Endless Winter

Endless Winter
Chapter 8 : Hero's Doom


__ADS_3

Beberapa bulan sebelumnya, tepat setelah The Greed Necromancher telah menguasai seluruh Vigilo Kingdom...


Sebuah tangan muncul dari tanah putih tepatnya di Hutan Sigor. Detik demi detik tangan itu berubah jadi lengan, kemudian muncul sebuah kepala, dan akhirnya seorang wanita muda tanpa busana keluar dari bawah tanah.


"Sial...! Aku mati karena bocah ingusan itu! Seharusnya aku memastikan Kematiannya. Tunggu dulu, luka seberat itu tidak mungkin masih selamat. Aku rasa dia bukanlah Alex lagi!" Ucap Yukki sambil memegangi kepalanya.


Bak mayat hidup, entah bagaimana caranya ia dapat mencurangi kematian. Wanita gila itu berjalan menyusuri hamparan salju. Siapa pun yang baru masuk, sangat sulit keluar dari hutan mengerikan itu. Namun, ini berbeda. Yukki mudahnya menemukan jalan keluar tanpa tersesat.


______---------________----------______


Beberapa menit yang lalu. Di Venzonia Kingdom...


"Huh... apa kau berpikir kita dapat menang?" Tanya Jayvelen IV King yang memandangi jendela kastil.


"Entah, yang mulia. Tapi saya yakin, jika lilin harapan masih menyala maka semuanya akan baik-baik saja." Sahut Akemi dari belakang.


"Ya, aku harap begitu. Apapun yang terjadi, kita sanggup bertahan apabila api harapan belum padam."


"..." Tak ada suara apapun.


Sunyi dan gelap, percakapan mereka berdua berhenti begitu saja. Degup jantung dapat terdengar jelas oleh mereka. Suara langkah kaki terasa berat, Akemi mulai dekat dengan Raja. Dia memegangi pedang di pinggangnya.


"Ngomong-ngomong, dari sekian banyak iblis yang kau lawan, menurutmu siapa iblis terkuat yang pernah kau lawan, Akemi?" Tanya Sang Raja.


"...Oh, anda sangat ingin mengetahui jawaban dari ku?"


"Kalau tidak mau, tak masalah. Pertanyaan itu menghantui ku."


"Tidak, tidak. Aku akan menjawabnya.... Speaker Of Darkness!"


"Speaker Of Darkness? Aku belum dengar nama itu?" Tanya Sang Raja yang memegang dagunya.


"Oh, Anda akan menemui setelah-...."


Dengan cepat, Akemi menebas dan menusuk Sang Raja. Kelengahan itu tak disia-siakan olehnya.


"Uhuk uhuk uhuk..." Sang Raja memuntahkan banyak darah.


Yang terakhir kali ia lihat adalah Topeng Smiles Cry yang sangat dekat. Benturan terus menerus dengan membabi buta, untuk terakhir--- Benturan terakhir kepala Raja berdarah memecahkan kaca jendela sampai terjatuh.


Ia memandanginya, kematian langsung Jayvelen IV. Orang-orang mendekat, tak banyak yang melihat Akemi dari atas. Laki-laki itu kabur begitu saja.


Kembali ke masa sekarang...


Perseteruan terjadi, beberapa saksi menuduh Akemi sebagai dalang utama dari kematian Sang Raja.


"Jangan menuduh sembarangan ya! Aku tidak mungkin melakukan hal sekejam itu!" Bela Akemi.


"Bagaimana kau menjelaskan bahwa kau lah yang terakhir bersama Raja!" Para Saksi menyudutkan Akemi.


"Itu...anu.... terakhir kali aku bertemu dengan Sang Raja, aku dalam keadaan tak sadarkan diri." Akemi mulai berpikir.


"Oh, jadi kau berpikir bisa terhindar dengan alibi payah seperti itu, hah? Tidak usah basa-basi, tangkap dia!" Para saksi mulai anarkis.


"Tunggu, tunggu, saudara-saudara! Tenanglah, jangan main hakim sendiri! Kalian tidak lihat kondisi saat ini?" Ucap Justin yang membela Akemi.


"Jangan khawatir, kita akan urus semuanya setelah peperangan ini!" Jelas Mitch.


"Ugh... baiklah, baik! Asalkan dia tidak kabur dan diadili dengan baik!"


"Terima kasih atas kesabaran kalian!"


Kesadaran dari Chika sudah sirna. Raga itu sudah dikuasai virus tersebut. Jamur sudah menyemprotkan spora nya, pertanda akan malapetaka terjadi. Berterbangan tertiup hembusan angin--- meskipun dingin, tetap saja masih bertahan.


Orang orang yang terpana akan hal itu, tidak tahu apa yang akan terjadi. Tanpa pelindung apapun, spora sudah menginfeksi para prajurit. Korban jiwa berjatuhan, ada yang kabur dengan pesimis.


"Hehehe... sekarang adalah giliran mu, The Greed Necromancher!" Terdengar seperti suara anak perempuan dari tubuh Chika.


"Dengan senang hati!" Sahut The Greed Necromancher.


Dia mengendalikan yang sudah mati hanya dari tangannya. Orang yang terinfeksi mulai menunjukkan reaksi, pergerakan mulai terlihat jelas. Dari situ, spora lain muncul dari mayat hidup yang dikendalikan.


Pihak manusia tak tinggal diam. Justin membuat dinding penghalang dari bara api. Meskipun tahan di suhu rendah, tetapi tidak dengan suhu tinggi.


"Jadi itu kelemahannya. Semuanya! Gunakan sihir api kalian untuk melindungi diri. Kalau bisa buat pelindung api di sekitar kalian!" Perintah Justin.


Para peleton langsung membuatnya, spora sudah tidak bisa menyentuh mereka lagi.


"Cih, sialan! Hanya itulah kemampuan mu?" Tanya Hinata kepada Gadis Jamur itu.


"Hmmmpph, memangnya aku ini didesain buat apa? Jangan kira aku bisa bertarung seperti di dekat ku ini ya!" Gadis itu sudah muak.


"Cih, dasar beban!"


"Siapa yang kau sebut beban hah? Akan ku robek mulutmu yang pedas itu sampai pipimu!"


Mereka mulai berseteru.


"Aku takut jika spora itu dibawa sampai ke warga sekitar!" Justin berpikir keras.


Selesai berpikir, Justin terbang dan mengincar Gadis Jamur. Dari tangannya memunculkan beberapa bola api yang menerjang ke arah gadis itu.


"Terima ini! Thousand Fire Ball!" Teriak Justin.


"Oh sialan! Tidak sempat!" Gadis jamur itu kaget bukan kepalang.


"Hehehe..." Hinata menyeringai. Pyramid di tangannya terlempar. Benda itu terbuka dan menyerap semua bola api.


"Bagaimana mungkin?"


"Hehehahaha... Sekarang serangan itu tak akan dapat kau gunakan lagi! Sudah menjadi milikku sekarang. Hehehe!" Tawa jahat Hinata menjadi-jadi.


______----------________----------______


Kemunculannya diikuti oleh Amanda dan Albert...


"Jangan khawatir, Nona. Tetap di belakang ku kalau ingin selamat." Ucap Albert yang membelakangi Yukki.


"Eh... siapa?"


"Wah...wah... pahlawan sesungguhnya akhirnya muncul juga. Apakah kalian dapat menghiburku lagi kali ini?" Ucap Warrance yang menyeringai.


Grace tanpa pikir panjang mengeluarkan bola energi merah kehitaman. Bola itu mengenai Warrance, timbul ledakan diiringi percikan kilat di sekitarnya.


"Apakah berhasil?" Duga Amanda.


Dari balik kepulan asap, Vampir itu terbakar hebat--- jubah dan topeng yang ia kenakan menjadi abu. Tiba-tiba, kepulan api itu menghilang begitu saja.


"Hehe... tak perlu menunggu kepastian lagi. Saatnya melepaskan semuanya!" Beritahu Warrance yang terlihat jelas wajahnya.


Ada wajah wanita cantik dibalik topeng itu, melepas ikatan rambut membuatnya berkibar-kibar tertiup angin. Dia menutupi sebagian wajahnya dan terlihat pantulan berkas cahaya memerah dari mata kirinya.


Berpikir itu efektif, Grace mencoba sekali lagi menyerang dengan serangan yang sama.


"Heh... kau pikir itu akan berhasil lagi?" pekik Warrance dimana sebuah perisai sihir muncul.


*Boooom.....!!!!

__ADS_1


Tergores pun tidak, apalagi hancur. Perisai berbentuk bola dari sihir es memberikan penahan bagi Warrance.


"Ugh, perisai itu sungguh merepotkan!" Batin Grace.


"Hehe... kalau begitu giliran ku." Bisik Warrance sembari mengeluarkan tiga unit iced dragon head.


Ketiga kepala itu berputar, rotasi ke Wand Of Calamity--- makin lama semakin kecil. Putaran itu menghasilkan energi yang kuat. Dan ia pun melepaskannya, membentuk sebuah pancaran sinar pembeku yang berpusat.


Grace yang tak ingin kalah, juga membuat sebuah Medan pelindung sihir. Sekuat tenaga, Grace menahan serangan mematikan itu--- membuatnya terkena radang dingin walaupun tidak secara langsung.


Kedua tangannya mulai diselimuti bunga es--- sarafnya mulai terasa mati, bahkan semakin lama terasa sampai ke tulang.


"Aaaaaah...!!!!" Teriak Grace yang terlempar sangat jauh dan tak sadarkan diri.


"Hahaha... sangat mengecewakan!" Bisik Warrance.


Sementara itu...


"Ugh, pandangan ku tak bisa ku alihkan dari senapan Laras panjang yang menawan itu!" Batin Yukki yang memandangi senapan nya Albert sambil melamun.


"Apa aku boleh memilikinya? Tidak? Bolehkah ku meminjamkannya? Juga tidak bisa? Sebentar saja? Tetap tidak boleh? Mengapa? Kenapa aku tidak boleh memegangnya...?" Pikirannya Yukki dihujani ribuan pertanyaan.


"Nona...! Nona...! NONA!!!! Kau harus pergi dari sini?" Pekik Albert.


"Eh? Siapa? Dimana?"


"Hoi! Jangan bercanda! Cepat pergi dari sini! Kau tidak mendengar ku kah?" Teriakan Albert semakin keras.


"..."


"Cepat! Dia semakin mendekat! Biar ku tahan dia selagi kau kabur!"


"Ayo, Nona! Jangan melamun! Mari kita tinggalkan tempat ini!" Ucap Amanda yang berusaha menarik lengannya Yukki.


"..."


Monster dalam bentuk vampir itu langkah demi langkah, membekukan semuanya di hadapannya. Tak ada yang luput dari hawa dinginnya.


"Hanya ini kekuatan pahlawan yang dimiliki umat manusia?" Ejek Warrance.


"Istirahat lah dengan tenang, Grace! Sekarang, adalah waktunya giliran ku!" Ucap suara Libele di dalam pikiran Grace.


Hampir seluruh permukaan tubuhnya membeku total. Dan tiba lah saatnya, Pahlawan Vampir itu bangkit kembali. Bongkahan batu es mulai meleleh dan hancur, luka-luka mulai sembuh dengan cepat, perubahan signifikan dari penampilannya.


Seberkas cahaya merah kehitaman menjulang tinggi ke langit, Libele sudah sepenuhnya mengendalikan tubuh Grace--- membuat penampilan monster yang mengerikan.


"Hehehe... Majin baru bangkit kembali! Aku sudah menduga bahwa ada iblis yang bersemayam di tubuhmu... menakjubkan sekali!!" Ucap Warrance yang kemudian terbang ke langit.


Disusul oleh Libele yang membuntuti nya. Di langit, mereka beradu pedang dan sihir. Warrance sanggup menahan pedang besar dari Libele dengan tongkat sekecil itu. Tongkat itu bisa membentuk manifestasi mata pedang dari es.


Setelah cukup lama pertarungan di langit, Warrance malah memberikan efek gravitasi kuat kepada Libele--- menimbulkan ia jatuh dengan kecepatan yang tinggi.


*Booooom....!!!!


Suara dentuman keras dari jatuhnya Libele. Tak bisa bangkit maupun bergerak, tetapi Libele tetap bersikeras untuk melawan. Lalu, Warrance juga turun dan mendekatinya.


"Dasar iblis sialan! Beraninya main kotor!"


"Heee... Namanya juga iblis, itu adalah hal biasa, apa aku harus membawakan mu cermin?" Ujar Warrance sambil menahan tawa.


"Ughhh... Sialaaaan!!!!!" Libele berusaha bangkit.


Terkadang pandangan Libele tertuju pada ketiga orang sekitarnya, mereka tidak mau meninggalkan Medan perang. Hingga satu saat, mendadak Yukki menyerang dari belakang dengan mematahkan leher Albert. Pria setengah hewan itu tewas seketika. Kemudian, Yukki menusuk dan menendang Amanda hingga terhempas.


"Huh...huh...huh... Aaaaahhh... Demi keinginan Grace... aku sudah berjanji membantunya! Dan sekarang... aku tidak akan menyerah begitu saja! Hiyaaaaa!!!!" Teriakan Libele memecah suasana juga dapat melawan balik tarikan gravitasi.


"Heee... aku penasaran apa yang terjadi jika benda itu menyentuh sesuatu."


Serangan tebasan horizontal meluncur dengan cepat, sementara Warrance dengan santai menggunakan perisainya lagi. Sangat mengejutkan, perisai pecah--- serangan itu mendorong Warrance sangat jauh sampai menembusnya. Pepohonan di lintasannya terpotong dengan sempurna.


Kali ini, Warrance terhempas dan menghantam sebuah batu besar yang dimana juga ikut terbelah. Tebasan itu mengakibatkan luka berat bagi Warrance. Menggores cukup dalam bagian perutnya, juga memotong tangan sebelah kanan.


"Hehehe... luar biasa sekali ya, sangat kuat dan mematikan!" Bisik Warrance sambil memegangi luka di perutnya yang bercucuran banyak darah segar.


Setelah mengerahkan serangan kuat itu, tubuhnya Grace terlalu lemah untuk mengendalikan kekuatan sebesar itu dan juga energi nya terkuras habis. Lemas dan muntah darah dideritanya. Seluruh tubuhnya mati rasa, hanya alat Indra yang bekerja.


"Kau memang lawan yang cukup merepotkan ya! Kalau begitu, matilah!" Ungkap Yukki sambil menodongkan pistol ke arah kepalanya Libele.


"Itu sudah cukup, untuk sekarang kita anggap saja seri. Di lain waktu, kami tidak akan memberikan ampun! Ayo pergi, Yukki!" Beritahu Warrance yang pergi sambil terpincang-pincang.


"Cih, kali ini kau selamat, vampir!" Kesal Yukki sambil memasukkan kembali pistol dan menyusul Warrance.


"Woi! Tunggu dulu! Aku belum selesai dengan urusan mu! Hey, tunggu, dasar kau bajingan! Para ****** sialan!" Teriak Libele.


Amanda yang selamat, berusaha menolong Libele yang terluka parah.


"Huh... sialan! Aku akan bunuh mereka berdua suatu saat nanti... Lihat saja! Untuk sekarang, kau bisa kembali, Grace!"


"Huh? Dimana aku? Arrrgggh sakit! Apa yang terjadi?" kesadaran Grace kembali.


"Kau tidak apa-apa, Grace? Syukurlah kita berdua bisa selamat!" Ucap Amanda juga terluka.


Kemudian, wanita elf itu menyembuhkan lukanya dan luka Grace dengan sihir penyembuhan.


_______----------_________-----------_______


"Bagaimana laporan mu?" Tanya seorang pria yang sedang duduk sambil melipat salah satu kakinya.


"Dari kesaksian pengintai 2, ia memantau kondisi di dalam kerajaan. Kerusuhan terjadi akibat dua Majin muncul dan satu wanita misterius. Kita harus memusnahkan Majin yang dapat menginfeksi korbannya menggunakan spora jamur." Jelas sang pelapor.


"Begitu kah? Lalu bagaimana dengan kondisi lapangan luar?"


"Baik, dark kesaksian pengintai 1, ia memantau pertarungan sengit itu. Mengejutkan, Albert Roberto terbunuh di tangan seorang wanita."


"Apa kau bilang? Albert tewas? Siapa yang berani melakukan hal itu? Cepat cari sang pelaku nya!" Pria misterius itu berteriak dan meronta-ronta.


"Saya tahu perasaan anda, tetapi apakah Anda tidak memperhatikan gadis jamur itu?" Ujar sang pelapor.


"Ada apa dengannya? Apakah ada yang istimewa?"


"Anda tidak tahu akibat dari ulahnya? Spora itu dapat menjadi ancaman besar bagi manusia. Meskipun kita kirim Tim pemusnah, akan sangat sulit untuk menghilangkan sisa spora yang terbawa angin." Jelas sang pelapor.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan? Kau punya ide?" Ucap pria itu yang langsung berdiri.


"Haha... tentu saja ada. Kita akan menggunakan Doom Cannon untuk melibas habis semuanya."


"Tapi, bagaimana dengan nasib para penduduk dari kerajaan itu? Akan ada banyak korban berjatuhan di sana!" Protes pria yang berdiri itu.


"Kalau begitu, beritahu mereka semua untuk mengungsi dan meninggalkan kerajaan itu. Ku berikan waktu 30 menit."


"30 menit? Kau gila? Bagaimana mereka akan mengungsi jika waktunya sesingkat itu?" Sekali lagi pria yang sama protes.


"Tidak ada alasan lagi! Tugasmu adalah mengungsikan mereka semua! Dan waktunya mulai dari sekarang!"


"Dia memang benar! Kita sudah tidak memerlukan kerajaan itu lagi... Kau, laksanakan perintah ku!" Ujar Sang Kaisar Hieronian.


"Baik, paduka!"

__ADS_1


"Cih, dasar kau!" Pria itu pergi menuju Venzonia Kingdom.


_____-------______-------______


"Tunggu dulu, ada yang ingin ku lakukan sebelum pergi!" Ucap Yukki yang pergi kembali ke kerajaan.


"..." Warrance membuka sebuah portal dan Teleport ke menara.


Yukki berlari, sambil membawa senapan runduk yang ia ambil dari Albert. Wanita itu mencari sesuatu, ke sana dan ke mari ia terus berlari. Hingga akhirnya, ia menemukan sesuatu yang ia cari.


"Bagus, ini tempat yang sempurna!" Ujar Yukki sambil menyiapkan penyangga senapan dan tengkurap.


Ia memberikan peluru terakhir sebelum pergi. Peluru itu melesat dan menembus kepala dari The Greed Necromancher. Sontak, semuanya terkejut dan waspada akan sekitar. Setelah itu, tugas dia selesai dan pergi begitu saja.


Kedua belah pihak panik dengan tembakan dari Yukki. Mereka bersembunyi ke tempat aman. Suasana menjadi sunyi, tak ada pergerakan sama sekali. Mereka terus waspada akan tembakan kedua.


Dan akhirnya, pria dari Hieronian Empire datang. Bertemu langsung dengan Grace dan Amanda yang terluka.


"Baik, sepertinya sudah sampai sini kemampuan ku. Maafkan aku, Grace!" Ucap Amanda yang berkecil hati.


"Tidak apa-apa, kau sudah berjuang dengan keras. Bagaimana dengan lukamu?"


"Jangan khawatir kan aku, ini bukan apa-apa bagiku. Seharusnya kau sendiri yang mesti dikhawatirkan." Ujar Amanda.


"Hei, kalian berdua! Cepat mengungsi dari tempat ini!" Pria itu tiba-tiba datang.


"Haaa... kau ini siapa? Dan apa yang kau bicarakan?" Beritahu Grace.


"Tenangkan dirimu! Kau seperti berlari jauh ke sini! Coba jelaskan pelan-pelan!" Saran Amanda.


"Ya baiklah. Jadi begini... Mereka semua dalam bahaya! Terutama mereka yang di dalam kerajaan! Kalian juga bisa terdampak dengan ledakannya---"


Grace menampar pria tersebut.


"Kalau ngomong yang jelas! Dan jangan teriak-teriak begitu! Kau paham?"


"Te-terima kasih! maaf, aku terlalu berlebihan. Hieronian Empire akan menembakkan meriam raksasanya ke kerajaan itu dalam waktu 30 menit. Dan sekarang, tinggal 10 menit tersisa untuk mengungsi!" Jelas pria itu.


"Apa kau bilang? Mereka semua dalam bahaya kalau begitu! Kenapa tidak bilang dari tadi!" Teriak Grace yang berusaha bangun dan kembali ke kerajaan, tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk bangun.


"Aaarghhh... sialan! Kenapa aku tak bisa bangun!" Keluh Grace.


"Jangan paksakan dirimu Grace! Tubuhmu belum pulih total!" Seru Amanda.


"Tapi bagaimana dengan yang ada di kerajaan? Apa kita membiarkannya begitu saja?"


"..."


Sementara itu, di kerajaan...


"Bajingan! Spora nya sudah tersebar di seluruh kerajaan! Apa yang harus kita lakukan?" Ujar Justin dan lainnya terkepung oleh ribuan warga yang sudah terinfeksi.


"Aku tidak mau mati di sini... Aku tidak mau mati di sini...!!" Teriak histeris Misa.


Mitch berusaha melawan balik dengan membuat lingkaran api di sekitar mereka.


"Mitch, ini Grace! Apa kalian semua baik-baik saja?" Grace berkomunikasi dengan Mitch melalui telepati.


"Ya, kami semua baik-baik saja. Namun, kondisi kami terpojok! Kami butuh bantuan!"


"Ah... maafkan aku, Mitch. Aku tak bisa, kalian harus secepatnya pergi tinggalkan kerajaan itu! Setelah 10 menit, kerajaan itu akan dilibas habis oleh Doom Cannon!"


"Woi, kau bercanda? Dalam keadaan segenting ini? Sialan memang! Kenapa kau tidak bisa ke sini? Kau ingin kami mati konyol di sini?"


"Bukan itu... Namun aku tak bisa menjelaskannya... Kalian coba tahan mereka selama mungkin..."


Sambungan dari Grace terputus begitu saja.


"..." Mitch tak bisa mengutarakan kata-kata.


"Mitch! Kau punya rencana?" Tanya Justin.


"Tidak ada... kita tahan saja mereka sampai bantuan datang." Sahut Mitch.


Akemi melihat mereka berjuang, dia malah ketakutan dan terbang meninggalkan mereka semua.


"Cih, pengundang itu lari terbirit-birit!" Batin Mitch.


"Maafkan aku semua! Aku tidak bermaksud untuk---"


*Doooor.....!


Sebuah peluru melesat dengan cepat mengenai dada Akemi. Laki-laki itu jatuh tak berdaya di tanah.


"Hehehe... Maria akan senang jika ini kembali." Bisik Yukki yang mengambil kembali topeng Smiles Cry.


Wanita itu seperti merasa tak ada dosa sama sekali--- dengan santai pergi dari tempat itu.


_____------_____-------_____


"Pengisian amunisi sudah siap! Menunggu perintah untuk menembak!" Ucap operator Doom Cannon.


"Tunggu sebentar, Jangan menembak sebelum aba-aba dari ku!" Ujar Sang Kaisar.


"30 detik lagi, Paduka!"


"Ya, aku tahu itu."


"5... 4... 3... 2... 1... 0... waktu sudah habis. perintah untuk menembak, Paduka!"


"Tembak....!!!" Teriak Sang Kaisar.


Para operator yang telah memposisikan arah Laras meriam ke kerajaan langsung menekan tombol luncurkan.


*Booooomm.....!!!


Dalam singkat waktu, sebuah ledakan dahsyat terdengar jelas ke penjuru dunia. Melibas habis semuanya, Venzonia Kingdom akhirnya hancur total dan terkubur bersama tanah.


Pemandangan yang mengerikan itu di saksikan banyak orang. Benar-benar sebuket bunga tampak jelas menjulang ke atas langit.


-


-


-


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2