian...


"98... 99... 100! Saatnya berburu!" Wanita itu memerintahkan sabit besarnya untuk menemukan mereka.


"Bodoh sekali! Sejauh apapun kalian! Labirin ini akan membawa kalian ke tempat yang tidak sejauh kalian pikirkan. Dengan kata lain, kalian hanya berputar-putar. Lagi pula jika bersembunyi, kalian tetap akan terdeteksi oleh sabit ku." Gumam wanita vampir itu.


_______---------_______----------________


"Kakak, apakah sudah aman sekarang?" Tanya Yukki.


"Sebentar, dik. kita harus lebih jauh darinya." Ucap Sang Kakak berlari selama ini.


"Kak... kak... kita sembunyi di batu itu saja!" Teriak Yukki.


"Baiklah."


Kemudian, mereka bersembunyi di balik batu besar berdekatan dengan beberapa batu besar dengan ukuran yang sama.


"Tenang saja, kita akan baik-baik saja di sini."


Tiba-tiba...


*Sring~ Sring~ Sring~ ......


Sang Kakak yang penasaran, memberanikan dirinya untuk mengintip dari balik batu. Pemuda itu tampak terkejut bukan main, beberapa pohon tumbang dengan potongan rapi dalam sekejap. Tak hanya itu, batu yang sama dibuat mereka sembunyi, juga sanggup terbelah menjadi dua.

__ADS_1


"Apa itu tadi? Tadi... terdengar suara seperti... seperti sesuatu yang tajam membelah sesuatu! Siapa wanita itu sebenarnya?!!" Gelisah Kakak membuat Yukki khawatir.


"Semuanya baik-baik saja, kak?" Yukki yang memastikan.


"Yukki, kita harus pergi! Tempat kita sudah ketahuan..."


Dari arah depan, meluncur sesuatu yang berputar dan bergerak dengan kecepatan tinggi. Dengan respons yang terampil, mereka menunduk dan menghindarinya.


Benar saja, wanita seram itu benar. Sabit merah itu terbang berputar seperti dirasuki sesuatu. Untunglah sabit itu tertancap di batu yang cukup kokoh menahan ketajamannya.


"Ketemu!" Sabit layaknya mengucap sesuatu.


"Ini kesempatan kita!"


Tanpa pikir panjang, Yukki digendong di pundaknya lalu ia berlari sekuat tenaga.


"Sekali sudah ketahuan, maka tak akan ada kata kabur untuk kalian, Hahaha....!" Tawa Wanita itu yang secara tiba muncul dan menarik kembali sabitnya.


"Huh... Huh... Huh... Huh....!!!!"


Menghadapi semuanya, membuatnya tak dapat menyembunyikan rasa lelahnya. Meskipun otot kakinya sudah kencang dan tulang kakinya mulai berbunyi, ia tetap saja pantang menyerah untuk memberikan harapan kepada adik tercintanya.


"Sepertinya sudah aman sekarang, aku rasa." Ucap Sang Kakak dengan nafas yang tersengal-sengal.


Kali ini sebuah gua tidak jauh dari mereka--- keputusan untuk masuk dan bersembunyi adalah pilihan yang tak akan ada perubahan sama sekali.


"Khu Khu Khu... sekarang, ada dimana mereka ya?" Wanita itu dengan mudah membututi mereka secepat apapun mereka berlari.


"Sial! Kenapa malang selalu menimpa kami berdua! Aku harus apa... Aku harus apa... menunggu disini sama saja menunda sebentar kematian..." Batin Sang Kakak bergejolak akan kepanikan dan pikirannya mulai memanas.


"Kakak tidak apa-apa?" Yukki bertanya sekali lagi.


"..."


"..."


"..."


"Maafkan kakak mu ini, Yukki. Tak sanggup untuk melindungi mu lagi... Kakak mu ini sudah menyerah sedari awal... Harapannya pun demikian... Maka dari itu tetap lah disini hingga keadaan sudah aman. Kau mengerti kan, Yukki?"


"Ya kak, tak masalah buatku. Apapun dirimu, aku tetap menyayangi mu! Tetapi kita bisa menyelesaikan ini semua dengan bersama-sama. Benar begitu, kak?"


"Tidak, Yukki. Ini sangat berbeda! Ini sudah tak dapat terselesaikan lagi! Walaupun bersama-sama... Apakah kau ingin mengabulkan satu permintaan dari kakak tercinta mu ini, Yukki?" Ucap Sang Kakak yang kehilangan harapan.


"Kenapa kak? Jangan-jangan kau..." Perasaan tak percaya membuat Yukki akhirnya membuka lebar kedua matanya.


"Kumohon, Yukki! Tak ada waktu lagi! Aku minta kau untuk tetap di sini dan jangan keluar sampai keadaan aman! Ini adalah perintah! Kau harus menurut! Kau paham!?!" Nadanya berubah berseru-seru.


"Baik, aku paham!"


"Adik pintar! Pakai lah ini! Simpan dan jaga baik-baik ya!" Sang Kakak mengelus-elus rambut putih adiknya dan memberi syal miliknya.


Di detik itu, Yukki yang masih muda harus menerima rasa kehilangan untuk kedua kalinya. Meskipun masih muda, gadis itu mengerti dengan kakaknya yang sebagai tulang punggung keluarga.


Melihat kepergiannya, membuat air mata Yukki berlinang membasahi pipinya. Dia sudah tak kuat lagi...


"Kakak, jangan pergi!" Teriak Yukki yang berusaha menyusul kakak nya.

__ADS_1


"Di situ kalian rupanya! Hehehe... sepertinya darah gadis itu lebih nikmat untuk menjadi pembuka!" Wanita seram itu melemparkan senyumannya.


"Bodoh! Kenapa kau tidak menuruti perkataan ku! Cepat pergi dari sini!" Seru Sang Kakak.


"Tapi kak..."


"Pergi!" Bentak Sang Kakak.


"Hoho... Tidak secepat itu! Cium lah sabit cantik ini terlebih dahulu, Hahaha..." Tawa jahatnya menggelegar layaknya mengendalikan sabit merah berputar cepat.


"Awas Yukki!" Teriak Sang Kakak.


"Hah...?!"


*Jleeeeeb....!!!!!


"Huh... Hah...?!" Yukki sangat kaget melihat dengan kedua matanya.


Kakak yang sangat peduli kepada adiknya... Kakak yang sangat mencintai satu-satunya keluarganya... Kakak yang rela mati untuk adik tercintanya. Begitulah... Sang Kakak dengan cepat menahan badan untuk adiknya.


Darah segar memenuhi mulutnya, demikian juga dengan dadanya--- sabit itu menembus dan mengoyakkan.


"Cepat pergi dari sini, Yukki! Gunakan kaki mu dan lari sekuat tenaga!" Kata-kata terakhir terucap dari mulut Sang Kakak.


Gadis itu akhirnya berlari, terus berlari... Lelah tak menghentikan nya untuk berlari. Dia mengabaikan apapun yang dilewati nya.


"Hmmmpsss... darah mu saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan darah ku." Bisik wanita seram itu.


"Aku yang menang kali ini! Dasar ****** biadab! Cuuuuiiihhh!" Ejek Sang Kakak sambil meludahi wanita itu.


"Heeeeeeh... jangan senang dulu! Kau pikir dia sanggup berlari sejauh itu?" Sahut Wanita Vampir.


"Hah... aku bertaruh kau tak akan bisa menemukannya kali ini!"


"Begitu kah? Apa yang membuat mu seyakin itu?" Tanya Wanita Vampir itu.


"Tak ada, karena dia adalah adikku!"


"Cih cih cih, menyedihkan sekali! Apa ada kata-kata terakhir?" Tanya Wanita Vampir itu.


"Si-siapa sebenarnya kau ini?!"


"Heh... itu saja? Baiklah, aku Warrance, The Last True Vampire! Jawaban ku ini pun tak akan ada gunanya buatmu! Semoga tenang, kakak yang hebat!"


Wanita itu langsung menggigit dan menghisap darah lelaki itu hingga tetes terakhir.


"Memang benar, seharusnya aku menyembuhkan nya terlebih dahulu! Rasa darahnya seburuk ini ternyata!" Gumam Warrance.


-


-


-


-


-

__ADS_1


-


Bersambung...


__ADS_2