
...
Terdiam dan hening, itu suasana yang tengah terjadi di ruang kerja Alex siang ini....
Sebenernya Alex bingung dengan apa yang ia lakukan terhadap Reina saat ini. Ia merasakan bahwa Reina tak nyaman atas perlakuannya. Wanita itu nampak terpaksa menerima perlakuannya, berbanding terbalik dengan dirinya yang sangat merasa nyaman.
Ya, pria itu tengah memeluk Reina sepulangnya Reina dari waktu istirahat.
Reina berpikir tadi ia terlambat kembali ke kantor sehingga Alex memanggil ia ke ruangannya. Namun ternyata pikiran itu sangat berbeda dengan yang terjadi sekarang ini.
"Oh Tuhan, aku harus segera menghentikan ini sebelum melewati batas," batin Alex seraya melepas pelukan itu perlahan.
Namun pria itu merasakan kepalanya sangat berat dan pandangannya mulai kabur. Ia berusaha berdiri tegap tapi tidak bisa.
Bruk!
Alex mulai kehilangan keseimbangan, ia tersungkur dengan kesadarannya yang perlahan memudar. Pria itu pingsan!
Seketika kepanikan terlihat di wajah Reina yang melihat alex pingsan setelah memeluknya dirinya. Dengan cepat wanita itu mengecek kondisi badan Alex, ternyata suhu badan pria itu terasa sangat panas, wajahnya juga nampak mulai pucat.
"Alex! Bangun!" ucap Reina sedikit berteriak, seraya menepuk-nepuk pipi Alex.
Reina segera beranjak dan mengambil ponsel, hendak menghubungi Joe, Asisten Pribadi Alex.
Beruntung ia sudah menyimpan nomor pria itu, dan segera ia meneleponnya untuk membantu Alex. Reina tak mungkin membiarkan Alex tergeletak di lantai, ia juga tidak kuat jika mengangkat tubuh Alex yang besar seorang diri.
Sedangkan kalau meminta bantuan orang lain? Reina yakin akan ada kehebohan nantinya.
"Halo, Pak Joe?" sapa Reina ketika sudah masuk sambungan telepon.
"Iya ada apa?" jawab Joe dari seberang telepon. Pria itu tengah berada di ruangannya.
__ADS_1
"Tolong cepat ke ruangan Alex, Pak. Alex tiba-tiba pingsan," lanjut Reina dengan intonasi paniknya.
Dengan segera beranjak dari duduknya, Joe mengiyakan panggilan Reina dan menutup telepon. Pria itu langsung berjalan dengan tergesa-gesa. Tidak mungkin juga ia berlari di area kantor ini.
Setelah tiba di sana, tanpa berpikir panjang Joe segera memindahkan Alex ke dalam kamar pribadi di ruang kerjanya. Ya, hanya sebuah ruangan dengan tempat tidur dan meja.
Joe lantas menghubungi Dokter kepercayaan Alex untuk segera memeriksa kondisi kesehatannya.
"Mengapa Tuan bisa pingsan, Nona Reina?" tanya Joe pada Reina.
"Saya tidak tahu, dia tiba-tiba pingsan setelah mengobrol dengan saya," jawab Reina sedikit berbohong. Ia tak mungkin mengatakan pria itu pingsan setelah memeluknya.
Tak lama dari itu, Dokter yang Joe hubungi sudah sampai dan segera memeriksa keadaan Alex.
Dokter itu menyampaikan bahwa kondisi Alex yang begitu lemah, sepertinya pria itu kelelahan sehingga daya tahan tubuhnya menurun. Ia berkata Alex butuh istirahat penuh, jadi biarkan saja dia tertidur di sana sampai siuman.
Dokter itu juga memberikan resep obat yang harus Joe ambil di apotek terdekat, lalu segera berikan kepada Alex ketika ia sudah sadar.
"Baik, Dok. Setelah ini saya akan lebih memperhatikan kesehatannya," sahut Joe.
"Kalau begitu saya izin pamit, jangan lupa segera beri Tuan Alex makan selepas ia siuman nanti," ucap Dokter itu sembari membereskan barang-barangnya.
"Baik, mari saya antar ke depan, Dok," ucap pria berbadan kekar itu.
"Nona Reina, tolong jaga Tuan Alex, ya. Saya masih ada pekerjaan setelah mengantar Dokter ke depan," pinta Joe kepada Reina.
"Tapi, Pak. Saya masih banyak berkas yang belum diselesaikan." Ya, wanita itu belum selesai dengan tugas yang Alex berikan tadi pagi. Baru setengah dari seluruh pekerjaan yang Reina selesaikan, ingat?
"Tak apa, saya akan carikan penggantimu. Nanti saya yang akan bicara kepada Tuan," ucap Joe.
"Baik, Pak. Hati- hati di jalan, Dok!" balas Reina.
Melihat mereka sudah meninggalkan ruangan, Reina menarik satu kursi dari ruang kerja Alex ke dalam kamar itu. Ia harus menjaga Direkturnya sampai Joe kembali.
__ADS_1
Wanita itu duduk dengan tangan terlipat di atas tempat tidur samping Alex. Ia menaruh wajahnya di atas lipatan tangan, mengamati wajah Alex yang tenang ketika ia tertidur seperti ini.
Ia jadi teringat, ia tak menyangka bahwa pria menyebalkan di hadapannya inilah yang memberikan ia dua malaikat kecil penyemangat hidupnya sekarang.
Tangan kanannya terulur pada dahi Alex, merasakan suhu tubuh pria itu ternyata belum juga turun.
Ia berinisiatif untuk mengambil air dingin yang tersedia di kantor, lalu mengompres dahi Alex berharap panasnya segera turun. Setidaknya saat ia bangun nanti, suhu tubuhnya sudah tidak sepanas ini.
-
Setelah tiga jam dalam keadaan pingsan, akhirnya Alex tersadar dari pingsannya. Pria itu meraba dahinya karena merasa ada sesuatu menempel di sana. Ia mendapati sebuah handuk basah menempel di dahinya. Alex lantas mendudukkan dirinya, celingukan mencari siapa yang telah mengompresnya.
Netranya terhenti di arah samping kiri, ia melihat ada Reina tertidur dengan tangan terlipat di bawah wajahnya. Pria itu berpikir sepertinya Reina kelelahan menjaga sembari mengompresnya. Ia melihat jam tangannya, ternyata lebih dari tiga jam setelah waktu istirahat kantor berakhir.
Tanpa sadar kedua sudut bibir Alex melebar, tersenyum melihat wanita di sampingnya nampak kelelahan karena merawat dirinya.
Alex pun segera turun dari kasurnya karena merasa ia sudah tak apa-apa. Ia lantas menggendong Reina, memindahkan wanita itu agar menggantikannya di tempat tidur dengan nyaman.
Alex mendengar ada bunyi ponsel yang asing, ia sangat yakin itu ponsel milik Reina. Ingin memberitahu, tapi ia tak tega untuk membangunkan wanita itu yang nampak terlelap dalam tidurnya.
Karena itu, Alex langsung mengambil ponsel Reina dan menjawab panggilan telepon itu.
Terlihat nama "My Angels" di layar ponsel wanita itu.
"Halo, Mommy!"
"M-mom ... Mommy?"
...
...
__ADS_1