Endless Winter

Endless Winter
Chapter 9 : Start Over


__ADS_3

Berita dimana-mana--- berita hangat dari runtuhnya Venzonia Kingdom dalam 1 hari. Menimbulkan banyak sekali perdebatan dari perbuatan Hieronian Empire.


Hieronian dikecam oleh dunia, karena penggunaan senjata pemusnah massal. Sebagai negeri adidaya, mereka tidak menanggapinya serius, dan membenarkan perbuatannya. Meskipun begitu, mereka tetap memberikan dana penanggulangan kepada korban yang masih selamat.


"Huh... Mereka sangat nekat ya! Apa mereka tidak memikirkan dampak yang ditimbulkan senjata itu kah?" Keluh Justin terhadap berita yang beredar.


"Negeri adidaya seperti mereka tak dapat ditebak. Jangan heran kalau mereka melakukan hal ekstrim seperti itu." Jawab Mitch.


Kemudian, ada yang datang...


"Kami pulang!"


"Loh... Amanda, cepat sekali jalan-jalannya? Bagaimana dengan kondisinya, Grace?"


"Iya, Grace memintaku untuk pulang. Kondisi tubuhnya mulai membaik, meskipun dia vampir, luka seperti ini akan lama untuk sembuh." Jawab Amanda.


"Omong-omong, apakah kita mendapatkan dana itu?" Tanya Mitch penasaran.


"Tentu saja. Namun, ini tidak sepadan dengan insiden kemarin. Setiap orang mendapatkan 10.000 Koin Emas." Jelas Justin.


"Wow... banyak sekali! Uang sebanyak itu hampir bisa membeli apapun di sini. Meskipun bisa dihitung dengan jari, tetapi jika satu orang mendapatkan segitu, maka dari mana asal anggaran mereka?" Mitch bertanya-tanya.


"Huh... mereka kan negara adidaya. Perkembangan mereka lebih maju daripada kerajaan lain. Mereka tidak menggunakan koin sebagai alat tukar. Namun, mereka menggunakan sebuah lembaran kertas tipis dengan nominal angka. Kemungkinan nilai tukar dari benda itu lebih tinggi dari pada koin yang kita gunakan." Jelas Justin.


______------_____------_____


Di Tower Of Mirage, Maria mengumpulkan seluruh anggota untuk berkumpul di ruang tahta. Semuanya duduk di kursinya masing-masing yang sedang mendiskusikan sesuatu...


"Kalian semua sudah mengetahui mengapa kita semua berkumpul di sini?" Maria memulai pembicaraan.


"..."


"Serius? Tidak ada satu pun? Kalau begitu jelaskan kepada mereka, Warrance!"


Warrance mengerutkan dahinya, "Yang benar saja, Boss? Dalam kondisi pemulihan ku?"


"Perintah adalah perintah! Ini absolut!"


Nafas berat terlihat di wajah Warrance, "Huh... baiklah!"


"Jangan bersenang hati terlebih dahulu--- Ini belum sampai ke 'climax'. Namun, kabar baiknya adalah persiapan untuk menuju 'climax' sudah terpenuhi, yang artinya ini sudah dekat. Apakah kalian tidak sabar menuju puncak?"


Sorakan keras memecahkan seisi ruangan...


"Anu... ngomong-ngomong, siapa yang membuat mu terluka seperti ini, Warrance?" Tanya Gravestone yang menunjuk tubuh Warrance yang dipenuhi banyak perban.


Wanita itu melekatkan jari-jemari nya, "Hehehe... akhirnya kita dapat perlawanan dari mereka--- maksudku, pihak mereka mempunyai seseorang yang dapat melakukan perlawanan. Jadi, ini akan membuat lebih menegangkan dan tidak monoton!"


"T-tapi kau tidak menjawab pertanyaan."

__ADS_1


"Itu tidak penting! Ketidaktahuan akan menggiring mu kepada siapa yang telah membuatku begini. Baik, untuk sekarang akan ku jelaskan apa itu 'climax'!" Ucap Warrance tidak menghiraukan ucapan Gravestone.


Singkat cerita, mereka bubar satu per satu. Hanya menyisakan Maria, Yukki, dan Warrance.


"Kalian berdua benar-benar membuatku takjub. Prediksi hebat dari Warrance sangatlah luar biasa. Bagaimana kau bisa tahu akan penggunaan senjata pemusnah massal?" Ujar Maria yang merapatkan jari-jemarinya.


"Heee... itu mudah. Cuma mendapatkan informasi dari kekaisaran langsung. Serta juga memberikan sejumput informasi kepada mereka akan bahaya nya spora yang dihasilkan." Jelas dari Warrance.


"Tapi... Bagaimana cara mu masuk ke sana? Pertahanan dan keamanan mereka sangat ketat!" Tanya Yukki penasaran.


"Itu mudah, aku menyamar sebagai Emperor's Guard... pasukan khusus yang loyal terhadap sang kaisar."


"Ya begitulah, saat kau tidak ada... Warrance menggantikan mu sebagai ahli spasial untuk mengorek informasi yang ada." Jelas Maria kepada Yukki.


"Kemenangan kemarin membawakan kesuksesan besar. Akibatnya adalah presentase penyerangan dari iblis meningkat. Para iblis mulai bergerak mengobrak-abrik pemukiman manusia. Sesuai dengan keinginan Anda, Boss. Apakah 'The Prince' akan turun?" Ujar Warrance.


"Beliau segera turun jika dunia tidak baik-baik saja. Kemungkinan besar turun dan membantu para manusia. Tidak ada yang tahu kehendak darinya, Beliau tidak lain dan tidak bukan adalah sosok sempurna bagi kita!" Jelas Maria.


Dalam pikiran Yukki, "Bajingan! Apa yang mereka bicarakan? The Prince? Sosok sempurna? Benda apa itu?" Yukki hanya bisa memegangi kepalanya.


"Mohon kerjasamanya, Yukki!"


Kalimat itu mengejutkan Yukki, "Hah? Apa? Untuk apa? Apa aku ketinggalan sesuatu?"


"Untuk menekankan keberhasilan puncak dari rencana!" Jawab Warrance.


"Aku mengerti!"


"Oh ya aku melupakan sesuatu... Yukki, kau dapatkan topengnya kan?" Tanya Maria.


"Ya, ini dia. Sebenarnya aku tidak ingin membunuhnya, tetapi sesuai dengan keinginan anda, topeng lain dari Smiles Cry!"


"Kerja Bagus!" Ungkap Maria menerima topengnya.


"Aku penasaran dengan kekuatan dari topeng ini... Aku dengar, topeng ini dapat mengambil kekuatan lawan hanya sekali lihat saja."


"Hehe... apa yang kau harapkan dengan topeng busuk seperti ini? Tidak ada hal lain selain dikendalikan oleh topeng lainnya." Jelas Maria.


Yukki terdiam dan sedang mencerna perkataan Maria.


"Jadi begini, ada dua topeng... 'Smiles Cry Controller', dan 'Smiles Cry Victim'. Dan yang ku pegang sekarang adalah Victim. Siapapun yang mengenakan ini, dapat dikendalikan oleh seseorang yang memakai topeng Controller." Jelas Maria.


"Oh begitu, bagaimana bisa topeng itu hilang? Ada yang mencurinya?" Tanya Yukki penasaran.


"Bukan pencuri ataupun kejadian supranatural. Melainkan kesengajaan ku menjatuhkan topeng itu untuk keberlangsungan penyerangan Triple Waves." Ungkap Maria dengan menjajarkan topeng itu dengan mukanya.


Kali ini giliran Warrance...


"Apa yang terjadi dengan gadis sombong itu ya? Apakah dia tewas?"

__ADS_1


"Siapa? Siapa yang kau maksud?" Tanya Yukki.


"Menurutmu dia mati atau hidup?" Maria malah bertanya balik.


"Sudah jelas ia tewas di tempat, dia bersama dengan dua Majin yang mati karena ledakan itu." Opini Warrance.


"Nah, sudah kan. Tak ada yang perlu ditanyakan lagi. Sudah sangat jelas bukan? Kalau begitu, aku pergi dulu." Maria langsung masuk ke sebuah portal dimensi.


"Lah? langsung kabur. Padahal masih ada banyak yang ingin ku tanyakan loh." Ucap Yukki yang sedikit kesal.


______[****FLASHBACK****]______


"Sialan! Bagaimana dia langsung tumbang dengan sebuah peluru nyasar? Tak dapat dipercaya!" Gumam Hinata sambil bersembunyi bersama gadis jamur.


"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Gadis Jamur.


"Jangan tanyakan hal itu, sialan! Mending kau juga gunakan otakmu untuk berpikir!" Kesal Hinata.


Hinata mengintip kembali dari balik bangunan besar. Gadis itu melihat The Greed bangun kembali, perlahan namun pasti dengan lemah kekuatan.


Dia memperhatikan sekitar, pandangannya tertuju ke Hinata. Kemudian, lengannya terulur ke depan, diantara jari-jemarinya terdapat bola energi sihir--- Yang tepat mengarah kepada Hinata.


Seketika, Hinata menghilang entah kemana. Gadis Jamur bingung dan berusaha mencarinya. Dia tidak tahu bahwa sebuah peluru sudah meluncur dengan kecepatan tinggi.


Tak ada waktu lagi, ia tewas bersama dengan The Greed yang tanpa menyadari apapun.


Kembali ke masa sekarang...


Sehabis ledakan meluluhlantakkan sebuah kerajaan, Hinata kembali muncul dan terheran-heran dengan yang telah terjadi.


"Apa... yang telah... terjadi di sini? Kemana semua orang? Yang terpenting, bagaimana kerajaan sebesar ini menghilang begitu saja?" Teriak Hinata yang dipenuhi kebingungan.


Gadis itu menyadari sesuatu, bau yang tercium seperti bahan ledakan yang berasal dari dunia aslinya.


Tak lama kemudian, segerombolan tentara Seckanift Theocracy datang. Bukan sebuah pertolongan yang ia dapatkan, tetapi sebuah penangkapan yang membuatnya kepalanya sakit.


"Apa yang sudah terjadi?!!!" Untuk kesekian kalinya, Hinata kesal akan hal yang sudah ia lewatkan.


Lalu, Hinata dibawa oleh pasukan menuju ke Seckanift Theocracy untuk ditahan sementara.


-


-


-


-


-

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2