
Bercerita pada tahun 1051, tepatnya 10 tahun sebelum berbagai tragedi terjadi. Salju yang lebat sampai menutupi seluruh tubuhnya--- tubuh seorang gadis polos berbaring tak sadarkan diri. Karena warna rambutnya yang seputih salju, hampir mustahil untuk menemukannya, apalagi dengan gaun putih reyot dan penuh lubang.
Sang Gadis menunjukkan pergerakan, perlahan namun pasti. Dia membuka matanya, seolah dia baru terlahir. Pupil merah menawan memberikan kesan tambahan. Tubuhnya yang terlihat kurus dan ramping menunjukkan bahwa ia adalah gadis terawat, orang tua yang peduli sekali.
"..."
Gadis itu hanya berdiri di sana, di tengah-tengah hutan rimbun dengan badai salju menerjang ke sana kemari. Dia masih berdiri, tak melakukan apapun, bahkan tak memikirkan apapun, pandangannya kosong. Apa yang akan dilakukannya?" Narator masih menjelaskan panjang lebar mengenai gadis misterius itu.
"..."
"Hei...!!!! Apa yang kau tunggu? Cepat telusuri hutan itu! Kau pikir menjelaskan semacam itu, sangat mudah?" Tegas Narator yang sudah muak.
"Hah...?? Suara siapa itu? Apakah kau hantu?" Gadis itu malah kaget dan ketakutan.
"Ini bukan waktunya bercanda! Lakukan saja yang seharusnya kau lakukan!" Pekik Sang Narator terdengar nada meninggi.
"Kau itu siapa? Dan... kenapa kau ada di pikiran ku? Apakah kau dapat dipercaya?" Bingung Gadis itu.
"Percaya, tidak percaya... Kau, gadis lugu seperti mu tak boleh di tengah hutan seperti ini. Maka dari itu, lakukan saja perintah pertama mu!" Penegasan ulang dari Narator.
"Uh... baiklah, jika kau memaksa." Dengan ragu-ragu, gadis itu berjalan melewati tumpukan salju tebal tanpa alas kaki.
Dan akhirnya, gadis itu pun menggunakan kedua kakinya untuk mencari jalan keluar dari hutan mengerikan ini, hutan yang dipenuhi banyak hewan liar nan buas beragam bentuk. Tak ada seorang pun untuk dimintai tolong, tak akan ada yang datang untuk melindunginya.
Sepanjang hamparan yang ia lalui, banyak sekali mayat dan sisa tulang belulang yang dijumpai gadis itu. Bahkan masih ada mayat yang masih segar membeku di pinggir pohon beringin. Setiap langkah yang ia lalui, rasa takut memenuhi seluruh tubuh secara perlahan. Kalau memang benar, gadis itu sudah pasrah saat menjumpai mayat untuk pertama kalinya.
"Sebenarnya, kakak dimana sih? Bukankah aku tadi masih bersama kakak ku? Tetapi, kenapa aku ditinggal sendirian di sini? Aku sangat takut! Aku ingin pulang!" Gumam gadis itu seraya merapatkan kedua tangannya dari hawa dingin yang menusuk.
Si gadis tanpa nama itu... menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Seakan tergoda oleh suatu bisikan, gadis itu menemukan dua benda di salah satu mayat. Sebuah senapan laras panjang usang, ataukah sebuah boneka benang dengan benang kusut berantakan. Mana yang akan dipilih olehnya?
Tak hanya itu, terdapat secarik kertas terlihat seperti sebuah catatan yang menempel di mayat tersebut. Lalu, gadis itu membacanya.
"Jika kau menemukan catatan ini, maka kemungkinan buatmu untuk selamat cukup besar. Pilihlah dari kedua benda ini, pilihlah dengan baik dan pikir sejenak. Aku yakin dari keduanya, mampu melindungi mu dari serangan para monster ganas."
"Monster...??? Jangan-jangan... Tunggu, masih ada catatan lagi." Ucap gadis itu yang menemukan catatan lain.
"Berhati-hatilah, terutama pada mayat-mayat tergeletak. Sebaiknya jangan mendekati, jaga pandanganmu kepadanya, jika ada yang menghilang, cepatlah lari dan cari tempat sembunyi. Tambahan, jika kau selalu tersesat maka ada sosok monster yang mengintai mu, jangan buat kontak mata dengannya, dan jangan dibutakan oleh ilusi yang mereka buat."
Setelah membaca ulang untuk kesian kalinya, gadis itu baru mengerti, tak lama dengan paranoid berlebihan menimpanya.
"Wahai gadis kecil, kalau kau ingin selamat, ambil saja bonekanya, dan buang yang lain!" Muncul suara misterius.
"Siapa lagi kau ini?" Tanya sang gadis tanpa nama itu.
"Jangan ragu! saat kau mengambilnya, keselamatan mu akan ku jamin, bahkan aku bisa mengeluarkan mu dari penjara hutan ini!" Suara misterius itu bersumber dari boneka.
__ADS_1
"Apakah kau boneka yang dapat berbicara?" Tanya gadis itu dengan lugunya.
"Ugh... gadis bodoh! Jangan terhasut dengannya! Pikirkan lagi, apakah sebuah boneka dapat melindungi mu dari mara bahaya?" Sela Sang Narator.
"Kenapa kau menanyakan itu? Meskipun begitu, boneka ini cukup lucu. Dengan gaun ungu yang bercampur dengan merah membuatnya cantik!" Ungkap gadis itu tak luput memandangi boneka.
"Haha... benar sekali, nona kecil! Boneka itu sangat lucu bukan? Kenapa kau tidak ambil dan memeluknya? Nampaknya ia memerlukan pelukan hangat dari hawa dingin ini!" Ungkap suara berat wanita.
"Kenapa... kenapa nada bicara kalian nampak sama? Apakah kalian orang yang sama?" Tanya sang gadis memegangi kepalanya yang pusing.
"Apa-apaan kau ini! Jangan buang waktu untuk berpikir! Cepat pilihlah!" Narator yang tidak ramah itu meneriaki pikiran sang gadis itu.
"Baik... baiklah, aku mengerti!" Ucap gadis itu sembari tangannya menuju ke arah boneka.
"Ugh... tak ada pilihan lain!" Pasrah Sang Narator.
"Apakah kau tersesat gadis kecil?" Tiba-tiba, sebuah tangan muncul, menepuk pundak sang gadis, membuatnya terkejut.
"Maaf, mengejutkan mu. Bagaimana gadis seperti mu bisa sendirian di hutan mengerikan ini?" Tanya seorang pendaki bersama 3 teman lainnya, yang juga tersesat.
"Aku... juga tidak tahu..." Jawab gadis itu.
"..."
"Tunggu dulu, dimana boneka benang itu? Bagaimana bisa..." Batin Sang Gadis.
"Oh ya, gadis cilik. Kalau boleh tahu, namamu siapa?" Tanya salah satu wanita pendaki.
"Namaku...? Yukki! Kakakku memanggil dengan Yukki!" Sahut Gadis berambut putih itu.
"Nama yang indah untuk gadis seimut dirimu."
"Ehehehe..."
Secara mendadak, gadis itu tersentak setelah menoleh ke arah lain. Wajahnya bercucuran keringat banyak, kedua matanya yang melebar tak mempercayai yang dilihatnya.
"Ada masalah, gadis kecil?" Tanya si pendaki tua.
"Di-dimana perginya... mayat tadi?" Yukki bertanya-tanya.
"Mayat mana yang kau maksud? Dari tadi tak ada mayat lain selain di dekat mu itu."
"..."
"..."
__ADS_1
Suasana mendadak senyap...
"Lari!" Bisik Yukki.
"Hah?"
"Apa?"
"Cepat lari!"
"Memangnya ada apa, gadis kecil?"
Mereka masih tidak mengerti maksud gadis itu.
"Cepat lari! Sebelum mereka sadar!"
"Jangan membuat kami bingung, Yukki! Kenapa tidak kau katakan sebenarnya?"
Di titik itu, Yukki hanya terdiam dan tidak menghiraukan pertanyaan para pendaki. Melihat mimik wajahnya, para pendaki ikut khawatir.
"Kenapa mereka tidak segera berlari? Apa yang mereka pikirkan? Jangan-jangan... mereka tidak tahu. Celaka, mereka mungkin menyerang kita kapan saja." Batin Yukki dipenuhi tekanan.
"Anu... mereka itu sebenarnya..."
Sebelum selesai berbicara...
"Aaaaah... Aaaaah.... Tolooooong!!!!! Tolong Aku!!!"
Terdengar teriakan histeris dari belakang. Nasib malang menimpa salah satu pendaki tersebut. Mayat-mayat seolah hidup kembali, membawa salah satu dari mereka ke atas pohon.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa itu yang kau maksud, gadis kecil?" Tanya Si Pendaki Tua.
"Iya... benar! Seharusnya aku terus terang dari awal! Ini semua salah ku! Maaf! Maaf!"
"Ini bukan salah mu, nak! Aku mengerti perasaan mu! Kita buat formasi bertahan, awasi semua sekitar, dan jaga pandanganmu!" Perintah si Pendaki Perempuan.
Seketika, mereka bertiga berkumpul, saling menutupi titik buta masing-masing.
"Eh, eh, eh... Bagaimana kalian bisa punya senjata bagus seperti itu? Katanya kalian itu pendaki?" Bingung Yukki.
"Tak ada pendaki yang masuk hutan mematikan tanpa persiapan apapun." Balas Si Pendaki Perempuan itu.
-
-
__ADS_1
Bersambung...