Failed Marriage!

Failed Marriage!
Ep 15


__ADS_3

Menyantap makan siang bersama karyawan lain yang juga tengah istirahat di kantin, Reina tetap sibuk dengan pikirannya sendiri. Wanita itu tidak berbicara dengan siapapun, hanya berbicara dengan suara hatinya. Bahkan bisingnya obrolan karyawan lain yang sedang bercanda tawa sama sekali tidak ia hiraukan.


Memikirkan bagaimana Alex selalu meminta sesuatu secara tiba-tiba dan memutuskan waktunya secara sepihak membuatnya sangat kesal. Bagaimana mungkin ia mengajak Reina menemui seseorang yang begitu penting di hari yang sama tanpa persiapan? Sungguh membuatnya mendumal dalam hati.


Tanpa sengaja, wanita itu memukul meja kantin dengan sendok yang dipegangnya ketika pikiran kesal itu berdatangan.


Ekspresi kesal Reina berganti kikuk dalam seketika ketika ia mendapati tatapan orang-orang di kantin tertuju padanya, meminta penjelasan. “Maaf.”


Ah tolonglah! Malu! Benar-benar memalukan! Tidak ada hal lain yang ia dapat katakan selain permintaan maaf barusan.


Reina tidak nafsu makan, tetapi melihat kondisinya saat ini ia segera menyelesaikan makanannya, tidak mau berada di tempat dengan atmosfer seperti itu lebih lama lagi. Wajahnya sudah tak bisa ia sembunyikan. Wanita itu semakin banyak melempar umpatan dalam hatinya yang tidak lain tidak bukan, tertuju pada Alex.


“Bisa-bisanya dia bilang semua baik-baik saja, dan memintaku bersikap egois. Dialah satu-satunya yang egois di sini! Selalu saja memutuskan suatu hal tanpa diskusi,” umpat batin Reina.


Reina menyelesaikan makanannya tidak lebih dari lima menit sejak ia merasa kesal. Setelah itu, ia langsung kembali ke meja tempatnya bekerja. Memilih berkutata dengan pekerjaannya daripada memikirkan semua hal yang memusingkan.


“Bu Reina?” sapa seorang karyawan lain.


“Iya?” Reina menanggapi.


Karyawan itu menunjuk sesuatu di meja Reina dengan arah pandang matanya. “Apa yang sedari tadi Ibu print? Kertas-kertas itu sepertinya terlalu banyak.”


Mata Reina terbelalak ssmpurna melihat printer sedang berjalan mencetak ratusan lembar dokumen yang seharusnya tidak dicetak. Tangannya langsung gelagapan hendak menghentikan benda itu, sampai akhirnya ia melihat tangan kekar menahan tangannya untuk bergerak lantas menekan satu tombol, membuat benda itu berhenti bekerja seketika.


“Bekerjalah dengan fokus.”


Ya, suara bariton itu milik seorang Alexander Leonel Bieber. Hal itu membuat karyawan yang tadi menegur Reina bergidik ngeri. Sang Boss yang tak pernah dikenal ramah kini melihat sebuah keteledoran, apa yang akan Reina hadapi sekarang? Memikirkannya membuat ia memilih berpura-pura sibuk dengan layar komputernya sendiri.


Tetapi, ketakutannya ternyata tidak terjadi. Pria itu langsung melenggang pergi sesudah mengatakan kalimat itu, lantas ia menatap tak percaya ke arah Reina yang langsung merebahkan tubuh, bersandar pada kursi tingginya setelah sedari tadi duduk tegap.


Reina dengan frustrasi lantas merapikan berkas salah cetak itu, lantas menyusunnya pada satu map sebelumia memasukan tumpukan kertas itu ke dalam tasnya. Masa bodoh dengan kertas-kertas yang ia buang sia-sia. Tidak ada lagi yang akan memarahinya selain Alex bukan? Ia tidak peduli dengan pria itu.


***


Tak terasa, jam pulang kantor sudah tiba dan Reina masih berkutat dengan pekerjaannya. Rasanya, ia tidak mau bangkit dan menghadapi kenyataan ia bertemu dua orang yang akan membuatnya canggung tak kepalang. Tetapi, sial. Alex meneleponnya untuk segera bersiap karena pria itu sudah menyelesaikan tugasnya dan merapikan ruangan.


“Selesaikan semuanya, aku tunggu kau di depan sekolah Railo dan Raisya.”


Tanpa menjawab apa-apa lagi, Reina segera menutup telepon lalu merapikan meja kerjanya sebelum pamit pulang kepada beberapa karyawan di sekitar. Tak ada yang harus ia lakukan selain menepis semua keraguannya dan menghadapi kenyataan bahwa ia akan bertemu mereka. Dua orang yang pernah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri, dan jujur saja ia sangat menyayangi mereka. Ia juga sesekali merasa rindu kepada keduana, tetapi apalah daya, ia merasa ia tidak berhak untuk itu.


Ya, nasi sudah menjadi bubur. Dengan menerima permintaan Alex untuk menikah, seharusnya ia tahu ia akan dihadapkan dengan situasi seperti ini.


Langkah Reina terburu-buru keluar dari kantor, membuat beberapa rekan karyawannya selalu berasumsi ia wanita pekerja keras yang selalu sibuk.


Tak butuh waktu lama, Reina sampai di depan sekolah anak-anaknya. Ia celingukan mencari keberadaan Ales yang mengatakan menunggu di depan sekolah. Belum sempat menemukan pria itu, sang empu kini muncul di layar ponsel Reina, menelepon.


“Kau di mana?”


“Lihat ke belakang, aku tunggu di mobil saja. Jemput mereka dan Pak Agus akan membantu menyeberangkan kalian.”


Arah pandang Reina mengikuti petunjuk dari Alex dan menemukan pria itu berada di dalam mobil yang tidak Reina kenali. Pantas saja ia tak menemukannya.


Reina hanya menganggukkan kepalanya lantas memasukan ponsel ke dalam tas. Wanita itu meliaht Railo dan Raisya sudah melambaikan tangan sembari berlari keluar sekolah ditemani satu wanita yang tadi pagi menunggu kedatangan Railo dan Raisya di balik gerbang sekolah.


“Hai, anak-anak Mommy!” Reina merentangkan kedua tangannya, membuat dua anak itu dengan gemas berlarian memeluk Reina.


“Bagaimana sekolah baru kalian?” tanya Reina sembari mengecup pipi kedua anaknya bergantian.


“Sangat seru! Mommy benar, banyak perosotan dan ayunan di sana!” seru Railo antusias.


“Kami juga punya banyak teman baru!”


Reina tersenyum senang mendengar anaknya bercerita. “Oh ya? Ada berapa banyak teman baru itu?”


Raisya nampak berpikir. “Aish! Mereka terlalu banyak, Mommy!” Reina terkekeh, anak polos itu belum bisa menghitung jumlah temannya.

__ADS_1


“Oh iya, Mommy? Di mana Daddy?”


“Daddy kalian menunggu di mobil sana.” Reina menunjuk ke arah mobil Alex.


Bersamaan dengan itu, Reina melihat sopir pribadi Alex, Pak Agus, sedang berjalan ke arah mereka sembari tersenyum. Setibanya di depan Reina, pria paruh baya itu sedikit membungkuk. “Sudah selesai, Nyonya?”


Reina mengangguk ringan. Ia lantas berbalik arah menatap guru anaknya lantas berkata, “Terima kasih, Bu. Saya dan anak-anak pamit pulang. Ayo Railo, Raisya, ucapkan terima kasih kepada Ibu Guru.”


Railo dan Raisya menuruti apa yang ibunya katakan. Mereka mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa beriringan.


Terlepas dari itu, ada Alex yang sedang tersenyum menatap anak dan ibu mereka.


“Sedikit menyesal?”


Pak Agus mengangkat tangannya tinggi-tinggi sembari menggandeng tangan Railo yang juga memegang Reina, keempatnya menyeberang menuju mobil Alex. Pria itu membukakan pintu mobil untuk Reina dan kedua anaknya, lantas mengitari mobil untuk pergi ke kursi sopir.


“Daddy!” seru Raisya kencang.


Alex tersenyum sembari menyimpan benda yang dipegangnya ke dalam tas. Tangan pria itu direntangkan, menyambut Raisya ke dalam pelukannya. “Berikan Daddy kecupan, Little Girl.” Sosok ayah itu bersikap manja kepada anak kecilnya.


Sembari melakukan perbincangan kecil, mobil pun melaju menuju kediaman orang tua Alex.


***


“Kita di mana ini, Daddy?” tanya Raisya ketika mereka diturunkan di tempat yang asing bagi Railo dan Raisya.


“Kita akan bertemu seseorang yang sangat special, kalian pasti senang!” seru Alex.


Alex diikuti keluarga kecilnya naik ke depan pintu rumah mewah itu. Sepasang orang tua keluar dari pintu itu sebelum Alex menekan bel, membuat pria itu kini tersenyum lebar.


“Apa kabar, Dad?” tanyanya. Dua pria yang berhadapan itu saling memeluk erat.


“Seperti yang kau lihat, Nak. Sangat sehat!”


“I miss you too, Mom!”


Berbeda dengan Albert yang memeluk Alex sebentar sembari memejamkan matanya hangat, Jessica yang membuka matanya melihat satu wanita dan dua orang anak di belakang Alex sedang tersenyum ke arahnya. Mereka asik berpelukan hingga melupakan bahwa Alex datang dengan orang lain di belakangnya.


Kebingungan jelas terpancar dari tatapan kedua orang tua Alex, membuat Alex berdeham, lantas mengajak mereka semua untuk membicarakannya di dalam saja.


Di dalam rumah, sebelum semua orang duduk, Jessica terlebih dahulu berhambur ke arah Reina, memeluk wanita muda itu penuh kasih sayang. Ia bahkan menatapnya terharu. Jessica sudah menganggap Reina sebagai anaknya sendiri. Ia sangat kecewa ketika saat itu mengetahui fakta bahwa Reina pergi dari rumah dan Alex mengatakan keduanya akan segera berpisah.


“Mom, kita bicarakan dulu.” Reina berucap. Jessica lantas duduk di samping Albert.


“Railo, Raisya, ucapkan hai dan cium tangan Opa dan Oma,” ucap Alex, mengarahkan kedua anaknya untuk mengenal kakek dan nenek mereka. Permulaan utnuk menjelaskan kronologi berikutnya.


Kedua anak kecil yang sudah duduk di samping Alex itu lantas beriringan turun dari sofa dan menghampiri kakek dan neneknya dengan riang. Jessica tersentuh, melihat dua anak menggemaskan itu mendekat padanya dengan antusias. Ia bahkan tidak dapat menahan air matanya, matanya berkaca-kaca ketika Raisya tiba padanya. Wanita itu tersenyum lantas memeluk Raisya erat.


Tidak berbeda dengan Albert, sang kakek. Pria tua itu berkaca-kaca melihat Railo datang padanya sembari tersenyum. Ia melakukan hal yang sama seperti Jessica, memeluk anak itu dengan erat.


“Railo, anak yang tampan.” Albert berbisik pada lelaki kecil di hadapannya.


Alex dan Reina saling menatap lantas tersenyum.


“Railo, Raisya. Boleh Daddy minta untuk bermain di luar bersama Pak Agus?”


Raisya hendak menolak, tetapi Railo nampak mengerti dan segera menarik Raisya dari tempat itu seraya berkata, “Siap, Daddy!”


Reina menggeleng sembari tersenyum melihat kelakuan anak itu.


“Sekarang jelaskan pada Mommy mengapa kau baru datang dengan anak Mommy sekarang, hah?” gertak Jessica.


“Aku yang anakmu, Mom.”


Reina bungkam, ia masih takut jika ia dan Alex mengungkapkan semuanya, Jessica dan Albert tidak akan sukarela menerimanya lagi. Pikir saja, pernikahan mereka dulu itu sebut saja married by accident, bagaimana dua orang tua itu akan menerimanya dengan lapang dada?

__ADS_1


“Mommy, Daddy, maafkan Alex terlalu banyak berbohong kepada kalian selama lima tahun terakhir, aku tidak siap mengungkapkan semuanya. Tetapi, sekarang, anakmu siap menerima konsekuensinya.”


Pria itu mulai menjelaskan secara rinci bagaimana keduanya bisa menikah pada saat itu, mulai dari indiden yang menimpa keduanya, lalu menikah dengan perjanjian, sampai akhirnya Reina memilih pergi tanpa pamit. Pria itu menjelaskan semuanya. Ia juga menjelaskan bahwa saat Reina pergi wanita itu tengah mengandung anak Alex tanpa Alex ketahui.


“Reina saat itu aku temukan di Club Malam, aku tak tahu ternyata dia sedang terpuruk sehingga tidak terkendalikan.” Ya, saat itu ia menjadi gadis yang hancur karena masalah hidupnya yang semakin berat ketika ia tak lagi memiliki orang tua, lalu Alex tambah hancurkan dengan kejadian itu.


“Dan setelah berpisah, Reina aku temukan di kantor, melamar sebagai karyawan baru, sampai akhirnya suatu kejadian membuatku tahu dia tinggal dengan dua anakku selama bertahun-tahun ini.”


Jessica yang mendengarnya lantas beranjak dari duduknya, menghampiri Reina, memeluk ibu muda itu penuh kasih sayang. “Kau wanita hebat, Reina. Terima kasih sudah menjaga anak-anak itu dengan baik, alih-alih melakukan kesalahan seperti wanita lain yang bernasib sama. Kau menjaga mereka sampai mereka tumbuh menjadi anak-anak baik seperti itu. Mommy bangga padamu, Nak.”


Reina turut membalas pelukan itu. “Terima kasih, Mommy. Karena tidak membenciku setelah semua yang terjadi antara aku dan anakmu.”


Alex yang melihat itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Malu. Sungguh, ia malu mengingat semua yang ia lakukan kepada Reina di masa lalu. Ia menganggap Reina sangat rendah, tanpa tahu apa yang terjadi pada gadis itu ketika di tempat mereka pertama kali bertemu.


Sejenak tersirat keinginan membahagiakan wanita itu dan menjadikan ia istri yang sebenarnya kelak. Tetapi, Alex tetaplah Alex, pikiran itu seketika ia tepis demi egonya yang tak mau terlihat lemah di depan seorang wanita.


Alex berdeham. “Ya, Mommy, Daddy. Aku datang ke sini untuk meminta restu. Aku dan Reina akan kembali menikah segera. Demi kebahagiaan anak-anak kami.”


“Tidak. Tidak boleh,” tolak Jessica. Reina sangat terkejut mendengarnya.


“M-maksud Mommy?” tanya Alex panik.


Jessica tersenyum. “Kalian tidak boleh menikah hanya demi anak-anak, kalian juga harus melakukannya demi cinta kalian yang sudah terpisah selama ini.”


Reina tersipu mendengar ucapan wanita itu, ia hampir saja tersenyum kikuk sampai ia melihat wajah Alex dan kembali bungkam karenacanggung, nampak juga ekspresi Alex yang menunjukkan hal sama. Di saat itu juga, Alex terbahak tertawa.


“Baiklah, baiklah, demi itu juga,” ucap Alex.


Keadaan hening sekejap, sebelum pintu terbuka keras, menampakkan dua anak kecil berlarian. Raisya memimpin, sepertinya gadis kecil itu yang menyebabkan semuanya. Railo dan Pak Agus nampak kelelahan di belakang.


“Mommy! Lihatlah Raisya, dia sangat nakal. Aku sudah bilang jangan masuk, tetapi dia memaksa,” adu Railo sembari bernapas memburu. Ia ngos-ngosan!


Reina menggelengkan kepalanya, melihat ke arah Raisya. “Raisya putriku … siapa yang mengajarkanmu tidak sopan? Hayo ….”


Raisya menunduk, netra gadis kecil itu menatap ke arah kakinya yang ia gerak-gerakkan.


“Maaf, aku, kan, ingin sama Oma.”


Masih menunduk, Raisya lantas mendongak ketika melihat kaki ibunya mendekat. “Raisya, kalau Daddy minta seperti itu, Raisya harus menurut, ya?”


“Baiklah, aku akan keluar.” Gadis itu putar balik ke arah pintu dengan mata berkaca-kaca.


Jessica yang melihatnya merasa gemas. Bagaimana mungkin Reina nampak sangat sabar menghadapi anaknya seperti itu. Hal hasil, ia tergerak untuk mendekat pada cucu perempuannya.


“Raisya,” panggil Jessica. Gadis kecil itu hanya berdeham.


Jessica meraih tangannya dan membalikkan badan anak itu. “Astaga, kasihan sekali cucu Oma. Ingin bermain? Kami sudah selesai bicara. Raisya bisa bermain dengan Oma.”


Raisya langsung berantusias, ia mengusap matanya yang sudah berkaca-kaca itu lantas berteriak riang, senang karena bisa memenuhi keinginannya. Sedangkan Reina di belakang mengisyaratkan kepada Jessica seolah tidak mau merepotkannya.


Jessica dengan cepat menggeleng. “Dia cucuku, bagaimana bisa aku merasa direpotkan?” jawabnya.


Alex tersenyum melihat keadaan ini, jujur saja, ia melupakan jati dirinya sebagai seorang pria yang acuh tak acuh dengan keadaan di sekitarnya.


“Mommy, di mana air minum?” Tiba-tiba saja, Railo menanyakan letak air minum kepada Reina.


“Kenapa, Sayang? Kau haus?”


Railo menggeleng cepat. “Aku tidak haus, aku akan memberikannya pada Pak Agus. Pasti Pak Agus lelah dan haus. Ayo cepat, Mommy!”


Albert lantas tertawa dan mendekat pada bocah itu. “Astaga, cucu Opa yang pintar! Ayo, mari kutunjukkan air itu.”


Kebanggaan tersirat dari wajah Albert dan Alex atas sikap bocah itu yang sangat pengertian. Mereka tak percaya, Reina membesarkan pria kecil yang sangat pintar. Tidak habis pikir, dari mana pikiran bijak itu datang untuk anak sekecil Railo.


Ya, akhir yang membahagiakan di hari ini bagi Reina. Ia sangat tak menduga bahwa kedua orang tua Alex akan sangat terbuka padanya, ketakutannya tentang Railo dan Raisya di rumah itu kini tertutup sempurna, justru kedua anaknya akan sangat bahagia di sini.

__ADS_1


__ADS_2