Endless Winter

Endless Winter
Chapter 3 : You Can't Hide


__ADS_3

"Bagaimana ini... Bagaimana ini... Bagaimana ini...?!!!!" Yukki berusaha menenangkan diri, tidak untuk pikiran dan batinnya.


"Tenang saja gadis kecil, tetaplah di belakang kami!"


"Tak perlu khawatir! Kami senantiasa melindungi mu!"


Mendengar perkataan itu, Gadis itu terpikirkan satu hal, yaitu sosok pelindung bagi dirinya. Ingatannya mulai pulih seiring berjalannya waktu. Dia tidak tahu siapa, tetapi dia percaya bahwa sebelumnya dia tidak sendirian di hutan ini.


"Kalau itu benar, kemana sosok itu sekarang? Mengapa dia meninggalkan kita berdua di sini?" Batinnya berkecamuk dengan rasa nyeri di kepalanya.


Setiap kali teringat akan memori masa lalunya, rasa sakitnya semakin kuat.


____________-------------___________-------------__________


Kesunyian dan kekhawatiran memenuhi ruang di kepala mereka.


"Mereka dapat menyerang kapanpun! Tetaplah fokus, teman-teman!" Peringat Pak Tua itu.


"Dimengerti!"


"..."


"..."


"Tolong...! Tolong...! Tolong aku!" Sebuah teriakan tak jauh dari pendengar mereka.


"Suara itu seperti..."


"Apakah itu benar dia?"


"Ternyata dia masih hidup!"


Mereka semua bergegas mendekati sumber suara. Di sisi lain, Yukki masih merasa kepalanya pusing, perlahan mengingat perkataan dari seseorang.


Tak lama kemudian, mereka mendapati rekannya yang sebelumnya dibawa oleh mayat hidup kini sedang terkapar bersimbah darah.


"Kau masih hidup?" Tanya Si Pendaki Perempuan.


"Aargh... iya, cepat! Tak ada waktu lagi! Cepat tolong aku! Aku tidak tahan lagi!"


Seiring Yukki menahan rasa sakit di kepalanya, kini rasa sakitnya mulai memudar. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang.


Dia pun sadar, melihat lainnya hendak mendekat dan menolong. Semakin dekat, membuatnya ragu untuk melakukannya. Dia berpikir, "Apa aku harus melakukannya?"


"Tentu saja! Apa kau ingin ini semua terjadi sama halnya di gambaran pikiran mu?" Suara itu muncul tiba-tiba.


"Huh...?!!" Yukki Tersentak.


"Ini dia... minumlah ramuan in-..."


*Doooooor.....!!!


Gadis itu menembakkan peluru pertamanya.


"Huh...?" Pendaki perempuan itu tak percaya akan di depannya.


"Gadis kecil! Apa yang kau lakukan?!!! Kenapa kau membunuhnya?" Pekik Si pendaki tua.


Sontak, si pendaki pria itu kesal mendorong Yukki sampai terpental, "Cih, memang benar kalau kita meninggalkan dia sendirian di hutan!"


Mereka sudah tak memperdulikan gadis kecil itu--- lebih mementingkan mayat rekannya yang sudah mati dengan keadaan mengenaskan sebelumnya.


"Tunggu, bagaimana... bagaimana bisa ini terjadi?"


"Hiii... ke-kenapa... dia berubah drastis? Apa yang terjadi dengan tubuhnya?"


Semuanya tercengang melihatnya--- melihat rekannya sendiri.


"Itu... itu karena teman kalian sudah mati di makan mayat hidup tadi. Jika ku biarkan, mungkin kejadian serupa akan terjadi lagi. Untuk itu, aku meminta maaf tidak memberitahukan nya! Maaf!" Klarifikasi dari Yukki yang mendekat.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa tahu? Siapa kau sebenarnya ini, hah?" Si pendaki pria mulai mencurigai Yukki.


"I-itu... tidak penting! Sepertinya kita sudah dikepung!" Sahut Yukki tak menjawab pertanyaan.


"Apa yang kau katakan kali ini? Apa yang kau maksud dengan 'kita dikepung'? Oleh siapa?" Kali ini Si Pendaki Perempuan ikut bertanya.


"Apakah kalian percaya dengan perkataan ku?" Tanya Yukki.


"..."


"..."


"Tentu saja, kamu percaya!" Ujar Pendaki Tua.


"Eeeh....!!!?"


"Kenapa kau percaya dengannya?"


"Apakah kau belum melihatnya? Apakah ini semua belum jelas? Sepertinya gadis ini adalah juru kunci dari hutan kramat ini! Dia mengetahui semuanya yang akan terjadi, dan aku mempercayai nya!"


"Padahal kan aku hanya seorang yang tersesat. Bisa-bisanya aku disebut juru kunci hutan ini!" Batin Yukki.


"Jadi gadis kecil, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"


"Mereka tak tahu bahwa kita sudah menyadari keberadaan nya. Apakah kalian semua sanggup berlari kencang?"


"Kami semua sanggup, kecuali Pak Tua ini." Jawab Si Pendaki Perempuan.


"Mengapa kita harus berlari? Kita bisa melawannya balik." Ucap Pendaki Tua.


"Tidak bisa, Pak! Jumlah mereka cukup banyak dan merepotkan. Bagaimana kalau Anda digendong?" Saran dari Yukki.


"Ummm... baiklah, apapun yang kau katakan, juru kunci!"


"Sudah ku bilang aku bukan juru kunci tahu!" Batin Yukki.


"Gendong aku, pemuda kuat!"


"Kalian secepatnya pergi dari sini! Nanti kami berdua menyusul!"


"Oke, kami pergi dulu! Jaga dirimu!"


"Kau yakin membiarkan mereka pergi? Bisa saja mereka dikejar oleh mayat-mayat!" Ujar Si Pendaki Perempuan.


"Maka dari itulah tugas kita untuk mengalihkan perhatiannya."


"..."


"Oh, kamu pikir rencana mu berjalan dengan sempurna? Kalian tak akan bisa bersembunyi! Ataupun terbebas dari kami! Nasib kalian sudah ditentukan di hutan ini!" Penunggu hutan telah mengangkat suaranya.


"Huh... kalau begitu, sini kalau berani! Hadapi langsung dan jangan bersembunyi dari balik bayangan! Jika kau bukan pengecut, dasar mayat bodoh!" Ejek Yukki.


"Hohoho... punya ide yang bagus. Apakah kalian berdua menyukai kejutan?"


"..."


"Hahaha... seharusnya kalian menyukai ini!"


"Apapun yang kita lawan, janganlah gentar!" Ucap Yukki.


10 menit kemudian...


"Kenapa mereka tidak menyerang kita? Sepertinya ada yang salah." Ujar Pendaki Perempuan.


"Padahal kita ini sasaran empuk, kenapa mereka tidak menyerang?" Yukki terheran-heran.


"Jangan-jangan...!"


"..." Yukki menjatuhkan senapannya. Ia mengambil sesuatu di dekatnya.

__ADS_1


"Syal milik siapa itu ya?" Tanya Pendaki Perempuan.


Tak lama kemudian, tanpa sepatah kata, Yukki berlari ke arah Si Pendaki Tua. Disusul dengan Pendaki Perempuan yang membawakan senapannya.


"Hei... Tunggu! Kau mau pergi kemana, gadis kecil?!!" Teriak Pendaki Perempuan yang berusaha menyusul Yukki.


"Astaga... dia cepat sekali! Sangat susah untuk menyusulnya!" Pikir Si Pendaki Perempuan.


Secara kebetulan, rimbunan salju bertebaran membentuk badai mendadak, yang dimana membutakan pandangan Si Pendaki Perempuan. Dia kehilangan gadis itu, dia menengok kesana kemari, tetapi hanya ada pemandangan salju mengerikan.


Pantang menyerah, membuatnya terus berlarian untuk mencari keberadaan gadis itu. Juga, ia merasakan sesuatu mengintai dari jauh.


"Apakah itu monster?!!" Pikirnya.


Apapun itu, membuatnya lari tunggang-langgang tanpa melihat ke depan. Sial, ia malah menabrak sesuatu dengan cukup keras. kepalanya berdarah, ia menahan dengan telapak tangannya.


Sesuatu yang ditabraknya bukanlah batu maupun pohon beringin. Benda itu memancarkan cahaya ungu dan mulai bergerak. Pandangannya yang buram, kini mulai terlihat jelas--- Sebuah baju zirah bergerak dengan mengangkat kapaknya seakan tidurnya diganggu oleh keberadaan Pendaki Perempuan.


*Braaaak.....!!!!


Hantaman sangat keras ke tanah. Untunglah, Pendaki itu dengan sigap menghindar. Ini memberikannya waktu untuk berlari sekali lagi tanpa arah yang jelas.


_____________-------------__________-------------________


Sementara itu...


"Tidak... jangan lagi! Aku mohon! Jangan sampai ini terjadi terulang lagi! Aku tak ingin nasib mereka sama dengan kakak ku!" Batin Yukki yang berlari sambil menggenggam syal rajut milik kakaknya yang penuh darah.


Setelah berlari cukup lama, Yukki malah menemukan sesuatu yang tak diinginkannya.


"Huh...!! Tidak mungkin!" Yukki menemukan sebuah potongan tangan yang ia yakini milik pendaki pria.


Sepanjang hamparan salju yang ia lewati, berbagai barang milik pendaki tua ia temukan.


Pada akhirnya...


"Itu kan..." Yukki menemukan Pendaki Perempuan yang sedang mengintip di dekat pohon.


Ia menghampirinya dan penasaran apa yang ia saksikan.


"Akhirnya aku menemukan-...." Belum selesai berbicara, Yukki syok parah melihat pemandangan cukup mengerikan di depan matanya.


Jangankan Yukki, Pendaki Perempuan yang sudah lama duduk sambil mengintip saja sudah kehabisan kata-kata dan berlinang air mata.


Apa yang mereka lihat sangat mengerikan. Terlihat sosok mengerikan Humanoid berkepala rusa sedang menyantap kedua pendaki malang yang tertangkap olehnya.


Tak tahan yang ia lihat, Pendaki Perempuan itu berdiri dan mengambil sesuatu di dalam tas ranselnya.


"Apa yang kau lakukan?" Bisik Yukki.


Dengan wajah penuh suram, Pendaki Perempuan itu langsung menggorok lehernya sendiri tepat di depan Yukki.


"..." Tak dapat berkata apa-apa, hanya dapat menahan nafasnya untuk berteriak.


Jika dia berteriak, maka ia akan ketahuan. Namun, sangat sulit untuk menahan rasa takutnya melihat rentetan insiden yang dialaminya.


Di saat bersamaan, ia menoleh kembali ke arah monster itu. Secara mengejutkan, monster itu tepat di depannya. Sangat ingin berlari, namun langkah kaki terasa sangat berat. Ingin berteriak, namun mulut terasa seperti membeku. Itulah yang dirasakan gadis malang itu.


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


-


Bersambung...


__ADS_2