Failed Marriage!

Failed Marriage!
Ep 13


__ADS_3

Menghabiskan waktu berbincang dengan keluarganya yang lengkap, mereka sampai lupa waktu dan baru menyadari bahwa hari sudah mulai sore.


Reina yang sedari tadi hanya menyimak obrolan ketiganya, memutuskan beranjak dari tempat itu dan berjalan menuju kamarnya. Raut wajah wanita itu seperti sedang memikirkan suatu hal.


Hal yang sejak kemarin sebenarnya masih menempel di kepala wanita itu. Reina memikirkan apakah ia harus tetap berada di mansion ini ataukah harus pergi?


Bukan tanpa alasan ia ingin pergi, tetapi ia merasa ini sudah memaksakan kehendaknya. Ia bahkan sangat merasa canggung ketika tadi berada di samping Alex.


Setibanya di kamar, netra wanita itu hanya tertuju pada balkon kamarnya. Ingin mencoba menenangkan diri saja.


Sedangkan Alex, ia merasakan sesuatu yang berbeda pada Reina. Wanita itu hanya melenggang tanpa sekedar izin untuk pergi ke kamar.


Akhirnya dengan menghentikan candaan bersama Railo dan Raisya, Alex memutuskan untuk mengikuti Reina ke kamarnya. Tak lupa ia meminta Railo dan Raisya menunggu sampai ia kembali dan bermain lagi.


Menaiki satu persatu anak tangga, Alex berjalan sedikit menuju kamarnya dan mendapati Reina sedang duduk termenung di balkon dengan tangan terlipat di atas lutut, menopang wajahnya yang tak berekspresi.


Wanita itu nampak sangat menikmati pemandangan di sekitar mansion dan merenungi pikirannya. Sampai tak menyadari kehadiran Alex yang sudah memerhatikan wajah datarnya.

__ADS_1


Reina cukup terkejut melihat wajah menyebalkan Alex sudah berada di hadapannya. Ia sedikit mengerjat, tetapi dengan cepat ia kembali menetralkannya.


"Jangan pernah berpikir sesuatu yang membuat anak-anak bersedih," celetuk Alex, seolah tahu apa yang Reina pikirkan.


Wanita itu menarik napas dan membuangnya gusar. "Aku hanya berpikir, apa aku pantas kembali bersanding denganmu? Menjadi seorang Nyonya dari CEO sepertimu?"


Alex hendak menjawab, namun wanita itu kembali meneruskan perkataannya.


"Lalu apa aku bisa menjalankan kehidupanku seperti ini? Bahkan tanpa dasar cinta dan tetap dalam kekangan seseorang?"


Pria di samping Reina itu mulai paham ke arah mana ia berbicara. Sepertinya Reina mulai menyerah dengan kehidupannya, tetapi ia tak bisa menunjukkan hal itu.


Alex tergerak untuk menyemangati wanita di sampingnya, tapi ia tak tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya, jemarinya bergerak menggenggam tangan Reina tanpa ia sadari.


"Kau tak perlu memikirkan yang lain. Aku tak akan memanfaatkanmu untuk hal lain, hanya demi anak-anak. Kau pikirkan saja tentang kebahagiaan anak-anak, tak perlu pusing memikirkan hal lain."


Reina yang mendengar itu sedikit tersentuh. "Apakah Alex serius dengan setiap kata-katanya? Apa Alex mulai peduli dengan hidupku?" batinnya.

__ADS_1


Sedang serius-serius berbincang, suara teriakan Railo dan Raisya mengalihkan atensi mereka.


"Mommy! Daddy!" teriak Raisya dengan suara kecilnya yang cukup menggema.


"Where are you, Mommy? Daddy?" sambung Railo seraya melirik-lirik setiap ruangan yang mereka lewati. Sampai mereka menemukan satu ruangan dengan ayah dan ibunya, mereka mengetuk pintu sebelum masuk ke sana.


"Tuk tuk! Permici! Boleh kami masuk?" teriak Raisya dengan suaranya yang menggemaskan.


"Kenapa kalian kemari, hm?" sahut Alex seraya membukakan pintu lebar-lebar.


Railo dan Raisya lantas memasuki kamar orang tuanya dengan melirik ke sana ke sini, merasa penasaran dengan bentuk kamar ini.


"Apa tak ada yang mau menjawab Daddy kalian mau apa?" ucap Alex mengulangi pertanyaannya.


Railo terkekeh. "Hehe, because you aren't comeback again," jawan Railo dengan bahasa asing yang ia cukup kuasai.


"Really? Padahal Daddy hanya sebentar meninggalkan kalian," jawab Alex seraya menggendong kedua anaknya.

__ADS_1


Melihat itu, Reina teringat kedua anaknya belum juga mandi padahal hari sudah mulai petang. Akhirnya wanita itu menginstruksikan kedua anaknya untuk pergi ke kamar masing-masing, dan tunggu ia di sana untuk membantu mereka mandi. Namun mereka enggan meninggalkan kamar ini, katanya masih ingin main dengan ayah mereka.


Mendengar itu, Alex segera memberi pemahaman kepada kedua anaknya. Sehingga keduanya menurut dan segera berlarian menuju kamar masing-masing.


__ADS_2