Endless Winter

Endless Winter
Chapter 10 : Nightmare's Prelude


__ADS_3

Sebelum itu, pencarian dilakukan setelah 10 hari hilang tanpa kabar.


Hutan Sigor memanglah dikenal sebagai hutan angker, ketidakpastian di dalamnya lebih mengerikan daripada cerita seram beredar.


Banyak yang membuktikan segala cara pada berbagai macam kisah menyelimuti hutan misterius.


Salah satunya adalah para pendaki sebelumnya tertelan badai salju. Regu pencari memberanikan diri meskipun tahu akan konsekuensinya.


Mereka membekali peralatan dan mental yang cukup matang. Merekrut 5 orang relawan dan menjadi kapten tim regu pencari. Benar dia adalah Raymond, seorang veteran yang sudah lama menggeluti berbagai hal.


Susana di sana sudah pasti tak bersahabat, jarak pandang berkurang akibat rimbunnya salju berjatuhan, hembusan hawa dingin memberikan efek kejut baru bagi pemula.


"Apakah benar ini tempatnya? Lebih seram daripada dugaanku." ucap pencari A bersembunyi dibalik pencari B.


"Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan! Kita sudah ada ahlinya, benar kan, Raymond?" ledek pencari B.


"Tetaplah fokus! Jaga pikiranmu agar tidak kosong!"


"Tak perlu khawatir katamu, bagaimana dengan ini?" sahut pencari D dengan kepala mayat di tangannya.


Sekejap membuat A melompat ketakutan.


Mendengar kegaduhan berulang kali, Raymond bergegas memberi pelajaran kepada mereka semua.


"Hei! Aku tak akan mengulanginya lagi! Jika kau mau pulang saja! Jangan menghambat pekerjaan ku lagi! Paham!?" bentak sesaat darinya yang kesal.


Sontak, mereka langsung termenung menunggu ocehan Pak Tua Raymond.


"Ah, dasar anak-anak jaman sekarang! Menyusahkan saja!!" gumam dia yang langsung bergegas meninggalkan mereka.


Waktu demi waktu mereka lalui dengan pemandangan tak mengenakkan dimana pun sepasang mata mereka melihat. Tak sedikit pula bau bangkai menyengat yang memecahkan fokus.


"Jika diperhatikan, mengapa kebanyakan bangkai di sini dipenuhi oleh jamur?" tanya pencari D.


"Ku katakan sekali lagi! Tak perlu memikirkan hal lain, kerjakan apa menjadi tujuan kita ke sini, dan selesai!" tekan Pak Tua Raymond tanpa menggubris sekitar.


Namun, ada saja yang penasaran akan dia lihat...


"Hei! Jangan dipegang! Kita belum tahu jenis jamur apa yang kita lihat ini!" Tegas Pencari D yang menahan lengan Pencari B.


"Ah... maaf... maaf! Jamurnya seperti memancarkan cahaya aneh, rasanya ingin ku pegang!" papar dari pencari D.


"Hah? Cahaya? Apa yang kau maksud barusan?" Pencari D terus memperhatikan jamur tersebut, tetapi hasilnya nihil.


"Ah... Emmmh... Aaah... aku tak bisa menahannya! Aku ingin memegangnya sebentar saja!"


Dengan sigap, Pencari C langsung menyergap dan membanting Pencari D ke tanah cukup keras.


"Kumohon, biarkan aku memegangnya sekali saja!"


"..."


Namun, Pencari C tetap menekannya agar tidak lolos dan seakan mendudukinya.


"Kerja bagus! Sebaiknya kita bergegas membuntuti Pak Tua itu, sebelum terlambat."


Sembari berlari, Pencari C terpaksa harus menggendong bahkan menyeret Pencari D sekali pun.


"Kau yakin dengan arah yang dilalui Pak Tua tadi?" Pencari C yang tak yakin.


"Tentu saja, kurasa begitu. Ah... badai saljunya lebat sekali. Aku memikirkan hal terburuk!" ungkap Pencari B.


Sekali lagi, gangguan menimpa mereka beserta kabar buruk kehilangan jejak dari pemimpin mereka.


"Terburuk? Memangnya seburuk itu? Selama kita masih bisa bertemu dengannya, tak akan ada yang lebih buruk." Dengan nada datar, Pencari C menjelaskan pemikirannya.


"Aku takut hal ini akan terjadi! Sesuai dengan yang kau ucapkan barusan." Pencari B mulai panik.


"..."

__ADS_1


Pencari C menghentikan langkahnya. Membuat semua orang bingung.


"Lantas, mengapa kau terus melangkah? Bukankah sudah jelas?!"


Layaknya tak memiliki sedikit rasa takut, terdengar jelas nada bicaranya.


Bingung memilih arah tujuan maupun pulang. Rasa dingin mereka rasakan beserta kepanikan tak kunjung usai membuat pengawasan mereka teralihkan.


"Bagaimana ini?! Bagaimana cara kita pulang?! Iiiihhhh....!" Ketakutan selalu menyelimuti Si A.


"Lebih baik kau akui ketidakbecusan mu! Kalau sedari awal sudah tahu tersesat, ada baiknya kita pasang tenda dulu." gerutu Si C sembari proses memasang tenda.


"Ini bukan sepenuhnya salah ku kan?! Kalau saja tidak ada masalah tadi, kita masih bersama Pak Tua itu! Kenapa kau tak salahkan si sialan pemakan jamur itu?! Ngomong-ngomong, dimana dia?"


Semua orang baru sadar anggota mereka sudah hilang tanpa sebab.


"Ah... yasudah lah, biarkan dia! Kita istirahat saja di sini!" ucap Pencari B dengan santainya.


"Kau... bilang apa tadi?! Membiarkannya? Ada yang salah dengan otakmu itu!" Cemooh dilontarkan oleh Si C.


"Memangnya kau ingin mencarinya? Silahkan! Cari dia sampai ketemu! Jangan harap aku membantu." gerundel Si B sambil membuang muka.


"..."


"Ah... ah eh... sebaiknya kita istirahat sampai badai nya usai. Setelah itu baru mencarinya, bukankah begitu?" usul Si A menengahi mereka.


"..."


Tanpa sepatah kata, Si C segera masuk ke dalam tendanya. Begitu pula Si B.


"Eh... aku lupa untuk membangun tenda!"


Terkejut bukan main, Pencari A bergegas langsung masuk tenda milik C.


_______---------________-----------________


Pagi yang cerah di awali dengan aktivitas alam. Bukan burung berkicau, melainkan nampak sebuah jamur melepaskan spora ke udara, dihembuskan beberapa angin dingin ke segala arah.


"Oi... bangun! Ini sudah pagi buta!! Sampai kapan kau menikmati bunga tidur mu itu!" celetuk Pencari C sembari membuka resleting tenda.


"Oh... kau rupanya... Hoaaam... bagaimana kau bisa masuk kesini?!" gumam Pencari B yang baru bangun.


"..."


Sembari persiapan, Pencari B pun bertanya, "Bagaimana cara kita menemukan Pak Tua itu? Sama saja jika kita menemukan bekas jejak kakinya. Badai semalam lebat sekali, tumpukan salju tebal hampir menutupi kedua kaki kita."


"Lebih baik kau bereskan semua peralatan mu terlebih dahulu, baru melakukan hal lain! Kau ingin terjebak disini?" sembur Si C dengan mulut pedasnya.


"Baiklah..."


Salju begitu lebat, membutakan pandangan mereka meskipun sudah menjelang pagi. Mereka terlalu fokus terhadap apa yang ada di hadapannya sampai sampai tidak menyadari bayangan mendekati mereka... Siapakah gerangan?


"Huh... Huh... Huh... Huh...!"


Keberadaanya mengejutkan semua orang. Tak mungkin dia.


"Pak Raymond? Bagaimana anda bisa berakhir menemukan kami!?" heran Pencari A.


"Biarkan aku istirahat sebentar... aku butuh air... Berikan aku air!!" tekan Pak Tua itu.


"B-baik... Ini dia... Silahkan dinikmati!!" tutur Si A dengan gelagapan memberikan sebotol air mineral.


Pencari A bergegas mengambil kotak obat untuk mengobati luka gigitan yang diderita Pak Raymond.


"Coba bapak ceritakan apa yang membuat Anda ketakutan lari terbirit-birit!" ucap Si C menyilangkan kedua tangannya.


"Bagaimana bisa...?"


"Huh... Tentu saja, mudah untuk ditebak. Lihat saja raut wajahnya, seperti dikejar sesuatu." tebak Si C dengan percaya diri.

__ADS_1


"Huh... Huh... Dia memang benar!! Aku tadi bertemu salah satu teman mu! Gelagat nya sangat aneh. Saat aku dekati, dia sontak menggigit di tangan kananku. Alhasil, aku pun berlari ketakutan tanpa arah, dan berakhir disini." ungkap kebenaran dari Pak Raymond.


"Memang dari awal dia sudah cukup aneh. Aku sudah meragukannya sedari awal."


"Apa yang sebenarnya dilakukan dia, Pak Raymond?" tanya Si B penasaran.


"Aku mendapati dirinya sedang duduk jongkok di sudut sendirian. Dia seperti melakukan sesuatu, tetapi tidak cukup jelas. Saat aku tergigit, aku sempat melihat mulutnya yang penuh busa." papar kesaksian Pak Tua Raymond.


"Apakah mungkin Rabies?"


"Mungkin, sebaiknya kita hentikan misi pencarian ini. Ekspedisi ini gagal! Mari kita kembali ke desa." ajak Pencari C yang membawa tas beratnya.


"Memangnya kau tahu arah pulang?" ledek Pencari B.


"Oh tentu saja, aku tahu! Lebih tahu daripada otak kosong seperti dirimu!" tantang Si C.


"Begitu kah nyalimu? Bagaimana kita buktikan sekarang!"


"Ayo!"


"Hey... Hey... Hey...! Apa yang kalian lakukan!? Tenang saja biar aku pandu untuk pulang!" kata Pak Raymond.


"Dengan badai salju selebat ini, bapak bisa melihat menembus rimbunan salju berjatuhan ini?" tanya Si B yang tidak yakin.


"Kau terlalu meremehkan Pak Tua Veteran ini! Memang terdengar mustahil, tetapi dia bisa melakukannya." ejek Si C.


Perdebatan tak dapat dipisahkan, membuat Pak Tua Veteran tersebut harus turun tangan.


"Sekarang bagaimana? Siap Pulang?" tanya Pak Raymond sembari mengusap kedua tangannya.


"Ya!"


"Tentu saja!"


Terlihat mereka memiliki pipi lebam sebelah.


Sebelum mereka meninggalkan lokasi, salah satu dari mereka melihat soso bayangan dari balik pohon sedang memantau.


Memberitahu ke semuanya, membuat bayangan itu kabur lari menjauh dari mereka. Rasa penasaran menghantui mereka, mereka juga berpikir...


"Jangan-jangan, itu yang menggigit Pak Raymond? Dugaan sementara Pencari B.


"Beluk tentu, tetapi tak salah untuk memastikan." sahut Si C.


Bayangan menyerupai wanita itu bergerak sangat cepat hampir tak dapat disusul oleh mereka.


Namun, memang itu terjadi...


"Sial, kita kehilangannya! Apa yang harus kita lakukan?" tanya Pencari B.


"Bedabah itu berusaha menyesatkan kita!!" pikir Si C seperti biasa menyilangkan kedua tangannya.


"Aaaaaah....!!!" teriak Pencari A jauh dari mereka.


Mendengar nya, bergegas menyelidiki apa yang sedang terjadi.


"Ada apa? Kenapa kau berteriak!?"


"..." Pencari A hanya bisa menunjuk ke arah mayat Pencari D yang sudah ditumbuhi jamur cukup besar.


-


-


-


-


-

__ADS_1


-


Bersambung...


__ADS_2