
Setelah menempuh lama perjalanan melewati berbagai rintangan ilusi mematikan, Natan dan Eryka sampai di ruangan dimana tempat Sang Putri disekap.
"Akankah ini..."
"Benar sekali, ini tempatnya! Aku merasakan energi kehidupan dari Sang Putri." Papar Natan hendak membuka pintu gerbang.
Tak sampai disitu, usaha mereka dihadang oleh kemunculan monster ular raksasa seukuran lorong istana.
"Astaga...!!! Makhluk apa itu?!!"
"..."
Dalam sekejap, makhluk itu kembali masuk ke lubang besar seperti penghubung terowongan.
"Hati-hati... mestinya dia tidak akan membiarkan kita begitu saja. Perhatikan berbagai lubang besar sekitar! Bisa saja ia menyerang kapan saja." Jelas Natan membelakangi Eryka.
"Baik!" Jawab Eryka juga membelakangi satu sama lain.
Degup jantung berdebar menunggu sesuatu yang besar. Namun, kepastian itu belum tentu benar. Terus menunggu sampai menyadari keanehan-keanehan.
"Senyap sekali! Apa yang terjadi? Bukankah dia akan muncul menyerang?" Eryka memberikan pertanyaan kepada Natan.
"Seharusnya begitu... tetapi, pintu gerbang itu diselimuti aura jahat, sepertinya kita harus menghadapinya agar bisa masuk ke sana, kemungkinan seperti itu!" Pikir Natan.
"Hmmm... seperti permainan video saja. Ini akan menjadi lawan merepotkan kalau benda itu selalu keluar masuk lubang. Itu akan memakan waktu banyak." Kata Eryka sembari menumpuk serangan sihir di tangannya.
"Ya, kau memang benar! Kita harus cepat membunuhnya sebelum ia masuk kembali ke dalam. Mungkin saja ia sanggup memulihkan diri atau bisa saja ada lebih dari satu ekor." Pikir negatif Natan terus memperhatikan gerak gerik setiap lubang.
"Itulah kenapa aku sedang menumpuk serangan sihir ku untuk membunuhnya langsung dalam satu serangan. Sekali dia keluar, ku hantam dia dengan berbagai macam elemen sihir yang ku punya."
"Mudah sekali untuk berbicara, bagaimana kalau benda itu punya sisik yang sangat keras? Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Natan.
"Cih... kau ini selalu berpikiran negatif sejak awal kita masuk!" Tuduh Eryka kepada Natan.
"Heh... kau lupa dengan kejadian sebelumnya? Kau hampir saja disantap ratusan serangga jika tidak ada aku." Ejek Natan.
"Grrrr... semua ucapan mu membuatku tidak fokus! Memangnya kau yakin dengan ucapan mu barusan?"
"Aku tidak yakin sepenuhnya, tetapi tidak ada salahnya jika kita antisipasi kemungkinan buruk yang akan kita hadapi!" Jelas Natan.
"Bla... bla... bla... ada-ada saja alasan mu!" Ejek Eryka menghiraukan Natan.
Tiba-tiba... lantai yang mereka pijak mulai bergetar.
"Lihat kan apa yang ku bilang tadi. Dia akan muncul! Persiapkan dirimu!" Ucap Natan bersiaga.
"..." Eryka hanya bisa membuang muka.
"Ini dia! Aku merasakan getarannya di bawah kita! Kemungkinan ia akan muncul pada lubang di langit." Pikir Natan dengan optimis.
"..."
Diluar dugaan, monster ular itu muncul dari lubang dinding, tepat di hadapan Eryka.
"Woi...! Sebelah sini, payah!" Seru Eryka dengan sigap menarik Natan dan menghadapkannya ke arah mulut raksasa dari monster tersebut.
Insting yang kurang darinya, membuatnya terkejut bukan main, dan terlambat untuk menghindar. Beruntung sekali bagi Natan, berterimakasih lah kepada tameng yang ia pegang dari sebelumnya, kekokohan nya sanggup menahan kekuatan gigitan dari ular raksasa itu.
Kesempatan ini tak buang sia-sia oleh Eryka.
"Cium lah ini, reptil jelek!" Teriak Eryka langsung melontarkan sihir tumpukan dari tangannya.
Tumpukan sihir yang disebutkan Eryka, meluncur dengan cepat masuk ke dalam mulut Ular yang terbuka lebar. Dan Boooom... Ledakan dahsyat dihasilkan dari serangan tersebut.
__ADS_1
"Wow... hebat sekali kau!" Takjub Natan.
"Haha... kau lihat! Jangan meremehkan sihir ku!" Ucap Eryka yang menyombongkan diri.
Dari arah depan, meluncur sebuah tameng yang hampir mengenai kepala mereka berdua.
"Untung saja tidak kena!" Ucap Eryka sembari menghela nafas.
"Wah... wah... kualitasnya sangat sesuai dengan harganya! Sangat menakjubkan!" Gumam Natan mengambil kembali tamengnya.
"..."
"Kau sangat mengerikan! Lihatlah apa yang kau perbuat kepada kepalanya!"
"Aku bahkan tidak mengira akan benda ini sangat lemah." Ucap Eryka.
"Ngomong-ngomong, siapa namamu?"
"Hah? Sialan kau ini, jadi dari tadi kau tidak tahu namaku?!" Bentak Eryka dengan tatapan tajam.
"Hehehe... soalnya kau keren tadi." Sahut Natan dengan senyum bodohnya.
"..." Eryka hanya bisa menepuk jidat.
"Bahkan kau tidak tahu nama laki-laki yang bersama kita barusan?"
"Ahahaha... aku hampir melupakan hal itu."
"..." Eryka menepuk jidat sekali lagi.
"Salahnya tadi hanya aku yang memperkenalkan diri. Jadinya aku hanya bisa memanggilmu dengan kau." Jelas Natan.
"Huh... baiklah, perkenalkan namaku Eryka, teman dari laki-laki tadi yang bernama Alex. Jadi ingat itu baik-baik ya!"
"Oke..." Jawab Natan.
"Oh..."
Mereka berdua melirik satu sama lain, berkontak langsung, seolah saling memberitahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Benar saja, tanpa peringatan keduanya berdua bergegas berlari, menuju sebuah pintu gerbang megah dimana tujuan mereka berada.
"Tunggu aku, Alex!" Teriak Eryka yang mendahului.
"Woi, tunggu dulu! Jangan terlalu gegabah!" Susul Natan dari belakang.
Eryka langsung mendobrak pintu tersebut agar terbuka, tetapi usaha itu membuatnya tersandung dan jatuh menabrak pintu gerbang yang tak dikunci.
"Hahahaha... sudah kubilang kan, dasar kepala batu kau ini! Eh... Hei! Cepat bangun dan lihatlah ini!" Ucap Natan sambil mencolek-colek Eryka.
"Tidak ah, rasa malu ini membuatku tak sanggup bangkit lagi." Tangannya terangkat sedikit, namun tidak dengan kepalanya.
"Lihat tuh, ada Alex!" Ucap Natan sembari menunjuk ke dalam.
"Apa? Dimana?!"
Sontak membuatnya bangkit dan mempertanyakan hal tersebut.
"Dasar berotak Alex!! Memangnya isi kepalamu hanya ada Alex? Ahahaha!!!" Ejek Natan terbahak-bahak.
"Cih... Diam saja, kau! Aku bilang dimana dia sekarang?! Kau berbohong ya?!!" Balas Eryka yang menarik kerah Natan.
"Apakah matamu bermasalah? Sudah jelas-jelas dia ada di sana! Bersama dengan Sang Putri!" Jelas Natan dengan pasrah.
"Alex....!!!" Seru Eryka yang membanting Natan dan berlari tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Sialan... Dia benar-benar berotak Alex!!!" Gumam Natan yang masih berbaring.
Eryka yang berlari mulai mendekati dan perlahan terlihat Alex bersama Sang Putri dan...
"Eh? Siapa mereka?" Gumam Eryka yang tersentak.
Lalu disusul pembawa perisai dari belakang. Dia bertanya-tanya, apa kau mengenal mereka?
"..."
Di sisi lain, nampak Alex yang berusaha melindungi Sang Putri akan ancaman King Orc dan Mighty W?
"Huh... huh... huh... Sialan! Kau nampak kuat sekali! Tenaga macam apa itu?! Siapa kau sebenarnya?!! Pahlawan tak mungkin mempunyai kekuatan sebesar ini!" Ujar King Orc yang babak belur.
"..." Sang Pahlawan yang mengenakan zirah berjubah dan pelindung kepala terbuat dari kepala monster rusa nampak membisu saja.
"Oi... kau tak mendengar kah? Telingamu bermasalah?" Tanya King Orc.
Masih belum ada jawaban, pahlawan itu hanya membungkuk dan pandangannya mengarah ke bawah.
"..."
Semua orang nampak khawatir, tak ada kepastian. Semuanya berubah saat sosok pahlawan di depan mereka tumbuh membesar hingga sekiranya 12 kaki, mencekik leher King Orc dengan mudah dan mengangkatnya cukup tinggi.
Tanpa pikir panjang, terdengar suara kerenyahan retakan tulang. Dengan cepat dia sudah memberikan serangan fatal melalui hentakan lutut kerasnya menghantam sebuah tulang belakang seseorang, siapa lagi bukan raksasa hijau itu.
Setelah selesai dengan urusannya, sosok besar itu menengok ke belakang dan mengetahui keberadaan Natan dan Eryka. Tak lama ia kembali tertuju kepada Sang Putri bersama Alex.
"Hehehehahaha...!!!!" Tawa jahat memecahkan keheningan.
Sementara itu, Alex cukup terintimidasi--- Bahkan terlihat jelas kedua kakinya tak mampu diam, serta keringat mengucur deras membasahi tubuhnya.
"Perasaan apa ini? Kenapa kaki ku juga tak berhenti bergetar?! Ini sangat berat untuk melangkah ke depan! Aura macam apa yang monster itu miliki?!" Batin Eryka.
"Terlebih dari itu semua, kulitnya Putri cukup mulus juga ya." Dalam pikiran Natan pandangannya selalu tertuju Sang Putri.
*Raaaaaaaaaaaahhhhh.....!!!!!
Secara tiba, monster itu berteriak--- Seolah dihempaskan oleh angin dengan kecepatan tinggi, Alex dan Sang Putri terlibas habis ke belakang hingga menabrak tembok yang cukup kokoh.
"...!!!" Melihat hal itu tak membuatnya diam begitu saja, Eryka langsung mengerahkan semua energi sihirnya untuk menyerang balik Monster berbahaya itu.
Dan tidak lupa dengan Natan, maju ke depan dan menunggu serangan berikutnya.
Di lain sisi...
"Hehehehahaha....!!!!" Suara tawa itu masih terdengar oleh telinga Alex.
"Ugh... apa itu tadi? Aaarghh... kepalaku! Apakah Sang Putri baik-baik saja?" Batin Alex yang panik.
Sembari menahan rasa sakit kepalanya, ia mendapatkan pesan yang tak mengenakkan.
[Kabur dan bawa Sang Putri dari Deep Darkest Defeat!]
-
-
-
-
-
__ADS_1
-
Bersambung...