
"Apa maksudmu dengan menyerahkan Railo dan Raisya?!" ucap Reina dengan napas memburu setelah menggebrak meja.
Reina sangat tidak menyangka apa yang Alex katakan dengan membawanya ke Cafe ini.
"Kau harus menyerahkan mereka kepadaku untuk hidup yang lebih baik," sahut Alex singkat.
"Apa kau tak berpikir?! Dengan memisahkan mereka dengan Ibunya itu malah membuat hidup mereka lebih buruk!" Alex hendak menyela, tetapi nampaknya Reina tak memberikan waktu untuk itu.
Reina melanjutkan, "Bahkan hidupku! Mereka berdua hidupku! Apa kau tidak mengerti itu?!"
"Kau adalah orang terburuk yang pernah aku temui!" hardik Reina seraya langsung melenggang dari tempat itu.
Alex melihat betapa marahnya Reina saat itu. Bahkan baru pertama kali ia melihat Reina begitu marah hingga menahan tangisannya. Namun nampaknya ia tak mau tahu dengan itu, ia hanya memalingkan wajah seraya tersenyum miring ketika Reina pergi dari hadapannya.
***
Netra milik wanita bernama Reina itu menatap lurus tanpa tujuan, pikirannya kalut dengan apa yang Alex katakan saat di Cafe tadi. Bahkan sampai pekerjaannya ia biarkan berserakan tanpa diselesaikan.
"Apa yang harus aku katakan pada anak-anak nanti?"
"Alex sialan, aku tak akan mengampuninya jika berani memaksa membawa anak-anakku."
Wanita itu terus bermonolog dalam hatinya dengan berjuta cacian pada sosok Alexander Leonel Bieber.
Tanpa melihat jam yang belum menunjukkan waktu istirahat, Reina melenggang pergi dari kantornya. Ia sudah tak peduli apa yang akan Alex ancamkan kembali padanya.
Namun tanpa ia ketahui, Alex melihat Reina pergi dan memutuskan untuk mengikutinya.
*
Setelah keluar dari kantornya tadi, kini Reina menjemput kedua anaknya tanpa terlambat dan langsung bergegas ke apartemennya.
Hatinya berniat menanyakan sesuatu kepada kedua anaknya. Ia ingin tahu reaksi apa yang akan mereka berikan ketika ia memberitahu bahwa mereka berdua akan berpisah dengan Mommy-nya. Tapi ia takut mereka akan marah karena hal itu.
Setelah berpikir begitu lama, wanita itu memutuskan untuk memberitahu mereka semuanya. Ia tak mau jika nanti mereka mengetahuinya dari Alex dengan paksa. Secara pria itu adalah orang yang sangat tidak bisa ditebak dan sungguh menyebalkan.
"Railo, Raisya ...," panggil Reina.
"Iya, Mommy?" sahut kedua anaknya seraya menghampiri Reina.
Reina menarik napas, mencoba tidak menangis ketika membayangkan apa yang akan ia katakan.
__ADS_1
"Hidup tanpa melihat proses kedua anakku bertambah dewasa, apa aku bisa?" batinnya.
"Mulai minggu depan, kalian akan pindah ke rumah Daddy."
Mata mereka berbinar, seolah yang Reina sampaikan adalah kabar baik.
"Jadi, kita akan pindah dari rumah ini? Lalu akan selalu bertemu Daddy?" tanya Railo.
"Yay! Aku sangat senang! Aku bisa menghabiskan waktuku bermain bersama Mommy dan Daddy!" tambah Raisya.
"Tidak, tidak, maksud Mommy, kalian hanya akan bersama Daddy, dan tidak dengan Mommy," lanjut Reina dengan ragu.
"A-apa?" tanya Raisya lemas.
"Daddy meminta Mommy untuk mengirim kalian ke sana."
"Tapi mengapa Mommy tidak ikut? Jika Mommy tidak ikut, aku tidak mau ikut."
"Kenapa?" tanya Reina.
"Siapa yang akan membacakan dongeng sebelum aku tidur?"
"Daddy bisa membacakannya, lagipula di sana ada lebih banyak mainan untuk kalian. Kalian tidak akan pernah merasa bosan. Percaya pada Mommy," ucap Reina meyakinkan mereka.
"Mommy akan tetap di sini."
"Meninggalkan Mommy sendiri? Tidak! Aku tidak mau!" tolak Raisya mentah-mentah.
"Aku juga tidak mau jika Mommy tidak ikut!" Railo menambahkan.
Reina bergerak memeluk keduanya, seolah itu memang waktu terakhirnya bisa bertemu dengan mereka. Bahkan air matanya sudah tak bisa ia tahan lagi, hal hasil ia menangis di hadapan kedua anaknya.
"Mommy jangan menangis, aku akan ikut menangis," ucap Raisya dibalas anggukan Railo.
Tangan kecil milik keduanya lantas menyeka air mata yang sudah turun di pipi wanita itu. Memastikan Mommy-nya baik-baik saja dan tidak menangis lagi.
"Mengapa Mommy menangis?"
"Kalian harus pergi dengan Daddy. Daddy yang memintanya."
"Kalian pergi tanpa Mommy dan hidup dengan Daddy mulai sekarang. Daddy tidak mengizinkan Mommy ikut. Jadi, ikuti apa yang Daddy katakan, okay?"
__ADS_1
Raisya menggeleng cepat, begitu juga Railo. "Tidak! Tidak mungkin aku meninggalkan Mommy! Lalu siapa yang akan menemani Mommy di sini?" cerocos Railo.
"Mommy akan berusaha mengunjungi kalian sesering mungkin, jadi kalian tetap bertemu dengan Mommy."
"Bagaimana jika ada orang jahat yang datang dan aku tidak bisa melindungi Mommy? Bukankah Mommy bilang Railo yang harus melindungi Mommy? Tidak! Aku tidak mau ikut Daddy!" lanjut lelaki kecil itu.
"Benar. Aku juga tidak mau! Aku akan membenci Daddy jika begitu!" celetuk Raisya, sungguh di luar perkiraan Reina jika anaknya sampai berkata demikian.
Tanpa mereka sadari, Alex berdiri di ambang pintu dengan melihat semuanya.
Alex menyaksikan sendiri, bagaimana reaksi anaknya ketika mengetahui keadaan yang akan terjadi pada mereka. Ia tak tega melihat hal itu, bahkan hatinya bergetar ketika melihat Reina menangis karena keputusan yang ia buat.
Ia juga merasa menjadi seorang ayah yang sangat egois pada kedua anaknya. Padahal ia sendiri tahu bahwa yang merawat mereka dari kecil adalah Reina, tetapi mengapa ia mau memisahkan mereka dengan cinta terbaiknya?
Raisya yang menyadari kehadiran Alex, lantas berdiri di depan Reina dengan wajah marahnya.
"Kau bukan Daddy-ku! Kau sangat jahat! Aku tidak akan meninggalkan Mommy!" bentaknya.
"Benar! Aku juga! Daddy kami tidak akan melakukan itu!" tambah Railo.
"Ssttt, tak boleh berkata seperti itu, Raisya, Railo. Itu tidak baik, dengar Mommy?" ucap Reina kepada kedua anaknya.
Keduanya tidak menjawab, mereka langsung lari ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan keras, tanpa mau mendengar apa lagi yang akan dikatakan kedua orang tuanya. Bahkan tak lama, terdengar suara tangis Raisya dari dalam kamar itu.
Alex semakin merasa bersalah. Ia pikir ini memang bukan yang terbaik untuk mereka. Ia tak boleh egois sebagai seorang kepala keluarga.
Memikirkan itu, tiba-tiba saja terlintas hal gila di kepala Alex. Yang langsung pria itu tepis dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Alex, kau sangat gila kali ini. Apa yang kau pikirkan?"
Pikiran pria itu buntu. Hanya hal itu yang ada di pikirannya saat ini.
Apakah memang itu yang harus ia lakukan?
Alex lantas mengajak Reina untuk duduk bersama dan mengobrol perihal keadaan yang terjadi ini, ia meminta Reina untuk membicarakan nasib kedua anak mereka. Ia tak bisa jika harus melihat kedua anaknya kecewa.
"Bisa kita bicara?" tanya Alex pada Reina yang masih sibuk menghapus jejak air matanya.
"Katakan saja, tak perlu basa-basi," ketus Reina.
"Kita ...," ujar Alex menggantung.
__ADS_1
"Kita harus menikah."