Endless Winter

Endless Winter
Chapter 4 : A Dreadful Foe


__ADS_3

Sebelum hari penyerangan...


"Warrance, jelaskan kepada mereka tentang rencana penyerangan kedua yang akan dilaksanakan besok!"


"Baik, Boss! Jadi, apakah kalian semua tahu akan kesalahan telah kita perbuat?"


"..."


"Wah... wah... dasar kalian! Baiklah, akan ku jelaskan agar otak kecil kalian bisa menyerapnya. Aku dengan jujur akan mengatakan bahwa ini semua murni kesalahan The Greed Necromancher. Namun, aku tidak akan membahas soal itu. Kita akan membahas dia!" Jelas Warrance sambil menunjuk gambar Grace Libele.


"Dia kan, orang yang membuat penyerangan kita kalah." Ujar Dullahan.


"Bagus sekali untukmu! Dia akan menjadi ancaman jika tidak disingkirkan. Maria sudah memikirkan tentangnya, dan penyerangan ketiga adalah akhir bagi kerajaan tersebut."


"Mengapa tidak mengakhirinya di penyerangan kedua besok ini? Apakah kalian takut kepadanya?" Ejek Hinata dengan nada sombong.


"Aku harus sabar... aku harus sabar... tenang!" Batin Warrance yang hampir mematahkan tongkat yang ia pegang.


"Hahaha... ya, bukan berarti kami anggap ia adalah ancaman besar. Namun, Maria mengatakan lebih berhati-hati, dan gegabah adalah kunci kegagalan dari penyerangan The Greed Necromancher." Jelas Warrance dengan senyuman kaku.


"Oooh... begitu kah? Aku rasa pertemuan ini tidak lebih dari basa-basi saja." Hinata pun meninggalkan ruangan.


*Kraaaak.....!!!!


Warrance tidak sengaja mematahkan tongkat nya.


"Ahahaha... begitu lah, tanpa dia kita masih bisa melakukannya. Dan aku terlalu bersemangat sampai genggaman ku terlalu kuat."


"Jadi, bagaimana strategi penyerangan besok? Kau tidak langsung ke intinya!" Tegas Blood Shaman.


"Oh maafkan aku, kali ini yang berperan penting adalah Gravestone. Dia harus mencemari salju yang sudah ku buat dan akan menimbulkan kekacauan..." Warrance menjelaskan semuanya tentang rencana ini.


"Hei... apakah aku boleh berpartisipasi dalam misi ini?" Tanya Aris yang siuman.


"Ah... ya tentu saja. Apa yang tidak buatmu, Aris. Tetapi apakah kau yakin dapat melawan mereka dengan jumlah banyak?"


"Apapun itu aku sanggup, aku tidak perlu bantuan! Jangan kirim bantuan apapun!"


"Kau sangat yakin? Jangan terlalu memaksakan dirimu, Aris. Setelah Gravestone dan aku mundur, kemungkinan bala bantuan akan datang. Dan kau menyanggupinya begitu saja?" Tanya sekali lagi Warrance.


"Aku seribu persen sanggup dan yakin. Aku akan membantai mereka semua! Hehehe...!" Ucap Aris.


"Tapi..."


"Sudahlah biarkan saja. Aku mempercayai nya." Sahut Maria.


"Huh...! Baiklah, kalau Boss yang berkehendak, apa daya bagiku. Ngomong-ngomong, apakah ada pertanyaan? Tidak ada? Kalau begitu, kalian boleh bubar." Ucap Warrance mengakhiri rapat.


_________-------------__________------------________


Sementara itu, untuk keadaan sekarang....


Mata biru muda nan rupawan yang dilihat. Setelah itu, pancaran sinar itu hilang... Dimana gadis itu?


Dibutakan oleh pesona, salah satu mereka sudah terdapat katana yang menancap dan muncratan darah dimana-mana.


"Jangan mendekat, kau monster!!! Aaaaargggghhhh!!!"


2 korban jatuh...


"Sialan kau! Tak akan kubiarkan kau hidup!"


*Slaaaaash.....!!!

__ADS_1


5 korban jatuh...


Dia menerjang dengan aura membunuh. Untung saja, Grace dapat menghentikannya.


"Lawan mu adalah aku!" Ucap Grace.


Gadis itu memberi jarak.


"Grace, dia adalah Aris atau bisa disebut AR-15. Sebuah robot pembunuh dengan daya tahan kuat!" Beritahu Akemi.


"Baik. Info yang bagus. Bisa dibilang dia adalah lawan yang berbahaya!" Balas Grace.


Aris sudah bersiap ancang-ancang dengan menundukkan tubuhnya dan tumpuan tangan dan kaki yang seperti assassin.


Serangan kedua dilancarkan, tak ada yang menyangka akan kedatangannya yang sanggup mematahkan pedang Grace.


"Kuat sekali! Kekuatan macam apa ini? Dari pola serangannya, dia terlihat menebas dan kembali di tempat semula." Batin Grace yang terkejut.


"..." Gadis itu berdiri di sana dengan penuh ancaman.


"Baiklah, waktu main-main sudah berakhir!" Grace yang mulai serius memanggil pedang terkuatnya.


Pedang biru sedang yang dilapisi warna biru dan keemasan serta perak.


Serangan berikutnya dilancarkan, tetapi ini sangat berbeda. Tidak ada kuda-kuda ataupun mengambil ancang-ancang, dia hanya berdiri dengan aura menakutkan.


Tiba-tiba, katana yang dia pegang teraliri arus listrik entah darimana. Mungkin dari energi dalam tubuhnya...


Untuk kedua kalinya, gadis itu terlalu cepat bagi mata manusia. Dia sudah di belakang Grace dengan tebasan. Kemudian, Grace terkena dan tersengat arus listrik sampai terluka berat.


"Arrrgggh... Aaaaahhh" Teriak Grace kesakitan, lalu ia pun jatuh.


"Kecepatan macam apa itu? Sulit sekali untuk memprediksi!" Batin Grace yang sekarat.


Sementara kondisi Grace dibawa Amanda ke tempat aman. Kemudian, Amanda memberikan ramuan dan perban, serta sihir penyembuhan untuk memulihkan Grace.


Robot itu seakan tak mengenal lawannya, tak ada yang menggentarkan nya walaupun dikeroyok massa.


Akemi teringat akan suatu hal...


"Oh ya, akan ku coba dengan cara itu." Gumam Akemi.


Lalu, Akemi mengulurkan tangannya dan menembakkan sebuah sihir ke Aris. Lengan kanan Aris secara tiba lemas dan menjatuhkan katana nya.


Kesempatan itu tak dibuang-buang. Robot itu dihajar habis-habisan, merobek kulitnya dan terlihat bagian besi.


Namun, dia tak mau kalah. Dia mengambil kembali katana nya dan melawan balik. Serangan kombinasi 6 tebasan mengangkat semuanya ke udara. Keadaan kembali berbalik, dan banyak korban berjatuhan.


Aris mewaspadai akan serangan paralyzed berikutnya, ia pun melepas kulitnya dan mendorong semuanya. Terlihat sangat jelas bongkahan besi mirip tengkorak. Mata sebenarnya yang terlihat adalah merah menyala.


Di bentuk ini, segala efek negatif tak akan pengaruh kepadanya.


"Apa yang sudah terjadi? Apakah itu wujud aslinya?"


"Entah, tapi lihat! Aku mendapatkan katana nya!"


Robot itu membelokkan pandangan ke arahnya...


"Uh oh! Dia mendekat!"


Aris semakin dekat dengan petualang itu dengan langkah berat. Petualang yang membawa katana nya berusaha melawan balik dengan mengayunkan senjata itu.


Usaha yang sia-sia. Serangan ditahan, dan dengan mudah menghancurkan katana tersebut. Petualang malang itu panik dan bergemetar kencang.

__ADS_1


"A-a-a-a... Tolong...!" Laki-laki itu dicekik lehernya lalu diangkat setinggi mungkin oleh Aris.


Reaksi yang payah, orang-orang sekitar baru menolong laki-laki malang itu. Namun, nasib malang menimpanya. Dia mati dalam keadaan tulang leher yang patah.


Mereka semua tidak terima dengan kematian rekannya, langsung mengeroyok sekali lagi robot tersebut.


Para penyihir sudah merapalkan berbagai mantra terkuat, seperti penghasil ledakan dahsyat, tak menggores sedikit pun. Apalagi petarung terkuat tak bisa memindahkan posisinya. Julukan "Immovable Entity" sangat cocok menggambarkan robot itu.


Di sisi lain, Grace yang sudah pulih, berubah ke bentuk Bertarung. Di bentuk ini terlihat jelas siapa jati dirinya. Sayap hitam yang lebar, kulit agak pucat pasi, dan taring panjang nan mengerikan.


Kemudian, ia terbang tinggi ke langit hanya untuk mencari keberadaan Aris. Saat yang tepat, para petualang tak mampu lagi untuk bertahan. Tanpa sepengetahuan, Grace langsung menyerang Aris dengan sihir terkuatnya, Dragon Lightning Penetrate. Bahkan sihir kuat pun, tidak memberikan kerusakan berat terhadap mesin itu.


"Kau cukup tangguh juga ya. Butuh banyak energi untuk menembus pelindung mu!" Gumam Grace yang sedang terbang di langit.


Lalu, Aris melompat cukup tinggi dan mengerahkan pukulan serius nya.


"Cih, dasar rongsokan! Akan ku hancurkan kau!" Kesal Grace yang menahan rasa sakit di perutnya.


Keadaan kembali semula, sebuah rantai merah muncul dari bawah, dan mengikat mesin itu--- sekarang, mesin itu tak bisa kemana-mana.


Singkat cerita, di atasnya sudah ada bola api seukuran rumah.


"Kali ini kau tidak akan selamat! Rasakan ini! Giga Fire Ball!" Teriak Grace sambil melempar bola api raksasa itu.


Saat bola api itu sudah di depan mata, rantai yang mengikatnya lepas dan hancur. Terlambat...! Aris pun terkena panasnya bola api itu.


"Apa? Tak dapat dipercaya! Ini tidak mungkin! Bagaimana ia bisa selamat dari bara api panas itu?" Ucap Grace yang heran.


*Dang...Dang...Dang...Dan....!!


Suara hentakan kakinya menggelar di telinga para petualang. Grace yang hampir kehabisan energinya, ia turun perlahan dan nafasnya tersengal-sengal. Saat itulah, nyawa Grace akan terancam. Di sana, Aris mencekik Grace untuk memberikan kematian perlahan.


Tiba-tiba, Justin dan Mitch menggunakan kekuatan dari Sang Dewi menangkap dan memegangi mesin pembunuh itu. Namun, kedua pahlawan itu terlempar dengan mudah.


"Dari mana kekuatan sebesar itu? Kuat sekali!" Batin Justin.


"Cih... Justin! Gunakan seluruh kekuatan mu! Kita harus berusaha menangkapnya agar tidak kemana-mana!" Teriak Mitch.


"Baik, aku mengerti! Hyaaaaaah!!!!!" Teriak Justin yang mengeluarkan seluruh energinya.


Untuk kedua kalinya, kedua pahlawan itu menangkap dan berusaha tidak melepaskan rangkulannya. Dari belakang diikuti para petualang lain yang membantu mereka. Petualang yang dapat terbang mengangkat Aris.


Proses itu tidak semudah di perkiraan Mitch. Mesin itu sangat sulit ditaklukkan, orang sebanyak itu tidak setara dengan kekuatan mesin itu. Justin dan Mitch bersama mengerahkan pukulan mereka ke kepala Aris.


"Cih diam lah kau, rongsokan besi! Divine Blow!!!" Teriak Mitch.


Tujuan rencana Mitch adalah menggiring Aris untuk masuk ke mulut gunung Magaria. Tepat di atas, Aris siap untuk dijatuhkan. Namun, mesin itu malah menarik dan melepaskan kaki dari salah satu petualang.


"Tolong! Tolong aku! Siapa pun tolong aku!" Teriak petualang itu yang tidak bisa menahan lama.


Grace, Mitch, dan Justin. Mereka bertiga bersama sama melancarkan serangan yang sama yaitu Divine Blow.


Akhirnya, Aris terkena hantaman dan jatuh menukik tepat ke mulut gunung Magaria. Itu untuk akhir dari Immovable Entity, Aris.


Setelah mengerahkan cukup banyak energi, Grace tiba-tiba muntah darah dan naluri Vampire nya menuntun dia agar menghisap darah segar.


-


-


-


-

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2