
"Namaku? Entahlah, Aku tak terlalu ingat. Bahkan, Aku pun tidak tahu kapan aku tidur. Saat sedang asyik bermain game secara tiba mataku berkunang-kunang--- badanku lemas, dan kukira itu hanya ketiduran saja. Lalu berakhir di sini--- dunia yang hampir sama yang ku mainkan, tetapi terlihat lebih nyata. Wujud ku berubah menjadi karakter yang ku buat." Renungan malam Grace.
Grace yang santai duduk di jendela, berdiri dan menghampiri seseorang telah memanggilnya. Pria kemungkinan penjaga itu bilang ke Grace, "Paduka Ratu memanggilmu untuk menghadap kepadanya!"
Hanya menganggukan kepala, Grace tanpa ucapan apa-apa pergi meninggalkan pria itu. Gadis itu berada di ruangan tahta beserta petinggi lainnya.
"Bagaimana Nona Grace? Semuanya berjalan dengan baik?" Tanya seorang wanita rambut merah muda selaku Ratu dari Seckanift Theocracy.
"Semuanya berjalan lancar, Paduka Venatrix! Saya dengan mudah memukul mundur pasukan iblis!"
"Begitu kah? Lantas, bagaimana kamu jelaskan tentang surat ini? Raja Jayvelen IV mengirimkan ini--- kamu meninggalkan mereka! Apa alasanmu, Grace?" Murka Sang Ratu.
"Itu... Ummm... mereka telah melanggar kontrak yang sudah kita jalin! Itulah mengapa aku meninggalkan mereka." Jelas Grace.
"Kamu pikir kontrak itu lebih penting daripada ribuan nyawa melayang? Apakah begitu, Grace?" Sang Ratu semakin Murka.
"..." Grace terdiam, tak dapat menyangkal lagi.
"Kenapa kamu terdiam, Grace? Apa kamu tidak punya alasan lagi!?" Teriak Sang Ratu.
"Tidak ada... Ini memang asli dari keegoisan ku." Ujar Grace dengan tunduk kepala.
"Sebagai Ratu, aku sanggup memerintahkan kamu langsung ke sana. Namun, tidak untuk kali--- Aku percayakan semua keputusan kamu ambil. Ikuti kata hati nurani mu, Grace!"
"Baik, Yang Mulia. Saya mengerti!"
"Sekarang, saya izinkan untuk keluar dari ruangan ini!" Ucap Sang Ratu sembari menunjuk ke pintu keluar.
"Baik, terima kasih atas nasihatnya! Saya permisi dulu." Ucap Grace yang bangun dan meninggalkan tempat.
Sementara itu, beberapa jam sebelumnya di Hieronian Empire...
"Apakah Anda menikmati pekerjaannya, Tuan Albert?" Tanya seorang Emperor's Guard.
"Tentu saja, aku menikmati tiap detik dalam pekerjaan ku. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan kekaisaran sekarang?" Tanya Albert sembari berjalan beriringan.
"Lebih baik dari sebelumnya, karena itulah saya akan memperlihatkan sesuatu hal yang sudah kami ciptakan!" Ujar Penjaga itu.
"Kejutan apa yang akan engkau perlihatkan?" Tanya Albert yang menerka-nerka.
"Kami pastikan semua orang yang melihatnya akan takjub bersamaan rasa mengerikan."
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di luar ruangan.
"Takjub lah kalian akan 'Doom Cannon'.... sistem pertahanan baru yang diciptakan untuk melibas habis suatu pasukan atau markas pada ratusan meter dalam sekejap mata!" Jelas Emperor's Guard dengan menjulurkan tangannya ke arah atas menara.
Doom Cannon, sistem pertahanan dimiliki langsung oleh Hieronian Empire--- dimana berbentuk 5 buah meriam raksasa yang menghadap ke segala arah serta kubahnya dapat berputar 360 derajat, dan dapat menjangkau sampai 20 km lebih dengan daya ledak masif. Luas area ledakan mencapai 5 km. Sanggup menghancurkan sebuah markas bahkan sebuah kerajaan sekali pun. Peluru yang digunakan hampir berbobot 7 ton, dan itulah yang menjadi kekurangan--- yaitu pengisian ulang memakan waktu cukup lama.
"Dengan lubang meriam sebesar itu, bagaimana cara kalian membawa pelurunya?" Tanya Albert.
"Tenang saja, walaupun memakan waktu banyak, tetapi kami masih bisa mengatasinya. Yaitu dengan Telekinesis!" Ujar Emperor's Guard.
"Hanya melihatnya saja, aku bisa membayangkan seberapa berbahaya nya senjata ini! Bayangkan berapa banyak korban berjatuhan hanya dengan satu peluru saja!" Batin Albert dengan keringat bercucuran.
"Apakah Anda ingin mencoba simulasi penggunaannya?"
"Tidak... Tidak perlu, aku sudah tahu. Ah... ya aku lupa, aku harus memberi makan anjing ku. Yasudah, sampai jumpa!" Ucap Albert langsung berlari tunggang langgang.
Emperor's Guard terheran-heran, "Padahal kan ini baru selesai, perdana pula. Bagaimana dia bisa mengetahuinya?"
Sementara itu, menjelang tengah malam di Elven Country, Amanda sedang membaca buku dan teringat akan suatu hal...
"Hmm... yang lainnya sedang apa ya hari ini? Setelah kejadian kemarin, aku jadi tidak tenang untuk meninggalkan mereka. Akan lebih baik untuk memastikan langsung." Gumam Amanda sambil memegangi dagunya.
Lalu, elf wanita itu mengambil sesuatu--- seperti cermin dengan ukiran cantik. Dia menutup matanya dan mulutnya bergerak seperti membaca sesuatu.
"Oh... ternyata mereka siap siaga akan penyerangan selanjutnya. Sudah selarut ini, mereka masih berjaga? Mereka benar-benar luar biasa!" Ujar Amanda yang membuka matanya lebar-lebar.
Kemudian, wanita itu merasa sudah cukup, cermin pun kembali ke sedia kala. Dan wanita itu mengembalikannya dan untuk bersiap untuk tidur.
Hari pun berganti, mereka semua masih gagah untuk mempertahankan negeri tersebut. Beberapa hari tak terasa sudah berlalu, tetapi tidak ada tanda-tanda sama sekali.
"Akemi, ini sudah 3 hari. Mataku sudah tidak kuat lagi, kapan kita bisa tidur?" Keluh Mitch yang duduk.
"Badan ku juga memohon kepada ku. Sampai kapan kita seperti ini terus? Dimana iblis nya?" Tanya Justin yang kelelahan berdiri.
"Hei, kalian ini! Cepat bangun! Iblis bisa saja menyerang saat kalian istirahat, jadi kalian juga harus waspada akan kedatangan mereka!" Ujar Akemi yang lebih parah.
Karena rasa kantuk dan lelah amat berat, satu per satu dari mereka mulai berjatuhan, pingsan. Tinggal beberapa orang termasuk Akemi yang masih berdiri kokoh.
Tak lama kemudian, tim medis datang menolong para orang yang pingsan.
"Grrrrhhh... Kenapa mereka tidak menampakkan diri? Apa mereka takut? Atau surat itu hanyalah gertakan?" Batin Akemi dengan gigi yang menggertak.
__ADS_1
Datanglah Jayvelen IV....
"Akemi! Ini sudah 3 hari, kenapa kau tidak istirahat sebentar?"
"Tidak, Paduka. Itu tidak perlu! Aku takut kelengahan ku akan membawa bencana bagi kerajaan tercinta ini." Ungkap Akemi dengan nada letih lemas.
"Dari nada bicaramu sudah terlihat jelas, ayo! Istirahat sebentar, lalu kamu bisa melanjutkan menjaga gerbang ini!" Saran Jayvelen.
Entah apa yang terjadi pada Akemi, dia berubah drastis.
"Uh... baiklah, aku juga perlu yang namanya 'istirahat'." Kata Akemi yang mengikuti Jayvelen IV.
_____-----------_______---------_______
"Hahaha... mereka sangat lucu!" Tawa dari Maria.
"Ada apa? Apa ada hal bagus?" Tanya Warrance penasaran.
"Cobalah lihat ini! Kau pasti akan tertawa terbahak-bahak."
"Heh... Ternyata mereka menanti kita selama ini. Bagaimana? Apakah kita akan memulainya lebih awal?" Tanya Warrance yang menyeringai.
"Yah... kamu ini. Tidak seru kalau tidak ada tawa. Mana tawa mu?"
"Hehehehe.... "
"Baiklah hentikan, ekspresi mu sangat mengerikan! Terserah dengan keputusan mu, kau yang komandannya!" Ucap Maria yang kembali fokus ke bola kristal.
"Tidakkah kalian mendengarnya, anak-anak? Persiapkan lah semuanya sesuai rencana. Janganlah kalian menahan diri dengan ras sempurna itu!" Ujar Warrance dengan senyuman yang tak habis-habis.
Kemudian, wanita vampir itu pergi menuju ruang eksperimen. Di sana, ia ingin menemui wanita dengan penutup kain merah di wajahnya, sedang melakukan percobaan.
"Bagaimana dengan kedua kelinci percobaan kita, Blood Shaman?" Tanya Warrance sembari berjalan mendekati sesuatu.
"Anda datang pada saat yang tepat. Aku persembahkan kepada kalian, The Greed Necromancher yang baru, dan di sebelahnya adalah Fungi Magical Girl!" Seru Blood Shaman.
Seorang gadis berambut pirang, dengan beberapa jamur tumbuh di atas kepalanya, ada sedikit pula di bagian tubuh bawah. Namun, yang banyak adalah bagian atas tubuh. Besar hingga yang kecil, mereka tumbuh di tubuh gadis malang itu. Sangat kasihan sekali!
-
-
__ADS_1
-
Bersambung....