
"Kita sudah sampai!"
Yang di hadapan mereka adalah sebuah menara tak bertuan yang sudah rusak sebagian eksteriornya.
"Aku tidak merasakan energi kehidupan di menara ini!" Ucap Hinata yang menggunakan kemampuannya.
"Ini akan mudah sekali!" Ucap Riyo yang masuk ke dalam dengan santainya.
"Tunggu Riyo!" Teriak Chika yang selalu waspada.
"Kalau kau terlalu banyak teriak, sekumpulan monster bisa kesini loh!" Ujar Hinata.
Lalu disusul dengan Hinata memasuki menara tua itu.
"Hei... jangan tinggalkan aku sendirian!"
Ketika mereka masuk...
"Cih, kenapa ada tugas yang menelusuri bangunan tua ini? Tidak ada yang menarik disini!" Keluh Riyo.
"Mungkin kita harus menuju lantai atas." Saran dari Chika.
"Masuk akal juga kamu ini."
Beberapa jam sudah berlalu, tetapi mereka tidak menemukan sesuatu hal menarik di sana.
"Huh..huh.. naik turun tangga juga melelahkan ya." Ucap Chika.
"Ini buang-buang waktu saja! Lebih baik kita pulang saja!" Riyo yang sudah muak.
"Tunggu sebentar!"
"Ada apa lagi, Hinata? Kau sudah melihatnya kan, tidak ada yang bisa kita bawa pulang di sini! Lebih baik kita ambil saja hadiah dari misi ini."
"Di atas kita masih ada satu lantai yang belum kita telusuri! Kemungkinan di sana banyak sekali harta yang bisa kita bawa pulang!" Ujar Hinata.
"Apa? Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Ayo cepat naik!" Semangat Riyo kembali pulih.
Singkat cerita, mereka menemukan lantai baru, dimana semuanya terlihat rapi dan mewah.
"Eh... tadi tidak ada lantai semacam ini!" Chika yang mulai curiga.
"Siapa peduli? Yang penting lantai ini sepertinya menyimpan banyak harta karun!"
______----------_______------------_______
"Lihat apa yang kita dapatkan kali ini?" Kata Maria yang melihat bola kristal.
"Apa ada yang spesial hari ini?" Tanya Aris yang penasaran melihat bola kristal.
"Apa kalian tidak ingin menyambut hangat kepada tamu yang tak diundang kali ini?"
"Eh ternyata mereka rupanya. Bagaimana kalau aku saja yang akan menyambut mereka?" Aris yang menawarkan dirinya.
"Ha... kelihatannya kita akan mendapatkan perselisihan teman antar teman. Silahkan, sapa mereka dengan keramahan mu, Aris!"
"Tentu saja, akan ku perlihatkan sikap baik ku! Hehehe..." Ucap Aris sambil menggunakan batu teleportasi.
"Hei Warrance, bagaimana kalau kau mengikutinya?" Tanya Maria.
"Aku rasa dia bisa mengurusi semuanya, tak perlu bantuan ku juga." Ucap Warrance yang tidak mau repot.
"Kenapa kau membawa topeng Smiles Cry?"
"Huh... topeng ini hampir tidak berguna tanpa pasangannya. Lebih baik buang sajalah." Ucap Warrance dengan keresahannya.
Tiba-tiba, topeng itu bergetar dan bersinar.
"Eh... ada apa dengan topeng ini?"
"Itu... topeng itu merasakan pasangannya ada di dekatnya. Semakin lama semakin besar getarannya, itu bertanda ada yang memakai topeng itu." Jelas Maria.
"Jangan-jangan..." Ucap Warrance belum sampai selesai, ia sudah pergi begitu saja.
"Huh... dia tidak tahu kalau aku memakai topeng ini bisa mengendalikan pengguna topeng pasangannya." Ujar Maria sambil memakai topeng yang dijatuhkan Warrance.
Sementara kondisi Chika dan lainnya...
__ADS_1
"Aku tidak pernah melihat ruangan semacam ini! Aku takut kalau tumpukan boneka ini mulai bergerak dan menyerang kita!" Ucap Chika dengan pikiran negatifnya.
"Kau ini selalu saja khawatir! Kenapa kau tidak memikirkan hal yang positif, seperti kita mendapatkan harta berharga dan pulang dengan selamat." Ucap Riyo yang kesal.
"Seperti yang kulihat di sana?" Chika menunjuk ke arah sebuah ruangan terbuka yang berisi harta karun.
"Woooow... perkataan ku memang benar!" Teriak Riyo yang berlari masuk ke ruangan tersebut.
Disusul dengan Chika dan Hinata. Mereka langsung mengambil semua yang mereka inginkan. Tak heran jika tasnya penuh dengan perhiasan.
"Lihat ini! Akhirnya aku mendapatkan senjata baru!" Teriak Riyo yang memilih panah barunya.
"Dan lihat koin-koin ini! Entah berapa banyak makanan yang bisa ku beli! Haaaa...." Chika yang terlena dengan imajinasinya.
"Aku rasa itu sudah cukup. Saatnya kita pergi dari sini, sebelum ada yang datang!"
Mereka keluar dari ruangan, malah disambut oleh teman lama mereka.
"Yo... Apa kabar semuanya?" Salam hangat dari Aris.
"Eh..? Aris? Bagaimana kau bisa sampai di sini? Dan apa membuatmu kemari?" Tanya Chika yang heran.
"Tidak ada, hanya ingin menemui teman lama. Ngomong-ngomong, mengapa hanya bertiga saja? Mana yang lain?"
"Kau benar benar-benar wanita biadab! Dengan santainya kau mengatakan hal semacam itu! Jangan mengira kalau kami melupakan semua perbuatan hina mu itu!" Teriak Riyo yang tidak terima.
"Kalau saja, teman mu yang bernama Akemi tidak mengawalinya. Insiden itu pasti tidak akan terjadi." Ucap Aris dengan santainya.
"Cih, kau pikir perkataan mu akan mengadu domba kami? Tidak akan terjadi! Perkataan Akemi memang benar! Kita harus membunuh wanita satu ini apapun caranya!" Emosi Riyo menggebu-gebu sambil mengeluarkan pedang yang baru ia dapatkan.
"Riyo! Jangan bawa emosi mu! Kau ingat dengan yang dulu?" Ucap Hinata yang menenangkan Riyo.
"Hinata benar, kau sama saja dengan Akemi! Kendalikan dirimu!"
Tiba-tiba, seorang dengan memakai topeng yang tidak asing datang dari langit.
*Boooooom.....!!!
Suara keras akibat terjunnya orang misterius itu.
"Jadi... Siapa di antara kalian yang bisa ku percaya?" Ucap orang misterius itu dengan menodongkan kedua pedangnya ke ara mereka.
"Akemi? Apakah itu kau?"
"Ya, inilah Aku! Akemi Ryouta! Pahlawan baru yang akan memerangi para iblis!" Dengan suara gagah, Akemi mengatakan hal semacam itu.
"Hooo... lama tidak jumpa, bocah pedang Akemi!" Salam Aris dengan senyuman ramahnya.
"Jangan sebut aku dengan sebutan aneh mu itu! Jadi... sebagai teman, apakah kau masih mempercayai ku?" Tanya Akemi kepada Chika.
"Tentu saja, kami selalu mempercayai mu! Bahkan untuk Riyo pun! Benarkan Riyo?" Jawab Chika yang seperti tidak ada pilihan lain.
"Apakah yang dikatakannya itu benar?" Tanya sekali lagi Akemi.
"Hmm errrgh... Baiklah terserah!"
"Bagus! Sekarang saatnya kau menemui ajal mu!" Akemi sekarang menodongkan pedangnya ke arah Aris.
"Wah wah... baru datang malah menodongkan pedang ke sembarang orang. Sangat tidak sopan!"
"Kalau begitu makan nih pedang!" Ucap Akemi sambil melemparkan pedangnya.
Aris hanya melompat sedikit dapat mengindari pedang melayang itu. Kemudian, ia pun mendarat di atas pedang yang tertancap di dinding.
"Itu saja?"
"Di belakang mu!" Ucap Akemi yang sudah tepat di belakang Aris.
Aris yang sudah memprediksinya, dengan mudah ditangkis serangannya dengan tangannya. Mengetahui serangan kejutannya gagal, Akemi pun mundur dan mulai menggunakan kekuatan sihirnya.
Akemi menggunakan berbagai macam penambahan atribut kepada dirinya. Setelah itu, ia pun mulai melancarkan serangan yang sama, tetapi tanpa melemparkan pedang.
"Cih... serangan sama tidak akan bekerja untukku!" Ucap Aris yang sombong.
Aris pun mulai menangkisnya dengan satu tangan, tetapi...
"Pelumpuhan!"
__ADS_1
Tiba-tiba, lengannya lumpuh total dan tidak bisa ia gerakan sama sekali.
Aris menerima serangan hantaman dari Akemi sampai terpental jauh.
"Apa itu tadi? Sial! Lenganku secara mendadak tidak bisa ku gerakan!" Batin Aris.
Setiap kali ia menangkis serangan Akemi, anggota tubuhnya mendadak lumpuh total. Dan ini yang menjadi kekalahan telak Aris.
Setelah cukup lama bertarung, Aris yang mendapatkan luka banyak, terbaring tak berdaya dengan kondisi lumpuh seutuhnya.
Chika dan yang lainnya melihat pertarungan itu, sangat senang dan bangga dengan Akemi.
"Kau hebat sekali, Akemi! Akhirnya kau mengalahkan musuh bebuyutan mu!" Puji Chika dengan bahagia.
"Eh... apa ini? Kenapa kalian menyoraki ku? Apa ada hal spesial?" Tanya Akemi yang seperti bangun dari mimpinya.
"Haha... benar sekali! Kau memang luar biasa! Aku salah menilai selama ini." Ucap Riyo yang juga memuji Akemi.
"Eh... Ahahaha terima kasih! Aku hanya melakukan apa yang bisa ku lakukan!" Ucap Akemi dengan senyuman pahitnya.
Lalu, Akemi menoleh ke arah Aris.
"Mati! Kau harus mati!" Gumam Akemi yang mendekati Aris.
Dengan rasa dendam yang amat dalam, Akemi memastikan kematiannya Aris dengan cara menusuknya beberapa kali dengan pedangnya.
"Arrrgggh....! Arrggggh!!!!.... Aaaargghhh!!! Uhuk!"
Aris yang sudah lumpuh total, hanya bisa pasrah dan tidak melawannya.
"Mati! Mati! Mati kau! Matilah!" Teriak Akemi sambil terus menusuk Aris hingga bertubi-tubi.
Tak lama kemudian, Akemi terpental jauh akibat suatu dorongan misterius.
"Aku rasa itu sudah cukup!" Ucap Warrance yang baru datang.
Melihat sosok wanita vampir yang baru muncul, membuat mereka bertanya-tanya siapakah gerangan yang bisa mendorong Akemi tanpa sentuhan. Kedatangannya membuat suasana ruangan itu menjadi neraka es yang sangat amat dingin. Aura dingin yang disekitarnya mengintimidasi Chika dan lainnya.
Kemudian, Aris dibawa oleh beberapa boneka ke tempat yang lebih aman.
"Siapa kau? Dan beraninya kau menggangguku!" Bentak Akemi kepada wanita vampir itu.
"Kita sudah pernah bertemu sebelumnya. Namun, aku tetap akan memperkenalkan diriku. Perkenalankan, namaku adalah Warrance, The Last True Vampire. Tujuanku kesini tidak untuk bertarung, melainkan untuk memberikan penawaran untuk kalian semua." Jelas Warrance.
"Apapun penawaran yang kau berikan, akan tetap ku tolak mentah-mentah!" Teriak Akemi dengan tekad kuatnya.
"Ho... aku yakin jika kalian mendengarnya, ku yakin kalian tidak takut untuk menerimanya." Ucap Warrance yang tidak menyangkalnya.
"Haaah... banyak bicara kau ini! Terima ini!" Teriak Riyo sambil menembakan anak panah terkuatnya yaitu 'Burning Shot'.
Serangan pamungkas dari Riyo tepat sasaran mengenainya. Namun, menurut Warrance serangan tersebut tidak ada bedanya dengan hembusan angin lewat.
Yang mengejutkan adalah Riyo langsung membeku setelah melancarkan serangan itu.
"Kenapa Riyo bisa membeku seperti ini? Apa ini ulahnya?" Tanya Chika yang kebingungan.
"Benar sekali yang kau pikirkan! Ini berkat 'Cold Aura' yang ada di sekitar tubuhku. Apapun metode serangan mu, akan tetap ku kembalikan dengan rasa dingin hingga membekukan dirimu!" Jelas Warrance dengan nada jahatnya.
Mereka bertiga mulai panik, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Warrance pun mulai mendekati mereka bertiga. Langkah demi langkah, jejak kakinya diikuti oleh udara dingin nan membeku. Semuanya ia lewati tidak ada yang tidak membeku.
"Aaaaahhh... Aku lebih baik pergi dari sini!"
Akemi yang takut mati, ia meninggalkan Chika dan Hinata sendirian dengan monster mengerikan itu.
"Maafkan aku! Maafkan aku! Aku jadi masalah bagi kalian kesekian kalinya! Maaf! maaf!" Batin Akemi sambil terbang kabur dari menara ini.
-
-
-
-
-
__ADS_1
-
Bersambung...