
Seseorang mendatangi desa yang sudah hancur porak-poranda.
"Wah... Wah... Lihatlah! Apa yang dilakukan The True Savior adalah sebuah mahakarya agung--- Tak ternilai... Bahkan, memiliki makna mendalam. Bukankah begitu?!" puji agung dari seorang vampir berambut ungu.
"Ha...? Sesampah itu seleramu?!" sahut Triple D.
"Heee... Apa yang keluar dari mulut bau mu itu?!" tegas Warrance bersiap membeku kan apapun.
Tak disangka segerombolan makhluk hidup tak lain tak bukan, penduduk desa sebelumnya, yang kini buruk rupa dan tak terkontrol.
Seperti yang dikatakannya, memang ada jamur menonjol pada bagian kulit mereka. Namun, apakah mereka punya kesadaran?
"Emuehehe... Saksikanlah! Mahakarya Agung Sang Pencipta! Dengarlah erangan merdu nan menyakitkan!" takjub Warrance akan dilihat.
Segerombolan itu perlahan bangkit dari keterpurukan, menggunakan kaki dan lengan lemah mereka yang seakan baru lahir. Dan pada momentum itu, mereka akhirnya menunjukkan keberadaan nya.
Takjub tak main, Warrance kemudian tepuk tangan dengan bangganya. Kesenangan nya sirna ketika mereka menyadari sesuatu.
*Tiit..Tiit...Tiit...... Dooooor....!
Sebuah bunyi peringatan dan tembakan tak asing. Salah satu dari mereka jatuh, membuat Vampir itu waspada.
Kemudian, terjadi rentetan tembakan mematikan yang menumbangkan segerombolan mayat hidup itu.
"Siapa di san-"
Teriak dia yang disela oleh tembakan misterius. Pria besar itu tak akan mudah ditumbangkan.
"Menarik sekali!" gumam Warrance yang menyilangkan kedua tangannya dan membiarkan dirinya tertembak.
Namun, tidak kali ini-- terdengar jelas pecahan kaca menunjukkan tembakan itu mampu menembus perisai dimilikinya. Tetapi dia tetap tenang dan hanya tersenyum lebar.
"Sialan! Tunjukan dirimu!" teriak sekali lagi.
"Tahan... biarkan aku saja! Mundur sekarang!" suruh Warrance.
"Tapi...!"
"Kau bilang apa?!" ancam vampir itu dengan bola semangat nya.
Tanpa berpikir, Triple D menghilang dibalik kabut hitam pekat.
"Nah... Sekarang tak ada pengganggu lagi! Jadi... Bisakah kita memulainya?!" tekan Warrance sembari mengangkat kedua tangannya.
Setiap kali tembakan diluncurkan, sebuah perisai akan dipulihkan olehnya. Perisai itu hanya sekali pakai dan sanggup menahan serangan fatal.
"Hmmm...!"
Wanita itu berpikir sejenak lalu menyatu dengan rimbunan hujan salju.
Sementara itu, di dalam gudang pertanian bekas... Terlihat seorang sedang tengkurap lengkap dengan rifle.
"Cih... Si ****** itu kabur rupanya! Tak akan kubiarkan dia...!" umpat wanita tersebut bergegas berdiri dan keluar.
Sebelum itu, dia dikejutkan dengan suara misterius dari balik pintu kayu memisahkan antar ruang.
"Ini aku, Yukki! Aku punya hadiah untukmu~ mu~ mu~... Aku bawakan kejutan... Biarkan aku masuk, Yukki..."
Terdengar suara wanita yang mungkin dikenalinya. Ini membuat Yukki waspada, dan bersembunyi di balik meja kayu membentuk blokade.
*Tok... Tok... Tok... Tok....!
Suara ketukan itu semakin keras...
"Buka pintunya, Yukki!!! Aku punya hadiah!!! Aku punya-...!" tekan suara lantang dan emosi yang terputus.
"..."
Keheningan pun terjadi di antara mereka. Beberapa detik berlalu, tak ada suara terdengar, bahkan Yukki tak memberikan pergerakan sekalipun.
"Yukki.... Biarkan... Aku... Masuk...!!!" tekan sekali lagi suara itu bertepatan dengan hancurnya pintu kayu, menghasilkan suara gaduh cukup nyaring.
Dari kepulan debu beterbangan, lambat laun terlihat siapa pelakunya...
"Hahahahaha....!!!!"
Wajah tak asing dan suara tawa mengerikan nan menggelegar.
Terlepas dari itu, Yukki tetap bersikukuh untuk bersembunyi dibalik blokade meja yang dibuatnya.
Daripada masuk dan menghampirinya, ****** itu lebih memilih bermain-main dengan mental Yukki.
"Kenapa bersembunyi, Yukki?! Waktu bermain petak umpet sudah selesai... Tunjukan dirimu... Biarkan aku melihat wajah cantikmu...!" Godaan suara merdu nan terdistorsi.
"..." Dia berusaha untuk tenang dan tidak terlihat takut.
"Hehehe... Jangan konyol seperti itu, Yukki sayang! Ku bawakan kau kejutan yang ku janjikan... Teman mu ingin berbicara dengan mu...!" Suara semakin lama terdistorsi.
"Huh... Seorang teman?" ucap gadis ketakutan itu.
"Benar sekali, Yukki! Sapalah dia... Dia ingin bertemu dengan mu..."
"Adik tersayang ku, Yukki. Bagaimana kau tak mengenali suara ini?" Bisikan lembut muncul.
"Huh...? Kakak?" gumam Yukki yang heran.
"Aku tahu kau tak akan melupakan ku! Kakak sangat kangen dengan mu. Kau mengingatnya bukan?" Sosok seperti kakaknya katanya.
Tidak dapat membendung lagi, air matanya pun berderai dan membasahi papan kayu yang sudah lapuk. Perasaan haru campur sedih mengisi kekosongan dalam dirinya.
Tetapi ia masih bersikukuh untuk tidak menampakkan diri. Makhluk itu terus membombardir tipu muslihat, bahkan mengetahui semua masa lalunya.
Dia nampak bersiap, mengokang untuk peluru berikutnya... Dia sekali lagi nampak berkeringat walaupun nyatanya udara sedingin itu ia rasakan.
"Hehehe...!" Gadis itu mulai tertawa.
"Kau cukup lucu juga, Adik tersayang! Apakah wajah ku selucu itu untuk diingat?" ucap dari mulut seorang kakak palsu.
"Aku tanya sekali lagi...!" seru gadis berambut putih itu.
"..."
"Siapa namamu?!"
"Bagaimana kau tak mengingatnya? Ini kakak mu, Yukki!" Tipu muslihat masih berlanjut.
"Jawab saja pertanyaan ku! Siapa namamu!" bentak Yukki dengan lantang.
"Huh... Ya ampun... Barion... Barion Sachenka... Itu nama ku... Ingat itu!" sahut makhluk itu.
*Dooooor.....!!!!!!
Suara gaduh itu membuat suasana terpecah. Selongsong peluru panas keluar dari senapan rifle yang habis dikokang. Bahkan gadis sekecil itu bergetar menahannya, terlihat jelas kegelisahan melalui raut muka penuh akan emosi dan derasan keringat.
"Hehehe... Jika itu demikian, maka aku tak menahannya lagi... Aku tahu bagaimana kalian bekerja! Kalian pikir bisa menyerang kewarasan ku... Hah? Kewarasan ku sudah lenyap sejak 8 tahun yang lalu!" tekan Yukki yang agak waras.
"Hahaha... Ternyata adik ku sudah cukup besar untuk memahaminya!"
Sosok itu kembali ke wujud asalnya.
"..."
Tiba-tiba... Salah satu dari mereka... Terlempar keluar--- menjebol dinding kayu yang cukup lapuk. Di saat itu lah terlihat pertarungan tak terhindarkan terjadi...
Menahan dengan kekuatan telekinesisnya, agar tak bertubrukan... Memberikan peluang Yukki yang terlempar agar menyesuaikan jarak.
Terjun di udara, sambil mengokang senapan usang yang tersendat... Memaksa dia untuk menunjukan urat otot yang sudah dikerahkan selama 8 tahun terakhir.
Sayang seribu sayang, hal itu sia-sia dihadapan perisai anti kerusakan fatal. Menjadi sasaran empuk di udara, Warrance langsung menunjukkan sedikit trik berupa rimbunan salju turun diubahnya menjadi bongkahan es padat tajam meluncur ke arah gadis malang itu.
Tidak ingin kalah, gadis itu terpaksa mengeluarkan kartu as yang dia punya.
__ADS_1
"Huh... Time Jump!" bisik Yukki yang tersenyum jahat sambil membunyikan lonceng bel tua.
Seketika, membuatnya bergerak sangat cepat seakan dia terpengaruh oleh waktu yang dipercepat.
"Huh...?"
Telat untuk menyadari, gadis lincah itu menggunakan pisau belati untuk mengores sedikit demi sedikit perut Warrance, walaupun harus memecahkan perisai otomatisnya.
"Cih... Menyerah saja! Dia terlalu cepat, bahkan melebihi waktu regenerasi perisai ini! Tapi ini memang tidak masuk akal sekali! Bahkan untuk seukuran manusia." batin Warrance sembari berusaha mengikuti pergerakan Yukki.
Terus menerus menerima sayatan tanpa perlawanan... Warrance dengan raut muka begitu seperti memiliki rencana tersendiri, menyeringai tanpa sebab.
"Hehahaha... Tapi... Permainan mu sudah bera-..."
Sebelum menyelesaikan perkataan... Triple D mengejutkan semua orang, tiba-tiba muncul dan membuat getaran gempa kecil. Di momen itu, Yukki yang kewalahan dan terkejut apa yang terjadi--- Apalagi wanita vampir itu...
Menyerang secara membabi-buta, tidak menghentikan Yukki terus bergerak. Gadis yang sudah tumbuh dewasa itu mengetahui titik lemah suatu makhluk hidup... Membidik satu per satu titik otot fatal untuk terluka.
Seketika Triple D langsung lumpuh, terkapar, jatuh tak dapat bangkit.
"Dasar Makhluk Jelek Sialan! Peluruku hampir habis hanya untuk muka menjijikan mu itu!" geram Yukki dengan menghantamkan bagian tajam milik senapan rifle nya.
Bongkahan kristal es meluncur, tapi ia sempat menghindar dengan cepat dan mundur mengambil jarak.
Berjalan dengan elegan sembari menodongkan Calamity Wand, Warrance berkata, "Huh... Sudah kubilang anjing pengganggu seperti mu lebih baik pulang dan tidur sana!" ejek wanita vampir yang berdarah itu.
"Nah sekarang Yukki... Hanya kita berdua saja di sini! Anggap saja dia nyamuk... Untuk itu, bisakah kita awali permainan sesungguhnya ini?"
Yukki pun menyeringai. Ia merogoh kembali sebuah lonceng bel tua yang sebelumnya digunakan.
"Hihihi... Baiklah, aku mulai ya! Time Jump!"
Melesat tertelan pandangan mata manusia, gadis itu kembali menggunakan kartu as nya.
Tetapi dia yang tak pernah gentar dan panik, memilih hal gila lain, tersenyum lebar dan berserah diri.
"Dia diam saja?" batin Yukki.
Warrance akhirnya menunjukkan sesuatu baru lagi, membuang yang lama dan mengeluarkan sebuah tombak ujung ungu nan runcing terbuat dari batu kristal tak biasa, memancarkan energi lebih besar dari sebelum nya.
"Sekarang... Coba libas ini, Yukki!" tekan Warrance yang menancapkan tombaknya.
Memunculkan perisai berbeda juga fungsinya. Yukki, gadis yang gesit tak dapat menghancurkannya... Setiap menyentuh, Sambaran dahsyat membakar kulitnya. Beserta kemampuan melayang membuatnya tak tersentuh.
Dan di saat itulah Warrance sanggup mengimbangi nya. Pertarungan sekali lagi memberikan dampak sekitar negatif cukup parah, mengingat dua elemen bercampur aduk bersamaan memberikan kerusakan sulit ditanggulangi.
"Lari lah terus, Yukki! Oh ya... Aku lupa itu..."
Tiba-tiba gaya gravitasi sekitar berubah signifikan... Rasanya tertarik langsung dari dalam tanah sama halnya dirasakan gadis gesit itu... Sekarang tak ada lagi pergerakan.
"Huhuhu... Bagaimana rasanya? Inilah yang disebut Medan Gravitasi!" jelas Warrance dengan tawa.
"..."
"Biar ku ambil benda berharga mu itu, hehehe!" kata Warrance yang mengambil lonceng dari tangan Yukki.
"Ada kata-kata terakhir, Yukki?"
"Dasar kau, Kakak Bajingan! Semoga jiwa mu istirahat tenang di Neraka!" umpat gadis itu yang menyerah.
"Hehehe... Biar ku pastikan kematian mu sebenarnya, Yukki! Ini lah kata-kata terakhir ku untukmu!"
Dengan mengisi penuh pada titik ujung tombak, pertahanan perisai pun menghilang dan memusat di kristal ungu dengan percikan Sambaran petir.
Sebelum menghakiminya dengan kekuatan kilat dahsyat, tiba-tiba...
Triple D bangkit berdiri langsung menyeruduk dia yang lengah sampai terjegal jatuh menghantam pohon cukup kuat.
"Aaarghh... Ugh, apa yang kau-..." kaget Warrance yang tiba-tiba diserang oleh nya.
Kepalan tangan darinya sanggup menutupi seluruh kepala wanita vampir itu yang susah untuk bernafas. Di lain sisi, Warrance juga berusaha melawan, tetapi tak berdampak apa-apa. Disitulah, Triple D melampiaskan kekesalannya untuk menghantamkan semua yang ia pegang ke Tunggul pohon.
"Hehahaha... Dasar ****** Bodoh! Kau pikir aku akan diam saja kau injak injak begitu saja? Tentu saja tidak... Kesempatan emas yang bagus untuk balas dendam bukan?!" ejek Triple D terhadap mayat Warrance sembari meludahinya.
"..."
"Dan sekarang... Serangga tak berguna seperti mu..." ucap Triple D yang berbalik.
Karena Medan Gravitasi sudah lenyap, gadis itu sanggup bergerak, namun apa daya nasib bahwa lonceng kesayangan nya berada di seberang monster raksasa yang bersiap menjadikannya hidangan penutup.
Ia hanya bisa mundur perlahan dan pasrah begitu saja tanpa perlawanan sama sekali.
"Hehehe... Matilah!" ucap Triple D langsung menyerang Yukki.
Sebelum menyergap, terbukalah sebuah pintu raksasa ukiran kuno gelap diantara mereka berdua. Melempar mereka berdua, sekali itu terbuka, memunculkan sesosok tinggi sekitar 4 meter. Terlihat jelas jari jemarinya yang panjang berpegangan pada sisi-sisi pintu tersebut.
Terlihat juga 6 buah cahaya ungu dibalik gelapnya kabut itu. Tak tahu siapa dia, yang pasti bukan main-main. Sosok itu keluar dan memperhatikan gadis yang tak berdaya itu.
Terkejut bukan main Triple D menyaksikan hal tersebut. Tak berpikir sampai situ, di sisi seberang... Mayat seharusnya tak seberapa, memperlihatkan dirinya... seakan bangun dari kenyataan, menggunakan kekuatan telekinesisnya untuk mencabut tombak dari dadanya.
Tak lupa memberikan seringai yang berdarah mengerikan. Memperlihatkan jati dirinya berupa makhluk penuh gelap sekujur tubuh, tetapi ada sebuah bentuk bulan sabit bercahaya yang menunjukan sebuah mulut bercahaya nya.
"Seperti yang kau lihat sekarang, Boss! Tak ada pengadilan untuknya!" ujar mayat Warrance yang sudah bangkit.
"Kau...?! Kau rupanya! Faceless Neoland! Bagaimana mungkin aku tak merasakan... B-b-bukan seperti yang Anda lihat-... " bela Triple D untuk dirinya.
"Itu sudah cukup! Waktu mu sudah habis! Kembali!" Ucapan sebuah mantra penarikan yang diucap sosok tertinggi itu.
Sosok besar berkepala rusa itu akhirnya tersedot sebuah lubang hitam, dan akhirnya semuanya tinggal kenangan.
Sedangkan Yukki menyaksikan semuanya, berusaha memanfaatkan momen itu untuk melarikan diri secara perlahan. Namun...
"Eh...!"
Yukki seperti menabrak sesuatu dari belakang.
"Mau kemana? Semuanya sedang memperhatikan mu lho! Lihatlah!" ucap sosok sebenarnya wanita vampir yang ia cari.
"..."
"Jangan terlalu cepat kabur gitu. Dimana sopan santun mu? Aku akan memberitahumu tentang kebenaran dari kakak tersayang mu itu!" bisik rayuan dari Warrance.
Dia pun tersentak sebentar, menoleh dan menatap wajah penuh rupawan itu... tidak lupa dengan senyuman yang memberitahu dia bahwa, "Percaya lah kepada kakak satu ini."
"Hey War! Apa yang kau lakukan?Cepat habisi dia dan jangan main-main dengan mangsa mu!" teriak Neoland dari kejauhan.
"Tidak apa-apa. Dia akan baik-baik saja dalam pantauan ku!" sahut Warrance sambil merangkul erat Yukki.
"Bagaimana nih, Boss?!" tanya Neoland.
"Biarkan saja. Lagipula kita akan memberikan dia pilihan."
"Pilihan? Wah ini akan semakin menarik nih! Ada anggota baru kah?" gumam Neoland semangat lalu berpindah dari situ.
Sosok itu menghampiri gadis itu.
"Siapa namamu?!" tanya The True Savior.
"Untuk apa aku harus menjawabnya!?" sahutan tak enak dari Yukki.
"Tak masalah bagiku. Yang terpenting, pilihan ini akan menentukan nasib mu!" seru Savior.
"..."
Suasana semakin mencekam, hawa dingin semakin menusuk, serta tatapan keenam matanya membuatnya ingin melarikan diri.
"Bergabung bersama kami di Tower of Mirage, atau menjadi salah satu yang dikendalikan oleh sebuah jamur parasit itu?" Savior sambil menunjuk kawanan mayat hidup.
"Hehehehe... Apa yang kau tunggu? Tak perlu berpikir pun sudah tahu jawabannya. Mengapa kau sampai berpikir ingin menjadi mayat hidup seperti itu?" bisik Warrance mempengaruhi gadis itu.
"Hentikan, War! Jangan pengaruhi dia!" tegas Savior.
__ADS_1
"Hehehe... Meskipun tak ku pengaruhi pun pilihannya sudah jelas di matanya." gumam Warrance yang melepaskan rangkulannya.
"..."
"Jangan membuat kami menunggu!"
"Tidak... Aku tak Sudi bergabung. Lagipula mengapa aku harus bergabung ke dalam kelompok asing bagiku!" tolak Yukki dengan mentah-mentah.
"Oh tentu saja kamu bisa makan tiga kali sehari. Kau ingin menolaknya begitu saja?!" tawar Warrance.
"Apa? Tiga kali sehari? Jangan bercanda kau!" tegas Yukki yang tak percaya.
"Sudah ku bilang kan, kau tak mengerti senyuman ku ini? Tak lupa juga dengan tempat untuk tidur yang layak, ranjang yang empuk dan bantal sutra yang membuat tidurmu nyenyak." jelas Warrance.
"Bagaimana mungkin?!" terkejut Yukki bukan main.
Sedangkan Warrance membisikan sesuatu kepada sosok tinggi itu.
"Baik... Aku mengerti! Aku percayakan padamu!" ucap sosok itu yang kemudian pergi menggunakan pintu misterius nya.
Yukki pun tersadar bahwa ini semua hanyalah tipu muslihatnya saja. Terlihat wanita itu menatapnya dengan mengancam.
Ia pun memberanikan dirinya...
"Apakah kau berminat? Sudah berpikir matang-matang?" tanya Warrance yang memastikan.
"Lantas apa yang ku dapat selain hal tadi?" jawab Yukki.
"Oh... Tergantung. Salah satunya adalah aku akan menjawab tiga pertanyaan apapun darimu." tawar wanita vampir licik itu.
"Begitu kah?"
"Memang begitu... Ups... Haha, aku lupa. Sebenarnya kau sudah terjalin kontrak dengannya. Sekarang silahkan lontarkan pertanyaan mu!" papar Warrance yang menepuk jidatnya.
"Apa?! Bagaimana bisa begitu?"
"Hehehe... Entahlah! Mungkin kau bisa menggunakan salah satu pertanyaan mu."
"Cih... Dasar! Baiklah. Bagaimana bisa menjalin kontak dengannya, dan kepada siapa aku menjalin kontak?" Pertanyaan pertama terlontar.
"Pertanyaan mudah sekali! Ini akan menjelaskan bagaimana kau bisa bangkit kembali dari kematian. Kutukan hutan ini akan membangkitkan sebuah mayat layaknya seperti makhluk hidup, tetapi kau sangat beruntung masih memiliki akal sehat setelah kebangkitan." jawab Warrance.
"Kau tak menjawab seluruh pertanyaan ku!" bentak Yukki.
"Hehe... Aku belum selesai. Dia menyimpan semua jiwa-jiwa di sini dan mengurung mereka di dalam kekosongan. Dia adalah Marianette! Juru selamat sebenarnya!" papar Warrance yang mengekspresikan ketakjuban nya.
"..."
"Kamu sudah puas?"
"Dimana kakakku sebenarnya? Dimana ini sekarang?! Bagaimana kalian bisa menirunya?!" Pertanyaan kedua terlontar.
"Hahaha... Yang mana akan ku jawab itu tak masalah kan? Itu karena kau melebihi kapasitas nya!" ancam Warrance yang beradu tatapan yang begitu dekat.
"..."
"Yah... Sebenarnya tak ada yang tahu kemana dia. Yang pasti dia sudah meninggalkan adik tersayang nya di hutan mematikan ini! Lanjut pertanyaan terakhir!"
"Cih... Sialan! Awas saja kau!" geram Yukki yang membalikkan badan.
Secara tiba... Yukki menyeringai dan menatap balik Warrance, "Hehe... Apakah ada layanan pembalasan?"
Warrance pun ikut menyeringai yang seperti merencanakan semua hal ini, "Tentu saja. Apalagi menjadi tontonan yang menghibur sekali!"
"Hihihi... Baik... Aku ladeni semua yang kalian lakukan."
"Hehehe... Selamat bergabung di Mirage Tower!" salam pembuka dari Warrance.
________-----------___________------------___________
"Huh...huh...huh...huh...!"
Nafas tersengal-sengal terdengar di telinganya. Bahkan dikalahkan oleh suara deratan hentakan kaki yang begitu bising.
"Cepat Breehl! Kita hampir sampai!"
Ucap seorang dari depannya. Tetapi dia malah harus terpleset sebuah batu tajam membuat lukanya terbuka cukup lebar. Terlihat jelas sudah terinfeksi dan dapat dicium berbagai makhluk ganas yang menguntit mereka.
"Hah... Hah... Breehl! Kau tidak apa-apa?! Cepat ayo berdiri!"
Pemuda itu hendak membantu, namun ditepis oleh wanita itu.
"Hiraukan saja aku! Cepat lari dan jangan berbalik lagi!" tekan Breehl yang terduduk lemas.
"Kenapa?"
"Kenapa? Tentu saja karena aku beban buatmu, bodoh! Kau tidak akan bisa lolos darinya!" tekan sekali lagi Breehl.
"Tidak! Kau salah! Kita bisa melakukannya. Cepat naik ke punggung ku!"
"Ku katakan sekali, Natan! Jangan paksakan diri mu! Lebih baik pikirkan dirimu daripada orang lain! Cepat pergi dari sini. Biar aku yang menahannya sementara!" jelas Breehl.
"Tidak...! Jangan! Aku tak ingin kehilangan lagi!"
"Ugh... Kau ini!" geram Breehl yang tak habis pikir.
Di sela perbincangan mereka, dikejutkan lah mereka dua ekor anjing raksasa berkepala tiga yang siap menerkam apapun dihadapan nya.
"Cih kau ini! Untuk terakhir... Cepat lari sekarang! Ini kesempatan terakhir mu! Kalau kau tak mau dimakan hidup-hidup." peringatkan wanita itu.
"..." Natan gemetar melihat sosok besar yang dihadapan nya. Selama hidupnya ia tak pernah gentar pada musuhnya, kecuali dengan ukuran cukup besar, mengingatkan dia dengan masa lalunya.
"Cepat lari sekarang!" teriak Breehl sembari melempari batu ke arah dua anjing tersebut.
Akhirnya, Natan pun nurut akan ucapan wanita sekarat itu.
"Hah... Kau selamat kali ini Natan, untuk kedua kalinya." gumaman terakhir Breehl.
"Woof... Woof... Woof...!"
"Ada apa? Apa yang kalian tunggu? Hidangan pembuka sudah ada di depan kalian!" seru Breehl yang mengalihkan.
"Grrrr.....!!!!"
Mulut berbusa setiap kepala, rantai panjang mengikat mereka berdua, akankah ujung rantai itu ada seseorang?
Langsung saja, kedua anjing itu menyerang bersamaan untuk hidangan pembuka.
Detik-detik sebelum ajalnya, Breehl mengingat kembali memori samar-samar selama ia alami. Pada titik tertentu, ia pun sadar akan sesuatu.
Dengan sedikit kibasan... Keduanya langsung dipenuhi api hitam yang terus menggerogoti kulit busuk mereka. Tak lupa dengan sentuhan terakhir.
"Implosion!"
Breehl mengarahkan salah satu lengan dengan sedikit tenaga, barulah sebuah tekanan misterius menekan kedua anjing terbakar itu, lenyap dengan tubuh remuk dan tidak lupa api sebelumnya yang terkena tekanan langsung berubah menjadi tornado api yang cukup dahsyat.
"Hah... Hah... Hah...! Hahaha... Hahaha.... Hahahahaha... Ternyata, selama ini... Breehl bukanlah sebuah nama!"
-
-
-
-
-
^^^-^^^
..."TAMAT"...
__ADS_1