
"Kau tunggu apalagi? Cepat kejar mereka dan tebus dosa besar mu!" perintah Warrance.
"Gaaaaah... apapun itu!!!"
Penyergapan sekali lagi dimulainya...
"Hehehe... Anjing Pintar!" gumaman disertai tawa manis.
________-------------__________-------------__________
Melihat pemandangan mengerikan itu, tak ada yang baik sekali pun.
"Haaah... Jangan-jangan..."
Semua pandangan membelok menuju Raymond.
"Apa? Jangan menatapku seperti itu!!"
Kemudian, mereka saling menatap satu sama lain.
"Ha...? Tidak mungkin aku mengikutinya, aku tak mau berakhir seperti ini." ucap Pencari B sembari menunjuk.
"Tapi, bagaimana caramu pulang sekarang? Kau akan berakhir disini, jika mengikuti gengsimu!" ucap Pencari C sembari melipat kedua tangannya.
"M-mungkin masih ada waktu sebelum jamurnya tumbuh." papar Pencari A dengan ragu.
"Apa yang kau maksud?! Jelas-jelas kau lihat seberapa cepat jamur itu menyebar ditubuhnya!" tekan Pencari B menunjuk mayat Pencari D.
"Huh...! Terserah, ikut atau tidak kami akan kembali ke desa!" sahut Pencari C.
"Cih dasar! Sialan! Aku tak mungkin harus berakhir disini! Tetapi, aku pun tak mau mati konyol seperti dia! Sial! Ini sangat sulit!" Batin tertekan milik Pencari B.
Tanpa menunggu, mereka yang masih percaya dengan Raymond, akhirnya pergi meninggalkan Pencari B sendirian di sana.
Melihat itu, Pencari B hanya melihat mereka pergi sedikit demi sedikit sampai bayangan mereka lenyap di pandangannya.
"Sial! Kenapa aku diam saja! Aaarghh! Ya Tuhan! Kenapa ini harus terjadi pada ku!!" teriak Pencari B dengan kepala pusing.
"Tapi tenang saja! Tak perlu khawatir! Kau masih punya tenda dan suplai makanan. Tidak mungkin! Aku kehabisan makanan! Siaaaal!!" teriak sekali lagi dari mulutnya.
Linglung tanpa arah, Si B hanya menunggu hal yang tidak pasti, melihat sekitaran membuatnya pusing, merasakan suhu dingin cukup ekstrim membuatnya lesu.
Sementara itu, dibalik rimbunan semak belukar...
"Awas...!!!" teriak seorang pemuda dari arah berlawanan.
"Eh...?"
*Bruaaaak....!!!
insiden tak terelakan pun terjadi...
"Aduh...! Oi!! Kalau jalan lihat-lihat!" tekan emosi dari Si B.
"Huh...huh...huh... Maaf-maaf... Maafkan aku!"
"Kau ini sedang apa? Seperti dikejar sesuatu saja?" tebak Si B.
"Ah... Tidak, ini bukan masalah besar sih! Sekali lagi maaf ya sudah menabrak mu!" ucap pemuda itu sembari membungkukkan badannya.
"Sebaiknya kau beritahu! Dari mimik wajahmu sudah terlihat jelas sekali! Kau bukan dikejar oleh sesuatu yang sepele!" ancam Si B dengan nada intimidasi.
"Eeek..! Eeee... Kita tidak punya waktu lagi! Cepat ikut dengan ku! Lari!"
"Eh... Apa yang kau-"
Pemuda itu langsung menggapai lengan Si B bergegas berlari menuju entah ke mana.
"Hei tunggu dulu! Seharusnya kau jelaskan lebih dulu!" teriak Si B seperti diseret.
"Tidak ada waktu lagi.... Tidak waktu lagi... Tidak waktu lagi...!" Gumaman yang tak dapat dimengerti.
"Ini bocah kenapa ya?! Agak sedikit gila!" batin Si B yang masih tak mau menggerakkan kedua kakinya.
"Maaf sebelumnya, biar ku gendong!"
Beberapa menit kemudian...
"Sial! Sekarang aku lebih kau sesatkan daripada sebelumnya! Memangnya masalah mu apa? Sampai jatuh ke jurang begini?!" keluh Si B sambil menahan sakit kakinya terluka.
"Ssst!! Kau tak akan mengerti!"
"Cih... Memuakkan!" gerundel Si B.
Melihat tingkah laku aneh pemuda itu, membuat amarahnya semakin menjadi-jadi.
"Sepertinya suasananya sudah aman! Jadi dari mana kita tadi? Eh...?"
"Aman apanya!!! Kau tidak melihat apa yang barusan kau lakukan, dasar bocah sialan!!" marah Si B sebanding dengan apa yang ia akan lemparkan sekarang.
"Eh...eh... Tunggu, tenang lah! Kita letakkan batu besar itu pelan-pelan, dan mari kita selesaikan masalah mu!"
"Grrrrrh...!" erang Si B yang hampir melempar batu segede gaban.
"Eeek!!! Jangan membuatku takut dengan cara itu!"
"Masalahku adalah kau!!! Orang idiot yang menyeret orang tanpa sebab! Kau tak tengok dengan kaki ku ini?!" pekik sekali lagi.
"Baik... Baik, aku mengerti! Bisakah kamu letakkan batu itu pelan-pelan?" bujuk pemuda itu dengan raut muka melas.
"Cih...!" Dengan berat hati, ia membuang batu besar itu seenaknya.
__ADS_1
Berjalan terpincang-pincang menahan rasa sakit, akhirnya Si B sanggup duduk di atas batu dengan tenang.
"Jadi begini... Perkenalkan, aku Natan Evara. Aku seorang pengembara tak sengaja menemukan makhluk mengerikan yang mengejar ku dari awal kita bertemu." ungkap Natan.
"Kau yakin kau seorang pengembara? Bagaimana dengan teman-teman mu yang jatuh ke jurang?" tebak Si B sambil merapihkan posisi kacamatanya.
"Apa?! Bagaimana kau bisa-" Natan tercengang.
"Hmmm... Pikiran mu sedang kacau. Lebih baik kau istirahat saja!" saran Si B dengan santainya.
"Bagaimana bisa aku tenang di saat teman-teman ku dalam bahaya? Bahkan kau sekali pun tak menjawab pertanyaan ku!" bentak Natan yang segera berdiri.
"Memangnya kau bisa apa sekarang? Kembali ke sana untuk menolong mereka? Bahkan kau melibatkan ku untuk menuju kesana?"
"..."
Natan mendengar itu tak sanggup berbuat apa-apa. Kemudian, Si B menghampiri nya dengan terseok-seok.
"Dengar! Aku tahu kau tak ingin melibatkan orang lain ke dalam masalah mu, seperti menyembunyikan semuanya dari ku. Untuk itu, ceritakan aku kebenarannya sekarang juga!"
"B-baiklah.."
___________-----------__________--------------________
"Semuanya! Apakah sudah lengkap!" teriak Julian yang memimpin rombongan.
"Tunggu! Natan dan Lucien mana?" bingung Alex.
"Sepertinya mereka masih di belakang. Kita lanjutkan saja, biar mereka menyusul." ungkap Zetta.
"Kau aneh sekali, Zett. Temanmu sendiri kau tinggalkan begitu saja, bagaimana kalau mereka tertangkap oleh monster mengerikan itu?" sahut Emma.
"Daripada kebanyakan omong seperti mu! Monster itu mungkin bisa menyusul kita kapan saja tahu!" tegas Zetta yang mengerutkan keningnya.
"Hei....!!!" teriak dari kejauhan.
"Itu..."
"Itu mereka! Hei... Di sini!" teriak Eryka sembari melambaikan kedua tangannya.
Sebelum mungkin mereka menemuinya, Hanya tinggal satu langkah saja menuju jembatan pemisah Hutan Sigor, sosok itu menampakkan dirinya lagi. Kali ini lagi dan lagi dengan ambisi terburuk.
"Permainan belum usai...!" papar sosok yang seakan berpindah dari atas langit.
Sontak, mereka yang mungkin sanggup meninggalkan langsung bergegas melewati jembatan satu satunya.
"Ohohoho... Terlalu cepat untuk usai, kawan!"
Namun, tidak untuk Natan. Dia berlari sekuat tenaga berlawanan arah tanpa gentar sekali pun.
Menahan sementara sosok raksasa peneror untuk kedua kalinya supaya tidak menghancurkan. Namun, tetaplah sudah. Natan terhempas ke sisi lain, seketika itu juga mereka yang belum ke ujung harus mau tidak mau terjun bebas ke dasar jurang dalam.
"Permainan Selesai...!" kata-kata terakhir yang didengar Natan sebelum dia dikejar.
"Begitu ya." B mulai mengerti.
"Sekali lagi, aku minta maaf sudah membawa mu ke dalam urusan ku!" ucap Natan berkali-kali menundukkan badan.
"..."
B hanya bisa melihat-lihat luka di kakinya.
"Eh... Sebelumnya kamu belum memperkenalkan diri."
"Oh... Aku Breehl, tak banyak yang bisa kau ketahui dariku." sahut Breehl tanpa menatap muka Natan.
"Kau sedang apa?" tanya Natan.
"Kau tak lihat? Mengurusi luka yang kau perbuat!" cemooh Breehl sembari membuka jaket tebal nya.
"Hehe... Bukankah bahaya membuka jaket pada cuaca sedingin ini?" tanya Natan dengan senyum pahit.
"Perbanku masih di atas, dan bagaimana aku mengobati luka ku ini?" jelas Breehl.
"Eh.... rupanya kau seorang wanita?"
"..." Breehl hanya bisa mengerutkan dahinya.
"Hah...! Breehl lihat!" Natan yang menunjuk ke arah perut Breehl.
"Huh?" bingung Breehl.
Pemandangan yang membuat kesunyian, sebuah batuan runcing menembus perut Breehl tanpa ia sadari.
"..."
"..."
"Jangan dicabut! Itu akan memberhentikan pendarahannya. Bagaimana kau tak menyadarinya?" ucap Natan.
"Sepertinya ini juga saat kita jatuh ke sini. Huh... Tak ada harapan." pasrah wanita malang itu.
Setelah itu, Natan memberikan waktu sendiri buat Breehl untuk mengobati luka kakinya.
"Baiklah aku sudah selesai!" ucap wanita itu.
"Dimana jaketmu?" Pertanyaan aneh Natan.
Breehl hanya menunjuk ke arah kakinya.
"Baiklah, mari kita mulai perjalanan kita!" teriak Natan dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Memangnya kau tahu jurang ini?" tanya Breehl.
"Eh itu anu... Ehehehe."
Wanita itu hanya bisa mengelus dadanya.
"Tapi, jangan khawatir! Sebagai pria, harus melindungi wanita lemah seperti mu di sepanjang perjalanan kita kali ini." papar Natan tanpa patah semangat.
"..."
"Huh..."
"Tapi aku masih punya satu pertanyaan!"
"...?"
"Bagaimana aku bisa tak terluka sedikitpun?"
Breehl mengekspresikan emosinya dengan mimik wajah tersenyum kaku.
"Tentu saja saat jatuh kau mendarat tepat di kaki ku! Dan reruntuhan batu jurang berjatuhan tak menjatuhi mu, kau sangat beruntung ya." sindir Breehl.
"Begitu kah."
"Begitu katamu!" teriak Breehl.
"Untuk itu, aku berterima kasih telah menyelamatkan hidup ku!"
"Cih... Kau dramatis sekali! Baiklah, mari kita cari jalan keluar dari sini, kalau bisa." ucap Breehl yang mendahului.
__________------------_________------------_________
Kemudian....
"Akhirnya... Bisa pulang dengan selamat!" ucap Si A yang bernafas lega.
"Beristirahatlah, anak-anak! Meskipun ini gagal, saya tetap senang bekerja sama dengan kalian." pungkas Raymond.
"Tidak... Tidak, seharusnya kami yang bilang begitu. Tanpa Pak Raymond, kita pasti sudah mati kedinginan di hutan mengerikan itu." sahut Si C.
"Tapi... Bagaimana tentang dia? Apa tak masalah kita tinggal sendirian di sana?" bisik Si A.
"Tak perlu khawatir kan dia! Dia sendiri yang memilih, biarkan saja dia!"
"Hei... Seharusnya kau tak boleh mengatakan hal yang tak baik itu. Perkataan mu bisa saja kembali ke dirimu sendiri! Ingat itu!" Nasihat Raymond.
"Ah... Terserah!"
Selanjutnya, mereka kembali ke hunian mereka masing-masing, Si C melanjutkan pekerjaan lain meskipun tubuhnya terasa lelah. Sedangkan, Si A memutuskan beristirahat. Dan anehnya, Raymond tak menyembuhkan lukanya, mengabaikannya dan menganggap luka biasa.
Hari demi hari mereka lalui, Pak Tua itu menyadari adanya kejanggalan di tangannya. Memutuskan untuk pergi berobat, tapi sudah terlambat...
Sementara itu, di tengah balai desa...
"Wah... Kok salju nya berhenti?" ucap warga setempat.
"Iya... Mendadak aneh, apa yang terjadi?" sahut lawan bicara.
Mereka semua terheran menengok ke langit-langit. Awalnya tak ada masalah kemudian muncul sesuatu. Sosok bayang-bayang memancarkan cahaya merah permata dari kedua matanya.
"Jangan takut wahai umat manusia... Aku punya kabar bagus... Aku adalah penyelamat sejatimu... Aku tahu semuanya, bahkan cara membuatmu... Aku tahu apa yang kau suka... Aku tahu apa yang kau benci...!" Suara serak basah itu menggema seluruh desa.
"Apa-apaan yang dia bicarakan?!" gumam warga.
"Entah... Mengapa suasana nya jadi begini?!" sahut salah satunya.
Keadaan Raymond mulai memburuk...
"Apa yang terjadi dengan tanganku!" teriak Pak Tua itu.
"..." Seorang pendeta hanya diam membeku melihat betapa mengerikannya tangan Raymond.
"Hei... Pendeta! Tolong aku! Tolong sembuhkan tangan ku! Kumohon!" bentak Raymond yang memohon-mohon.
Tangan kiri menjijikan, bekas gigitan telah ditumbuhi jamur parasit--- menjalar ke lengan sedikit demi sedikit. Lambat laun mungkin sampai ke otak.
"Aku tak bisa melakukannya!" teriak Pendeta itu berlari keluar.
"Hei... Tunggu kau mau lari kemana?!" susul Raymond.
Saat keluar, dia disuguhkan pemandangan mengerikan menyelimuti langit-langit malam.
"Jadilah hamba yang baik dan bijak... Barang siapa yang mengikuti semua perintah ku, maka dia akan selamat bahagia sentosa... Jika tidak..."
Sosok itu sejenak berhenti bicara. Semuanya pun keheranan--- tak ada yang dapat memahaminya.
Di saat itu pula, pancaran cahaya merah permata bersinar berurutan, dan diiringi berbagai teriakan warga dari segala arah.
Sosok itu memilik 6 mata cantik bersinar menyilaukan mata. Kecantikannya hanya bisa dirasakan oleh yang terpilih--- Sosok itu langsung menghilang dengan diiringi berbagai teriakan warga desa yang menyerang satu sama lain.
"Apa yang terjadi?"
-
-
-
-
-
__ADS_1
-
Bersambung...