
Suasana begitu bahagia, akhirnya Alex bisa mendengar teriakan anak-anak di mansion yang selama ini ia tinggali sendiri dengan beberapa pekerja di sana. Tapi kini, suasana mulai menghangat karena kehadiran Railo dan Raisya.
Kedua anak kesayangan Alex itu nampak takjub dengan mansion yang mereka masuki ini. Mereka berteriak senang dan berlari-lari di sana, membuat kebahagiaan Alex berlipat-lipat rasanya.
Sedangkan Reina tidak memberi respon seperti anak-anaknya. Ia merasa wajar saja, karena Alex adalah seorang CEO dari Perusahaan yang berjaya.
Reina terkadang merasa kagum dengan Alex yang sudah memiliki keberhasilan sebesar ini. Tapi lihatlah dirinya? Apa daya, dia hanya orang yang biasa saja, bisa kerja di Perusahaan milik Alex saja sudah membuat Reina sangat bersyukur.
***
Setelah puas mengajak Railo dan Raisya berkeliling di mansion, Alex mengajak ketiga anggota keluarganya ke kamar masing-masing.
Mulai saat ini juga Alex memisahkan kamar Railo dan Raisa, mereka akan tidur secara terpisah di kamar masing-masing. Menurutnya ini penting karena mereka akan terus bertambah besar jadi harus dibiasakan terpisah kamar sejak sekarang.
Pertama-tama mereka menuju ke kamar Raisya. Waktu singkat semalam Alex gunakan untuk menyuruh seseorang mendekor kamar Raisya. Kini kamar itu sudah nampak bernuansa merah muda diselingi warna-warna putih, dengan boneka-boneka dan mainan anak perempuan yang disiapkan para pembantu pagi tadi.
Setelah melihat kamarnya begitu bagus, Raisya jadi tak mau ikut untuk melihat kamar Railo. Katanya ia ingin bermain di sana saja.
Reina yang mendengar itu tersenyum dan mengusap kepala Raisya sebelum ia tinggalkan untuk melihat kamar Railo.
Alex menggendong Railo kala mengajak lelaki kecil itu melihat kamar barunya.
Setibanya di kamar, Railo melihat kamarnya di-design berwarna biru dan putih, tidak lupa juga banyak mainan-mainan yang telah Alex sediakan untuk Railo.
Lelaki kecil itu nampak sangat senang. Ia langsung menyerbu mainan robot yang sudah terpampang berjajar di lemari. Tak lupa ia mencium pipi sang ayah sebagai tanda terima kasih.
"Terima kasih, Daddy! Aku sayang Daddy!" serunya bahagia.
Setelah melihat kamar anak-anaknya, Reina segera membereskan pakaian mereka. Memindahkan pakaian-pakaian itu dari koper yang sudah dibawakan ke kamar masing-masing. Dimulai dari Railo, kemudian Raisya.
Selepas mengurus dan membereskan keperluan kedua anaknya, kini giliran Reina yang bertanya pada pemilik mansion di mana kamar yang akan ia tempati.
__ADS_1
Alex langsung menginstruksikan agar Reina mengikutinya tanpa rasa curiga.
Tetapi tidak ketika setibanya Reina di kamar itu. Baru saja satu langkah, sudah tercium semerbak aroma parfum pria di ruangan bernuansa hitam putih ini. Wanita itu mulai berpikir kalau ini adalah kamar milik Alex. Lalu, apa maksud pria itu membawanya kemari?
Alex mulai membuka suara kala Reina mulai kebingungan dan melihat banyaknya pernak-pernik pria di kamar itu. Pria itu menyampaikan pada Reina, bahwa mereka akan tidur satu kamar bersama sebab mereka telah memutuskan akan segera menikah dalam beberapa hari ke depan. Jadi, bukan masalah besar jika mereka tidur bersama.
Kecanggungan mulai terjadi di antara keduanya, terutama pada hati Reina.
"Aku? Akan tidur bersamanya mulai malam ini?" batin Reina dengan jantung yang berdetak kencang layaknya musik pesta.
Alex yang menyadari kekikukan di antara mereka berdua lantas menyuruh Reina untuk segera membereskan barang dan pakaiannya di dalam lemari. Setelah selesai ia meminta Reina segera turun ke ruang keluarga untuk berbincang bersama dengan tak lupa mengajak anak-anaknya.
Mencoba menghapus kecanggungan, Reina menuruti setiap perkataan Alex tanpa membantah. Ia segera membereskan pakaiannya, menepis setiap pikiran yang memikirkan bagaimana mereka malam ini.
Setelah semua selesai dan rapi, Reina mulai mendatangi kamar kedua anaknya, mengajak mereka ke ruang keluarga atas perintah ayahnya.
Derap langkah kaki Reina menyusuri ubin demi ubin di mansion itu, menuju kamar anak kembarnya.
Masuk ke dalam kamar putranya, Reina melihat lelaki kecil itu masih asyik bermain dengan Robotnya. Railo langsung berlari ke pelukan Reina kala melihatnya ibunya itu membuka pintu.
Railo mengangguk. "Tidak apa-apa, Mommy! Aku sudah puas bermain!" serunya membuat Reina mencium pipinya gemas.
"Daddy memanggil kita untuk menonton televisi, apa Railo mau ikut?" ajak Reina dengan meminta persetujuan Railo.
Ketika sang anak mengangguk mengiyakan, Reina lantas menuntun tangan Railo dan berjalan menuju kamar Raisya.
Setibanya di sana, Reina mengetuk pintu sekali dan meminta izin kepada putrinya untuk masuk. Tetapi Reina tak juga mendapatkan respon yang sama seperti saat memasuki kamar putranya. Hanya ada keheningan.
Tanpa berpikir panjang, Reina segera membuka pintu kamar Raisya sebab penasaran dengan apa yang dilakukan putri kecilnya itu sehingga tak menyahuti panggilannya.
Ketika masuk, Reina mendapati sang putri tengah tertidur pulas. Cukup terkejut juga karena kamarnya begitu berantakan padahal baru saja ditinggalkan sebentar setelah tadi ia merapikan pakaian gadis kecil itu.
__ADS_1
Sebelum membangunkan putri kecilnya, Reina terlebih dahulu membereskan mainan yang berserakan di lantai itu. Ia sungguh tak habis pikir bagaimana bisa Railo yang seorang laki-laki lebih rapi daripada adiknya yang perempuan ini.
Ia membereskan mainan-mainan itu bersama putranya. Lelaki kecil itu membantu tanpa Reina minta, sungguh membuat Reina sangat terharu karena kebaikannya.
Setelah semua sudah rapi, Reina langsung membangunkan Raisya yang masih tertidur dengan boneka di pangkuannya. Wanita itu membangunkannya dengan hati-hati, berharap gadis kecil itu tak marah ketika ia bangunkan.
"Raisya sayang, apa kau mau ikut Mommy menonton televisi dengan Daddy?" Dengan keadaan masih mengantuk, Raisya mengangguk dan meminta Reina menggendongnya.
Setelah mengajak kedua buah hatinya, Reina lantas turun ke ruang keluarga dengan satu tangan menggendong Raisya dan satu tangan menggandeng tangan Railo.
Terlihat Alex sedang menunggu sambil asyik membaca koran tanpa menyadari kedatangan ketiga anggota keluarganya. Railo pun berniat untuk mengagetkan sang ayah karena nampak tak menyadari derap langkah Railo.
"Dor!" seru Railo seraya menepuk pundak ayahnya.
Alex nampak sedikit mengerjat, membuat Railo tertawa terbahak-bahak karena berhasil dengan rencana mengagetkannya.
"Anak nakal! Kemari Daddy gigit kau, ya!" seru Alex seraya menyimpan korannya dan segera mengejar Railo yang terlebih dahulu lari dari kejaran Alex.
Kebetulan hari ini adalah hari minggu, Alex terlihat begitu santai tanpa memikirkan pekerjaannya.
Berhasil menangkap sang putra yang berlarian seraya tertawa, Alex menggendongnya dan menggelitik perut anak itu. Membuatnya semakin terbahak-bahak tertawa.
Menyadari keributan itu, Raisya mulai terbangun dan menggosok matanya agar tak lagi mengantuk.
Setelah beberapa waktu duduk bersama di sana, dua pembantu rumah itu datang membawakan cemilan dan minuman untuk menemani perbincangan keluarga kecil itu.
Alex mulai membahas tentang perubahan yang akan ia lakukan. Mulai dari memindahkan sekolah anak-anak ke lokasi yang lebih dekat dengan kantor, sampai menyampaikan bahwa Reina harus resign dari pekerjaan setelah menikah.
Mulanya Reina hanya mengangguk-angguk paham kala Alex mengatakan Railo dan Raisya akan pindah sekolah. Namun ia cukup terkejut kala mendengar pernyataan Alex tentang resign dari pekerjaan. Ia mulai memikirkan target-target yang ingin ia capai dari hasil kerja kerasnya sendiri.
Padahal yang Alex katakan itu wajar saja, karena jika mereka menikah artinya Reina menjadi Nyonya Alexander Leonel Bieber. Istri dari seorang CEO ternama, tidak mungkin harus bekerja di perusahaan suaminya sendiri, bukan?
__ADS_1
Alex juga meminta Reina fokus saja mengurus kedua anaknya. Ia tak boleh meninggalkan mereka seperti sebelumnya.
Dengan berat hati, Reina menyetujui apa yang dikatakan oleh Alex. Ia juga setuju bahwa semuanya adalah demi anak-anak mereka. Jadi, untuk apa juga Reina mempertahankan targetnya.