Failed Marriage!

Failed Marriage!
Ep 8


__ADS_3

Hari demi hari terus berganti seiring bulan dan mentari bergiliran menerangi bumi. Hasil laboratorium dari tes DNA yang Alex lakukan kini siap diluncurkan kepada penerimanya. Alex menerima surat hasil laboratorium itu pagi hari saat dirinya baru hendak berangkat ke kantor. Dokter Rudi yang telah mengirimnya lewat pos.


Mata Alex terbelalak sempurna kala melihat hasil DNA Alex dan dua anak kembar itu cocok 100%.


Itu artinya, apa yang Reina katakan memang benar adanya.


Teringat ia pernah berjanji pada Raisya untuk kembali ke sana, Alex teringat bahwa ia belum juga menepati janji itu. Pria itu juga teringat pada kelakuan menggemaskan dari kedua anak-anaknya, membuat ia semakin merindukan mereka.


Ia lantas merogoh saku celananya dan segera menghubungi Reina. Ia ingin tahu apa yang sedang kedua anaknya lakukan.


"Halo? Siapa ini?" tanya Reina di seberang telepon.


"Ini aku, Alex," sahut Alex.


Terdengar helaan napas berat dari mulut Reina. "Untuk apa kau menghubungiku sepagi ini?”


"Dimana anak-anakku?" tanya Alex to the point.


"Oh? Sudah yakin?" cibir Reina.


"Kubilang aku memang percaya kepadamu, aku hanya menguji keakuratan kata-katamu."


"Apapun itu, aku tak peduli. Mereka sedang bersiap menuju sekolah sekarang," pungkas Reina.


Alex mendengar teriakan Raisya yang memanggil ibunya di sambungan telepon itu. Membuat ia semakin bersemangat, lantas tanpa membalas ucapan Reina, Alex menutup panggilan teleponnya.


Mengingat jam kerja kantor memang belum dimulai, Alex yang tadinya ingin datang lebih awal memilih pergi ke apartemen Reina terlebih dahulu. Ia tak mau kehilangan kesempatan mengantar anak-anaknya ke sekolah untuk pertama kali.


-


Suara bel terdengar beberapa kali di apartemen Reina. Sepertinya tamu yang satu ini memiliki etika rendah dalam berkunjung ke rumah orang lain.


Reina yang memang hendak keluar dari apartemen lantas melangkah menuju pintu dan membukanya.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Reina ketus ketika melihat sang tamu yang menampakkan wajah datarnya.


“Tadi aku sudah menghubungimu, kuharap kau mengerti sedang apa aku di sini," balas Alex.


"Baiklah!" sahut Reina malas.


Setelah di persilahkan tuan rumah untuk masuk, tanpa berpikir panjang Alex segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen sederhana itu, mencoba untuk memberi kejutan untuk kedua anaknya.


Railo serta Raisya yang sedang bersiap di ruang tamu untuk berangkat sekolah, seketika menghentikan kegiatannya. Langsung berlari ke pelukan Alex begitu mereka tahu bahwa Daddy kesayangan mereka telah datang.


"Daddyy!" teriak Railo dan Raisya bersamaan. Mereka sangat antusias.

__ADS_1


"Daddy-mu di sini sayang," sambut Alex dengan memeluk kedua anak kembarnya.


"Aku sangat merindukan Daddy, mengapa Daddy sangat lama untuk kembali ke sini?" ucap Raisya dengan raut wajah cemberutnya.


"Iya, maafkan Daddy, ya. Pekerjaan Daddy terlalu banyak," jawab Alex beralasan agar putri kecilnya tidak merajuk.


Setelah asyik berpelukan, Alex menuntun anak-anaknya kembali ke ruang tamu untuk meneruskan kegiatan mereka yang terhenti.


"Lanjutkan bersiapnya, ya," ucap Alex dibalas anggukan antusias kedua anak itu.


"Apa kalian sudah sarapan?" lanjut pria itu bertanya, setelah mereka kembali duduk di sofa.


"Tentu saja sudah, Mommy memasak nasi goreng untuk kami!" sahut Raisya.


Alex menunjukkan raut wajah penasaran. "Oh, betulkah itu?"


"Betul, Daddy! Masakan Mommy sangat lezat!" tambah Railo.


"Baiklah Daddy percaya pada kalian. Sekarang cepat pakai sepatunya, nanti kalian terlambat," ujar Alex.


Dengan hati yang begitu senang, Railo dan Raisya segera menyelesaikan persiapan berangkat sekolahnya, tinggal memakai sepatu mereka dan mereka siap untuk pergi.


"Ayo berangkat, Mommy!" seru Raisya.


"Hari ini, Daddy yang akan mengantarkan kalian sekolah, apa kalian setuju?" tawar Alex pada Anaknya.


"Yah, Mommy," jawab kedua anaknya secara bersamaan. Padahal tadi hati mereka sudah kompak ingin langsung mengiyakan tawaran itu.


Alex menatap tak percaya pada Reina. "Apa maksudmu?"


"Tidak ada. Aku hanya tak ingin kau yang mengantar mereka. Mereka, kan, anak-anakku," jawab Reina dengan santai.


"Lho? Mereka juga anak-anakku, jadi aku berhak untuk mengantar mereka, bukan?" timpal Alex. Mereka nampak tak ingin berbagi rasa cinta kedua anaknya, sungguh kekanak-kanakan.


Karena rasa keras kepala yang sama-sama mereka punya, akhirnya terjadi perdebatan tak berguna di dalam apartemen Reina pagi ini. Sedangkan anak kembar mereka hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah kedua orang tuanya.


Setelah puas beradu mulut beberapa menit lamanya, Alex membawa kedua anaknya keluar dari apartemen tanpa persetujuan dari Reina. Railo dan Raisya terkekeh geli lantas berlari menyetarakan langkah kaki dengan sang ayah.


"Berdebat denganmu hanya akan membuat anak-anak kita terlambat!" sembur Alex.


Reina yang menyadari kelakuannya hanya berdebat tak berguna lantas menatap punggung tiga orang itu yang perlahan menghilang dibalik pintu.


Wanita itu menepuk jidatnya seraya geleng-geleng kepala. "Ada-ada saja. Tapi tak apalah, yang penting Putri dan Pangeranku bahagia."


Sejujurnya ia masih tidak percaya kalau Alex akan mengetahui keberadaan anak-anaknya sebegitu cepat. Bahkan dari jalan yang tak terpikirkan olehnya. Ia kira mereka akan tidak sengaja bertemu di jalan, atau Alex mencari tahu keberadaannya. Tapi ternyata justru Reina yang seakan menyerahkan diri pada pria itu.

__ADS_1


Tak lama ia berpikir, wanita itu segera merapikan sedikit kekacauan di apartemennya karena ulah anak-anak, lantas bergegas menyusul anak-anaknya untuk ikut mengantar mereka ke sekolah.


Sampai di parkiran, Alex, Railo dan Raisya nampak menunggu kedatangannya. Ia lantas mempercepat langkah sedikit berlari, mendekat pada mereka.


"Baiklah, Mommy sudah tiba. Ayo sekarang kalian masuk mobil," suruh Alex pada kedua anaknya.


“Okay, Daddy!" sahut mereka serentak.


Reina yang melihat anak-anaknya masuk di kursi belakang, cukup canggung untuk membuka pintu mobil depan. Ia akan berakhir duduk di samping Alex jika membuka pintu depan itu.


Melihat Reina yang masih saja mematung di tempatnya, Alex membuka kaca mobil dan berteriak, "Apa kau tidak mau ikut? Cepat masuk!"


Wanita itu dengan ragu membuka pintu belakang, ia tak mungkin duduk di samping Alex. Tapi pria yang tengah memenuhi pikirannya itu kembali berujar, "Apa kau ingin menjadikanku seorang sopir? Astaga!"


Nampak kikuk, Reina segera menutup pintu yang sudah ia buka, lalu mengitari mobil untuk pindah ke kursi depan. Tak lama setelah masuk, pria di sampingnya lantas melajukan mobil menuju sekolah Railo dan Raisya.


Perjalanan mereka terasa sangat cepat meskipun sebenarnya juga tidak selama itu. Sepanjang perjalanan mereka dipenuhi banyak hal lucu yang Railo dan Raisya lakukan. Hingga tak terasa mereka sudah sampai di sekolah.


Kedua anak itu bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam sekolah dengan diantar oleh Alex dan Reina sampai gerbang. Mereka bilang tak mau diantar sampai kelas oleh orang tua, karena mereka anak-anak yang pemberani.


"Belajar yang pintar, ya, Sayang!" seru Alex dan Reina bersamaan, membuat anak-anak mereka tertawa karena ekspresi yang mereka keluarkan setelahnya.


"Ikut-ikutan saja!" cibir Reina, Alex mendelik.


"Kami paham, Mommy! Daddy! Dahh!" sahut Railo dan Raisya berturutan.


Setelah melihat kedua anaknya masuk ke dalam sekolah dan perlahan menghilang dari pandangan, Alex melangkahkan kaki ke arah mobilnya. Ia juga bermaksud mengajak Reina, tapi wanita itu malah melangkah ke arah lain, ia yakin itu arah halte bus.


"Cepat masuk, kau harus pergi ke kantor bersamaku!" suruh Alex tanpa penolakan seraya menarik tangan Reina ke sana.


Reina menghela napas panjang lantas menghembuskannya dengan kasar. "Sebenarnya apa maumu dengan melakukan ini semua?" tanya Reina. Pria itu tak menjawab sama sekali.


Aura kesunyian terpancar di dalam mobil, tidak ada satu patah katapun yang keluar dari bibir keduanya, bahkan setelah mobil berjalan cukup lama. Sampai akhirnya Alex tiba-tiba memarkirkan mobil di sebuah Cafe tak jauh dari kantor. Hanya tinggal setengah kilometer dari sana untuk sampai ke kantor.


Alex keluar mobil terlebih dahulu seraya tak lupa meminta Reina mengikutinya. "Tak perlu banyak alasan, kantor itu milikku," lontar pria itu.


Dengan terpaksa, Reina mengikuti di belakangnya.


Para Pelayan Cafe menyapa hormat kala Alex melangkahkan kakinya ke dalam. Seolah tak asing lagi sosok pria itu di mata mereka.


Alex memilih duduk di pojokan Cafe, alasannya agar lebih tenang saat mengobrol. Pria itu kemudian memesan minuman dan beberapa cemilan untuk menemani pertemuan mereka yang tak terencana ini.


Ia tidak bertanya apa yang diinginkan Reina, hanya langsung memesan apa yang ia pikirkan.


"Selamat menikmati, Tuan dan Nona!" ujar Pelayan yang datang beberapa waktu setelahnya, sembari meletakkan satu persatu pesanan ke atas meja.

__ADS_1


"Terima kasih, ya," ucap Reina sopan. Sedangkan yang membawanya ke sana hanya berdeham dan mengangguk menanggapi pelayan itu.


__ADS_2