Endless Winter

Endless Winter
Chapter 7 : Fatal Cold


__ADS_3

Hari semakin dingin saat kemunculan monster mengerikan dari balik rimbunnya salju. Jangan tertipu oleh tampangnya, karena dibaliknya adalah monster licik yang menyiapkan ribuan cara untuk mencapai tujuannya.


Dia berjalan sendirian menemui marabahaya, para peleton tempur menghadangnya tanpa pikir panjang. Temperatur dapat ia mainkan sesuka hatinya, sampai membekukan pasukan tanpa sentuhan.


Terlihat jelas senyuman lebar nya yang amat mengerikan, tak ada yang tahu apa yang dipikirkan. Monster wanita itu merajalela dimana-mana, siapa yang tidak mengetahuinya?


Mereka kabur--- Namun, sudah terlambat. Kristal melayang mendarat ke mereka dan jadilah neraka dingin abadi.


Wanita itu menyayat jarinya--- Setetes darah jatuh dan menimbulkan genangan. Kemudian, genangan itu melebar dan memunculkan makhluk lainnya. Dua Majin muncul--- Mayat manusia yang dimana dirasuki seorang iblis.


"Sekarang, waktunya kalian beraksi! Hehe..." Ujar Warrance menyeringai.


"Baik, serahkan pada kami!" Ucap The Greed.


Mengejutkan, pasukan baru muncul kembali. Terlihat lebih berbeda, dari tampangnya dan gaya berjalannya.


"Kami adalah kelompok petualang kelas A, Armorless Archer! Dan kami akan menjadi lawan kalian! Iblis jahat.... Harus musnah!!!!" Sorak para anggota petualang.


"Biar aku yang mengurusi! Kalian fokuskan masuk ke kerajaan!" Ucap Warrance dengan santainya.


"Sesuai perintah anda! Kami juga akan membantu."


"Tidak perlu, aku bilang fokus ke kerajaan! Pokoknya kalian harus bisa menerobos pertahanan kerajaan!" Tegas Warrance dengan tatapan serius.


Kedua kalinya, tidak ada kata takut di kamusnya--- Dia sangat berani untuk tersenyum di medan peperangan. Wand Of Calamity sudah di genggamannya, Armorless Archer pun juga demikian. Mereka mengarahkan bidikan ke kepala vampir itu.


Seringaian senyuman masih terpampang jelas. Saat...


"Angkat senjata kalian! Bidik...! Tembak...!"


Ratusan anak panah menghujani daratan yang ia pijak. Dia hanya diam dan menyaksikan--- entah menyerah ataukah punya rencana lain?


"Heh... Bodoh sekali!" Gumam Warrance yang menerima serangan begitu saja.


"Apakah kalian tidak mengerti yang sudah terjadi? Ataukah kalian terlalu bodoh untuk mengingat wajah ini? Indah sekali bukan, melihat kalian membeku dalam bongkahan es?" Ujar Warrance sekali lagi sambil melepas topeng nya.


Sudah terlihat jelas--- rambut panjang warna ungu, pupil merah menyala, tidak salah lagi wanita itu adalah The Last True Vampire. Pembawa malapetaka yang diceritakan dalam ramalan, juga yang bertanggung jawab atas kelaparan dimana-mana.


"Huh? Ternyata masih ada satu. Nampaknya dia tidak menyerang sama sekali." Gumam Warrance.


"Kau..." Ucap anggota yang tersisa.


"...??"


"Kau adalah Warrance kan? Vampir asli yang tersisa?"


"Heee... rupanya kamu mengenalku, Itulah mengapa kau tidak menyerang ya? Kalau kamu mengetahui ku, berarti kau juga tahu apa yang harus diperbuat!" Puji Warrance.

__ADS_1


Tentu saja, aku juga tahu harus bertarung melawan mu di sini!"


"Benarkah? Apa kau yakin bisa menang?" Ejek Warrance.


"Aku sangat yakin jika kau mematikan 'Cold Aura' mu! Bagaimana caraku menyerang jika itu aktif!"


"Hehehehe... kau cukup menarik juga. Untuk kali ini, aku mengalah. Sangat bosan melihat orang langsung membeku setelah menyerang ku!" Ucap Warrance.


Kemudian, muncul tiga kristal es melayang berbentuk kepala naga dari belakang Warrance. Benda itu menyerang berupa pancaran sinar beku di setiap unit.


Warrance hanya diam saja, tetapi ketiga benda melayang itu yang melakukan tugasnya. Sementara, anggota Armorless Archer tersisa menghindari serangan--- lompat ke sana, lompat kemari. Guling ke sana, guling ke sini.


Dan tidak lupa sembari menembakan anak panah setiap dia menghindar. Warrance memanglah cukup kuat, tetapi ia masih menghindari serangan itu.


"Kalau diperhatikan, gerakan menghindari itu tidak asing bagi ku. Mungkin perkiraan ku salah." Batin Warrance sambil memegangi dagunya.


"Lantas, bagaimana dengan gerakan itu? Mengapa orang itu selalu menggesekkan ujung anak panahnya sebelum menembak?" Pertanyaan itu menghantui pikirannya.


Di momen yang pas, salah satu anak panah menancap di kaki vampir itu. Anehnya, tak ada rasa sakit sama sekali meskipun menembus kulit. Kemudian, pemanah itu menggoyangkan anak panahnya--- tidak dapat ditebak langkah nya sama sekali.


"Ugh... ternyata gerakan itu mengaktifkan efek racun dari serangan pertama tadi. Dan... kristal terbang ku sudah lenyap menjadi debu. Jangan-jangan..." Gumam Warrance yang menahan sakit.


"Hahaha... kau baru menyadarinya kah? Tak hanya efek racun mematikan, tetapi mana mu juga akan terkuras habis, dan kau tak bisa menggunakan sihir lagi, Hahahaha....!" Ujar Armorless Archer dengan tawa jahatnya.


Tiba-tiba, Armorless Archer terjatuh dan terbaring di tanah...


"Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak dapat bangun? Seperti tertarik gravitasi yang sangat kuat!" Batin Armorless Archer.


"Hehehe... sesuai dengan dugaan ku. Kamu berpikir aku seperti penyihir pada umumnya? Meskipun mana ku habis, sihir masih bisa ku gunakan. Bagaimana rasanya sihir gravitasi yang ku buat?"


"Hihihi... lucu sekali, seharusnya aku mengigat itu. Sepertinya kali ini adalah kemenangan buat mu, Warrance!"


"Hehehe... Dan ini adalah kekalahan perdana mu, Yukki Sachenka!" Ucap Warrance sambil melepas kacamata dan masker pemanah itu.


Sudah sekian lama, kedua sahabat itu terpisah. Dan sekarang adalah momentum yang berharga untuk pertemuan mereka berdua.


Gaya gravitasi yang amat kuat itu, kini mulai memudar...


"Sesuai dengan dugaan ku, seorang Yukki tidak akan mati semudah itu." Ucap Warrance sambil mengulurkan tangannya.


Sebelum tangannya Yukki meraihnya, dari atas langit muncul seorang vampir terbang dengan kecepatan tinggi. Kemudian, dia terjun dan mendarat di dekat kedua sahabat itu.


Sementara kedua sahabat itu terheran-heran--- "Siapa gerangan yang berani mengganggu momen ini?" Dari benak mereka.


"Sepertinya aku sangat terlambat! Perkataan Amanda benar, seharusnya aku tidak meninggalkan mereka begitu saja... Cih!" Ucap Gadis vampir yang keningnya mengkerut.


"Siapa?" Tanya Warrance.

__ADS_1


"Benar-benar terlambat! Lihatlah sekeliling mu! Dan sekarang, aku siap akan dibekukan olehnya!" Tegas Yukki.


"Huh...?"


Warrance bingung lalu melirik ke mata Yukki. Dia memberikan kode berupa kedipan satu mata. Warrance yang melihatnya langsung mengerti dan mengikuti arus.


"Ya, dia benar sekali! Lihatlah mereka yang membeku! Kau gagal untuk menyelamatkan nya! Apakah kau pantas disebut pahlawan?" Ucap Warrance berusaha menggoyahkan keyakinannya.


Gadis itu mengepalkan tangannya, "Tidak ada kata terlambat, mereka yang mati sudah menjadi takdir. Meskipun dapat diubah, tetapi takdir tetaplah takdir. Aku tidak pantas disebut pahlawan jika terus bersedih akan kesalahan sendiri."


"Heh... kalau begitu, takdir mu untuk mati di sini, tak dapat diubah lagi! Begitulah pola pikir mu." Balas Warrance dengan senyuman jahat.


"Tidak... jika aku bisa melawan mu, aku tidak akan mati di sini!" Tegas Gadis itu.


"Heee... menarik sekali. Akan lebih menarik jikalau kau menunjukkan wujud vampir mu!"


Gadis itu berubah ke wujud aslinya...


"Sangat menakjubkan! Kau sangat imut di wujud sebelumnya. Sekarang, aura membunuh mu sangat kuat!" Ucap Warrance sambil menodongkan Wand Of Calamity.


_____-------______--------______


"Ugh... kenapa selalu tertidur saat bertugas? Padahal aku sudah tidur teratur lho! Eh... ada keramaian apa itu?" Ucap Akemi sambil mendekati kerumunan.


Jayvelen IV telah dibunuh, mayatnya terjatuh dari jendela dengan luka tusukan di dada. Mereka tidak menyangka adanya pengkhianatan di antara mereka.


"Tidak mungkin.... ini tidak mungkin terjadi! Siapa yang berani melakukan hal ini?!" Kesal Akemi sambil mengepalkan tangannya.


Kemudian, jasad Jayvelen IV di bawa dan sedang di autopsi. Sementara itu, The Greed Necromancher dan Fungi Magical Girl datang dan dapat masuk ke dalam kerajaan.


"Eh... bagaimana bisa? Chika? Kau masih hidup? Dan... apa yang mereka lakukan kepadanya?" Ucap Akemi yang semakin kesal.


Singkat cerita, muncul lagi dari lingkaran sihir--- seorang gadis berambut hitam panjang dengan benda berbentuk Limas segitiga di tangannya.


"Itukan... Hinata? Mereka berdua masih selamat! Tapi bagaimana dengan keadaan Riyo?"


"Hihihi... Apakah kau sangat terkejut, Akemi? Melihat kedua teman mu berada di pihak musuh, hihihi...!" Ucap Hinata dengan menempelkan telunjuknya ke bibirnya.


"Kenapa? Kenapa kalian memilih jalan yang salah? Seharusnya aku tidak meninggalkan kalian!" Teriak Akemi sambil memegangi kepalanya.


"Eits... jangan tanyakan kepada ku, ini semua keputusan nya Chika. Benar begitu, Chika?" Tanya Hinata kepada Chika.


"Tidak, kaulah yang melakukan nya sedari awal. Aku tak bisa lagi berpikir rasional! Tubuhku ini sudah hancur dan bukan manusia lagi! Ini menyakitkan sekali!" Teriak Chika yang menahan penyiksaan ini.


-


-

__ADS_1


-


Bersambung....


__ADS_2