
"Ingatlah! Semua kata keluar dari mulutmu, akan menjadi informasi bagi musuh!" Ujar Wanita berambut panjang warna ungu.
Itu adalah kata-kata terakhir yang didengar oleh Aris.
______------______-------_______
"Jadi... Aris telah menghilang?" Tanya Maria.
"Ya... untuk terakhir kalinya, dia terjatuh ke dalam gunung berapi. Kemungkinan kecil untuk selamat baginya." Lapor Warrance.
"Benar kan, sudah kubilang jangan anggap remeh gadis itu! Jika dibiarkan, dia akan menjadi ancaman di masa depan!" Sahut The Greed.
"Heh... ini akan menjadi lebih menarik, sesekali kita mendapatkan musuh kuat yang menentang sang penguasa. Dan saat yang tiba, aku harus terjun langsung ke lapangan."
"Bodoh! Kau bisa celaka nanti! Kau mau senasib dengan si Robot?" Peringatan dari The Greed.
"Hehehe... Kalau aku memang benar mati, maka gadis itu benar-benar tak tertandingi. biarlah Maria yang mengurusi." Ucap Warrance dengan santainya.
"Dan untuk penyerangan selanjutnya, kau harus lebih kuat! Maka... Selamat Tidur!" Ujar Blood Shaman sambil menyuntikkan sesuatu.
Kemudian The Greed tak sadarkan.
"Oh ya... bagaimana dengan kelinci percobaan yang satunya?" Tanya Maria.
"Oh jangan khawatir, Boss! Semuanya sudah terkendali. Saya hanya perlu memberikan efek tambahan untuk si rakus ini." Ujar Blood Shaman sambil melirik raga The Greed.
"Kerja Bagus! Untuk sekarang, aku sudah menyiapkan skenario untuk meratakan kerajaan itu. Maka dari itu, persiapkan semuanya dengan matang!" Perintah Maria.
"Baik!!!" Serentak bersama-sama mereka ucapkan.
Sementara itu...
"Kau tidak apa-apa, Grace?" Tanya Amanda.
"Aku tidak apa-apa. Hanya kehilangan banyak darah. Apa semuanya juga selamat?" Ucap Grace yang lemas letih.
"Mereka semua selamat, dan itu berkat dirimu! Lantas, apa yang kita lakukan untuk kedepannya?"
"Tugas kita sudah selesai! Kita bertiga kembali ke kerajaan kita masing-masing!" Ujar Grace.
"Lalu, bagaimana dengan mereka? Tak akan kau tinggalkan mereka dengan abu vulkanik itu?"
"Biarkan saja. Aku harus kembali ke kerajaan ku terlebih dahulu!" Grace yang mulai pergi dan menggandeng tangan Amanda.
Amanda melepas genggaman tangannya.
"Apakah pulang lebih penting dari bencana yang menimpa kerajaan ini? Apa kau tidak kasian dengan mereka? Dimana hati nurani mu, Grace?" Teriak Amanda.
"Ya, mengapa tuan pahlawan meninggalkan kami dalam keadaan seperti ini? Bagaimana jika menyerang kita lagi?" Ujar Akemi.
__ADS_1
"Itu bukan urusan kami, Raja mu sudah melanggar kontrak, seharusnya hanya satu penyerangan saja yang ada di kontrak. Amanda, jika kau tidak mau ikut, akan ku tinggalkan kau di sini!" Tegas Grace yang pergi meninggalkan tempat.
"Untuk terakhir kalinya, aku minta maaf untuk meninggalkan kalian di sini. Tuntutan pekerjaan mengharuskan kita untuk mematuhinya. Sekali lagi, kami minta maaf sebesar-besarnya!" Ucap Amanda sambil menundukkan badan.
Setelah itu, Amanda menyusul dan pergi meninggalkan tempat.
Akemi melepas topengnya, tidak percaya akan ia lihat. Perasaan yang kosong ini, tidak muncul saat pertama kali. Walaupun letusan tidak berpengaruh langsung, tetapi awan mendung sudah berjejer rapi di atas.
Menang ataupun kalah, itu tak ada bedanya. Rasa duka menyelimuti pikiran mereka semua. Tak ada seringai bibir untuk dibawa pulang.
Tak menjelang lama, di perjalanan sudah berjatuhan titik putih yang amat berbahaya. Tak ada bahayanya jika sebutir salju. Namun, bagaimana dengan ribuan bahkan ratusan? Yang terburuk adalah berapa lama ini berakhir.
Sampailah mereka di kerajaan. Disambut dengan sorakan gembira para warga. Namun, tak mengubah kenyataan yang ada.
"Ada apa dengan mereka? Bukankah ini kemenangan bagi kita?" Gumam salah satu warga.
"Entah, apa yang sebenarnya terjadi?"
Pada saat di kastil...
"Ah... rupanya kalian. Kami semua berterima kasih atas kerja keras kalian! Kami juga akan memberikan imbalan yang setimpal. Ngomong-ngomong... dimana Grace dan dua temannya?" Ujar Sang Raja.
"Sebelumnya kami minta maaf. Memang benar kami bisa menghalau pasukan iblis, tetapi tak sebanding dengan apa yang terjadi di luar dan korban berjatuhan." Ucap Justin sambil menundukkan badan.
"Tambahan, orang-orang yang Paduka maksud sudah pergi dan tidak kembali bersama kami." Sahut Mitch.
"Apa? Bagaimana mereka pergi? Padahal kita sudah menjalin kontrak loh! Apa yang sudah kalian perbuat?!" Sang Raja malah marah kepada para pahlawan itu.
Sang Raja Jayvelen mulai bingung.
"Apa yang kalian maksud? Aku tidak melanggar apapun!" Sang Raja meninggikan nadanya.
"Di kontraknya tertulis dimana mereka akan bersedia membantu hanya dalam satu penyerangan iblis saja." Jelas sekali lagi Mitch.
Sang Raja heran dan mencoba mengecek ulang kontrak.
"Ah sial! Kenapa tulisan sekecil ini tak terbaca olehku! Aaaaah...." Geram Sang Raja.
Kemudian Sang Raja yang kesal merobek-robek kertas kontrak menjadi serpihan kertas. Beliau pun berdiri dari singgasananya dan berjalan mondar-mandir seperti setrika.
"Aaaaaahh... Nasib malang menimpa kerajaan ini! Surat penyerangan dari The Greed Necromancher sudah ku terima dari beberapa menit yang lalu! Tak ada harapan lagi!" Teriak Sang Raja yang gelisah.
Melihat kegelisahan Sang Raja, mereka bersimpati dan menghampiri lebih dekat.
"Paduka... Harapan selalu akan ada, walaupun terlambat sekali pun. Kami bersedia menjadi garda terdepan untuk gerakan lawan balik!" Tegas Justin dengan tatapan meyakinkan.
"Benar, saat kami menahan mereka, Paduka bisa kabur dan mengungsi ke tempat yang lebih aman!" Ujar Mitch dengan senyuman semangat.
"Kalian... Hahaha baiklah, sudah ku putuskan! Aku juga akan bertahan dan melawan balik apapun yang terjadi!" Teriak Sang Raja dengan kepalan tangan.
__ADS_1
Tak sangka dengan respon Sang Raja. Justin menjadi lebih semangat lagi, dan tidak lupa dengan yang lainnya.
"Tapi, kapan penyerangan itu akan terjadi?" Tanya seorang gadis lugu yang bernama Misa.
"Di surat tak ada waktu penyerangan. Maka, kita harus selalu waspada! Kita harus siap menyambut mereka kapanpun dan dimana pun!" Tegas lagi Sang Raja.
"Ah... begitu ya."
Setelah berbincang panjang, persiapan akan dilaksanakan.
Lalu, keadaan Grace...
"Apa kau yakin meninggalkan mereka dengan keadaan seperti itu?" Tanya Albert yang menghisap rokok.
"Sudahlah, jangan bahas hal itu terus! Mereka akan manja jika kita bantu terus, lagipula mereka juga melanggar kontrak kita!" Kesal Grace.
"Pikiran lagi Grace! Jangan terlalu cepat mengambil keputusan!" Amanda yang berusaha membujuk Grace.
"Keputusan ku sudah bulat! Tak akan ada yang dapat merubahnya!"
"..."
Amanda dan Albert terdiam, mereka tahu sifatnya Grace jika sudah mengatakan demikian. Keras kepala!
"Baiklah, kita berpisah disini. Apa ada pesan terakhir?" Tanya Amanda.
"Semoga kita bisa bertemu dan satu regu lagi di kemudian hari." Harapan Albert.
"Kalau kamu Grace?"
Grace menghela nafas...
"Jaga diri kalian baik-baik! Kita sudah bekerja selama 6 tahun. Semoga kita bersatu lagi!" Harapan Grace.
"Bagus! Aku juga berharap yang sama dengan kalian. Sampai jumpa semuanya!" Ucap Amanda yang pergi sambil melambaikan tangannya.
"Jadi, kalau kau ada masalah atau perasaan mu tidak enak, bisa temui ku di Hieronian Empire!" Ujar Albert.
"Ah... kenapa aku harus jauh-jauh ke sana hanya untuk kangen. Tidak mungkin! Kalau begitu, aku pergi dulu ya!" Grace pun pergi.
"Ya hati-hati!" Albert juga pergi.
"Bohong! Dimana pun kalian berada, aku akan datang dan melindungi kalian! Aku membiarkan mereka bukan karena aku tidak punya hati nurani. Namun, aku ingin memastikan keselamatan kalian berdua. Karena kalian lah satu-satunya keluarga yang ku punya! Semakin hari iblis semakin kuat. Aku pun juga harus melatih diri. Dan aku ingin menciptakan Utopia agar bisa menghapus perang dari dunia ini!" Batin Grace sambil menaiki kuda.
-
-
-
__ADS_1
-
Bersambung...