
Keesokan harinya...
"Semoga saja, kita bertiga bisa selamat dalam misi ini!" Ungkap doa dari Chika.
Sesampainya di guild petualang, Chika dikagetkan dengan sekumpulan orang yang mengerumuni teman-temannya.
"Riyo! Siapa mereka ini?"
"Mereka itu kelompok petualang sama yang pernah ikut kita di misi Vigilo dulu. Masa kau tidak ingat?" Ucap Riyo yang heran.
"Oh 'Four Reverie'! Aku masih ingat dengan mereka!"
"Syukurlah kalau anda masih mengingat kami." Ucap Rei yang senang.
"Bagaimana? Apa semuanya sudah lengkap? Apa kalian semua siap?" Tanya Riyo kepada semua orang.
"Siap!" Teriak serentak mereka semua yang menjalankan tugas ini.
"Baiklah! Ayo kita berangkat!" Teriak Riyo dengan semangat tinggi.
Rombongan petualang itu mulai meninggalkan kerajaan Venzonia, dan menuju Hutan Sigor dimana hutan yang paling dekat dengan kerajaan Vigilo.
Waktu yang dibutuhkan untuk ke sana adalah 4 hari dengan kereta kuda.
Sesampainya di hutan salju itu...
"Sialan...! Kenapa kau tidak bilang kalau kita akan ke tempat sedingin ini! Kau pula tidak memberitahuku untuk apa membawa pakaian tebal!" Ucap Chika sambil memeluk tubuhnya.
"Salahnya sendiri tidak menurut perkataan ku! Ini...! Pakailah! Untung aku membawa cadangan!" Ucap Riyo sambil melempar sebuah jaket kulit.
"Terima kasih banyak!" Chika langsung memakai jaket kulit pemberian dari Riyo.
Ada sebuah papan kayu yang bertuliskan "Hutan Sigor", Dan papan kayu kedua tertulis dengan darah yang berbunyi "Jangan mendekat! Atau kau akan menyesal!".
Apa daya sebuah papan dapat mengurungkan niat mereka? Lebih buruknya adalah mereka malah merusaknya tanpa penyesalan sama sekali.
Mereka berjalan menelusuri hutan tersebut. Tidak ada yang tahu bahwa ada yang mengawasi dari balik salju.
"Apa kita salah mengambil jalan? Perasaanku semakin kita masuk semakin dingin dan mencekam suasananya." Wanita rambut pirang yang bernama Chika sangat khawatir.
"Tenangkan dirimu! Aku rasa kita akan sampai sebentar lagi." Perasaan Hinata hampir sama dengan Chika.
1 jam kemudian...
"Hei... Kenapa kita seakan selalu kembali ke tempat semula? Apa yang terjadi sebenarnya, Hinata?" Tanya Rei yang mencurigai.
"Ya... Jangan-jangan kau tidak tahu arah jalannya?" Curiga Rachel.
"Tenang semuanya! Harap sabar! Temanku ini sedang berkonsentrasi untuk mencari jalan. Benar kan begitu, Hinata?" Riyo memenangkan mereka semua.
"Ya... itu benar sekali! Prediksi ku mengatakan bahwa kita harus mengambil jalan sebelah sini." Hinata mulai gugup.
"Awas saja kalau ini sama dengan sebelumnya!" Kesal Rei.
Tak lama kemudian, Hinata yang menjadi penunjuk arah, tersandung sesuatu dan jatuh tersungkur.
"Awww... Aduuuh! Kakiku sakit!" Kaki Hinata terluka.
"Kau tidak apa-apa, Hinata? Hiiii... Luka kakimu cukup lebar! Apa ada yang membawa perban?"
"Aku membawa perban!" Ucap Chika sambil menutupi luka Hinata dengan perban.
"Bagaimana? Merasa lebih baik?"
"Ya... Aku rasa. Terima kasih ya!"
"Kenapa tidak kau sembuhkan dengan kemampuan penyembuhan mu?" Tanya Riyo.
"Kemampuan penyembuhan ku sangatlah terbatas. Aku gunakan ketika ada yang terkena luka berat." Jawab Chika.
Di lain sisi, Rei dan teman-temannya memeriksa gundukan besar yang membuat Chika jatuh.
"Apa ini? Biar aku gali dulu... Haaaa? Mayat?"
__ADS_1
Rei dan yang lainnya sangat terkejut ketika menggali gundukan itu.
Mereka semua baru menyadari ada banyak sekali mayat bergeletakan di sekitar mereka pijak.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ada banyak mayat di sini?"
Rei dan para rekannya tidak sanggup melihatnya langsung berlari meninggalkan ketiga remaja itu.
"Hei..hei..hei.. Kalian mau kemana? Tunggu! Jangan tinggalkan kami sendirian disini! Ah mereka memang keparat!" Teriak Riyo sambil menendang pohon.
"Bagaimana Hinata? Apa kau bisa berjalan? Biarkan aku membantu mu!" Ucap Chika sambil memberikan tangan.
"Aku butuh sedikit bantuan kurasa."
"Bagus! Sekarang kita harus kemana? Kalau kau memang tidak tahu, jangan menyesatkan kami!" Kesal Laki-laki berambut putih itu.
"Bagaimana kalau kita panjat pohon? Kamu bisa memanjat pohon kan?" Tanya Chika sambil memberikan saran.
"Oh ya, kenapa tidak kepikiran ya? Baiklah, aku akan pohon itu."
Kemudian, Riyo pun memanjat sebuah pohon cemara yang agak tinggi.
"Riyooo...! Apa kau menemukan sesuatu?" Teriak Chika dari bawah.
"Sepanjang penglihatan ku, hutan ini ternyata cukup luas. Dan-"
"Dan apa? Apa yang kau lihat?"
"A-aku melihat menara tua yang menjulang tinggi ke langit. Saking tingginya, puncak menaranya tertutupi oleh awan." Jelas dari Riyo.
Riyo pun turun dari pohon. Dan memberitahukan kepada mereka berdua.
"Jadi kita akan menuju arah pukul dua. Ayo kita bergegas sebelum menjelang malam hari!"
"Baiklah, ayo!"
Di perjalanan...
"Tolong...!"
"Kau dengar itu?"
"..."
"Siapapun tolong aku!" Suara itu semakin keras.
"Itu! Seperti ada yang dalam bahaya. Kita harus menolongnya!" Ucap Riyo dengan jiwa kepahlawanannya.
"Kami tidak mendengar sesuatu. Kau pasti salah dengar."
"Tidak mungkin! Suara itu sangat jelas, aku harus menolongnya!" Ucap Riyo yang berlari menuju ke sumber suara.
"T-t-tunggu Riyo!" Chika dan Hinata mengikuti Riyo.
"Jangan khawatir, Nona! Aku datang!" Teriak Riyo.
Setelah berlari cukup panjang, Riyo akhirnya sampai ke sumber suara itu. Yang dia lihat seorang wanita berparas cantik dan seksi sedang diikat di pohon. Sungguh malang sekali.
"Tidak apa-apa, Riyo sudah ada disini! Tidak ada yang perlu ditakutkan." Ujar Riyo sambil melepas ikatannya.
"Terima kasih banyak, pahlawanku! Kau sungguh baik sekali!"
Chika dan Hinata yang baru sampai sangat terkejut ketika melihat Riyo.
"R-Riyo...! Siapa yang ada di dekat mu itu?" Tanya Chika yang bergemetar.
"Kenapa kamu menyelamatkan mayat, Riyo?" Tanya Hinata yang juga sama.
"Apa yang kalian katakan? Apa mata kalian buta? Sudah jelas kalau aku sedang menyelamatkan wanita malang ini!" Riyo yang tidak percaya dengan kedua temannya.
"Riyo... Aku mohon ke sini sebentar! Ada yang ingin ku beritahukan!"
"Apapun yang kalian katakan, aku tidak mempercayai kalian!" Riyo yang mendekati mereka berdua.
__ADS_1
Tiba-tiba, Chika langsung menyiram kedua mata Riyo dengan air.
"Ahhh... Apa ini? Perih!" Teriak Riyo yang kesakitan.
"Sekarang lihatlah wanita idaman mu!"
Setelah Riyo mengucek matanya, ia melihat wanita yang sebelumnya diselamatkannya, berubah menjadi sebuah mayat yang berlenggak-lenggok dengan kondisi termutilasi sebagian.
"..." Riyo yang kehabisan kata-kata hanya bisa memasang raut muka ketakutan.
"Ho... jadi tadi adalah air suci ya? Kalian cukup pintar juga ya!" Ucap mayat wanita itu dengan nada seraknya.
"Apa yang kau mau?" Mereka bertiga bersiap untuk bertarung.
"Ha... Kalian cukup beruntung bisa bertemu denganku. Jika tidak, kalian dipastikan akan senasib denganku seperti sekarang! Haha.."
"Apa yang kau bicarakan ha?"
"Tenangkan dirimu terlebih dahulu. Aku tidak berniat jahat seperti yang lain. Hanya saja memeringatkan kalian akan tidak pergi ke menara tua itu. Hanya penyesalan yang akan kalian dapatkan!"
"Tidak bisa, kami sudah sejauh ini! Kami akan tetap ke sana bagaimana pun caranya!" Hinata yang mengangkat suara.
"Ha... jika pilihanmu begitu, itu terserah. Tapi aku sudah berusaha memeringatkan kalian. Akan ku sambut kalian sebagai pendatang baru setelah masuk ke menara itu. Sampai jumpa!" Mayat wanita itu menghilang begitu saja.
"Apa itu tadi? Apa kita harus menuruti perkataannya?" Tanya Chika yang masih ambigu.
"Tentu saja tidak, apa kau akan menyia-nyiakan hadiah dari tugas ini?" Ucap Hinata sambil memasukkan senjatanya.
"Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan!"
______---------______-------_____
"Huh... huh... huh...! Apa sudah aman?" Tanya Rei yang lelah setelah berlari.
"Aku rasa sudah aman. Sekarang kita ada dimana?" Tanya Malice.
"Entahlah... Eh... lihat! Ada yang sedang berkemah! Kita akan aman!" Lancey yang menunjuk ke arah tenda-tenda itu.
Mereka langsung menuju tempat perapian itu.
"Hah... akhirnya kehangatan!" Ucap Rei sambil melepas jaketnya.
"Eh... Kalian ini siapa?" Tanya seorang pendaki itu.
"Maaf atas kelancangan nya. Untuk itu, tolong selamatkan kami dari hutan ini!" Ucap Rachel sambil memohon berlutut.
"Eh... kenapa ini?"
"Ya, Tolong keluarkan kami dari hutan penyiksaan ini! Kumohon!" Rei yang memohon.
"Kalian seharusnya tidak memohon kepada kami!" Ucap pendaki itu.
"Eh... kenapa?" Tanya Rei yang kebingungan.
Tanpa sepengetahuannya, Malice jatuh tersungkur akibat tertusuk benda tajam oleh pendaki lainnya.
"Eh... kenapa kalian-"
"Karena kami juga korban dari hutan biadab ini! Hehehe..." Ucap salah satu pendaki yang berubah menjadi mayat yang serupa.
"Ah... Aaaaaaarggggh!!!!" Teriakan terakhir dari grup petualang 'Four Reverie'.
*Jleeeeeb.....!
*Jleeeeeb....!
*Slaaaaash....!
-
-
-
__ADS_1
-
Bersambung....