Endless Winter

Endless Winter
Chapter 11 : Day 4, Build Your Own Pillars


__ADS_3

Hari ke-4....


Sebuah benda misterius berukuran raksasa berada di tengah-tengah ibukota. Setelah diperhatikan, seperti boneka raksasa berbentuk kuda yang duduk dengan kaki depannya yang masih berdiri.


Tak ada timbulnya pergerakan, benda sebesar gunung itu menghalangi pemandangan dan menjadi pusat perhatian--- masyarakat maupun berita lokal.


Pihak gereja, juga selaku pemimpin dari Seckanift Theocracy sedang mengidentifikasi boneka raksasa itu. Para warga mulai khawatir, pidato dari pihak gereja.


Mereka mengatakan, "Ini semua adalah awal! Awal dari kehancuran dunia! Malapetaka dimana-mana, sebuah benda aneh yang akan membawa para jiwa orang beriman ke surga, lalu diakhiri dengan ledakan maha dahsyat meluluhlantakan semuanya!"


Pidato itu membuat mereka semua panik dan berusaha menyelamatkan diri. Untunglah, para petinggi gereja menenangkan warga agar tenang.


Hari ke-8...


Muncul lagi, pillar menjulang ke langit entah dari mana--- berada di sebelah timur, yang menghebohkan para masyarakat. Terbuat dari boneka usang yang menggunung menjadi satu. Tidak salah lagi, ini juga merupakan fase awal dari kiamat.


Pihak gereja tidak lupa untuk mengatakan--- Ada 6 pillar aneh keluar dari tanah. Siapapun yang berada di antara pilar-pilar itu, kemungkinan ditakdirkan untuk dibawa ke surga.


Para turis luar kerajaan berbondong-bondong untuk melihat indahnya pilar boneka itu. Menjadi pertanyaan besar, apakah mereka datang kesini agar jiwanya dibawa ke surga? Atau jangan-jangan mereka halusinasi sesuatu hal yang indah di pandangan mereka? Tak ada yang tahu pasti. Ujar dari pikiran Amanda


Wanita itu tidak percaya akan perkataan dari pihak gereja, berpikir bahwa ramalan itu hanyalah bualan belaka.


Dia lebih mengaitkan dengan serangan berikutnya dari para iblis sama yang sebelumnya menyerang Venzonia Kingdom.


"Entahlah Amanda, dari keduanya pun, aku tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya." Ujar Grace yang terpesona akan boneka megah tersebut.


"Hei! Berhenti memandanginya! Lama kelamaan, kau akan menjadi seperti mereka!" Tegas Amanda sambil menunjuk para turis.


"Oh, ya... benar. Lantas, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"


"Ikut denganku! Di sini terlalu ramai untuk membicarakan hal ini!" Ucap Amanda yang pergi sambil diikuti oleh Grace.


Hari-12...


Lagi-lagi, sekarang ada dua pilar yang berdiri megah di sudut kerajaan. Berada di sebelah Barat, tumpukan boneka yang memperkokoh mulai renggang dan seperti ingin turun ke bawah.


"Apakah tidak ada seorangpun yang mengerti? Dari pada meninggalkan kengerian ini, mereka malah menyaksikan dan menontonnya seakan menikmati pameran karya seni."


"Apa itu kurang jelas? Apakah mata mu buta? Ugh... tidak dapat dipercaya! Baiklah, aku akan melakukannya sendiri!"


Amanda seperti orang gila saja, jengkel akan respon mereka, dia tidak punya pilihan lain.


"Bagaimana?"


"Sudah jelas, waktunya merobohkannya! Lakukan sesuai rencana, Grace!"


"Kenapa belakangan ini sikapmu berubah, Amanda?" Tanya Grace.


"Apa aku perlu menjelaskannya lagi? Apa yang kamu lakukan jika tanah kelahiran mu terancam?"


"..."


"Ayo, jangan diam saja!" Tegas Amanda sambil menyadarkan Grace.


Kemudian Grace terbang dan mulai mengincar boneka kuda yang di tengah ibukota.


Grace yang masih ragu menanyakan sekali lagi kepada Amanda lewat telepati, "Apa tidak apa-apa jika kita menghancurkannya secara terang-terangan? Mereka bisa marah lho!"


"Sudah berapa kali ku bilang, persetan dengan amukan warga! Terpenting adalah aku ingin sampah itu dibuang... jangan! Bakar sampai hangus! Jika perlu musnahkan semuanya bersama pillar itu!" Seru Amanda lewat telepati.


Tepat di atas, Grace melihat banyak kerumunan yang masih ramai. Langit yang sebelumnya terang benderang berubah dan dipenuhi banyak awan gelap.


"Mereka tidak memperdulikan sekitar ya, meskipun itu hujan, banjir, gempa, bahkan gunung meletus pun mereka masih terpesona dengan boneka itu." Dalam pikiran Grace.


Ia pun memerintahkan sang langit untuk menghujam sambaran petir dahsyat berkali-kali. Beruntung sekali bagi mereka yang tidak terlalu dekat dengan target, namun hal itu membuat perhatian mereka berpaling.

__ADS_1


Sementara boneka kuda itu mulai runtuh, tapi kerangkanya masih dipertahankan, hanya saja hampir hancur total. Kemudian, para warga yang tahu keberadaan Grace mulai murka.


Melihat kondisi seperti itu, Grace memutuskan untuk pergi dari tempat kejadian. Sembari terbang menyelamatkan diri, Grace diserang oleh para warga yang murka.


Serangan mereka tidak seberapa, namun bagaimana dengan jumlah mereka. Itu mampu menjatuhkan Grace ke tanah dan tak sadarkan diri. Di saat itu pula, Amanda yang keluar dari persembunyiannya melindungi Grace dari amukan massa.


"Cepat bunuh saja mereka berdua! Mereka sudah menodai Sang Agung!" Pekik salah satu warga.


Yang lainnya pun juga ikut bersorak dan berusaha untuk menangkap mereka berdua.


"Tunggu dulu! Tenang kalian semua! Apa kalian masih tidak mengerti? Berhari-hari kalian selalu memandangi benda itu, mengapa kalian sampai menyembahnya? Apa itu Dewa mu?!" Tegas Amanda yang menyerukan semua orang.


"Kami bertanya, siapa sebenarnya kau ini? Tiba-tiba datang tanpa peringatan, menghancurkan dan mengganggu aktivitas kami pula! Jangan harap kau bisa kabur kali ini! Ayo tangkap dia!" Seru warga provokator.


"Wah...wah...wah... orang tua seperti kalian tidak akan mengerti gurauan anak jaman sekarang!" Suara itu menggema, seperti seorang wanita yang semakin dekat.


"Siapa itu? Tunjukkan dirimu!"


"Hehehehe... menghancurkan patung seperti itu merupakan gurauan baru yang sangat populer belakangan ini. Apa kalian tidak tahu?" Sosok wanita menunjukkan dirinya, berambut putih agak panjang dan berponi menutupi sebelah mata berwarna merah sedang mengejek para warga.


"Apa katamu?!! Jangan bercanda ya! Kau anggap ini gurauan semata!? Sialan ****** satu ini!"


"Hahaha... dasar humor orang tua. Maksud ku, aku punya gurauan bagus buat kalian, kali ini gurauan yang paling ku suka." Senyumannya tidak membuat gentar para warga.


Wanita berambut putih itu membentuk jari-jemarinya seperti pistol, "Aku bilang 'Dor'... kalian terus bersorak! Dor....Dor...Dor...!"


Tiga warga langsung tewas dengan kepala yang meledak. Bagaimana bisa? Wanita itu hanya menodongkan dengan jari layaknya pistol, kemudian boom..... kepala mereka meledak.


"Aku tidak mendengar 'sorakan'!" Ucap wanita itu yang tangannya di belakang telinga.


"Aaaaaah....!!!" Para massa teriak histeris sambil menyelamatkan diri.


"Jangan terlalu cepat! Ini baru dimulai!" Wanita itu menyeringai sambil menjentikkan jarinya.


Seketika, ledakan kepala tidak dapat terhindarkan bagi yang sudah jauh darinya. Sungguh kekuatan yang mengerikan.


"..." Amanda yang tak dapat berbuat apa-apa, hanya bisa pasrah dengan keadaan.


Dan ternyata, itu hanyalah pistol air.


"Eh....?"


"Haha, kena kau!"


Kemudian, perlahan Grace mulai siuman.


"Kenapa kau tidak membunuh kami?" Tanya Grace.


"Hehe... jika aku ingin membunuhmu, sudah ku lakukan dari awal, kalian sudah mati bersama mereka semua."


"Lalu siapa kau? Mengapa kau susah payah menyelamatkan kami?"


"Dia... dia adalah orang yang membunuh Albert pada saat itu!" Sahut Grace yang siuman.


"Wah, ternyata kau masih ingat dengan ku. Tapi kalian masih belum tahu siapa nama ku. Perkenalkan, Namaku Yukki Sachenka. Aku hanya ingin membantu kalian untuk melawan boneka raksasa yang baru saja kalian hancurkan." Perjelas dari wanita berambut putih itu.


"Apa yang dia katakan 'melawan'? Jadi memang benar dugaan ku!" Bisik Amanda kepada Grace.


"Oh ya, jangan senang dulu. Kalian pikir sudah mengatasi masalahnya, tetapi masalah itu lebih kuat dari kalian duga. Maksudku, coba lihat kembali boneka raksasa itu!" Ujar Yukki.


Grace yang tidak percaya dengan Yukki, langsung bergegas kembali ke tempat awal. Tak dapat dipercaya memang, seakan tak ada yang berubah. Hasil kerja keras mereka sia-sia, Grace jatuh tersungkur melihat boneka raksasa itu masih berdiri kokoh tanpa lecet sama sekali.


"Sekarang, kau sudah paham kan, Grace?" Tanya Yukki.


Grace menatap dengan tatapan geram, tangannya membentuk kepalan yang sempurna, juga kedua alisnya berkerut.

__ADS_1


"Kalian berdua tidak mempercayai ku itu tidak masalah, aku tetap membantu kalian. Karena ini sudah berada di level bahaya tingkat 4. Dimana sudah mengancam benua sampai dunia." Jelas Yukki.


Lalu, Amanda menghampiri Grace, "lebih baik kita percayai dia, tapi jangan percaya penuh! Dari tatapannya sangat mencurigakan. Jangan lengah, Grace!"


"Ugh... baiklah, aku mengikuti rencana mu saja!"


"Baik, kamu pasti punya informasi semuanya kan?" Tanya Amanda.


"Jangan ragukan aku, tanyakan semua apapun, maka akan ku jawab semuanya!" Jawab Yukki.


_____--------______--------_____


Hari ke-28...


"Paduka, bagaimana ini? Pillar-pillar itu sudah muncul semua! Kita harus bergerak cepat, untuk mengatasinya!" Lapor Mitch kepada Venatrix.


"Benar-benar kurang ajar! Kita sangat sulit untuk melawannya, hampir semuanya terpengaruh oleh boneka raksasa itu! Dan sekarang, mereka membuat pawai untuk boneka itu! Ini membuatku sangat kesal!" Tegas Venatrix.


"Hah? Anda pikir, ini semua akibat perbuatan siapa?" Terdengar suara entah darimana.


"Suara siapa itu?!"


Lalu, Yukki dan lain muncul dari balik gelapnya ruangan, "Salam Paduka Ratu, Namaku Adalah Yukki Sachenka, bisa dipanggil Yukki saja!"


"Siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau bisa berada di situ? Dan apa tujuanmu?"


"Hahaha... Gadis vampir ini yang akan menjelaskannya!"


Beberapa menit setelah penjelasan...


"Jadi, kau sangat tahu akan benda besar itu? Begitu kah? Coba beritahu aku semuanya! Nanti aku akan memberikan imbalan yang setimpal!" Ujar Paduka Ratu.


"Hehehe... Anda tidak perlu repot-repot, aku akan tetap memberitahukan semuanya. Jadi, apakah kalian ingat dengan kerajaan boneka yang berdiri di atas tanah Venzonia Kingdom?" Ujar Yukki dengan senyuman licik.


"Ya, kami tahu. Sekarang, kerajaan itu sudah menyatu dengan tanah, berkat Grace dan yang lainnya lah yang berjasa." Sahut Amanda.


"Hehehe, bodoh sekali! Itulah yang menyebabkan semua hal ini!"


"Apa maksud mu? Kau bercanda kan?"


"Apakah raut mukaku terlihat bercanda? Atau lihat mata ku! Apakah ada tanda aku berbohong?"


"..." Semuanya terdiam tak menjawab.


"Jadi begitulah, kalian sudah mengerti rupanya. Paduka pasti sudah menerima surat pernyataan perang dari kerajaan tersebut. Itu adalah permulaan dari malapetaka baru untuk kerajaan kalian, Seckanift Theocracy!" Ungkap Yukki.


"..."


"Woi, kenapa sunyi sekali disini? Bagaimana? Apakah kalian membiarkannya begitu saja! Cepat atau lambat boneka itu akan aktif, dan akan ada banyak korban berjatuhan dimana-mana. Kemudian hari, boneka lain pun akan muncul juga."


"Baiklah, mau bagaimana lagi, ini adalah tempat kelahiran ku. Jadi aku akan mempertahankan nya apapun caranya!" Amanda bangkit dengan tekad kuat.


"Kalau Amanda ikut, aku pun juga ikut! Karena aku selalu berada di sampingnya!" Ujar Grace ikut berdiri.


"Jangan lupakan kami! Kami selalu ada untuk pahlawan seperti kalian!" Ucap Mitch dan Justin.


"A-a-aku pun juga ikut... Meskipun aku sedikit takut." Misa ikut berdiri dengan gugup.


Pasukan tersisa juga ikut bersorak dan bersemangat untuk melawan balik.


"Nah itulah yang namanya tekad bertahan hidup! Kobarkan semua api semangat kalian! Selanjutnya, aku akan menyiapkan strategi perlawanan!" Beritahu Yukki.


-


-

__ADS_1


-


Bersambung....


__ADS_2