Endless Winter

Endless Winter
Chapter 12 : Day 37, Gigant Trojan Desire (END)


__ADS_3

Hari ke-37...


"Sepertinya dia tidak tahu apa-apa tentang penyerangan." Duga penjaga wanita.


"Omong kosong! Dia pasti tahu semuanya, dia berada di sana, dan selamat dari ledakan!" Bantah penjaga tua.


"Huh... terserah apa yang kau katakan. Merepotkan sekali!"


"Cih, dasar. Cepat jelaskan! Siapakah sebenarnya kamu ini?! Bagaimana kau bisa selamat dari ledakan itu?! Cepat katakan!" Penjaga tua mempertanyakan kepada Hinata yang sedang diikat di kursi.


"Bodoh sekali kau ini! Bagaimana dia menjawab dengan mulut tersumpal! Sangat merepotkan!" Ujar penjaga wanita yang melepas sumpalan kain di mulut Hinata.


"Hehehehe....."


"Apa yang lucu?"


"Sudah kubilang kan, lepaskan saja dia. Dia benar-benar gila!"


"Diam kau!" Bentak si tua itu.


"Apakah kalian tahu? Tahu akan aku? Tahu akan kejadian itu? Ataukah, kalian ingin tahu tentang Speaker Of Darkness?" Hinata mulai membual.


"Apa yang dia katakan ini? Hei! Ngomong yang benar, gadis gila! Katakan siapa namamu?" Ucap penjaga tua.


"Tatsuyaku Hinata."


"Oh, kok mudah sekali untuk membuka mulutnya ya." Heran si tua.


"Alangkah bodohnya kau ini pak tua. Kau percaya dengan semua yang keluar dari mulut wanita gila ini?" Sahut wanita itu.


"Dasar tidak berguna! Lebih baik keluar dari sini dan tutup mulutmu!" Bentak pak tua langsung di hadapan wanita itu.


"..."


"Dan untuk dua benda aneh yang kau bawa ini. Coba jelaskan benda apa ini?!"


"Aku sarankan kau agar tidak menyentuh benda yang berbentuk bola berlubang. Itu adalah Black Cloud Core. Jiwa mu akan terhisap jika terlalu lama menyentuhnya." Ungkap Hinata.


Mendengar hal itu, penjaga tua itu langsung menaruhnya kembali. Kemudian ia mengambil benda berbentuk Limas segitiga.


"Terus yang ini?"


"Hei pak tua! Kenapa kau tidak menganalisa sendiri benda tersebut. Apakah kau tidak memiliki energi mana?" Sela si penjaga wanita.


"Hah... kau meremehkan ku? Kau tidak tahu, aku ini adalah seorang penyihir terhebat pada masanya. Ingatlah hal penting itu!" Beritahu si tua.


"Begitu kah... semoga orang-orang akan selalu mengingat kehidupan mu, pak tua. Hehehe...!"


"Apa yang kau-..."


*Dooor.....!!!


Seketika, membuat tubuhnya tersisa pada bagian bawah sahaja. Darah muncrat memenuhi satu ruangan. Hinata pun juga tidak luput kena imbasnya--- wajah penuh darah.


"Hehehehe...." Heran sekali, tidak ada teriakan sama sekali, hanya gelak tawa pelan keluar dari mulut Hinata. Benar-benar gila.


"Bagaimana perasaan mu? Apakah ada rasa penyesalan di dalam hati mu? Kumohon, jawab pertanyaan ku!" Ujar Hinata yang penasaran.


Penjaga wanita tidak menghiraukannya, ia sedang mengeluarkan sesuatu di balik belakangnya.


*Teng...Teng...Teng...Teng...!!!


Nampak terdengar suara bel dari tangan si penjaga wanita. Lambat laun wujudnya berubah, hingga terlihat seperti seorang wanita berambut putih dengan poni yang menutupi sebelah matanya.


"Padahal aku tidak tahu namamu, tetapi... mengapa kau menolongku?" Ujar Hinata.


Wanita itu hanya menyeringai.


Singkat cerita...


"Tunggu sebentar... kau ingin membawa ku kemana?" Tanya Hinata dengan tangan yang ditarik.


Wanita itu berhenti sejenak, "Untuk sekarang sampai kita keluar dari sini, aku akan menjadi penolong mu."


Kemudian, mereka berdua bergerak kembali.


"Namamu?"


"Yukki!"


"Oh... nama yang indah untuk seorang wanita menawan seperti mu, seindah butiran bintik-bintik putih yang berjatuhan ini."


Wanita itu kembali berhenti untuk keduakalinya.


"Bagaimana kau...?"


"Kuhuhu... ternyata aku benar. Aku juga seperti mu, orang asing dari luar dunia ini."


Setelah mendengar hal itu, ekspresinya kembali datar dan menarik lengannya.


Sejauh mata memandang, kerajaan itu mulai berubah. kosong dan tak bertuan. Kemana semua penduduk lainnya? Oh ternyata, kedua wanita itu menemukan sebuah keramaian di pusat ibukota.


Keramaian itu sampai memenuhi ibukota, tak heran jika ada yang diluar, saking banyaknya. Namun, mereka tidak menghiraukan nya dan lanjut pergi meninggalkan kerajaan itu.


"Wow... ternyata di luar tembok pelindung, masih ada lagi." Ujar Yukki yang terkejut.


"Lalu kita harus apa? Kita tidak bisa keluar, mending kita balik ke kerumunan tadi." Saran Hinata.


"Jika ingin terus hidup, ikuti saja semua arahan ku!"


"Kenapa?"


"Ada baiknya jangan cari tahu hal baru. Biar kucoba hancurkan tembok itu."


Tembok yang dimaksud terbentuk oleh 6 pillar yang sudah berjejer mengelilingi Seckanift Theocracy. Pillar antar pillar membentuk lapisan tembok baru. Lapisan itu terbuat dari sihir menyala warna ungu gelap.


"Bagaimana kau seyakin itu? Tembok seperti nya dilapisi sihir kuat, mana mungkin kau bisa menghancurkan nya. Kau saja tidak memiliki mana sekali pun." Beritahu Hinata kepada Yukki.


"Heh... sekuat apapun sihir itu... akan tunduk dengan peluru anti-sihir ku ini." Ucap Yukki yang selesai mengisi penuh peluru di pistolnya.


*Doooor....Dooor....Dooor....!


Terdengar tiga suara tembakan yang hampir terdengar penjuru kerajaan.


Seketika, salah satu lapisan sihir itu retak dan pecah.


"Tidak mungkin, ternyata itu bekerja! Bagaimana kau melakukannya?" Takjub Hinata


"Hmmmpph... kau akan tahu sendiri!" Jawab Yukki dengan rasa kerennya.


Tiba-tiba, tanah mulai bergetar--- seperti ada yang bergerak dari bawah. Kemudian, muncul sebuah tumpukan boneka benang menutupi salah satu lapisan pillar.


"Ah sial! Kita tidak akan bisa keluar! Kecuali boneka besar itu hancur...ups!" Yukki tidak sengaja mengucapkan hal yang tidak seharusnya diucapkan.


"Apa barusan? Boneka besar? Apa yang kau sembunyikan, Yukki?" Curiga Hinata.


"Ah, tidak apa-apa. Boneka besar itu hanya istilah yang tidak akan kau mengerti. Jadi ikuti aku, akan ku Carikan jalan lain." Yukki berusaha merubah topik pembicaraan.


"Aku tidak mau ikut! Kecuali kau memberitahukan ku semuanya!" Pekik Hinata.


"Ugh... apa yang harus ku lakukan?" Batin Yukki.


Di detik itu, Yukki teringat dengan ucapan dari Warrance, "Tugas mu selajutnya adalah cari dan pastikan keselamatan dari Tatsuyaku Hinata! Dia telah mencuri Black Cloud Core. Benda itu harus kembali ke penyimpanan relic apapun yang terjadi!"


"Huh... baiklah, boneka besar ku maksud adalah boneka yang berada di ibukota. Dan itu penyebab ada keramaian di sana. Kau juga jangan sampai ke sana, bisa saja kau terpengaruh dan menjadi salah satu dari mereka. Dan pillar itu juga bagian dari boneka raksasa itu." Jelas Yukki yang tak punya pilihan lain.


"Bohong! Pasti ada hal lagi yang kau sembunyikan!"


Wanita berambut putih itu menghela nafas, "Dengar ya... percaya atau tidak, itu adalah urusan mu. Aku sudah memberikan sebuah fakta, jadi aku akan memastikan keselamatan mu!"


"..."


"Hoi... jangan bengong! Gapai lah tangan ku!"


Hinata secara tiba jatuh tersungkur, "Adu-duh... tiba-tiba dadaku terasa sesak..!"


"Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" Yukki pun ikut panik.


Kelengahan itu dimanfaatkan oleh si licik Hinata.


*Slaaaaash......!


*Auuugh... Gack.... Eeegh....!!


Darah segar bercucuran dari lehernya. Wanita itu tidak menyangka akan hal ini.


"Sialan...!" Umpat Yukki sembari menahan pendarahan di lehernya.


"Auuugh... Auuughhh.... Auuughhh.... Aaarghhh...!"


Lalu, dengan cepat Hinata menusuk Yukki berkali-kali dengan pisau tersembunyi nya.


Alhasil, Yukki pun jatuh dan berbaring tak berdaya. Gadis berambut hitam itu berhenti, ia melihat pistol milik Yukki. Dia terpikirkan sesuatu.


"Sepertinya dia masih bernafas, kemungkinan dia masih hidup!" Batin Hinata.


*Dooor....Door...Doooor....!!!


Untuk mengakhiri penderitaan nya, Hinata menembakinya sekali lagi tepat di kepalanya. Tak berhenti begitu saja, ia juga berkali-kali menembak tepat di dada kirinya.


Setelah memastikan wanita berambut putih itu mati, ia langsung meninggalkannya begitu saja.


_____------_____-------_______


Situasi mulai ricuh. Terbentuknya sekte baru pemuja boneka kuda sudah sejak boneka itu muncul. Dipimpin langsung oleh para pihak gereja yang kemungkinan telah terpengaruh juga.


Mereka semua melakukan ritual sakral, gerakannya begitu aneh--- tidak dapat dimengerti sama sekali. Kemudian, untuk mengakhiri ritual tersebut, Pihak gereja menyerukan para pengikutnya agar mengucapkan mantra tertentu.


"Wahai pengikut ku! Sudah siapkah kalian?" Seru pemimpin dari gereja.


"Woooooooooo.....!!!!" Para pengikut bersorak.


"Untuk itu, kita selesaikan dengan mengucapkan mantra. Ikuti aku semuanya! Bangkitlah, Speaker Of Darkness! Bangkitlah, Speaker Of Darkness!"


"Bangkitlah... Speaker Of Darkness.... Bangkitlah Speaker Of Darkness...."


Semuanya bersama-sama mengucapkan mantra. Mereka yang tidak melihatnya, tidak tahu akan bahayanya. Boneka kuda itu mulai memperlihatkan sedikit pergerakan. Dan tak ada yang tahu.


Boneka kuda itu juga menunjukkan tanduk runcing layaknya seekor Unicorn. Dan kemudian, itu semua terjadi sangat begitu cepat...


*Ra...Ra...Ra...Ra...Ra...Raaaagh...!!!


Mata ungu gelapnya dengan cepat menyala terang, seluruh pengikut dan pihak gereja yang tak dapat dihitung dengan jari, langsung jatuh terbaring di tanah. Mengapa itu bisa terjadi?


Sedangkan mereka yang sudah bersiap menyerang boneka itu terkejut melihatnya. Semua orang langsung mati dalam hitungan detik. Amanda yang di sana sudah mendeteksi bahwa roh mereka sudah dicabut dari raganya.


"Lalu apa yang kita lakukan sekarang?"


"Aku rasa serangan tadi aktif ketika mata boneka itu menyala. Dan sekarang, lihatlah...! Pancarannya redup... serangannya memiliki waktu jeda. Tidak tahu sampai kapan, tetapi... kita harus memanfaatkan kesempatan ini. Ayo serbu!" Seru Amanda.


Para pasukan yang sudah berada di sekeliling boneka langsung menyerbu dan menyerang. Sementara itu...


"Huh...kenapa aku harus berperan sebagai dirinya, padahal kan lebih enak dia sendiri yang memainkan perannya. Huh... untung saja aku sudah diajari menggunakan benda panjang ini." Batin Warrance dalam wujud Yukki.


"Kalau tidak salah aku harus memasukkan amunisinya, lalu menarik tuasnya. Dan kemudian... menunduk dan mengintip lewat teropong kecil ini... wow, ternyata aku bisa melihat lebih jauh dari teropong biasa." Gumam Warrance.


"Ternyata semuanya sudah mulai menyerang, baguslah kalau mereka menurut padaku. Tembak saja bagian tanduknya."

__ADS_1


Warrance menarik pelatuk senapan, yang membuat peluru meluncur dengan kecepatan tinggi menghantam tanduk yang kokoh itu.


Ternyata, peluru itu sanggup menembus lapisan pelindung sihir dari boneka itu, tetapi tidak dengan ketebalannya. Seketika, membuat boneka itu mengetahui posisinya. Dari culanya, pancaran energi berpusat dan melepaskan sinar laser yang mengarah ke langit. Namun, Warrance terlambat menyadari.


Sebuah portal dari atas terbuka--- laser itu tidak ke langit melainkan terhubung dengan portal lain. Mau tidak mau harus menghindarinya. Rumah-rumah penduduk terbakar hangus tak bersisa, Warrance yang sudah menghindarinya dengan kemampuan blink, masih terkejar olehnya.


"Sialan... sampai mana jangkauan serangan ini?" Gumam Warrance sembari terbang berputar-putar untuk menghindari.


Kemudian, serangan itu berhenti.


"Akhirnya berhenti juga. Ternyata jangkauannya tidak terlalu jauh. Tunggu dulu...!"


Benar saja, Warrance yang salah perhitungan harus merasakan serangan laser penghancur itu dari portal lain yang muncul di bawah kakinya. Entah bagaimana, salju yang sebelumnya turun lebat, sekarang menghilang.


Sedangkan, para pasukan disibukkan dengan pasukan boneka benang yang menjaga boneka raksasa itu.


"Makhluk apa ini? Kenapa dia bisa kembali ke bentuk semula, padahal sudah ku cincang dia!" Ujar Mitch.


"Makhluk sialan! Mereka terlalu banyak, dan bermunculan dari pillar-pillar itu!" Sahut Justin.


Setelah disibukkan dengan Warrance, Boneka Kuda itu kembali fokus dengan yang lain.


"Oh sial! Benda itu sudah siap untuk melakukan serangan kedua. Semuanya berkumpul jadi satu!" Seru Amanda sambil menciptakan sebuah perisai pelindung berbentuk kubah besar.


Mitch, Grace, Justin, dan Misa sudah berhasil berkumpul dan masuk ke dalam kubah. Namun naas, mereka yang di luar terpaksa jiwanya harus dicabut oleh boneka itu. Tak sedikit korban berjatuhan.


"Kenapa... kenapa kau tidak membuat kubah pelindung lebih besar? Yang lain bisa saja selamat. Apakah kamu tidak peduli dengan yang lain?" Ujar Misa yang memojokkan Amanda.


"Woi... jaga mulutmu! Kau pikir mudah menciptakan hal semacam itu? Pakai otakmu!" Tegur Grace yang menampar mulutnya Misa.


"Kenapa kau menampar ku? Seharusnya dia yang pantas ditampar! Mengorbankan orang-orang tak bersalah." Misa yang membela diri.


"Cukup! Jangan sampai aku menamparmu sekali lagi!"


Lalu Amanda jatuh tersungkur di tanah, "Dia benar, kenapa aku tidak membuat yang lebih besar ya. Seharusnya aku buat yang lebih besar, tetapi bagaimana dengan berikutnya? Mana ku sudah habis jika membuatnya lebih besar. Kenapa ini sangat sulit? Pilihan ini membuatku bimbang!"


"Amanda, sudahlah! Jangan pikirkan omongan bocah cengeng ini! Terpenting kita masih ada yang selamat untuk melawan balik boneka itu! Kau harus tetap tegar! Pengorbanan sudah wajar dalam peperangan!" Ucap Grace.


"Daripada kalian bertengkar, lebih baik bantu kami menangani boneka-boneka sialan ini!" Teriak Justin yang menahan segerombolan boneka.


_______--------______--------_____


"Huh...huh...huh... Sudaha berapa lama kita bertarung?"


"Kurang lebih 30 menit. Dan boneka itu sudah mengeluarkan serangan pamungkas nya sebanyak 3 kali. Aku khawatir kalau mana ku tidak cukup untuk membuat kubah pelindung lagi." Ucap Amanda.


"Jangan khawatir, kita akan mengakhirinya sekarang!" Ucap Grace yang bangkit dari kelelahanya.


"Bagaimana kau yakin? Setiap kali kita hancurkan bagian tubuhnya, dia selalu meregenerasi bagian yang sudah hancur." Sahut Mitch.


"Sebenarnya, aku yang akan mengakhirinya!" Grace langsung terbang dan meninggalkan teman-temannya.


"Hei... kau mau pergi kemana?"


"Libele, apakah energi ku cukup untuk melancarkan serangan itu?"


[Ya, energi mu lebih dari cukup, tetapi serangan ini akan menguras seluruh energi di tubuh mu!]


"Itu tidak masalah. Karena aku yang akan mengendalikan tubuh ini!"


Penampilannya berubah ke Battle Mode. Sebuah pedang berwarna merah kehitaman dikeluarkan olehnya, Crimson Divine Blade. Kemudian, semua energi terpusat ke pedang agung tersebut.


Sementara, boneka kuda raksasa itu tidak mau kalah--- bersiap untuk mengeluarkan semua energi daya hancur ke tanduk serta menahan dari mulutnya.


"Inilah saatnya! Saat yang dimana hasrat ku memilih diriku! Baiklah... Hyper Crimson Radiance!!!"


Pancaran pengrusak meluncur dari ujung pedang dengan sangat cepat. Destruction Beam melesat serta diiringi Destruction Breath dari mulut boneka. Dan terjadilah tabrakan dari dua serangan itu, satu pemenang dan satu tumbang.


Grace sekuat tenaga untuk tidak menjadi si tumbang. Kemudian, ia mengingat kembali siapa saja yang berharga baginya. Di detik itu, tekadnya semakin membara, juga serangannya pun ikut membesar dan mendorong serangan lawan.


*Raaaaaargh.......!!!!!


Pada akhirnya, kita menemukan sang pemenang. dampak dari serangannya, membuat sebagian besar bagian tubuh dan kepala boneka lenyap begitu saja, menyisakan keempat kaki.


"Huh...huh...huh... uhuk uhuk uhuk.... Aku menang?" Ucap dari mulut gadis yang sudah kelelahan.


[Selamat atas kemenangan Anda!]


Gadis itu tersenyum, "Syukurlah..."


Tak lama kemudian, gadis itu jatuh. Dengan sigap, teman-temannya ikut menangkap tubuh gadis yang lemah letih itu.


"Selamat Grace! Kau mengalahkannya!"


"Kau benar-benar luar biasa tadi, jurus apa itu tadi? Kau mau mengajariku?"


"Syukurlah, kau masih selamat, Grace!"


Gadis itu tersenyum dengan tulus, "Terima kasih semuanya!"


"Kalian terlalu cepat untuk berselebrasi."


Postur tinggi kira-kira 4 meter, sedang berdiri di belakang mereka.


"Siapa kau sebenarnya?" Tanya Amanda.


"Huhuhuhu.... Aku ucapkan selamat kepada kalian telah mengalahkan mahakarya Agung ku, Gigant Trojan Desire!" Ujar sosok wanita tinggi itu.


"..."


"Ehem... maafkan aku... aku adalah pencipta dari boneka raksasa itu, Marianette. Kalian cukup hebat, terutama gadis vampir itu. Dan... semoga kalian bisa mengalahkannya untuk kedua kalinya.... Hahahaha!!!!"


Ucapan itu seperti mantra, benar saja--- berasal dari reruntuhan boneka raksasa itu, jiwa-jiwa terkekang akhirnya dapat keluar bebas. Namun... mereka malah sanggup membangun kembali boneka itu.


Dengan kayu dan besi dari rumah warga yang hancur, mudah baginya membangun ulang kembali. Hanya beberapa detik, boneka itu kembali utuh dan bangkit kembali, dan bersiap menghisap jiwa lagi.


"B-B-Bagaimana bisa terjadi? T-Tadi kan sudah hancur? Aku tidak mau mati disini!" Ucap Misa sambil meringkuk ketakutan.


"Cih... sialan! Akan selalu ada musuh merepotkan, tetapi ini terlalu merepotkan!" Batin Grace yang melemah.


Boneka raksasa itu bersiap menghisap jiwa lagi, sedangkan Amanda juga bersiap membuat kubah pelindung.


"Owwh... Begitu cara kalian menghindari serangan pencabut jiwa itu? Menakjubkan! Aku salah menilai pada gadis elf itu... Kenapa tidak kau ungkap kekuatan asli mu, gadis elf?" Dengan santai, Maria mengungkap rahasianya Amanda.


"Siapa sebenarnya dia ini? Bagaimana dia..." Ucap Amanda yang sangat terkejut.


"Ada apa Amanda? Apa yang kau sembunyikan?"


"Hahaha... Saatnya untuk tidak menjadi beban lagi."


"Apa yang kau bicarakan, Amanda?"


"Terima kasih semuanya! Terutama untuk mu Grace. Kau sudah menyadarkan aku akan arti dari hidup. Sebenarnya, aku adalah seorang esper. Aku mengetahui semua isi pikiran mu, dan tujuan hidup mu. Untuk sekarang, giliran ku yang akan mengakhiri ini. Kalian semua! Lindungi aku!" Ungkap Amanda kebenaran dirinya.


"Apa yang akan kau lakukan? Aku merasa tidak enak akan kau lakukan!" Tanya Grace yang khawatir.


"Tidak apa-apa, Grace. Percayakan semua pada ku! Terpenting adalah keselamatan mu dan yang lain." Jawab Amanda.


"Tunggu... aku tidak setuju dengan mu! Bagaimana dengan keselamatan diri mu? Kita bisa pikirkan cara lain---"


"Grace...."


"Iya?"


"Tak ada waktu lagi, ini adalah satu-satunya cara untuk mengalahkan boneka itu! Jadi, tolong! Lindungi lah aku dari boneka itu saat persiapan! Kau mengerti?" Ucap Amanda dengan nada menenangkan hati.


"Iya... aku mengerti!"


"Bagus, kondisi mu juga melemah. Kamu jangan paksakan dirimu lagi. Kamu sudah berkali-kali melindungi ku, sekarang giliran ku untuk melindungi mu. Bantulah mereka menghadang para boneka itu."


"Baiklah, aku akan selalu mengingat semua perkataan mu, Amanda!" Ucap Grace yang pergi membantu Justin dan yang lain.


"Ho'oh... sungguh menyentuh sekali." Ucap Maria dengan nada mengejek.


"Boneka rongsokan mu akan kalah kali ini!" Pekik Amanda.


"Hehehe... kita lihat saja nanti!"


Dengan tenaga kuat, tongkat yang ia pegang, tertancap ke tanah. Mulutnya tak berhenti untuk membaca mantra, gerakan tangan aneh nan misterius membuat penasaran Maria.


Awan badai mulai berdatangan. Langit sanggup diubah, salju kini menghilang sementara, petir menggelegar dan angin ribut berdatangan. Muncul sebuah lingkaran sihir di tanah. Bahkan waktu pun dapat berhenti, tak ada yang melawan hukum waktu.


Maria dengan santai melawan hukum waktu, "Waktu pun dapat kau berhentikan? Sungguh luar biasa sekali."


"Cih... ternyata dia memang sangat kuat! Namun, tak berikatan dengan waktu belum tentu kuat." Batin Amanda.


Kemudian, persiapan sudah selesai--- waktu kembali berjalan layaknya tidak terjadi apa-apa. Satu persatu tidak lupa ia berikan kepada temannya, berupa bola pelindung sihir.


"Ayo lakukan Amanda!"


"Kalahkan rongsokan itu!"


Gadis elf itu tersenyum.


"Purification Arts.... Destroying All...!!!"


Amanda mengeluarkan jurus terlarangnya, melancarkan sebuah gelombang yang akan membebaskan semua jiwa makhluk hidup dengan radius sangat jauh.


"Ternyata... uhuk... uhuk... tidak hanya satu, melainkan berjuta-juta jiwa terkekang di dalam rongsokan tersebut! Aku harus semaksimal mungkin! Hyaaaaah!!!!"


Dia terus melancarkan gelombang berkali-kali, tubuhnya terus dipaksakan untuk bertahan. Padahal dia tahu akan resiko besar dari jurus itu. Teriakannya terdengar di penjuru kota, pupil nya mulai menghilang, pendarahan terlihat di daerah hidung dan mulut.


Melihat hal itu, Grace tak tega membiarkan Amanda menderita. Ia bersikeras untuk menghentikan nya, tetapi itu dicegah oleh kawan-kawannya.


"Dasar keparat kalian, kenapa kalian mencegahku? Aku harus menghentikannya!"


"Maaf Grace, tak ada pilihan lain!" Ungkap Justin.


"Wow... ini sangat amat seru! Kalian jangan kalah dengannya, wahai para jiwa kontrak ku!" Ucap Maria.


Lalu, Amanda berhasil. Kemenangan di pihak manusia. Rongsokan itu seperti kehabisan daya. Tubuhnya sudah tidak kuat, akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Namun, Grace dengan sempat memangkunya sambil meratapi nasib.


"Kenapa!!! Kenapa kau harus melakukan ini, Amanda!!!! Seharusnya aku yang melakukannya saja!!!!" Pekik Grace dengan air mata yang berlinang.


"Ini semua salahku! Jika saja... jika saja aku lebih kuat... Hal ini mungkin tidak akan terjadi!!!"


Teman-temannya mulai mendekati Grace, "Tenanglah Grace, ini semua bukan sepenuhnya salah mu."


"Diam kalian!!! Ini juga kesalahan kalian!!! Kalau tidak dicegah... Aku bisa menghentikannya!!!" Teriak Grace menjadi-jadi.


"Cukup Grace! Yang terjadi, biarlah tejadi! Jangan meratapi nasib seperti itu! Kau bukan anak kecil lagi, Grace!" Bantah Mitch.


"Kau juga tidak tahu apa-apa! Lebih baik kau diam saja!!!"


Dari arah berlawanan, Maria datang sembari menepuk tangan, "Selamat... Selamat atas kemenangan kalian! Kalian sudah menunjukkan perjuangan kalian... perjuangan hidup dan mati... berterimakasih lah pada gadis elf mu--- tanpa dia, dunia bisa saja kiamat, sesuai dengan ramalan gereja!"


"Kau....!!! Karena... Kau!!!! Ini semua terjadi! Mati lah kau, brengsek!!!!" Dengan amarah mendalam, Grace menyerang Maria menggunakan pedangnya.


"Apa? Berani sekali kau menghindarinya! Mati!!! Mati!!!! Enyah lah!!!! Terima ini!!!!"


"Menyedihkan sekali.... Bagaimana cara kau mewujudkan impian besar mu, padahal menyentuh ku saja tak dapat kau wujudkan!" Ejek Maria.


"Jangan main-main dengan ku!! Impian ku tidak sekedar khayalan belaka, aku pasti akan mewujudkan nya! Ingat hal itu, brengsek!!!"


"Grace....Grace...!" Panggil Misa sambil menarik bajunya.


"Apa?!!!! Jangan ganggu aku!" Pekik Grace.

__ADS_1


"Mitch dan Justin mulai bertingkah aneh! Lihatlah!"


"Hohoho... ternyata benda kecilnya sudah mulai bekerja. Sayang sekali, nasib mereka akan sama dengan teman mu, Grace." Ucap Maria sembari tertawa menarik.


"Woi...!!! Mau pergi kemana kalian? Kau dengar aku?!" Teriak Grace.


Kedua pemuda itu berjalan mendekati rongsokan boneka itu. Memulai memanjat, seperti ada hal istimewa di puncak. Saat di puncak, Mitch dan Justin duduk bersandar satu sama lain, mereka tidak menghiraukan suara Grace.


"Cih... apa yang telah kau perbuat? Hah?" Grace menanyakan kepada Maria.


"Tidak ada... Itu sudah diluar dari jangkauan tangan ku... Hoooh... ini akan menjadi bagus sekali. Aku menamai karya baru ku dengan nama "Boneka usang berjamur terdampar di puncak beku". Woah... ini akan lebih baik dari sebelumnya."


"Apa.... Tak mungkin! Ini tidak sama dengan di pikiran ku kan? Jangan bilang mereka akan---"


"Hehehe... tepat sekali. Mimpi Buruk Gadis Jamur telah kembali!" Sahut Maria.


Grace tak bisa berbuat apa-apa, kepalanya semakin pusing, mentalnya sudah hancur, tak ada yang memperdulikannya. Sementara, Misa dengan kelakuan lugu dan gugupnya, selalu berada di belakang Grace.


Lambat laun, perisai pelindung sihir mulai memudar. Dikit demi sedikit, pertumbuhan jamur berbahaya mulai terlihat. Dan berselang lama, tubuh dua pemuda itu sudah dipenuhi oleh jamur parasit berbahaya yang siap menebar spora nya.


"Kisah tragis telah berakhir, semua aktor telah berguguran, dan tirai merah pun menutup dengan gemulai. Kamu sudah menyadari kesalahan besar mu dan merenungkan nya. Mungkin, inilah tepat untuk memulai kehidupan normal." Pesan terakhir Maria sebelum menghilang tanpa jejak.


"Hei... Libele! Kenapa... kenapa aku tak bisa menghancurkan nya? Apa aku ini lemah menurutmu?"


[Sebelumnya, saya meminta maaf sebesar-besarnya. Dunia yang anda tempati ini, banyak sekali peraturan dan konsep tak banyak diketahui, terlebih masalah pada pemanggilan. Mereka tidak mengatakan akan melemahnya para orang yang bukan asli dunia ini. Semakin lama, semakin berkurang kekuatan dan kemampuan jika berada di dunia ini terus...]


"Buatlah lebih singkat!" Seru Grace.


[Intinya, kekuatan Anda akan berkurang seiring berjalannya waktu. Saya katakan sekali lagi! Anda bukan lah orang lemah! terlebih lagi, Anda dapat mengalahkan nya dengan mudah jika ini adalah game yang Anda mainkan. Sayangnya, kenyataan nya tidak.]


"..." Grace dengan kekesalannya, ia limpahkan dengan memukuli tanah menggunakan tangan berdarah nya.


Sementara Misa yang melihatnya, berusaha untuk menenangkan nya, justru mendapat dirinya didorong sampai jatuh tersungkur.


[Saya punya saran untuk Anda!]


"Jangan ganggu aku lagi! Lebih baik diam lah!"


[Anda bisa menyerap semua jiwa yang sudah terbebaskan dari benda terkutuk itu!]


"Lalu, untuk apa aku menyerapnya? Semuanya tetap tidak akan berubah."


[Huh... Aku sudah capek jadi sistem terus! Ya menjadi kuat lah!!! Mau buat apalagi!?!! Kau tidak ingin menjadi kuat?!?! Kau ingin membiarkan orang jahat itu menggagalkan tujuan hidup mu?!? Hah?!?!] Seketika, Libele menunjukkan dirinya yang sebenarnya.


"Huh..??? Bagaimana kau..."


"Hentikan kesedihan mu, Grace!!! Jangan terperangkap dalam masa lalu! Kau bisa sesali semuanya untuk hari ini, tetapi kau juga harus bisa bangkit untuk mewujudkan dunia yang kau impikan itu! Kau mengerti?!?!" Seru Libele di dalam pikiran Grace.


"Baik, aku mengerti! Tapi, bagaimana caranya aku menyerapnya?"


"Kau tak perlu memikirkannya, biar aku yang akan mengurusnya. Kau sendiri tinggal berbaring dan harus sanggup menampung semua jiwa itu!" Jelas Libele.


"Baiklah, aku percaya kepadamu." Ujar Grace sambil berbaring di tanah.


Meskipun jiwa-jiwa itu telah dibebaskan oleh Amanda. Namun, masih ada kubah pelindung raksasa yang menahan jiwa-jiwa itu untuk ke akhirat.


Entah bagaimana Libele melakukannya, seketika membuat jiwa sebanyak itu langsung memasuki tubuh Grace yang melemah.


"Kau harus fokus dan jangan biarkan mereka menguasai tubuh mu, Grace!" Peringat Libele.


"Nihihihi... gadis bodoh, kau pikir tubuhmu sanggup menerima kami yang sebanyak ini? Jangan percaya dia, tubuh mu akan hancur jika diteruskan begini. Bagaimana jika kita bertukar posisi?" Tawar salah satu jiwa jahat.


Sialnya, belum sampai di pertengahan, Grace hampir terpengaruh oleh jiwa jahat. Tubuh nya tak cukup kuat untuk menerima tekanan yang cukup besar itu.


"Grace, Paksakan tubuh mu untuk sadar! Jika kau terpengaruh, tubuh mu akan dirasuki, dan membuat masalah baru lagi! Jangan biarkan hal itu terjadi!" Tegas Libele.


Beberapa menit kemudian...


"Berhasil! Kita berhasil, Grace!... Grace? Bangun, Grace!" Pekik Libele yang telah berhasil menyalurkan jiwa liar ke dalam tubuh Grace.


"..."


"Jangan bilang... Grace! Sadarlah! Aku sudah bilang jangan terima tawarannya!" Panik Libele sembari menggoyangkan tubuh Grace.


Tak lama kemudian, Grace bangun dengan spontan dan berkeringat banyak.


"Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?" Tanya Libele.


"Aku... aku... aku mendapatkan gambaran mimpi buruk! Dimana, semuanya... tak ada terkecuali--- semuanya berubah menjadi boneka benang, dan... di bawah kendali iblis brengsek itu, Marianette!!" Ungkap Grace dengan nafas tersengal-sengal.


"Itu buruk sekali! Jika dibiarkan begitu saja! Omong-omong, bagaimana dengan tubuh mu? Apa tak ada perubahan? Apa ada kekuatan yang terasa mengalir di tubuh mu?"


"Untuk saat ini, aku merasa seperti biasa. Namun, aku merasa lebih baik dari sebelumnya." Jawab Grace.


"Begitu rupanya. Lalu, apa yang akan kau lakukan seterusnya, Grace?" Pertanyaan terakhir dari Libele.


"Entahlah, kurasa aku harus berlatih dan terus berlatih." Sanggah Grace.


"Grace... siapa yang kau ajak bicara itu?" Tanya Misa.


"Kau tak perlu tahu. Dari wujudnya saja sudah jelas kan." Jawab Grace yang bangun dan berdiri.


"..."


"Hei, kau! Siapa namamu?!"


"Nama ku Misa!"


"Misa... kalau kau ingin berambisi, ikutlah dengan ku!" Ujar Grace.


"Hiks... hiks...hiks... maaf... maaf atas semua yang telah ku perbuat! Aku terlalu takut untuk melakukannya. Perkataan Maria benar, lebih baik aku berhenti dalam pekerjaan ini. Menjalani kehidupan normal terlihat lebih mudah... hiks...hiks... hiks... maaf sudah mengecewakan mu, Grace!" Gadis malang itu terus menangis tak ada hentinya.


"Cih, dasar penakut! Baiklah, aku memaafkan mu! Ku anggap ini adalah perpisahan kita! Sampai jumpa!" Kata Grace sambil meninggalkan Misa.


"Jadi... siapa dirimu sebenarnya? Kamu terlihat persis dengan Grace." Tanya Misa kepada Libele.


"Hihihi... kau tidak akan tahu."


Kemudian, Libele menghilang begitu saja. Seketika membuat Misa memasang wajah ketakutan.


____-----_____-------______


Di suatu waktu...


"Jadi, kau ingin membuat kontrak dengan ku, Nona kecil?" Ujar Gravestone


"Euuuughhh...huh...huh...huh!" Suara Misa ketakutan.


"Hahaha... tak perlu takut begitu, Nona manis! Jika memang demikian, maka bayaran apa yang akan kau berikan padaku?" Canda Gravestone.


"Se-se-sebenarnya, aku takut akan kematian. Setiap kali aku memikirkannya, membuatku berkeringat dingin hebat. Untuk itu, aku datang kepadamu, Gravestone Demon!" Jelas Misa.


"Hmmm... sangat lucu jika aku mengambil umur mu... Oh, aku tahu. Bagaimana jika setiap orang yang dekat dengan mu akan mati dan jiwanya menjadi milikku?" Tawar Gravestone.


"Emmhp... baiklah, jika itu keinginan mu. Tetapi, apakah aku tidak akan mati?" Misa yang ragu memastikan ulang.


"Hahaha... kau lucu sekali, Nona kecil! Percayakan lah padaku!"


Misa langsung membuat raut muka bahagia.


Kembali ke masa sekarang...


"Hahaha... sudah kukatakan! Kontrak ku membuatnya selamat dalam insiden mematikan sekali pun." Dengan sombong, Gravestone mengatakan itu di depan Blood Shaman.


"Cih, jangan sombong dulu kau ini. Bagaimana dengan umur? Kau masih akan menyelamatkannya?" Tanya Blood Shaman.


"Tentu saja tidak, aku bisa memberikannya umur panjang, asalkan bayaran kontrak yang cukup mahal." Ujar Gravestone.


"Sepertinya, Hari kebangkitan Mimpi Buruk Gadis Jamur akan segera tiba. Untuk itu kita harus meledakkan bangkai boneka itu untuk menciptakan Endless Winter sesungguhnya." Ujar Blood Shaman.


"Ya, terserahlah. Yang terpenting kubah penahan jiwa ku sudah menahan banyak jiwa. Saatnya ku ambil kembali."


*Booooom.....!!!!


_________----------________--------_______


Kondisi tubuh Warrance sangat mengenaskan, hampir sebagian tubuhnya terbakar hebat sampai terlihat jelas organ dalamnya


"Ugh... untung saja aku masih selamat. Ups... rahang ku terjatuh." Dengan santainya, ia mengambil kembali rahangnya yang terkelupas.


Di hadapannya, terdapat mayat tergeletak tak jauh darinya. Ia pun memutuskan untuk mendekati dan mengeceknya.


"Wah... rupanya dia. Woi... bangun! Jangan bilang kau mati konyol lagi. Dimana si ****** Hinata itu?" Tanya Warrance sambil menendang-nendang tubuh Yukki.


"..." Yukki terbangun dan mendapati pemandangan tidak mengenakan pada matanya.


"..."


"Penampilan mu berantakan sekali!"


"Apa yang terjadi pada mu? Dimana dia?"


"Bagaimana kau bisa bicara tanpa rahang?"


"Cih... lupakan itu! Dimana Hinata?" Kesal Warrance.


"Panjang ceritanya. Dia kabur bersama Black Cloud Core di tangannya. Dia sempat menusuk ku dari belakang." Ujar Yukki dengan suara yang agak serak.


"Sialan! Dia lebih licik dari yang ku duga!" Gumam Warrance.


"Aku sudah bilang kan, tukar peran itu ide buruk! Sekarang, lihatlah dirimu! Kau hampir terbakar dengan Destruction Beam." Yukki cukup kesal dan meluapkan amarahnya.


"Huh... andai saja aku sempat menggunakan perisai ku..."


Tak lama kemudian...


*Boooom......!!!!


Untunglah, Warrance sempat menggunakan Absolute Zero Barrier.


"Kau bisa melihat dengan mata kepala mu sendiri..." Ucap Warrance yang masih meyakinkan Yukki.


"Ugh...!" Yukki terdiam dan memegangi kepalanya terasa sakit.


"Hoi... kau ini kenapa lagi? Kau baik-baik saja?" Tanya Warrance terheran.


"Huh...huh...huh... huh... sekarang lebih mendingan daripada yang dulu." Gumam Yukki dengan nafas tersengal-sengal.


"Apanya yang sekarang, dan yang dulu hah?" Tanya sekali lagi Warrance.


"Tidak ada, hanya masa lalu ku saja." Yukki seperti menyembunyikan sesuatu.


"Oke, asalkan kau sudah tenang, kita kembali ke menara!"


Kemudian, mereka berdua kembali ke Mirage Tower...


_______--------______---------_______


"Yukki, bagaimana kesan mu terhadap misi yang telah kau jalani selama ini? Apakah kau tersanjung? Tegang? Atau Menakutkan?" Tanya Maria yang duduk menyilang kan kaki nya.


Yukki hanya membalas dengan senyuman, "Aku rasa aku telah menemukan jati diri ku! Namun, setiap kali aku membunuh seseorang, melihat darah mereka, membuatku terasa tertekan. Jantungku berdebar kencang, kepalaku terasa sakit. Sampai sekarang, suara-suara aneh itu menjadi-jadi, berbisik di pikiranku."


"Menarik!"


-


-

__ADS_1


-


..."TAMAT"...


__ADS_2