Endless Winter

Endless Winter
Chapter 10 : Doll's Country


__ADS_3

2 Tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1061. Sebuah tanah yang sebelumnya adalah tempat dinaungi sebuah kerajaan megah.


Venzonia Kingdom, kerajaan yang ditimpa oleh tragedi mengenaskan. Dan sekarang, sebuah kerajaan baru berdiri kokoh di sana.


____-----____-----____


Mendengar kabar burung itu, Ratu Venatrix berusaha menelusuri kebenarannya.


"Apa-apaan ini! Bagaimana ceritanya ada yang membangun kerajaan lain di kerajaan aliansi kita!!! Ini tidak bisa dibiarkan!!" Pekik Sang Ratu yang amat sangat kesal.


Lalu, Amanda datang yang membalas panggilan dari Ratu...


"Ada perihal apa yang membuat kami dipanggil, Yang Mulia?" Ucap Amanda yang baru datang lalu berlutut dihadapannya.


"Sebagai anggota paladin teokrasi, aku perintahkan kalian untuk menyelidiki bekas tanah berdirinya kerajaan Venzonia berada."


"Memangnya ada masalah dengan tanah itu, Yang Mulia?" Sahut Amanda.


"Ugh... ada pihak tak bertanggung jawab membangun kerajaan baru di sana. Kalian harus mencari tahu tentang nya, dan jika perlu, hancurkan semuanya sampai tak bersisa!" Murka Sang Ratu membuat mereka semua berkeringat.


"B-baik, kami mengerti! Laksanakan!" Ucap Amanda yang terbata-bata.


______[****FLASHBACK****]______


"Untuk mempertanggung jawabkan perbuatan ku, aku akan membangun kembali kerajaan tersebut. Meskipun tidak persis dari sebelumnya, namun dapat ditinggali dengan layak." Ujar Maria sembari memerintahkan para bonekanya.


"Kenapa anda susah payah untuk membangunnya kembali? Padahal, ini bukan kesalahan kita sepenuhnya!" Bantah Warrance yang berdiri bersebelahan.


"Ya... bisa kau lihat saja sendiri! Dampak dari meriam mematikan itu. Tak ada yang bersisa, Aku merasa kasihan karena rasnya sendiri lah penyebabnya." Ujar Maria yang berduka.


"Padahal kan, bukan itu aja penyebab nya." Gumam Warrance.


"Hei Warrance, beritahu aku--- apakah musuh kuat akan muncul di masa depan?"


"Ya, kurasa. Ku ambil contoh gadis vampir itu, dia berpotensi sebagai alat perlawanan bagi manusia." Jawab Warrance.


"Lalu, apakah ada lagi?"


"Kemungkinan akan muncul lagi, baik berasal dari dunia ini maupun dari bunia lain."


"Begitu kah? Apakah kau melupakan itu?"


"Melupakan apa?" Tanya Warrance yang kemudian menengok ke arah Maria.


"Huh... Ancaman terbesar kita adalah musuh kuat yang benar-benar berasal dari dunia ini. Sekuat apapun musuhnya, jika itu berasal dari dunia lain, kemungkinan besar musuh itu akan mendapatkan efek pengurangan kekuatan cukup besar kepadanya. Dan tidak lupa dengan pembatasan kekuatan--- Sekuat apapun, tak akan melebihi Sang Dewa." Maria perjelas wawasannya.


"Jadi, mereka akan lemah jika memaksa masuk ke dunia ini. Apakah itu salah satu konsep dari dunia ini?"


"Benar sekali, masih banyak konsep yang belum diketahui banyak orang. Apakah kau salah satu darinya?"


"Hehehe... Tidak mungkin aku sama dengan mereka yang tidak tahu akan dunianya sendiri, anggap saja tadi adalah kesalahan ku karena hampir lupa dengan salah satu konsep tersebut." Ujar Warrance sambil melipat kedua tangannya.


"Kalau kau sampai lupa, aku masih bersedia untuk memberitahukan mu semuanya." Beritahu Maria.


_________----------_________-------------_________


"Jadi, ini kerajaan yang dimaksud Sang Ratu?" Tanya Justin yang memastikan.


"Benar sekali, ternyata saljunya masih turun. Aku merasa curiga dengan pelaku sebenarnya. Apa kalian sepemikiran dengan ku?" Ujar Grace.

__ADS_1


"Sebelum memutuskan, kita harus menyelidiki nya dan memastikan nya langsung!" Saran dari Amanda.


"Apa tidak apa-apa kita kembali ke tempat ini lagi? Mungkin saja masih ada racun di udara sana." Kata Misa yang merengek ketakutan.


"Jangan khawatir, Misa! Cukup pikirkan hal sesuatu yang menyenangkan." Ucap Amanda yang menenangkan Misa.


"Uh... Uh... Huh...Huh.... Eeeee...eeeee......eeeee..!" Rengekannya semakin kencang sampai memecahkan suasana.


"Ugh... dasar! Kenapa kita harus membawanya?" Keluh kesah Mitch.


"Mau bagaimana lagi, sesuai perkataan Sang Ratu--- Dia adalah kunci utama di misi ini!" Perjelas Amanda.


Singkat waktu, mereka mencoba untuk masuk ke dalam, namun hal itu hadang oleh gerbang tertutup.


"Apa tidak ada orang di sini? Dimana penjaganya? Apa ini benar-benar asli?"


"Entah, bagaimana kalau kita tunggu sebentar?"


"Kau saja yang tunggu...! Aku tidak mau mati membeku di tempat antah berantah ini!" Ujar Misa yang sudah memeluk dirinya sendiri.


"Misa benar! Kita harus cari cara untuk masuk ke kerajaan ini." Sahut Grace.


Secara tiba gerbang perlahan terbuka tanpa sebab. Siapa pun bertanya akan hal itu. Mereka semua disambut oleh penjaga yang tidak asing. Tak ada yang aneh, layaknya seperti kerajaan sebelumnya berdiri di sini. Namun, yang berbeda adalah kaki mereka tidak nampak di tanah--- Layaknya boneka yang disambung dengan tali benang.


Grace dan yang lain berakhir di kastil, tempat bersemayamnya Pemimpin Kerajaan. Pintu terbuka, terlihat Jayvelen IV serta para bangsawan lainnya.


"Hei Mitch, bagaimana ceritanya Raja Venzonia bisa hidup kembali?" Bisik Justin.


"Aku juga tidak tahu menahu. Aku merasakan energi aneh di tempat ini--- Maksudku, mereka semua sama dengan Kerajaan Venzonia, tetapi mereka terlihat aneh sekali." Jawab Mitch dengan lirih.


"Salam, wahai tamu yang terhormat! Selamat Datang di Venzon Kingdom! Dengan saya, Javelen IV sebagai Raja dari negeri ini. Mari semuanya, kami mempersilahkan kalian untuk duduk di ruang makan! Ikuti aku!"


"Tahanlah! Jangan buat gerakan secara tiba-tiba. Kita harus mencari tahu dulu!" Sahut Grace.


Lima tamu itu duduk di kursi masing-masing. Mereka juga memperhatikan segala hal yang janggal. Hingga tiba saatnya hidangan siap dan disajikan dengan mewah.


"Wuiiih, makanannya terlihat enak sekali!"


"Selamat makan!"


Tidak hanya mereka berlima, namun semua orang di dalam kerajaan juga ikut makan bersama. Di lain sisi, Amanda dan Misa tidak makan makanan yang sudah dihidangkan. Misa masih khawatir dengan pikiran negatif yang menghantui pikirannya, sedangkan Amanda menyadari bahwa makanan yang mereka bukanlah makanan biasa.


"Semuanya berhenti makan!" Teriak Amanda mengejutkan satu ruangan.


"Ada apa?"


"Apaan sih, tiba-tiba teriak tidak jelas!"


"Eeeeeeh... uh...uh..uh...!" Misa semakin ketakutan saat terkejut.


"Ada apa Nona? Apakah makanannya tidak enak?" Tanya Sang Raja.


"..." Amanda yang membawa tongkatnya langsung menghentakkan dan menghapus efek halusinasi dari awal masuk.


"Eh...? Makanannya kok berubah?"


"Ihhhh... menjijikkan!!!"


Sang Raja terdiam setelah motif nya terbongkar.

__ADS_1


"Apa tujuan sebenarnya dari mu, Raja? Mau meracuni kami?" Pekik Amanda sambil menunjuk-nunjuk ke arah Raja.


"..."


Yang lainnya pun mulai geram dan kesal terhadap tempat ini.


"Jangan bercanda, Paduka! Kau bukan Raja pemilik tanah ini! Kau membangun di tanah orang lain! Siapa sebenarnya dirimu!" Seru Grace yang memojokkan Paduka.


"Apa yang kalian bicarakan? Sudah jelas kan kalau aku adalah raja di sini. Lihat yang ada di atas kepala---"


*Swiiiiiiing......!!!


Grace dengan sigap memenggal kepala Raja. Dan benar, tak ada darah muncrat dari tubuhnya.


"Sesuai dugaan ku, mereka semua hanyalah boneka! Sudah jelas, hancurkan semuanya!" Perintah Amanda ke semua temannya.


"Siap, Nona Amanda! Perintah mu adalah prioritas kami!"


"Baiklah, ini yang membuatku semangat! Hancurkan semuanya tanpa bersisa!"


"Ah...ah... aku rasa kita tidak perlu berlebihan---"


"Ah... diam saja kau Misa! Jangan kacau kan lagi misi kali ini!"


Pasukan penjaga pun datang, namun itu tidak menjadi ancaman lagi. Sekali bola api meluncur, pasukan itu hangus terbakar.


Bangunan-bangunan yang terlihat dari batu keras, ternyata terbuat dari kayu biasa, dan mudah dihancurkan.


4 jam sudah berlalu, Kerajaan palsu itu kembali rata dengan tanah--- tak ada yang tersisa sama sekali.


"Kerja bagus semuanya! Misi sukses, mari kita pulang!" Ujar Amanda.


"Ayo...!" Teriak serentak.


________---------________-----------_______


3 hari setelah hancurnya kerajaan palsu itu...


"Paduka, ada surat baru untuk Anda!" Ucap pelayan datang dan menyerahkan beberapa surat harian.


"Apa? Surat dari siapa ini? Beraninya mereka menyatakan perang kepada kerajaan ku! Ini tidak boleh dibiarkan! Jika mereka ingin berperang, maka akan ku bawa mereka ke Medan pertempuran!" Pekik Ratu Venatrix sambil membanting surat itu.


"Ada apa Yang Mulia? Nampaknya Anda cukup kesal." Tanya Amanda.


"Haaa... kerajaan palsu yang kalian hancurkan, sekarang memberikan surat pernyataan perang kepada kita!" Jawab Ratu Venatrix.


-


-


-


-


-


-


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2