Failed Marriage!

Failed Marriage!
Ep 16


__ADS_3

Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, Albert dan Jessica menyuruh anak dan cucunya untuk menginap saja di rumah mereka. Sebab mereka berdua tidak mau kehilangan kehangatan ini dengan cepat. Mereka sangat bahagia dan banyak tertawa sejak tadi siang kedua cucunya datang.


Albert juga menginstruksikan agar Alex membawa anaknya dan Reina untuk tidur di kamarnya saja. Kamar yang dulu ia tempati ketika masih tinggal di sini.


Tiba di kamar, Railo terkagum-kagum dengan kamar sang ayah yang menurutnya sangat keren dan manly, tetapi respon berbeda datang dari wajah putrinya. Ia sangat tidak suka tampilan kamar Alex yang tidak ada lucu-lucunya. Ia merasa takut berada di sana karena kamarnya didominasi hitam putih.


Raisya merengek kepada Alex dan Reina untuk membawanya ke rumah mereka di mana kamar lucunya berada. Tetapi, keinginannya tak dipenuhi sampai Railo ikut berbicara. “Kalau kau tidak suka di kamar ini, sana pergi saja sendiri. Dari tadi kau menyusahkan saja! Manja!”


Karena tak ingin kedua anaknya berselisih lagi, Alex membawa Raisya dan Railo keluar untuk membujuknya, tetapi tiba-tiba Reina teringat bahwa ia dan anak-anaknya bahkan tak membawa baju ganti karena mereka langsung ke sini saat pulang dari tempat kerja. Akhirnya Alex meminta salah satu pembantu di rumah itu untuk membelikan baju untuk Railo dan Raisya.


Sedangkan Reina, Alex meminta wanita itu mengecek lemari bajunya. Ketika Reina pergi, ia hanya membawa beberapa baju saja, jadi Alex mengatakan bahwa ia belum membuang satupun bajunya, dan masih menyimpannya dengan baik di lemari. Reina mengikuti arahan pria itu dan membuka lemari di sana.


Setibanya ia di depan lemari yang terbuka, berbagai memori langsung menusuk kepala Reina begitu saja. Tanpa ia sadari, sebenarnya kamar ini memiliki banyak kenangan buruk baginya. Reina sangat teringin menangis, mengingat di sinilah insiden pertama terjadi, lalu di depan lemari inilah ia terduduk menangis sebelum pergi tanpa tujuan. Semuanya berputar begitu saja.


Ingatan buruk mengenai sifat Alex yang semena-mena padanya kini berputar di pikiran Reina. Ia mulai merasa takut mengenai bagaimana hal itu bisa saja terulang jika ia kembali menikah dengan Alex.


“Aku pernah dianggap wanita murahan di tempat ini.”


“Aku pernah dipermainkan, seolah aku tak memiliki perasaan.”


Kata-kata yang tak ingin Reina dengar itu justru terus berdatangan. Membuat Reina tak tahan lagi. Semua itu terasa seperti sebuah trauma yang mengendalikan Reina. Wanita itu tak berdaya.


Reina berusaha baik-baik saja, sampai satu baju terlihat di sana. Baju yang pertama kali ia pakai ke rumah ini dalam keadaan tak sadar. Ia mengambilnya, tetapi kembali ia jatuhkan ke lantai.


Selepasnya baju itu dari genggaman, Reina tiba-tiba saja beranjak dan melenggang keluar kamar. Langkahnya terhenti sekejap ketika melihat Alex dan kedua anaknya masih terlihat, dan ketika sudah dipastikan Alex dan kedua anaknya bermain di halaman belakang, Reina datang kepada Pak Agus, meminta pria itu memberikan kunci mobil Alex padanya.


“Nyonya Reina mau ke mana? Biar saya yang antar saja, ini sudah malam.” Pak Agus menawarkan diri.


“Ada keperluan penting yang mendesak, saya bisa mengendarai mobil sendiri. Katakan saja aku pergi jika Alex bertanya.”


Pak Agus tidak protes, ia percaya dengan alasan itu sehingga memberikan kunci itu pada sang majikan dan kembali berkutat dengan kopinya.


Reina lantas mengendarai kendaraan itu pada gelapnya malam, tanpa tahu arah tujuan. Yang ia tahu, hanyalah kondisinya ketika berada di rumah itu bertahun-tahun lalu. Sedikit jauh mobil itu mulai melaju, air mata Reina tak lagi terbendung.


“Anak-anak akan aman, tetapi entah denganku.”


“Rumah itu berawal pada kesalahan, mungkinkah berakhir dengan kesalahan juga?”


“Maafkan Mommy, Railo, Raisya.”


***


Alex berhasil membujuk putrinya untuk tidur di kamar hanya semalam, itu yang ia janjikan. Pria itu juga berkata, tidak ada yang menakutkan selama ada yang menemani, kalaupun nanti Raisya merasa sendiri, Alex menyuruhnya untuk berteriak saja, maka semua orang akan datang.


Ya, mungkin itu sedikit menyusahkan jika Raisya tiba-tiba berteriak di malam hari. Tetapi, hanya untuk saat ini, Alex rasa tidak masalah.


Kedua anak beserta satu ayahnya kini memutuskan untuk kembali ke kamar. Belum sampai ke kamar, satu pembantu yang tadi Alex suruh membelikan baju datang ke hadapannya dengan membawakan belanjaan yang Alex minta.


“Ini bajunya, Tuan. Saya sudah carikan yang ukurannya paling pas dan paling bagus.”


“Untuk apa kau bawa ke sini? Bawakan ke kamar, Reina sudah menunggu di sana.”


Pembantu itu tetap tersenyum. “Nyonya Reina tidak ada di kamarnya, Tuan. Pintu kamar pun sedikit terbuka, saya tidak berani masuk, Tuan.”


Dahi Alex mengerut. “Apa maksudnya Reina tak ada di kamar?”


“Tidak ada, Tuan. Di bawah juga tidak ada.”


“Daddy, Mommy ke mana?” Alex lupa, anak perempuannya ini sangat penakut, jika ia bilang Reina tidak ada, pasti ia menangis lagi.


Alex lantas tersenyum pada putrinya. “Mommy sedang bersama Oma. Sepertinya sedang meminjam baju.” Ucapan itu berhasil menghilangkan kecurigaan Raisya. Begitu pula Railo.


“Ya sudah, bawa itu ke kamar sekarang.” Alex meminta pembantunya membawakan belanjaan itu seraya Alex membawa kedua anaknya ke dalam kamar.


Tiba di kamar, Alex menempatkan Raisya dari gendongannya ke atas tempat tidur. Sedangkan Railo yang sedari tadi mengikuti, meminta ayahnya menaikkan ia juga. Keduanya lantas terlentang di atas tempat tidur itu sembari bercanda.


Mata Alex menyisir ruangan, sampai akhirnya terhenti di arah lemarinya terbuka. Langkahnya mendekat ke arah lemari itu, netranya menangkap satu baju yang tergeletak di lantai. Ia berdecak, berpikir Reina sangat ceroboh, bisa-bisanya meninggalkan baju tergeletak begitu saja.


Tangannya hendak menyimpan kembali baju itu ke dalam lemari, tetapi akhirnya terhenti ketika ia menyadari bahwa ini bukan baju sembarangan. Tiba-tiba saja ia teringat bahwa baju ini adalah baju yang pernah ia lepaskan tanpa seizin pemakai.


Alex yang mencoba berpikir jernih itu akhirnya kacau juga. Ia mulai berpikiran buruk tentang jatuhnya baju ini.


Melihat pembantunya hendak keluar kamar, Alex lantas memanggilnya kembali. “Tolong pakaikan itu ke kedua anak saya. Saya harus keluar sebentar.”


“Railo, Raisya. Mommy ternyata sedang ada urusan di luar, dan Daddy harus menjemput Mommy kalian. Kalian tunggu di sini, mengerti? Ibu ini akan menemani kalian sampai Daddy kembali, jadi kalian tak akan takut.”


Railo segera mengangguk, diikuti Raisya yang sedikit ragu.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, Raisya. Aku, kan, di sini,” ucap Railo yang bijak. Raisya lantas tersenyum dan mengangguk pasti. Sepertinya pria kecil itu sudah memaafkan kesalahan Raisya yang seharian ini menyusahkan.


Alex tersenyum, lantas menatap pembantunya, mengisyaratkan ia harus pergi dulu. Dengan takut, pembantu itu mengiyakan permintaan Tuannya. “Siap, Tuan.”


Alex sedikit berlari ketika sudah keluar dari ruangannya. Tak ada lagi yang ia tuju kecuali Pak Agus yang kini berada di pos satpam bersama satpam rumah. Mereka tengah meminum kopi bersama.


“Pak, lihat Reina keluar?” tanyanya to the point.


Pak Agus yang sedang bersantai segera berdiri. “Lihat, Tuan. Tadi Nyonya bilang ada keperluan mendesak di luar, dan menyuruh saya untuk mengatakan beliau pergi kalau Tuan bertanya.”


“Keluar? Pakai apa?”


“Nyonya pakai mobil milik Tuan, tadi Nyonya minta kuncinya ke saya. Kenapa, Tuan? Ada yang salah?”


Alex menggeleng. “Anaknya tadi menangis. Tapi sekarang sudah tidak.”


Pria itu tak kehabisan akal, meskipun ia panik, ia berusaha tak terlihat panik di depan semua orang. Kini, ia segera meminta Pak Agus memberikan kunci motor sport yang jarang ia pakai. “Saya mau jemput Reina, tolong ambilkan kunci motor saya.”


Pak Agus segera masuk ke pos satpam, lalu mengambilkan kunci yang Alex maksud.


Alex bergegas ke dalam parkiran rumah orang tuanya, di mana mobil mewah berjajar tidak hanya satu atau dua, tetapi belasan mobil terpampang nyata di sana.


Pria itu ingat, di mobilnya terdapat GPS, beruntung sekali Reina melupakan hal itu, jadi ia bisa mengetahui lokasinya di mana saat ini. Alex menemukan mobilnya berada di tempat yang cukup jauh. Ia berpikir, apakah Reina benar-benar mengendarai mobilnya secepat itu dalam waktu setengah jam?


Ia mulai mengkhawatirkan keadaan Reina. Pria itu tak sadar, egonya sama sekali tak dia pakai saat ini. Ia segera menaiki motor sport-nya seraya meletakkan ponselnya penyangga yang tentu berada di tempat aman, ia tak khawatir ponselnya terlempar.


“Apa yang kau pikirkan, Reina?”


Ia panik, bukannya apa-apa. Wanita itu selalu izin kemana pun ia pergi, bahkan ketika hal itu sepele. Tapi ini? Setelah semua jejak yang wanita itu tinggalkan, bagaimana bisa Alex berpikir positif?


Motor yang Alex kendarai melaju kencang. Pedal gas terus ditarik kuat oleh Alex hingga akhirnya dengan kurun waktu kurang dari setengah jam, ia tiba di tempat yang ia tuju. Tetapi, herannya, ia tak menemukan mobilnya sejauh apapun matanya memandang. Ia hanya bisa melihat pohon dan jalanan sepi, hingga ia melajukan sepeda motornya perlahan. Meter demi meter ia lewati sampai ia melihat sebuah rumah tua di ujung jalan.


Tanpa berputar balik, dan berkeinginan teguh mencari Reina, Alex mengendarai motornya mendekat pada rumah itu.


“Mungkinkah dia di sini? Tapi, apa yang dia lakukan di tempat kumuh seperti ini?”


Alex celingukan, derap kakinya berhati-hati mengingat apapun dapat terjadi di tempat sepi seperti ini. Tetapi pria itu mengusap dada bersyukur, ketika menemukan mobilnya berada di belakang rumah itu. Ia segera berjalan ke belakang dengan pelan. Takut saja, jika Reina sedang menghindarinya, Reina akan pergi ketika tahu Alex sedang berada di sana.


Tiba di balik rumah dengan mengendap-endap, pria itu terkejut, melihat kondisi Reina sangat memprihatinkan. Rambut berantakan, isakan yang terdengar, jangan lupakan posisinya terduduk memeluk lutut.


Reina mendongak, sangat terkejut melihat Alex berada di sini. Ia sedikit berpikir dan baru sadar, pria itu pasti menemukannya lewat GPS di mobil. Sangat bodoh.


“Jelaskan, kenapa kau pergi?”


Reina bungkam, seolah mengacuhkan keberadaan Alex di sampingnya.


“Aku lupa, kaulah yang menghancurkanku dulu. Kenapa aku harus mempercayaimu lagi.”


Jika saja Alex tidak bertekad untuk membawa Reina pulang, ia akan langsung merasa marah mendengar hal itu. Tapi, lihatlah pria itu sekarang. Ia hanya menunduk, telinganya sigap dan siap mendengar semua keluhan Reina tentang dirinya.


“Kau ambil saja anak-anakku. Aku akan tinggal sendiri.”


Alex tercekat. “Apa maksudmu?”


“Bukankah seharusnya begitu? Aku ragu kau tidak melakukan hal yang semena-mena lagi padaku. Kau tetaplah kau, tidak akan menjadi Alex yang lain.”


”Apa yang sudah kau lakukan, Alex! Benarkah semua yang sudah kulakukan itu terlalu parah?” batin Alex.


Tangan Alex terulur hendak menyentuh pundak Reina, tetapi wanita itu segera menepisnya. “Bahkan seperti itu yang kau lakukan padaku dulu.”


“KAU!” Reina menunjuk tepat di depan wajah Alex.


“Kau yang dulu tanpa izin menyentuhku!”


“Kau tahu?! Bahkan ketika kau tahu aku tidak sadar, kau melakukan semuanya!”


Air mata Reina yang sebelumnya sudah mereda, kini kembali memupuk di kelopak matanya. Pikirannya kembali berputar pada masa di mana ia terkejut sudah berada di tempat asing tanpa busana.


“S-setelah itu, k-kau …. Kau menyuruhku menandatangani sebuah perjanjian tanpa alasan!”


“Kau tahu? Aku sedang tersiksa di masa itu!”


“Karena itu aku pergi. Pergi ke tempat buruk yang seharusnya tidak aku kunjungi!”


Menangis. Ya, tidak tertahan lagi.


“M-maafkan aku.”

__ADS_1


Reina tak mau mendengarnya, ia tetap berteriak memaki pria di hadapannya.


“Mengingat masa itu, membuat aku mengingat lagi semua momen yang sangat menyedihkan.”


Ya, tidak ada yang tahu. Masa itu.


***


“Reina, kamu memang anak pembawa sial!” teriak seseorang sembari menunjuk seorang gadis yang sedang terbaring lemah di atas kasur kamarnya.


Gadis itu, ia baru saja terbangun dari pingsannya. Ia sampai di rumah dari tempat ia bekerja selama tiga bulan terakhir. Tetapi, rumahnya kosong, sehingga ia pergi ke rumah paman dan bibinya, tempat di mana sang ibu biasa berada.


Bukannya disambut dengan gembira, ia malah mengetahui fakta bahwa dirinya bukanlah seseorang yang memiliki latar belakang yang jelas. Ia hanyalah anak yang dengan menyedihkannya diambil dari panti asuhan. Seorang gadis yang rupanya kini dua kali melewati masa yatim piatu.


Ia mendapat dua kabar buruk sekaligus. Bahwa ia bukan anak dari ibu yang sedang ia cari, dan fakta bahwa ibu yang ia cari itu kini sudah tiada.


Namun, baru saja ia terbangun dari keterkejutannya, ia kembali dihadapkan dengan kemalangan baru, ketika bibi tirinya menyalahkan dia atas meninggalnya sang kakak, ibu tiri Reina. Dengan bodohnya, wanita itu menganggap bahwa kakaknya meninggal karena berhubungan dengan Reina, anak asing yang dia pungut dari panti asuhan.


“Sudah kubilang dari awal. Anak ini anak pembawa sial! Anak ini sudah ditakdirkan yatim piatu!”


“Apa buktinya kau bilang begitu, Margaret! Sadarlah!”


“Bukti? Kau bilang bukti? Ini buktinya! Saat itu, kakak iparku pergi ketika dia mau menyelamatkan anak itu yang hampir tertabrak truk!”


“Sekarang? Buka matamu! Kakakku pergi ketika Kakak mau menjemput dia! Dia yang belum juga pulang sampai tanggal yang ditentukan sampai Kakakku nekat menjemputnya dan menjadi korban kecelakaan!”


Ya, sebut saja Reina merantau. Hanya ke kota tetangga, dan ia baru pulang hari ini karena menyiapkan sesuatu untuk sang ibu. Tetapi setibanya ia di rumah, orang yang ia tuju tidak ada di sana. Hanya kumpulan orang yang masih dalam suasana berduka sedang sibuk dengan diri mereka sendiri di rumah.


Setelahnya, ia harus mendengarkan paman tirinya yang menjelaskan bahwa ia bukan dari keluarganya. Ia mengatakan itu sebagai pesan terakhir dari sang ibu tiri. Paman tirinya memang baik, ia menjelaskan semuanya dengan berhati-hati. Tetapi sampai pada kata sang ibu telah tiada, Reina tak dapat menahan keterkejutannya sampai jatuh pingsan.


Kini, ia harus terdiam mendengarkan semua umpatan dan celaan yang bibi tirinya lemparkan. Paman Reina selaku suaminya memang terus menepis semua celaan yang bibi tiri itu lemparkan kepada Reina. Tetapi suami tetaplah suami, ia tidak bisa apa-apa selain menenangkan istrinya dan meminta Reina pergi dari tempat itu saat itu juga. Ia mewajarkan semua perkataan kejam yang istrinya lemparkan dengan alasan masih berduka. Ia lupa, bahwa Reina sama berdukanya, bahkan mungkin berduka lebih dalam.


Reina berlari keluar rumah setelah sang paman mengisyaratkan demikian. Hanya dengan membawa ponsel dan tas selempang yang masih menggantung di badannya. Reina berlari tanpa arah.


Awalnya ia berhenti di tempat yang tidak buruk, rumah ibu tirinya. Ia menangis tersedu-sedu dari petang hingga hari ditelan malam. Ia tak percaya apa yang orang-orang di rumah itu katakan.


“Kau … sebenarnya dari panti asuhan, Reina. Kakakku mengadopsimu karena ia sudah lama menikah dan tidak punya anak. Ia belum sempat menjelaskannya kepadamu, jadilah aku yang mewakili.”


“Kakak sudah tiada, Reina. Seminggu lalu, ketika kau menjanjikan tanggal itu untuk pulang, ibumu terus menunggu dan merasa khawatir mengapa kau belum pulang. Hingga akhirnya empat hari lalu ia menyerah menunggu dan ingin mencoba mencarimu.”


“Di saat itulah, Kakak mengalami hal yang tak diinginkan, sama seperti Kakak Ipar, beliau tertabrak.”


“Itu sebabnya bibimu berkata kematian Kakak disebabkan karenamu.”


Semua kalimat itu terus terngiang di kepala Reina. Ia kehabisan akal, sampai berakhir di sebuah club malam yang sebelumnya biasa ia hindari. Reina memang pernah masuk tempat seperti ini, tetapi bukan untuk bersenang-senang. Saat ia merantau, ia sering datang ke tempat tersebut untuk memenuhi panggilan dari orang-orang club ketika temannya ditemukan mabuk berat. Setelah itu ia kembali. Tak pernah sekalipun berniat menikmati isi tempat itu.


Tetapi, di sinilah ia sekarang. Termenung bersama botol-botol minuman keras yang sudah ia habiskan, terhitung sedari awal ia datang.


Mabuk berat padahal sebelumnya tidak pernah mencoba menyentuh benda haram itu, Reina kalap. Ia tidak pernah sekalipun separah ini. Hingga akhirnya ia berhalusinasi menemui seorang pria yang akan membahagiakan hidupnya. Bertemu seorang Alexander Leonel Bieber dan menjadi awal penyesalan baru bagi Reina.


***


Semua yang sudah terjadi menjadi memori kelam tersendiri bagi Reina. Sejujurnya tidak sepenuhnya ini tentang sikap Alex yang membuat Reina takut dan terkekang kala itu, tetapi juga kejadian yang melatarbelakangi pertemuan Reina dan Alex yang membuat Reina sangat merasa terpuruk saat ini.


Rumah di ujung jalan yang kini menjadi letak di mana mereka berada, merupakan rumah tempat Reina saat itu kembali tetapi ia tak melihat orang yang ia tuju berdiri tersenyum menyambutnya. Memang sebuah rumah tua, tetapi rumah ini cukup luas, meski tak seluas rumah keluarga Alex.


“Reina, maafkan aku. Apa yang kau takutkan dariku, katakan. Aku sangat takut kehilanganmu tadi. Tak dapatkah kau merasakan kekhawatiran ku saat ini?”


Seketika, mata Reina terbelalak, wanita itu nampak baru sadar dari jeratan masa lalunya.


Alex ikut terduduk, pria itu menghadap ke arah Reina. Tangannya meraih pundak kanan Reina dari arah kiri, berakhir memeluk wanita itu. “Maafkan aku, aku memberikanmu begitu banyak kenangan buruk. Bahkan membuatmu seperti ini hanya dengan mengingatnya.”


Air mata Reina kembali jatuh, wanita itu memejamkan matanya kuat, merasakan bagaimana tulusnya pelukan Alex saat ini. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan ataupun lakukan. Ia hanya diam, dan merasakan pelukan yang semakin dieratkan.


“A-aku masih menganggapmu pria yang mengerikan. A-aku takut, aku takut semua yang terjadi saat itu kembali.”


“M-maaf, maaf karena aku menganggapmu begitu,” lanjut Reina, membuat Alex menggeleng cepat dan menguatkan pelukannya.


“Jangan membuatku merasa sangat jahat. Sudah jelas kau ketakutan karenaku, tetapi, kau malah yang meminta maaf.”


Alex menyesal. Benar-benar menyesal. Apa yang wanita itu katakan kini menancap tepat dalam hatinya. Ia merasa sangat bersalah ketika tahu sikapnya membuat seorang wanita menjadi sangat takut seperti Reina. Meskipun memang Reina tidak ketakutan hanya karena Alex, tetapi pria itu tidak tahu, dan ia merasa sangat bersalah. “Aku terlalu egois.”


“Tidak, kau tidak sepenuhnya salah,” bisik Reina dalam isakannya.


“A-ak-aku, aku punya masa lalu sebelum aku bertemu denganmu.”


Alex cukup terkejut, tetapi, ia belum mau bertanya. Pria itu masih sibuk memeluk wanita di hadapannya dengan sangat erat, menyalurkan sebuah ketenangan agar wanita itu segera melupakan hal yang menyakitinya.

__ADS_1


__ADS_2