Endless Winter

Endless Winter
Chapter 5 : Other Side


__ADS_3

"Tidaaaaak.... Huh...huh...huh!" Terik Gadis sama yang terbangun.


"Ugh... Ini... Sangat membingungkan!" Gumam gadis tersebut.


Gadis itu sedang memperhatikan sekitar, tak ada seorang pun. Dia bertanya-tanya, apakah yang ia lihat ini kenyataan? Jika benar, tak akan salah kalau ia masih memegangi syal rajut milik kakaknya penuh darah.


"....Hei, gadis kecil!" Secara tiba muncul suara entah darimana.


"Huh... siapa lagi kau?! Narator?" Terka Si Gadis sembari menodongkan senapan laras panjang miliknya.


"Kehehe... ikuti suara ku dan kau akan tahu!"


"..."


"Kenapa? Kau takut? Kau sendirian? Tak ada yang melindungi mu?"


"Bagaimana ini? Apa aku harus mempercayai nya? Terakhir kali aku malah berakhir naas!" Dalam pikiran nya, penuh dengan tekanan.


"Percaya atau tidak percaya, kau tak akan bisa mengalahkan rasa penasaran mu! Aku tahu yang kau pikirkan!" Suara itu seakan menggema di pikiran Yukki.


"Bagaimana bisa..."


"..."


Gadis itu terheran-heran akan kesunyian mendadak. Tanpa sepengetahuannya, dia tak sadar sedang diintip seseorang dari balik pohon. Kemudian, gadis itu menoleh ke arah berlawanan--- tempat dimana ia melihat sosok bayangan dengan cepat pergi begitu saja.


"Apa itu tadi?" Pikir Yukki sambil perlahan mengikuti jejak perginya sosok bayangan itu. Meskipun hanya sekejap mata, sosok itu masih meninggalkan jejak kaki yang cukup jelas. Rasa penasaran yang tak terbendung memutuskan Yukki untuk mengikutinya.


Tak lama kemudian, jejak itu berakhir di area luas seperti lapangan di kelilingi rimbunan pohon. Gadis itu sanggup melihat ke atas dengan jelas tanpa tertutupi pohon beringin yang tingginya tidak masuk akal.


"Yuuukkkkiiii...." Bisikan itu menggema.


"Siapa itu? Apakah itu kau?" Sahut Yukki.


"Yukki...!" Sekali lagi suara itu muncul.


"..."


Kaki Yukki tak tahan untuk bergemetar, nafasnya tak teratur, degub jantungnya berdebar-debar.


"Di belakang mu!"


"Eh...?"


Keheranan, gadis itu mencoba menengok ke belakang. Alangkah terkejutnya ia disambut pemandangan yang merinding. Bagaimana tidak, sesosok yang mirip persis seperti dirinya menatap langsung dari jarak yang dekat dan tak lupa dengan senyuman menyeramkan yang tak pernah ia lihat.


"Huh... Siapa kau!?! B-bagaimana bisa kau sangat mirip dengan ku?!" Pekik Yukki yang sampai terjatuh.


"Kehehehe....!" Sosok itu tertawa seram dengan tatapan dan senyuman yang dapat memberikan mimpi buruk.


"..."


"Kenapa sangat takut? Aku adalah kau, kau adalah aku! Tak ada yang perlu ditakutkan! Kemarilah, niscaya akan ku singkirkan semua yang menghalangi mu!" Tawar sosok itu dengan nada serak berat mengintimidasi gadis polos itu.


"Tidak, kau bukan! Mundur! Jangan mendekat! Aku punya senjata, dan aku tak segan untuk menggunakannya!" Seru Yukki yang bergemetar menodongkan senjata nya.


"Huh... itu akan sia-sia. Sebaiknya jangan terlalu gegabah, untuk memiliki senjata kuat itu perlu tanggung jawab yang besar. Dan kau harus tahu itu!" Papar Sosok itu mulai mendekati Yukki.


"Diam kau! Aku bilang jangan mendekat, dasar kau monster!!!"


*Doooooor.....!!!!!


Yukki menarik pelatuknya.

__ADS_1


"Lihat! Tak ada bedanya bukan! Sudah ku bilang."


"..." Yukki yang tercengang langsung lari tunggang langgang meninggalkan sosok itu sendirian.


"Dasar... seharusnya ini tidak akan lama. Apa boleh buat...!"


Kemudian sosok itu menghilang begitu saja.


Di lain sisi, Yukki yang sudah kelelahan berlari kesana kemari, akhirnya tersandung batu dan jatuh. Mendapati luka kaki yang cukup parah, Yukki memutuskan untuk berhenti sejenak.


Dia pun merobek gaun putih tampak kusam itu untuk mengobati luka di kakinya. Setelah itu, ia nampak merenung dan bersandar sambil menahan rasa sakit berkelanjutan.


"Kepalaku sangat sakit... aku bahkan tak dapat membedakan mana yang kenyataan dan halusinasi... Apa sanggup melanjutkan semua ini? Jika saja ada kakak, pasti dia akan selalu menyemangati ku." Bisik Yukki yang merasa badannya lemas dan lesu.


"Yukki.... Tolong aku, Yukki!" Teriak seorang lelaki dewasa.


"Kakak....?"


"Tolong....!!!!!"


"Itu seperti suaranya! Jangan-jangan..."


Berpikir kakaknya selama ini masih hidup, gadis itu bangkit dengan tenaga misterius dan bergegas mengikuti sumber suara itu, walaupun harus terseok-seok untuk bergerak.


Gadis itu berakhir di depan gua misterius.


"Ugh... gua ini seperti... pernah ku temukan sebelumnya... ini kan tempat persembunyian ku bersama kakak..." Gumam gadis itu.


Seketika gadis itu merasakan kesakitan cukup hebat dari kakinya. Saat dibuka kembali, ia mendapati lukanya sudah terinfeksi, ditambah rasa dingin menusuk yang menambah penderitaannya.


Suara tersebut hilang kabar, kebingungan menimpanya--- Menengok ke berbagai arah, tak ada satu pun. Memangnya apa yang dicari olehnya selain warna putih?


"Yukki...." Gua itu layaknya berbicara.


"Benar, ini aku. Tolong kakak mu ini!"


Hampir melangkahkan kakinya, Yukki teringat dan berpikir sejenak.


"Apa yang kau tunggu, Dik? Cepat tolong aku!"


"Kau pikir aku akan terkena jebakan mu dua kali?! Siapa kau!?" Dengan percaya diri, Yukki menyerukan.


"Apa yang kau bicarakan, dik? Mengapa kau tidak mempercayai kakak kandung mu sendiri?"


"Hah... Sudah kuduga... kau bukanlah kakakku! Siapa yang memberitahumu bahwa kami ini saudara kandung?" Tegas Yukki.


"Kehehehe... ternyata lelah juga untuk bersandiwara ya..." Suara itu mengungkapkan jati dirinya.


"..."


"..."


Kesenyapan melanda--- Gadis itu mengetahuinya, tetapi untuk melangkah terlalu berat untuknya. Seakan ada tangan tak terlihat memeganginya, Yukki pasrah akan keadaan.


Tiba-tiba...


*Wooooshh....!!


"Ah...!!!"


Segerombolan tangan hitam menangkap dan menarik Yukki ke dalam gua. Sekuat tenaga memberikan perlawanan, hasilnya tetap tak berubah.


"Aaaah... Tolong... Tolong aku.... Tidaaak...!!!" Suara terakhir Yukki sebelum ia dilahap oleh sosok monster kegelapan.

__ADS_1


_____---------______--------_______


"Ugh... aduh, kenapa aku selalu dibangunkan dengan kepala pusing?!" Ujar Yukki dengan sempoyongan untuk bangun.


Mendapati dirinya terbangun di depan kabin tua yang tak asing baginya, membuatnya lebih bingung dari biasanya. Sewaktu-waktu, ia ragu akan kabin yang ditinggalinya. Bagaimana tidak, semua kejadian sebelumnya akibat dari tersesat di hutan yang nampak sama.


"Ini tidak mungkin kan? Bagaimana aku... kembali ke kabin?! Hahaha... padahal aku--- kami bertemu banyak sekali hal-hal tak masuk akal. Ajaib sekali aku bisa kembali ke sini! Ini semua mimpi kan? Mimpi kan?" Gumam Yukki sedang berbicara dengan dirinya sendiri.


Perlahan mendekati kabin udang tetapi masih layak huni, gadis itu tanpa ragu-ragu untuk membuka pintu kayu reyot itu.


"Halo?! Apa ada orang?"


Sunyi, senyap, dan gelap yang dirasakannya. Kesan pertama yang buruk untuknya, menelusuri ruang demi ruangan. Memperhatikan berbagai interior yang rusak seperti foto keluarganya yang retak, anehnya bercak darah menutupi kedua muka orang tuanya.


Dengan keberanian yang cukup, ia menelusuri lebih dalam dan ingin memeriksa kamar kedua orangtuanya.


*Krieeeekk....!!!


Pintu kamar dibukanya, terdengar sudah usang dan nyaring. Tak terbayangkan lagi dari balik pintu tersebut. Alhasil, Yukki sangat terpukul memandangi dua mayat cukup identik dengan pakaian kedua orang tuanya. Dimanakah kepala mereka?


Pertanyaan itu tak terpikirkan olehnya karena ia terus tertegun dan terguncang mentalnya. Tak heran jikalau gadis itu meneteskan air matanya.


"Kehehehe.....!!!!" Muncul sosok sama sedang menertawakan Yukki.


Yukki mendengarkan tawa dari arah belakang.


"Kenapa kau...!"


"Heh... Dasar pembunuh!!" Kecam sosok itu sembari menunjuk ke Yukki.


"Hah? Pembunuh?" Tanya Yukki yang kebingungan.


"Siapa lagi kalau bukan kau! Hehe... kau cukup kejam saat mengayunkan kapak itu." Papar Sosok itu.


"Tidak! Kau! Pasti kau yang melakukannya kan?! Kenapa melakukan ini?!!" Seru Yukki membalikkan keadaan.


"Hahahaha... Lucu sekali! Jika aku melakukannya, itu tetap tak akan mengubah fakta sebenarnya! Karena aku adalah kau!" Sahut sosok itu dengan senyuman dan tawa amat seram.


"Hiks...Hiks...Hiks...!" Mendadak, gadis malang itu menangis lagi, menangisi kakaknya, dan kedua orangtuanya.


"Memangnya kau pantas berada di dunia ini? Tak akan ada yang menghampiri dan memberimu makan... tak ada lagi yang datang dan melindungi mu... Dan, tak ada lagi yang memberikan pelukan di saat cuaca dingin seperti ini." Ujar Sosok itu.


Gadis itu masih menangis...


"Yah... begitulah. Untuk terakhir kalinya, akan ku tunjukkan fakta gelap lainnya... Sebenarnya, kau ini sudah lama mati!!!" Ungkap dari sosok itu yang mengibaskan poni rambut yang menutupi mata kanannya.


Yukki melihat lubang cukup besar, menembus sampai tulang tengkorak. Tak ada bola mata, hanya bekas lubang menghitam terkena radang beku.


Itu membuatnya menelan ludahnya sendiri, nafasnya yang tak teratur, tubuhnya pun bergemetar ketika ia meraba-raba dibalik poni rambutnya.


-


-


-


-


-


-


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2