
“Jadi itukah? Itukah dia... Yang dimaksud oleh Kaisar? Siapakah sebenarnya sosok tinggi itu? Apa tujuan sebenarnya? Tak ada yang tahu, selain aku sendiri!” gumam Venatrix memantau dari balik jendela mewahnya.
Sosok itu menatapnya balik...
“Ugh... perasaan apa ini!? Bagaimana dia bisa mengeta-..”
“Kau sudah mengetahui banyak hal... ingatlah! Ini baru permulaan... Speaker Of Darkness akan selalu mengawasi mu!” Suara yang menggelegar mengintimidasi siapa pun yang mendengarnya.
“...”
Venatrix tak kuat memandang, jatuh tersungkur dengan penuh keringat dingin. Nafasnya pun tak dapat ia atur, kemungkinan bisa sesak nafas.
“Paduka, ayo cepat! Kita pergi dari sini sebelum semuanya terlambat!” tutur salah satu pengawal ratu baru datang.
“Eh... ah, ya... tolong bantu aku!”
“Anda tidak apa-apa, Yang Mulia? Apakah ada yang terluka?” Pengawal itu yang khawatir.
“Tidak... tidak, aku baik-baik saja. Mari kita pergi dari sini!”
“Baik, Paduka! Mari kubantu untuk berdiri.” ucap Sang Pengawal dengan sigap mengantarkannya ke kereta kuda.
“Bagaimana dengan yang lainnya? Kenapa hanya kalian berdua saja?” tanya Venatrix.
“Sebelumnya, saya ingin meminta maaf. Semua penjaga telah gugur karena boneka raksasa itu. Serta, kami bisa disini pun berkat perlindungan Amanda saat penyerangan. Tak punya pilihan lain, kami pun mundur dan meninggalkan mereka semua.” papar Pengawal A tentang reka ulang kejadian.
“Keparat! Monster macam apa yang sanggup membunuh pasukan sebanyak itu dalam sekejap?!! Bahkan, para rakyat ku menjadi aneh dan mendekati monster itu! Ini tidak boleh dibiarkan terus berlanjut!” batin Venatrix yang menggigit jari jempolnya.
“Tenang saja, Yang Mulia. Kita akan mengungsi ke Elven Country untuk sementara waktu. Setelah itu selesai, maka semuanya akan baik-baik saja.” Pengawal A yang berusaha menenangkan Venatrix.
“Hmmm... kuharap begitu, kurasa.”
“Hey, berapa lama untuk sampai di kerajaan elf, kawan?” teriak Pengawal A ke Pengawal B.
“Aku rasa sekitar dua sampai tiga hari!” sahut Pengawal B.
Singkat cerita, ketika mereka mulai menjauh dari kerajaan, Tiba-tiba...
*Boooooom.....!!!!!
“Suara gaduh apa itu?!” tanya Venatrix.
“Entah... Hey, suara gaduh apa itu tadi?” Pengawal A menanyakan ke kawannya.
“Oh sial! Ini tidak mungkin! Ini mustahil!” seru Pangawal B yang mempercepat laju kereta.
“Memangnya ada apa, kawan? Terdengar seperti suara ledakan, apa aku salah?” Pengawal A mempertanyakan yang dilihat kawannya.
“Istana megah kita meledak! Dan sekarang, kita dikejar oleh gelombang kejutnya!” ungkap Pengawal B.
“Apa?! Siapa yang berani melakukan itu? Jawablah! Mengapa kereta ini semakin kencang?” tegas Venatrix melebarkan kedua matanya.
“Salju! Salju! Badai Longsor Salju!!!!!” seru Pengawal B yang berusaha memacu kudanya lebih keras.
“Apa yang dikatakan oleh kawanmu ini?” Tanya Venatrix.
__ADS_1
“Dia benar! Cepat! Lebih cepat! Longsor saljunya semakin dekat!” teriak Pengawal A secara tiba menjadi panik.
“Iya iya, aku tahu, bodoh! Para kuda ini sudah tak bisa lebih cepat lagi!” sahut Pengawal B dengan keringat dingin membasahi tubuhnya.
“Apa-apaan kalian berdua ini, memangnya benar ada long-...”
Venatrix yang tak percaya, menengok keluar. Seakan mematung akibat terlalu lama mengintip. Alangkah mengerikan pemandangan yang ia lihat.
Sebuah longsor salju akibat ledakan sebelumnya, dengan kecepatan tinggi yang berusaha melahap kereta kuda yang hanya seonggok serangga.
“Apa yang Anda lakukan, Yang Mulia?! Cepat masuk sebelum radang dingin menyeragmu!” tegas Pengawal A yang menarik masuk kembali Venatrix.
“...”
“Anda baik-baik saja yang mulia? Tetap tenang, dan jangan panik! Saya dan kawan saya akan mengurus semuanya. Saya akan kembali.” ucap Pengawal A yang keluar dari gerbong kereta kuda.
“Huh... ! Sepertinya... inilah akhir. Ini untuk terakhir kalinya.” gumam Venatrix menarik sesuatu dari tasnya yang berupa sebatang rokok.
Ratu tersebut dengan santainya menghirup sebatang rokok itu tanpa memikirkan sekitarnya.
“Hmmpp... Aahh... inilah hidup!” Dengan kepasrahannya, ia sekali lagi menghirupnya untuk terakhir kalinya, sebelum dinyatakan hilang.
____________-----------------___________--------------_______________
Selama dua tahun terakhir, hembusan angin sejuk menerpa hampir semua benua, bahkan seluruh dunia tak dapat menikmati teriknya mentari pagi. Paling buruk akan ada isu kelaparan di berbagai tempat--- Ada yang lebih buruk daripada kelaparan, beberapa jenis jamur parasit sudah menanti untuk melepaskan sporanya, menghinggap ke inang dan memberikan kendali penuh dengan infeksi organ pusat.
Di lain sisi, terlihat seseorang terburu-buru melewati keramaian lalu lalang, menabraki beberapa orang karena tidak fokus hanyalah hal biasa. Namun, beda halnya saat ia menabrak seorang wanita pemabuk--- seharusnya tak berurusan dengannya lain kali.
“Hoi... hoi... apa yang membuat terburu-buru, nak?!” celetuk wanita berkacamata dan berambut cokelat.
“Tunggu sebentar, nak! Kau kira urusan kita selesai begitu saja? Hah? Tidak secepat itu!”
Wanita itu menahan pundak pemuda malang itu.
“Apa mau mu? Akan ku berikan apa pun, tapi biarkan aku pergi!”
Dengan gemetar, pemuda itu memberanikan dirinya untuk angkat bicara.
“Hmmm.... Kau punya berapa sekarang?” tanya si wanita itu.
“Uh... anu... maaf... aku hanya punya segini, apakah cukup?” bisik pemuda itu sambil merogoh saku dan memberikan semua uangnya kepada wanita pemabuk.
“Hmmm... hah! Ini mah masih kurang! Dan kau tahu konsekuensinya, bukan?!” ejek wanita itu.
Wanita itu kemudian membawa pemuda polos itu pergi dari situ, bersamaan dengan beberapa jubah hitam bergerak cepat mengikuti mereka.
"Ke-kenapa cepat sekali?! Kau ingin membawaku kemana?!" teriak pemuda pirang itu agar terdengar jelas.
"Pake nanya... Tentu saja ku bawa kamu ke pasar gelap!" jawab wanita gila itu yang menarik lengan pemuda itu agar lebih cepat.
"Apa?!!" jerit pemuda polos yang berusaha melepas cengkraman nya.
Tak lama kemudian, wanita itu berhenti mendadak di sebuah gang kecil kosong nan gelap.
"Huh...huh... Huh...! Apa itu tadi? Kenapa harus mendadak! Apakah kita terhindar dari mereka?" cetus pemuda itu.
__ADS_1
"..."
Tak berselang lama, mereka yang mengejar pemuda barusan, menunjukkan diri mereka dengan perlengkapan ala-ala bandit. Mereka terpojok olehnya, dan tidak ada jalan keluar lagi.
"Bagaimana ini?! Habislah kita!" rintih laki-laki pirang itu.
"Hmmm... Hehehe...! Mau bagaimana lagi!" gumam wanita itu sambil membuang dan mematikan rokok yang belum selesai.
Tanpa pikir panjang, para bandit langsung menyerang mereka bersamaan, namun itu sebelum...
Mereaksi hal itu, pemuda itu yang pasrah dan hanya bisa merunduk dan menutup matanya. Yang dia dengar, sebuah teriakan kesakitan, tebasan terasa memuncratkan darah segar kemana-mana, bahkan di saat itu ia masih mengingat untuk berdoa kepada Tuhan.
Merasa keadaan aman, ia pun perlahan berbalik dan membuka matanya lebar-lebar agar ia percaya apa yang dia lihat sekarang.
Benar saja...
"Si-siapa kamu sebenarnya?" tanya pemuda itu yang kagum.
"Hehehe... Hanya seorang gelandangan pemabuk yang mencari keuntungan buatnya." balas wanita itu sambil melepas kacamatanya.
Semakin bingung, pemuda itu berusaha meresapi perkataan barusan. Saking lamanya, ia hanya bisa memperhatikan wanita pemabuk itu sedang membersihkan kacamatanya dari noda darah.
"Anu... Nyonya, apa aku boleh pergi sekarang?" tanya sekali lagi pemuda itu.
"Hmmmph...?"
Seketika membuat dia memberhentikan pembersihan kacamatanya.
"..."
Pemuda itu terlalu gugup untuk menunggu jawabannya, ditambah tatapan sinis yang membuatnya ingin menghilang dari situ juga.
"Yah... Boleh saja. Sebelum itu, aku ingin kau menjawab semua pertanyaan ku dengan jujur." imbuh wanita berambut cokelat itu sambil memandangi kacamata nya yang tampak sudah bersih.
"Ah... Syukur lah! Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya, Nyonya yang baik!" ucap pemuda itu yang memberikan ucapan terimakasih dengan membungkukkan badan.
"Jangan panggil aku nyonya! Aku punya panggilan tersendiri." tegas wanita itu.
"Oh, benarkah? Lantas siapa namamu?"
"Hmmmph... Kita tak akan melakukan nya di sini. Aku tahu tempat yang tepat untuk ini." saran wanita itu yang meringis.
Pemuda itu hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
Bersambung...