
"Apakah kamu pernah mendengar cerita dongeng tentang Putri Tidur? Dimana dia adalah putri cantik yang selalu tidur di sebuah kastil misterius. King Orc tidak membiarkan siapapun untuk mendekatinya, terlebih Putri itu sudah lama tertidur berkat apel beracun yang diberikan oleh seorang Dukun." Ungkap Sang Narator sedang berbicara dengan orang lain.
"Lalu, tugas kami adalah menolong Putri itu dari King Orc, dan memulangkan nya ke kerajaan asalnya?" Ucapan batin laki-laki berambut biru.
"Tidak seperti itu, Alex! Kenaifan mu tak akan menyelamatkan mu! Cobalah mengambil sudut pandang lain. Akankah engkau bersedia membunuh pahlawan yang datang menolong Sang Putri?" Tawar Sang Narator.
"Hah...??? Bukankah lebih baik pahlawan yang menyelamatkannya? Kenapa harus aku?"
"Jika itu terjadi, semuanya akan kacau balau!" Papar Sang Narator.
"..."
"Maksudku--- Bunuh saja pahlawan itu... tugas mu akan selesai, itu saja tak ada yang lain. Jika kau berhasil, imbalan atas kerja keras mu akan menanti." Sang Narator mempersingkat penjelasannya.
"Memangnya ada yang salah dari pahlawan itu?" Alex bertanya-tanya.
"Begini, akan ku jelaskan untuk terakhir kalinya! Akan ku permudah saja, Tak perlu lagi membunuhnya. Asalkan kau bisa menjauhkan Sang Putri dari pahlawan, tugas mu sudah beres. Dan... pahlawan yang ku maksud adalah Mighty W... Jangan bilang kau tidak mengenalnya!"
"Huh... padahal Mighty W adalah pahlawan yang dermawan dan tak mungkinlah dia menyakiti seorang putri yang tak bersalah!" Tentang Alex yang tak percaya.
"..."
______---------________----------______
"Sampai berapa lama aku harus menutup mata?"
"Sampai kapan aku menunggu seseorang yang tak ada kepastian?"
"Dan... kapan aku bisa melihat langit yang cerah dan bertemu lagi dengan Ayah?"
Seorang Putri terbaring di tempat tidur yang nyaman, dengan selimut menutupi agar tetap hangat. Di sisi lain, King Orc senantiasa menjaga di depan pintu, dan berharap Sang Putri agar cepat bangun.
"Tunggu lah sampai dia membuka mata!" Pesan dari Dukun pemberi apel beracun.
Sementara, kondisi Putri cukup tertekan dan menyiksa batinnya. Pikiran negatif memenuhi pikirannya, tak luput dengan kondisi badannya yang tak nyaman lagi untuk berbaring.
"Apakah kau mau untuk membuka mata dan berbicara dengannya?" Suara Narator terlintas di kepala Putri.
"Eh... siapa gerangan?"
"Aku tanya sekali lagi, akankah engkau berani membuka mata dan bangun dari tempat tidur?" Sang Narator terlihat menantangnya.
"Mana mungkin aku melakukannya, itu sama saja bunuh diri. Tidakkah kau melihat tampang King Orc yang penuh akan birahi?"
"Memangnya kau mengetahui keberadaan King Orc? Apakah kau melihatnya langsung? Jangan berbohong padaku, aku tahu kau baru bangun beberapa hari sebelumnya!"
"Apa yang kau bilang! Kau tidak percaya!?!" Seru Sang Putri yang emosi.
"Tentu saja, buktikan jika kau berani bangun dan buka mata mu sekarang!" Tantang Sang Narator.
"Guh...."
"Apa yang terjadi? Ada masalah? Takut? Kau tak dapat membuktikan nya?"
Di titik itu, Putri sudah terpojok.
"Percaya atau tidak, penyelamatmu akan datang sebentar lagi. Kau tidak mau membuka mata mu untuk menyambutnya?"
__ADS_1
"Siapa dia? Apakah dia pahlawan?"
"Dia? Maksud mu mereka?"
"Maksudmu?"
"..."
"Nantikan saja!"
________------------________------------______
Beberapa jam sebelumnya...
"Oi, semuanya! Ada misi baru!" Beritahu Alex.
"Misi apa? Apakah hadiah nya berlimpah?" Tanya Zetta yang mata duitan.
"Kali ini apa yang kau ambil, Alex?" Tanya Julian.
"Kita hanya perlu menyelamatkan seorang Putri!" Ungkap Alex.
"Itu saja? Tak ada tambahan lagi?"
"Apakah ini kasus penculikan?"
"Mengapa kau mengambil misi ini, Alex?"
Keempat temannya memberondong pertanyaan beruntun.
"Oke, apapun yang kau ucapkan, kapten!"
"Begitulah kapten kita, selalu tak dapat menjelaskan rencananya sendiri, hehehe."
"Hehehe... kalian bisa saja tahu sih." Ucap Alex dengan senyum kaku.
Setelah itu, mereka dijelaskan oleh Alex tentang rencana penyelamatan Sang Putri. Segala persiapan diberlakukan untuk mematangkan rencana yang susah payah dibuat.
"Kalau pun perkataan dia benar, apa yang akan terjadi? Dia mengatakan bahwa Putri dalam bahaya, sepertinya pahlawan itu mengincarnya. Tapi, jika aku membunuhnya, apakah aku bisa menyelamatkan Sang Putri?" Batin Alex kacau balau.
"Apa yang akan pikirkan, Lex? Wajahmu sampai serius sekali!" Tanya Julian.
"Hehe... tidak ada masalah. Wajahku ini selalu terlihat serius bukan? Bukan?"
"..."
"Apa kita harus membunuhnya? Dia pahlawan lho! Kita bisa dipenjara jika membunuhnya!" Sanggah Lucien.
"Aku tahu... tapi kita terpaksa harus melakukannya! Demi keselamatan Sang Putri!"
"Daripada memikirkan itu, memangnya kita sanggup membunuh seorang pahlawan?" Tanya Zetta.
"Ucapanmu ada benarnya, Zet. Apakah kau tahu lokasinya, Lex?" Tanya Julian kepada Alex.
"Ada yang mengatakan bahwa, Sang Putri terkurung di sebuah menara, letaknya di Hutan Sigor." Jelas Alex sambil membuka peta.
"Loh? Apa tadi? menara di Hutan Sigor? Yang benar saja kamu, Alex! Kau ingin menantang King Orc yang bersemayam di sana?" Lucien terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Kita kalahkan saja dan selamatkan Sang Putri!" Ucap Alex dengan percaya diri.
"Duh... kau ini! Kita ini masih petualang kelas C loh! Kau pikir semudah membalikkan telapak tangan?" Bantah sekali lagi dari Eryka.
"..."
"Tunggu sebentar! Sebelumnya, kau mendapatkan isu ini dari siapa? Di papan tugas, tak ada misi penyelamatan Putri. Kau terlihat menyembunyikan sesuatu, Alex!" Eryka mencurigai bocah berambut biru itu.
"Sebenarnya... aku mendapatkan nya... dari pikiranku! Ya... benar... tiba-tiba saja isu ini terlintas dalam pikiran ku!" Ujar Alex berusaha menutupi.
Sementara, semua temannya tak dapat berkomentar dan terheran-heran. Kesunyian memenuhi seisi ruangan, perbicangan secara tiba berhenti disitu saja.
"Aku mau pulang aja, ah! Buang-buang waktu!" Kesal Lucien meninggalkan ruangan.
"Aku juga!"
"Ada hal yang lebih baik ku lakukan daripada ini!"
Semuanya sudah muak, meninggalkan Alex sendirian, kecuali Eryka.
"Kenapa kau tidak pulang, Eryka?" Tanya Alex.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkan mu sendirian! Aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu. Kau payah dalam hal itu! Jika kondisi seperti ini, apakah kau mau mengatakan sebenarnya?" Sahut Eryka yang duduk lebih dekat dengan Alex.
"..."
"Alex? Begini... jika kau memberitahukan mu semua hal yang kau sembunyikan, aku tak akan bilang siapapun dan akan ku bantu menyelamatkan Sang Putri. Bagaimana? Setuju?" Tawar Eryka menatap fokus ke mata Alex.
"Hmmm... baiklah! Sebenarnya aku ini masih sering mengompol sampai detik ini!"
"Bukan semacam itu, Alex! Katakan saja! Dari mana kau tahu isu tersebut?" Ucap Eryka mulai memojokkan.
"Sebenarnya... Sebenarnya aku... sebenarnya... aku mendapatkannya dari suara misterius di dalam pikiran ku." Terang Alex dengan nada terbata-bata.
"Jadi begitu... apa kau tahu suara siapa itu?"
"Aku pun tidak tahu. Secara tiba, muncul sendiri dan menyuruh membunuh pahlawan yang akan menyelamatkan Sang Putri." Jelas Alex.
"Bagaimana pun, ini masih tetap ambigu. Lalu, kau tahu dimana Putri itu sekarang?" Tanya Eryka.
"Dia diculik oleh King Orc. Untuk sekarang, tak ada petunjuk dari suara di pikiranku. Tetapi, aku disuruh untuk membunuh W Slayer."
"..." Tangan Eryka mendegapkan ke dagunya.
Tak lama kemudian, Eryka telah mengambil keputusan, "Baiklah, kita ikuti perintah dari suara misterius itu. Jika dia memang benar, maka ada yang salah dengan pahlawan itu. Kita berjaga untuk menyingkirkan pahlawan tersebut."
"..." Dalam hatinya Alex, dipenuhi banyak keraguan menumpuk mengisi pikirannya.
-
-
-
-
Bersambung...
__ADS_1