Endless Winter

Endless Winter
Chapter 2 : Black Snow


__ADS_3

Setelah kejadian penyerangan, Warrance menemui Maria yang sudah lama menghilang di ruang pribadinya. Mereka pun duduk dan membincangkan sesuatu...


"Maria, anda pasti mengetahui yang terjadi kemarin kan?"


"Tentu, aku sudah mengancamnya, tetapi itu sia sia. Dia sangat keras kepala!"


"Heh... Siapa yang kau maksud? Bukan itu, ada seorang Dullahan yang sedang menunggumu, katanya mau mendaftar anggota baru."


"Ah... ya benar sekali. Aku akan menemuinya segera!"


"Jadi, sebelumnya Anda membicarakan orang berbeda, apakah kau tahu siapa sebenarnya dia? Aku tahu kau mengatasinya kan!"


"Eh... anu... itu... Baiklah, kau menang! Aku melihat semuanya dan mengancam dia."


"Siapakah sebenarnya dia? Apakah dia benar-benar abadi? Tidak bisa mati?"


"Dia adalah Grace Libele. Bukan manusia pada umumnya, melainkan vampir dari dunia lain yang menyembunyikan jati dirinya, dan berpura-pura memakai julukan tersebut."


"Heh... Vampir ya? Aku sudah lama tidak bertemu dengan sesama ras ku!"


"Dan yang membuatnya istimewa adalah ada 'hati nurani' yang bernama Libele yang senantiasa menuntun dan memberikan kekuatan kepada Grace."


"Semacam 'penaksir' begitu?"


"Tepat sekali! Itulah yang membuatnya terlihat kuat. Aku rasa aku bisa bermain-main dengan penaksir nya saat ia bertarung. Hehehe..."


"Omong-omong, kelinci percobaan kita kalah dengan orang yang kau sebut itu. Untung masih selamat!"


"Ya, aku sudah tahu. Itu tidak apa-apa. Namun, apakah kau sudah mempersiapkan penyerangan selanjutnya?"


"Belum."


"Baiklah, saatnya aku yang mengambil kemudi!" Maria sambil merapatkan jari-jemarinya.


"Akan ku nanti rencana matang mu! Aku permisi dulu!" Warrance meninggalkan ruangan.


______----------_________------------________


Sementara itu keadaan Venzonia Kingdom. Meskipun cuaca salju mereka tetap berpesta sampai menjelang malam. Ketiganya menikmati kemenangan dari susah payah.


"Libele, apakah kau bisa melacak siapa yang telah menerobos ke dalam pikiran ku ini?"


[Maaf tuan, saya tidak tahu siapa gerangan yang anda maksud. Karena saya tidak bisa menghentikannya dan aku tidak berbicara saat dia mengancam tuan.]


"Cih, ini membuatku tidak tenang. Ditambah dengan wanita bertopeng yang tiba-tiba menerobos penghalang dengan mudahnya."


"Ada apa Grace? Apa kau baik-baik saja? Kau nampak tidak sehat." Ucap rekannya Elf.


"Oh aku tidak apa-apa kok, Amanda. Hanya memikirkan sesuatu yang tidak penting. Hehehe..." Grace dengan senyuman kaku.


"Kau seperti menyembunyikan sesuatu yang penting. Jangan sungkan untuk bercerita kepada kami, meskipun hanya rekan." Ujar Albert sambil menghisap sebatang rokok.


"Tentu saja, aku pasti senantiasa melakukannya. Namun, apakah kita harus mengadakan pesta lagi? Kemana kewaspadaan kita kalau seperti ini terus!" Kesal Grace.


"Kenapa bertanya kepada ku? Bukan aku yang mengadakan pesta nya!" Ucap Albert yang menghembuskan asap rokok.

__ADS_1


"Pertanyaan ini adalah untuk kita! Kita seharusnya antisipasi penyerangan selanjutnya! Kau lihat kan The Greed Necromancher masih bisa kabur." Tegas Grace dengan pergerakan tangannya.


"Santai saja, nona! Anda harus tahu namanya istirahat. Anda juga terlalu gugup dan panik." Albert dengan santainya melanjutkan menghisap rokok.


"Cih, terserah kau lah! Aku dan Amanda akan pergi dari sini! Ayo ikuti aku!"


Grace meninggalkan Albert sembari menarik tangannya Amanda.


Amanda yang risih langsung melepas cengkraman.


"Iiiih... Grace! Kenapa menarik tanganku segala sih! Memangnya ada apa?"


"Apakah kau tuli tadi? Tadi udah ku jelaskan dengan lantang lho!"


"Iya aku mendengarkannya tadi, memangnya kau mau membawaku kemana?"


"Tempat dimana kita tidak terlena akan pesta. Kewaspadaan mu harus kau asah, agar bisa bertahan di dunia kejam ini!" Grace mulai serius.


Mereka berdua menyadari sesuatu tentang salju yang menimpanya.


"Eh... ada apa dengan saljunya? Kok tiba-tiba berubah menjadi hitam pekat?" Tanya Amanda sembari melihat ke langit.


"Aku merasa ada yang aneh dengan-..."


*Boooooom....!!!!


Belum selesai bicara, ledakan dahsyat muncul dari pesta.


"Apa itu?" Mereka terheran.


Suara keceriaan berubah menjadi keheningan yang suram. disuguhkan dengan mayat-mayat berjatuhan. Tidak ada kehidupan di sana.


"Apa-apaan ini? Siapa melakukan hal sekeji ini?"


"..."


*Boooom..... Boooom.... Booomm.....!!!!


Berbagai ledakan susulan kembali terulang, namun berasal dari tempat lain.


Grace sangat kebingungan menghadapi keadaan seperti ini. Tidak ada yang bisa ditolong, dan tak tahu menahu akan penyebabnya.


Dia hanya bisa memegangi kepalanya dan berpaling reaksi nya dengan ledakan muncul.


"Apa yang harus kulakukan? Bantu aku, Dewa! Aku tidak mengerti apa yang terjadi!" Grace jatuh sungkur.


Amanda punya inisiatif, menadongi beberapa salju hitam jatuh, dan mengidentifikasi.


"Haaaa....!!!!" Amanda terkejut akan salju ini.


"Grace! Ini adalah peledak yang menjadi penyebabnya. Percikan api sekecil kerikil dapat menyebabkan ledakan besar!"


"Lantas, bagaimana keadaan Albert? Jangan-jangan dia juga..."


"Aku disini!" Albert tiba-tiba sudah di belakang mereka.

__ADS_1


"Aaah... owh syukurlah kau baik-baik saja! Bagaimana kau bisa selamat?" Tanya Grace.


"Setelah kalian pergi... aku merasa tidak enak, aku langsung pergi ke kamar mandi!" Jelas Albert.


"Begitu, untuk sekarang... kau dilarang untuk merokok! Apalagi menyalakan korek api!" Tegas Grace.


"Padahal di saat genting ini, aku ingin menghisap satu."


"Jangan! Aku peringatkan jangan! Jika kau lakukan itu, maka kita akan meledak!" Tegas sekali lagi Grace.


"Ya... ya... aku tahu! Apa kita akan berdiam di sini saja? Tak ada asap tak ada api, maka fenomena ini juga sama." Pikir Albert.


"Hmmm... Albert memang benar! Kita harus mencari tahu terlebih dahulu!" Ucap Amanda.


"Kalau memang itu benar, maka kemungkinan ada seorang pelaku dibalik ini. Libele, apakah kau bisa memeriksa semua jangkauan area kerajaan ini?" Batin dari Grace.


[Baik tuan... dari analisis saya, tak ada hal mencurigakan di area kerajaan.]


"Begitu ya, bagaimana dengan di luar kerajaan?"


[Serahkan pada saya... Ada sebuah kerumunan pasukan misterius, Jumlah 20 orang beserta 1 komandan nya. Kemungkinan besar komandan itu lah penyebabnya.]


"Jadi begitu, dari arah mana pasukan itu berada?"


[Dari Barat Daya.]


"Baiklah semuanya kita akan memeriksa sebelah barat daya terlebih dahulu." Ucap Grace.


"Kenapa harus barat daya? Mengapa tidak di mulai di Utara, atau gak Barat gitu?"


"Ahahaha... itu karena, bagian itu rentan untuk diserang Monster dan iblis. Itulah yang ku maksud!"


Kemudian, para pahlawan dari dunia lain baru datang dan menginginkan bertarung bersama-sama.


Sementara itu...


"Kuberikan kalian kecepatan dan kekuatan tambahan! Sekarang lah saatnya perlihatkan mereka akan ledakan amarah." Ujar Gravestone kepada para Gravestone's Followers.


Gravestone's Followers, pengikut setia Gravestone yang merupakan prajurit brutal yang menyerang apapun di hadapannya. Tidak ada kata gentar di benak mereka, sehingga sampai gugur pun mereka tetap akan memberikan ledakan pengaruh yang amat dahsyat.


Kemudian, pihak manusia juga bersiap melindungi lagi terhadap penyerangan kedua ini. 20.000 prajurit dikerahkan agar meminimalisir korban berjatuhan. Tidak lupa juga 29 pahlawan yang siap bertarung kapanpun.


Di pihak sebelah, 20 Gravestone's Followers berjejer horizontal dan menyiapkan kedua tombak penuh sihir dari masing-masing individu. Gravestone sebagai komandan pasukan, memulai perintah menyerang. Dan pada momen itu penyerangan kedua terjadi...


-


-


-


-


-


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2