
Reina nampak begitu dekat dengan mereka, Alex merasa tersentuh karena kedua anak itu terlihat sangat menyayangi Reina. Terbukti ketika Reina datang mereka langsung memeluknya bahkan mencium pipi Reina bergantian.
Alex yang merasa dilupakan lantas segera mendekat dan memberi isyarat dengan berdeham, menyadarkan Reina kalau ada ia di sana.
Railo dan Raisya merasa sangat bingung ketika mendengar suara Alex yang berdeham, mereka segera melepas pelukan dari tubuh Reina untuk melihat sumber suara tersebut.
"Siapa kau?" ketus Railo lebih dulu.
"Railo, bicara yang sopan, Sayang," nasehat Reina.
"Fine, Om siapa?" tanya Railo mengulang kata-katanya menjadi lebih sopan menurutnya.
"Apa Om orang jahat? Kita akan melindungi Mommy!" lontas Raisya sembari mengubah posisinya ke depan Reina dengan merentangkan tangan seolah menghalangi Alex untuk menggapai Reina. Railo juga ikut menempatkan diri di depan Reina dengan ekspresi marah miliknya.
Alex yang melihatnya nampak tersenyum karena mereka sangat menggemaskan.
Reina terkekeh, ia mengusap kepala Raisya dan Railo. "Anak pintar, ingin melindungi Mommy?"
"Lalu dia siapa, Mommy?" tanya Railo.
Reina nampak sedikit berpikir, ia rasa ini sudah waktunya. Yaa, meskipun terasa terlalu cepat, tapi ia tak punya pilihan.
"Ibu guru bilang, kalian sangat pintar di sekolah. Dan apa kalian masih ingat apa janji Mommy?"
Mata Raisya dan Railo nampak berbinar, wajah mereka menunjukkan raut yang sangat bahagia. "Benarkah itu, Mommy?" Reina mengangguk.
"Daddy!!" seru Railo dan Raisya. Mereka memeluk Alex dengan bahagia.
Alex yang terkejut lantas menatap Reina seolah meminta penjelasan. Reina hanya menganggukkan kepalanya memberi isyarat untuk ikut memeluk mereka dulu.
Pria itu lantas memeluk Railo dan Raisya yang sudah erat memeluknya. Ia sungguh tersentuh ketika merasakan Railo dan Raisya semakin erat memeluknya, ia benar-benar merasa seperti ayah yang di tunggu pulang kerja untuk bermain bersama.
"Jadi Daddy sudah kembali?" tanya Raisya antusias pada Alex
"Tentu saja, karena Daddy sangat merindukan anak Daddy yang cantik dan tampan ini," jawab Alex dengan lembut lantas mengecup kepala kedua anaknya.
"Aku senang sekali bertemu dengan Daddy!" ucap Railo.
Reina ikut merasakan kebahagiaan anak-anaknya ketika mereka bertemu dengan sosok yang sangat mereka impikan. Tapi ia juga tetap merasa tidak nyaman karena setelah ini ia harus menyiapkan jawaban untuk Alex mengenai kejadian ini.
Setelah asyik berpelukan, Reina menginstruksikan anak-anaknya untuk merapikan mainan di kamar mereka. Hanya untuk mengambil kesempatan berbicara dengan Alex.
Alex menatap tajam ke arah Reina, wajah Reina tertunduk karena merasa canggung dan cukup takut dengan tatapan mengintimidasi milik Alex itu.
"Aku akan meminta penjelasan setelah ini, Reina!" pinta Alex.
Reina mengangguk. "Nanti, setelah makan malam, agar anak-anak tidur. Mereka bisa saja mendengar semuanya."
Alex lantas mengiyakan apa yang Reina katakan. Lantas kembali duduk ke sofa, sedangkan Reina melenggang ke arah dapur, untuk menyiapkan makan malam untuk mereka berempat, termasuk Alex. Karena waktu sudah menunjukkan pukul enam sore.
__ADS_1
Selang beberapa menit anak-anak telah selesai merapikan kamar, terlihat keceriaan di wajah mereka ketika keluar dari kamar. Mereka segera mengambil tempat di samping Alex dengan bahagianya.
"Daddy kemana saja selama ini? Kami sangat merindukan Daddy," tanya Raisya dengan suara sendunya.
"Iya, aku tidak pernah main dengan Daddy seperti teman-teman," tambah Railo.
Alex tersentuh mendengar ungkapan Railo dan Raisya yang masih ia ragukan ikatan darah dengannya.
"Maafkan Daddy, ya, Sayang. Daddy harus bekerja di tempat yang jauh," jawab Alex beralasan.
Reina yang memperhatikan kedekatan mereka dari dapur tanpa sadar meneteskan air matanya. Ia sangat merasa bersalah karena memisahkan mereka dengan ayahnya.
"Maafkan, Mommy," batin Reina.
Selesai memasak, Reina memanggil ketiganya untuk datang ke meja makan dan makan malam bersama.
Mereka berempat makan dengan tenang, ralat, sepertinya hanya tiga, karena Reina merasakan ketegangan di samping Alex.
Setelah menghabiskan makanan masing-masing, Alex mengajak Railo dan Raisya mengobrol sambil menunggu Reina selesai membereskan peralatan makan malam dan juga dapur.
"Bisa katakan pada Daddy nama lengkap masing-masing? Daddy ingin tahu apa ibu guru kalian berkata jujur atau tidak bahwa kalian itu pintar," ucap Alex memulai pembicaraan. Sejujurnya ia ingin mengetahui lebih dalam mengenai mereka.
"Aku dulu! Aku dulu!" teriak Railo antusias.
Alex tersenyum. "Baik, siapa namamu, Sayang?"
Alex mengangguk-angguk mengerti. "Railo, pangeran tampanku," ucap Alex seraya mengusap rambut anak itu, membuatnya tersenyum senang sampai menunjukkan deretan giginya.
"Lalu? Ini adikmu?" Railo mengangguk cepat.
"Aku Raisya In ... ah itu ...," cakap Raisya seperti kesulitan dalam menyebut namanya.
"Raisya Inara Bieber. Begitu saja kau tak tahu!" ejek Railo membuat Raisya merengek mengadu kepada sang ayah.
"Tidak apa-apa, Raisya tetap putri cantikku yang pintar."
Raisya dan Railo lantas kembali memeluk ayahnya.
Tak lama, Reina yang telah membereskan dapur menghampiri mereka di Ruang Tamu untuk menyuruh Railo dan Raisya kembali tidur. Mereka tidak boleh tidur malam-malam.
Kedua anak itu menuruti apa yang Reina katakan. Tidak lupa Reina menyuruh mereka mengucapkan selamat malam kepada ayahnya.
Dengan sedikit murung karena mereka tak memiliki waktu lebih dengan ayahnya, mereka tetap menuruti apa yang dikatakan sang ibu.
"Goodnight, Daddy."
Alex merasa kasihan pada anak-anak itu karena sepertinya mereka masih ingin menghabiskan waktu bersamanya. Karena itu, ia mengajak mereka untuk tidur bersamanya saja.
"Raisya sayang? Mengapa belum tidur?" ucap Alex.
__ADS_1
"Aku masih mau bermain dengan Daddy," ungkap gadis kecil itu dengan manja.
"Besok kita bertemu lagi, cantik, sekarang kau harus tidur karena sudah malam," pinta Alex.
Pria itu mengecup dahi anaknya, mengusap mata gadis kecil itu untuk tidur. Sampai akhirnya Raisya menurut dan mulai memejamkan matanya.
Setelah membujuk anak kembarnya dengan penuh drama, Alex meminta Reina untuk segera keluar dari kamar. Ia ingin segera mendapat penjelasan dari wanita itu.
Belum Alex mengucapkan pertanyaannya, Reina sudah meminta maaf terlebih dahulu dengan apa yang sudah Ia lakukan pada Alex.
"Jadi bisa kau jelaskan apa yang terjadi padaku, Reina?" tanya Alex.
"Jika aku mengatakan mereka adalah anak-anakmu, apa kau akan percaya pada perkataanku?" jawab Reina balik bertanya.
"Tentu saja aku percaya padamu."
"T-tapi aku juga tetap akan mencari tahu dulu kebenarannya," lanjut pria itu.
"Baiklah, lakukan apa yang ingin kau lakukan."
Mengingat hari sudah malam dan ia sudah selesai berbincang dengan Reina, Alex memutuskan untuk pulang ke mansion-nya.
Di perjalanan, pria itu masih saja kepikiran dengan apa yang mantan istrinya ucapkan. Ia memang melihat wajahnya di kedua anak itu, tapi ia rasa tak mungkin karena selama wanita itu bersamanya, ia sama sekali tak menunjukkan ciri-ciri tengah berbadan dua. Maka darj itu ia tak langsung memercayainya.
Saat Reina mengatakan ia bisa melakukan apa yang ingin ia lakukan, Alex sempat mengambil beberapa helai rambut milik Railo dan Raisya. Ia yakin itu cukup untuk melakukan tes DNA.
Ia meminggirkan mobilnya ketika ingat hal itu. Rasanya belum terlalu malam untuk menghubungi Dokter kepercayaannya. Pria itu segera menghubungi salah satu Dokter kepercayaan di Rumah Sakit milik keluarganya, untuk memberitahu kalau ia akan datang ke sana esok hari.
-
Dering jam beker yang ada di kamar Alex menandakan pagi sudah tiba dan kini waktunya pria itu kembali melakukan rutinitas kesehariannya.
Setelah beranjak dari tempat tidur dan membersihkan diri, ia menghubungi Joe untuk memberitahu bahwa ia akan telat sampai di Perusahaan karena memiliki urusan di Rumah Sakit. Juga untuk menyuruh Joe mengatur jadwalnya hari ini.
-
Setelah tak perlu repot-repot mengurus jadwalnya, kini Alex bisa dengan tenang pergi ke rumah sakit itu dan melaksanakan tes DNA agar ia bisa mempercayai pasti apa yang dikatakan Reina.
Begitu sampai di area Rumah Sakit, Alex segera menemui Dokter Rudi, Dokter yang kemarin ia hubungi dan sudah mengatur waktu untuk bertemu. Perlu diketahui, tidak sembarang Dokter yang Alex pilih untuk melakukan Tes DNA ini, tentunya untuk menjamin keamanan hasil laboratorium.
Saling berjabat tangan dan sedikit berbincang, Alex kemudian memberikan sample rambut yang ia simpan baik-baik sejak kemarin.
"Bisa, kan? Hanya dengan helaian rambut seperti ini?" tanya Alex memastikan. Dokter itu mengangguk mengiyakan.
"Tentu saja, Pak Alex. Setelah uji laboratorium beberapa hari, hasilnya akan langsungn saya kirimkan kepada Bapak nanti."
Setelah menyerahkan sample dari Railo dan Raisya, kini giliran Alex yang diambil sample DNA-nya oleh Dokter tersebut.
Mereka kembali berjabat tangan setelah semua selesai dilakukan. Alex juga memilih kembali ke kantor dan mengurus pekerjaannya di sana. Ia yakin Joe sudah mengatur jadwalnya dengan baik, jadi ia tak perlu khawatir banyak tugas yang terbengkalai
__ADS_1