Endless Winter

Endless Winter
Chapter 2 : Intruder Alert


__ADS_3

Pemuda itu digiring di sebuah kafe bernama Kafe Evanora. Mungkin cukup besar bagi semua pengunjung, namun tidak untuk pemuda satu ini.


"Kenapa di sini rasanya sempit sekali?! Bisa-bisa aku sesak nafas di sini! Aku harus pergi... Aku harus pergi...!" batin pemuda itu.


"Woi...!" bentak dari wanita yang memecahkan lamunannya.


"Hiii... I-iya?"


"Sebelum itu, siapa namamu sebenarnya? Harus jujur!" tanya wanita itu yang sudah habis 3 botol wine.


"Aku Natan Evara. Hanya seorang pengembara biasa, itu saja!" sahut Natan.


"Hmm? Jadi benar rupanya kau orangnya." lanjut wanita pemabuk yang menenggak satu botol lagi.


"Ngomong-ngomong, kamu belum menjawab pertanyaan ku. Siapa kau sebenarnya?" tanya sekali lagi Natan.


Wanita itu terus memandangi merek tertera dari botol wine yang ia pegang.


"Kau mendengarkan ku, tidak?"


"Huh? Kau sangat penasaran dengan namaku ya, Apa boleh buat. Aku terbiasa dipanggil dengan Venal."


"Kok kebetulan sama dengan merk wine yang kau pegang?" curiga Natan.


"Oh... Memang benar ini hanya kebetulan." jawab Venal.


"Jadi begitu..." deham laki-laki pirang itu yang masih curiga.


".... Percaya tidak percaya, aku tak peduli."


"Tapi, mengapa kau bersusah payah hanya untuk menolong orang asing seperti ku? Padahal kita baru kenal beberapa waktu yang lalu." papar Natan.


"Heh... Jangan kau samakan aku dengan pahlawan kesiangan di kebanyakan dongeng. Tentu semua itu ada ganjaran nya. Sesuai dengan pertemuan pertama kita." sahut Venal yang memperjelas.


Sekali lagi, Natan menelan ludahnya sendiri...


"Wine yang kau minum barusan, itu juga cukup mahal. Kau pasti bertanya-tanya, bagaimana seorang gelandangan bisa membeli sebuah wine?"


"Ah...hmm... Mungkin kamu sudah lama merampok orang-orang, bahkan sampai membunuhnya dengan keji?!" Tebakan buruk Natan dengan penuh keringat dingin.


"Tidak, bodoh! Wine elit mana yang dijual di sebuah kafe kecil seperti ini, bahkan di pinggiran kota pula. Wine ini hanya sekitar 14 keping koin perak."


"Oh... Syukurlah." desis Natan yang menghela nafas.


"Tapi tidak secepat itu!" bentak Venal yang menghantamkan botol wine ke meja.


"...!" terkejut Natan.


"Aku penasaran dengan bagaimana mereka tertarik dengan mu. Apa yang membuat mereka mengincar mu?" tanya Venal sembari menunjuk ke arah diri Natan.


"Eh... Anu, sebenarnya aku tak bisa menjawabnya. Aku tak ingin membawa orang asing ke masalah pribadi ku. Sekali lagi aku minta maaf." rintih laki-laki pirang itu menundukkan kepalanya.


Tiba-tiba, suara pecahan kaca membelah suasana di kafe. Wanita brengsek itu sampai naik ke meja dan menodongkan botol pecah ke arah leher Natan.


"Jawaban payah keluar dari mulut pecundang seperti mu! Aku tak ingin mendengarnya lagi, kecuali kau ingin leher mu bocor. Kau tahu seberapa pentingnya dirimu?" ancam wanita gila itu.


"Hiiii...! Kau benar-benar tidak waras. Tolong lepaskan aku!" pekik Natan.


Pengunjung lain tak dapat membantu, menyaksikan saja itu sudah cukup. Mereka tahu apa yang dilakukan, mereka juga tahu dengan siapa bocah laki-laki itu berurusan. Dia wanita yang dikenal banyak warga sekitar, gelandangan gila yang meresahkan masyarakat. Untuk itu, mereka tidak mau berurusan dengan wanita tak waras itu.


"Siapapun, tolong aku!" teriak histeris Natan.


"Huh... Permintaan tolong mu akan sia-sia!"


Botol itu sedikit menusuk leher Natan.


"Aarggh...! Baik-baik akan ku jawab! Tapi lepaskan aku dulu, kumohon!" mohon Natan.


"Hah... Baiklah."


Venal melepaskan cengkeramannya.


"Huh...Huh..Huh..!" Natan jatuh tersungkur.


Ia masih tak percaya bahwa nyawanya masih utuh.


Secara mengejutkan, Venal langsung menendang Natan cukup keras.


"Cepat bangun! Sebelum kakiku menghabisi mu!"


Dengan cepat, ia bangkit dan berdiri. Serta mereka kembali duduk tenang.


"Jadi gini le-..."


Sebelum menyelesaikan kata-katanya, datanglah beberapa penjaga kerajaan secara mendadak.


"Jangan bergerak semuanya!" perintah dari kapten pasukan.


"Aaaaah... Ada apa ini! Kenapa semuanya datang bertubi-tubi?!" terkejut Natan.


"Baiklah, ini sudah cukup!" pekik Venal menjatuhkan tabir asap.


Menerjang menuju asap hitam pekat itu, ia tak menemukannya. Tidak hanya dia, semuanya ikut bingung menyaksikan langsung.


"Apa yang terjadi? Dimana kita?" Natan bertanya-tanya.

__ADS_1


"..."


"Selamat datang kembali, Nona Venal! Biar saya yang mengantarkannya ke hadapan Yang Mulia!" salam seorang pelayan pria bertelinga runcing yang menundukkan badannya.


"Baik, aku serahkan padamu!" balas Venal yang langsung berbalik arah.


"Nah, Tuan Muda. Bisakah kita berangkat sekarang?"


"Sebenarnya ini dimana? Bagaimana aku bisa berakhir disini?!" tanya Natan dengan wajah paniknya.


"Saya hanya bisa menjawab, kita sekarang berada di istana Elven Country."


"Hah? Apa? Bisa-bisanya sampai berakhir di negeri Elf?" jerit Tuan Muda itu sambil memegangi kepalanya.


"Tenang, Tuan Muda. Semuanya akan jelas saat kita menghadap ke Yang Mulia." jelas pelayan elf.


"Oh. Baiklah, semoga tak terjadi hal buruk lain."


"Mari! silahkan ikuti saya!"


Melewati sebuah lorong penuh corak dominan putih dan emas, juga pinggirannya ditata rapi berbagai macam patung pahlawan yang telah gugur. Serta jendela dengan kaca lukis menggambarkan beberapa kejadian penting dalam sejarah peradaban elf.


Sampailah di sebuah gerbang tinggi sekitar 3 meter. Tidak terbuat dari kayu maupun besi, melainkan batu yang membutuhkan kata sandi berasal dari sebuah mantra tak diketahui.


Setelah pelayan elf memasukkan mantra yang tepat, pintu batu bergeser, menghasilkan suara bising yang seharusnya.


Dari awal melewati lorong, Natan sudah terkagum-kagum dan bingung untuk memilih kata-kata yang tepat untuk menggambarkan yang ia lihat.


Dari balik pintu gerbang itu, terdapat aula luas yang sama halnya dengan di lorong. Yang membedakan adalah terdapat beberapa penjaga berbaris menghadap satu sama lain.


Depan membentang cukup jauh, nampak 8 singgasana yang katanya untuk para pemimpin. Namun satu diantaranya kosong, dan itu adalah kursi ke-6.


"Paduka sekalian! Saya membawa orang yang diramalkan itu, dia ada disini! Dia akan senantiasa menghantarkan kita ke takdir gemilang di masa depan!" sanjung pelayan elf itu sembari berlutut di hadapan sang para pemimpin.


"Siapa... Yang kau bawa? Bagaimana bisa bocah ingusan seperti dia sanggup membopong tanggung jawab seberat itu, omong kosong macam apa itu?!" hina pemimpin yang katanya bertanduk iblis.


"Ba-bagaimana seorang iblis jahat seperti dia bisa menjadi seorang iblis?!" gugup Natan lepas kendali.


"Jaga ucapanmu, bocah ingusan! Kau tak tahu berurusan dengan siapa!" kecam pemimpin kursi ke-3.


"Sepertinya kau keliru membawa orang, pelayan bodoh! Usir dia sekarang!" bentak pemimpin kursi ke-5 sembari mengacungkan jarinya.


"Tapi Yang Mulia-..."


"Tunggu apa lagi? Tendang dia keluar dari sini!" perintah pemimpin murka itu.


Secara bersamaan, muncul kepulan asap hitam yang sama dari belakang Natan.


"Ada apa ini ribut-ribut?!" pekik Venal yang baru tiba.


"Apa-apaan yang sebenarnya kalian bicarakan!? Sudah jelas di depan mata kalian ada-..."


Tiba-tiba...


"Sudah lama tidak berjumpa untuk menganggu rapat kecil kalian, Pathfinder Alliance! Disini Maria yang berbicara!" Sosok hologram itu memperkenalkan dirinya.


"Cih, penyusup..." gumam suara seorang gadis.


"Aku datang pada waktu yang tepat, kalian semua ada di sini, menungguku... masing-masing dari kalian!" lanjut sosok itu perlahan mendekati ke tengah ruangan.


"Hmmmhh... Tak perlu untuk perkenalan yang misterius, Mirage Tower Crew!" sindir seorang Elf King.


"Hohoho..."


Sosok itu tak menggubrisnya, malahan ia mengalihkan pandangannya, menatap dengan 3 pasang matanya terhadap bocah laki-laki polos itu.


"Hehehehe... Sepertinya kalian masih punya harapan! Aku melihatnya langsung sekarang! Itu cukup untuk menunda sejenak kehancuran kalian semua. Namun, aku disini tak hanya memperingatinya saja. Ada negosiasi bagus untuk keberlangsungan hidup kalian." papar Maria yang terus memperhatikan semuanya.


"Apapun negosiasi mu, kami akan tetap menolak!! Penipu akan tetap selalu menjadi penipu!" tekan Pemimpin kursi ke-2.


"Heheh...yah, perkataan dia ada benarnya juga. Sekali berbicara dengan ku, lebih baik berpikir lebih panjang lagi-... Tidak, sebuah pertimbangan akan lebih baik!"


"..."


"Namun, aku tetap akan memaksa kalian untuk mendengarkan ini! Pasang telinga baik-baik! Jika kalian pernah sekali melihat gadis ini, seret dia ke Hutan Sigor. Hidup maupun mati!" jelas Maria sambil memperlihatkan hologram gadis yang tak asing.


Salah satu gadis penjaga, merasa tak asing dengan yang ia lihat. Sebelumnya, ia sangat geram kedatangan penyusup itu, sekarang berubah keheranan. Dia tahu gadis yang ada di hologram itu.


"Jangan konyol kau! Gadis itu yang memulai penyerangan di kerajaan Venzonia. Bagaimana bisa kau tak tahu keberadaannya?" sahut gadis penjaga itu.


"Tak ada yang perlu dijelaskan lagi mengenainya! Kalian hanya bisa menjawab "Iya" atau "tidak". Bawakan aku gadis itu, maka akan ku jamin keselamatan umat kalian!" ungkap Maria.


"..."


"Lokasi terakhir berada di Underworld Demonic City! Aku harap para iblis tidak membantunya!" tekan Maria menatap tajam ke arah Pemimpin iblis itu.


"Heh... Satu satunya ancaman kami, ingin melindungi kami? Omong kosong macam apa itu?!" ejek Venal yang menyilangkan kedua tangannya.


"Apakah kalian melupakan tentang SeaTerror?" tanya Maria yang memastikan.


Venal seketika tersentak sebentar mendengarkan hal itu.


"Apa kau bicarakan? Benda apa itu?" tanya balik Pemimpin iblis itu.


"Jika kalian tak mengingat, tak masalah. Hanya bertanya bagaimana perkembangan SeaTerror hingga saat ini."

__ADS_1


"..."


"Baiklah, untuk pesan terakhir ku. Sekali kalian membantu gadis itu kabur, tak akan ada yang menengok langit esok!" ancam Maria dengan santainya.


"Aku rasa itu sudah cukup, penyusup! Sekarang pergi dari sini!" teriak dari seorang gadis pojok yang menodongkan senjata nya.


"Wah... Wah...! Ternyata kamu juga disini juga? Meriah sekali rupanya. Kenapa kamu tak menyapa pahlawan masa depan mu? Dia sepertinya sangat ketakutan!" ucap Maria yang melirik ke Natan.


"Sudah cukup! Aku sudah muak! Tak ada kebenaran satu pun keluar dari mulut menjijikan mu itu!" hina Grace.


"Oh... Kamu ingin tahu kebenaran? Bagaimana dengan SeaTerror 20 tahun silam!" Tatapan nya hampir membuat Grace tumbang.


Secara tiba, hologram itu menghilang. Tak menyisakan apa-apa, hanya meninggalkan tanda tanya besar.


"Semuanya harap tenang! Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya sudah terkendali." ungkap Elf King.


Melihat Venal tertegun berpikir, Natan mulai penasaran.


"Sebenarnya... ada apa dengan SeaTerror yang dibicarakannya?"


"Kau tak perlu tahu! Itu hanya bualan penyusup sialan itu saja!"


Venal masih tertegun, seperti memikirkan perkataan Maria barusan.


"Kau tak perlu menyembunyikannya! Semua orang harus tahu hal ini! Tapi bagaimana setingkat pemimpin suatu negeri tidak tahu akan hal ini!" ucap Natan.


"Tentu saja karena mereka menyembunyikannya dari publik!" bentak Venal dengan lantang.


"..."


Venal terduduk dan hanya bisa memegangi kepalanya.


"SeaTerror... Makhluk misterius yang asalnya sulit dideteksi! Kemungkinan berasal dari langit. Bukan berarti mereka sebuah makhluk sakral, melainkan jatuh dari langit bertepatan di lautan luas. Kami berspekulasi demikian, sebab mereka menyerang setelah sebuah benda misterius jatuh dari langit. Mereka mulai menyerang pemukiman dekat perairan. Penyerangan pertama tak ada yang selamat." jelas Venal.


"Seperti apa makhluknya itu?" tanya salah satu pemimpin.


"Mutasi makhluk laut. Mereka lebih mengerikan, brutal, layaknya penjajah. Kalian tahu apa yang lebih buruk dari ini?"


Semua orang pun mengangguk bersamaan.


"Setelah beberapa penyerangan, kami sanggup mempertahankan satu wilayah. Di saat itu, membunuh SeaTerror masih hal yang mudah. Tetapi kami menyadari akan sesuatu hal mengerikan... Kami menemukan beberapa perhiasan di bangkai makhluk itu. Yang itu berarti, mereka sanggup menginfeksi makhluk lain dan menjadikannya salah satu dari mereka."


Suasana semakin tegang diperlihatkan dengan bagaimana penyimak sangat fokus akan penjelasan dari Venal. Mereka menatapnya, hampir tanpa kedipan dari mata mereka saking ingin tahunya.


Natan hanya bisa menelan ludahnya sendiri, lagi. Tak heran jika Natan tak sendirian.


"Lantas, bagaimana kelanjutannya? Apakah kalian menang?" tanya sekali lagi gadis itu.


"Mereka sanggup beradaptasi, mereka terus berevolusi seiring berjalannya waktu. Kami dibantai pada penyerangan terakhir. Semuanya terbunuh, tak sedikit pula kita harus menyerang sesama rekan kita."


"Para penyimak dari awal sudah memasang raut muka serius nan tegang. Tak sedikit pula ada yang ketakutan mendengarnya.


"Kalian pasti menanyakan hal yang sama. Bagaimana aku bisa cerita seperti ini jika dahulu umat manusia dibantai habis? Di saat itulah kami yang tersisa harus menggunakan ritual itu kembali. Ritual pemanggilan pahlawan dari dunia lain yang sebelumnya tak pernah digunakan lagi setelah tumbangnya Raja Iblis."


"Terus? Bagaimana nasibnya?"


"Berterima kasihlah pada mereka, sanggup membuat perlawanan balik dan menekan mereka. Pertempuran terakhir di Gunung Magaria. Pertarungan diakhiri dengan letusan dahsyat dari Gunung Magaria. Itulah alasan mengapa musim dingin ini terbentuk."


"Bagaimana dengan para pahlawan?"


"Iya, bagaimana dengan mereka? Mereka selamat?"


Venal hanya menggelengkan kepalanya, " sayang sekali, mereka mengorbankan diri mereka. Tak ada yang selamat! Kejadian kelam dan bersejarah itu terus ditutup-tutupi hingga saat ini. Pemerintah berpikir musim dingin ini menyelamatkan kita dari SeaTerror. Tingkat rasio invasi SeaTerror menurun drastis."


Perasaan mereka bercampur aduk, mereka sampai bingung harus berduka bersamaan dengan perasaan kengerian.


"Negara terakhir dan sanggup bertahan dari penyerangan SeaTerror hingga saat ini..."


"..." Semuanya berkeringat dan ingin mendengarkan jawabannya.


"Hieronian Empire!" jawab Venal.


"Apa kau bilang? Hieronian? Aku tak pernah melihat pemimpin mereka sekalipun." ucap Pemimpin Kursi ke-3.


"Begitu ya? Jadi mereka yang berusaha menutup-nutupi ini? Benar-benar keterlaluan!" kesal Pemimpin kursi ke-7.


Pemimpin kursi pertama hanya bisa tersenyum melihat perbincangan menarik mereka.


"Yang Mulai! Melihat reaksi anda, apakah Anda sudah mengetahui hal ini?" tanya secara bisik dari Natan.


"Tentu saja aku tahu, aku juga hidup di jaman kelam itu! Bahkan sampai melawan Raja Iblis perkasa dahulu kala." sahut Elf King yang terus menutup matanya dan tersenyum mencurigakan.


Natan pun agak curiga dengan orang yang ia ajak bicara.


-


-


-


-


-


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2