Failed Marriage!

Failed Marriage!
Ep 14


__ADS_3

Hari-hari santai bersama keluarga sudah Alex dan Reina lewati. Yaa, bisa dibilang ini menjadi suatu permulaan sebelum semuanya kembali ke bentuk yang diinginkan. Alex dan Reina harus memastikan anak-anaknya nyaman di rumah baru mereka. Jadi, tiga hari ini, Alex dan Reina sama-sama cuti dari urusan kantor, menghabiskan waktu hanya untuk Raisya dan Railo.


Pagi ini, kesibukan keluarga kecil itu kembali dimulai. Alex dan Reina akan kembali ke kantornya sedangkan Railo dan Raisya akan berangkat ke sekolah barunya. Iya, selain menghabiskan waktu bersama keluarga, Alex juga mengurus kepindahan kedua anaknya menuju sekolah baru. Sekolah itu terletak tak jauh dari kantor milik Alex sehingga ia dan Reina tidak terlalu khawatir untuk meninggalkan keduanya di sekolah. Letak sekolah yang lebih dekat juga memudahkan Reina untuk memantau kedua anaknya.


Mansion yang ditinggali mereka kini sedikit terdengar ricuh karena antusias Railo dan Raisya menyambut sekolah baru. Meskipun kemarin kedua anak itu mengeluh sebab tak dapat lagi bertemu guru kesayangan mereka, tetapi setelah diberi pengarahan oleh Reina, hasilnya, ya, saat ini. Bisa dilihat, pikiran kedua anak itu berubah drastis dari sebelumnya.


“Mommy, apakah sekolah itu benar-benar akan menyenangkan seperti yang Mommy bilang?” tanya Raisya.


Reina tersenyum manis. “Tentu saja, Sayang. Apa kamu tidak percaya dengan Mommy?”


Dengan cepat Raisya menggeleng, lalu diteruskan dengan menjawab, “Aku percaya dan aku tidak sabar!”


Meninggalkan percakapan Raisya dan Reina di dapur, rupanya Railo yang sudah di meja makan bersama sang ayah sama berisiknya dengan Raisya di dapur sana. Dengan duduk di pangkuan ayahnya, ia terus mengoceh, “Daddy, nanti di sana aku akan punya lebih banyak teman, kan?”


“Apa gurunya akan baik seperti Ibu di sekolah itu?”


“Benarkah akan ada ayunan dan perosotan yang lebih banyak?”


“Aku bisa melihat Daddy bekerja dari lantai atas sekolah itu?”


Alex menggeleng-gelengkan kepalanya sembari terkekeh. “Kau ini! Bagaimana Daddy akan menjawab jika kau bertanya begitu banyak pertanyaan?”


Railo memberikan cengiran tanpa dosa-nya.


Ibu dari anak itu nampak keluar dari dapur. Sebenarnya, ia tidak menyiapkan masakan untuk sarapan tadi. Hanya mengecek apa saja yang masih dimasak oleh para pembantu di rumah. Untuk makanan berat sendiri, semuanya sudah tersaji di meja makan sedari tadi.


Netra Reina menangkap sang putra tengah dengan manjanya duduk di pangkuan Alex. Wanita menggeleng-geleng sembari tersenyum, ia menarik kursi yang seharusnya diduduki Railo sembari berkata, “Pangeranku, ayo, duduk sendiri di sini. Daddy ingin makan, apa kau akan terus mengganggu Daddy seperti itu?”


“Iya, Railo sangat manja!” cibir Raisya.


Railo mendelik. “Biarkan saja. Kau ini selalu iri!”


“Railo, Raisya, tidak boleh bertengkar seperti itu. Ayo, cepat duduk dan Mommy akan isi piring kalian, kita akan terlambat jika terus berbicara.” Penjelasan Reina membuat kedua anaknya langsung menutup mulut mereka.


Reina lantas menyiapkan makanan kedua anaknya, tak lupa milik Alex juga. Jujur saja, ia masih merasa ragu dan kikuk berada di hubungan seperti ini dengan Alex. Ia tak tahu, apa yang tengah ia rasakan kepada pria itu. Hatinya merasakan sebuah kebingungan dan rasa yang bimbang. Ia bahkan tak berani utnuk memiliki percakapan santai dengan pria itu.


“Cukup, jangan terlalu banyak untuk hari ini,” ucap Alex ketika Reina hendak kembali menambahkan nasi ke piringnya.


Reina lantas celingukan mencari masakan yang sekiranya disukai Alex di meja makan itu.

__ADS_1


“Berikan saja yang ada. Semua makanan di meja ini tidak ada yang aku benci.” Alex berbicara seolah tahu apa yang ada di pikiran Reina.


Setelah memastikan ketiga anggota keluarganya siap untuk makan, ia menyiapkan makanannya sendiri. Mereka lantas menikmati sarapannya dengan khidmat.


***


Tas dan perlengkapan sekolah anak-anak Reina sudah wanita itu siapkan sejak pagi mereka masih tidur. Kini tinggal Reina berikan dan mereka siap untuk segera berangkat. Tetapi, sebelum itu Reina terlebih dahulu memberi pesan kepada kedua anaknya.


“Dengarkan Mommy, makan siang sudah Mommy siapkan di tas masing-masing. Railo dan Raisya tinggal mengambilnya di sini, okay? Jika kesulitan, kalian bisa meminta tolong kepada Ibu Guru. Mengerti?”


Wanita itu, melakukan tugas sebagai seorang ibu dengan sangat baik. Ia menjelaskan hal ini dan itu dengan hati-hati sehingga kedua anaknya tidak pernah bingung dan langsung mengerti. Sejujurnya hal ini membuat Alex semakin yakin untuk menikahi Reina. Kedua kalinya. Ia sekarang berpikir bagaimana dirinya saat itu berpikir untuk membawa kedua anaknya tanpa Reina, akan jadi apa dua anak itu jika hanya bersamanya?


“Baik, Mommy! Kami mengerti,” ucap Railo dan Raisya bersahutan.


Dua anak beserta ibu dan ayahnya itu menaiki mobil yang sudah siap melaju di depan mansion mereka. Setelah keempatnya masuk, mobil melaju menuju taman kanak-kanak.


***


Railo dan Raisya turun dari mobil dengan bersemangat. Mereka berhamburan ke gerbang sekolahnya.


“Railo! Raisya! Tunggu Mommy!” ucap Reina sedikit bertetriak, sedangkan Alex dengan santai keluar dari mobilnya dengan kacamata dan masker hitam. Ya, ia tidak bisa menunjukkan wajah ketika bersama keluarga kecilnya, sebelum pernikahan dirinya dan Reina berlangsung.


“Dengarkan Daddy, kalian tidak boleh nakal, patuhi apa yang Ibu Guru katakan.”


“Di dalam sana ada tangga dan jika naik bisa melihat tempat Daddy bekerja, di sana. Tapi, kalian tidak boleh naik jika Ibu Guru tidak membolehkannya, mengerti?”


“Jika kalian melanggar apa yang Daddy katakan, Daddy akan pergi kerja ke tempat yang jauh lagi, bagaimana?”


Raisya refleks menggeleng keras ketika mendengar ancaman Alex. “Tidak, kami tidak akan nakal, kami berjanji!” ucap Raisya, disusul anggukan Railo.


Alex tersenyum lalu berjongkok untuk mengusap kepala kedua anaknya. “Anak-anak Daddy yang pintar,” puji sosok ayah itu.


Reina lantas menggandeng kedua anaknya ke dalam sekolah, dekat dari gerbang, sudah ada guru yang sudah Alex hubungi untuk mengurus Railo dan Raisya. Reina lantas menyerahkan dua anak kembar itu kepadanya. “Saya titip anak saya, ya, Bu. Saya kabari jika nanti saya hendak menjemput.”


Guru itu tersenyum. “Tentu saja, anak Ibu Reina dan Pak Alex akan aman bersama saya.” Setelahnya, wanita itu menggandeng Railo dan Raisya masuk ke dalam kelas.


Selepas memberikan arahan dan memastikan kedua anaknya masuk ke kelas, Alex kembali masuk ke mobil dengan mempersilakan Reina masuk lebih dulu. Tetapi, rupanya wanita itu nampak menggeleng, menolak.


“Kita tidak bisa berangkat bersama sebelum kita memublikan hubungan. Aku tidak perlu ikut ke mobil, lagipula aku hanya perlu berjalan ke persimpangan dan menyeberang. Itu dekat,” jelas Reina. Tidak ada penolakan dari Alex, ia mengangguk lalu masuk ke mobil seorang diri. Reina sedikit tersenyum pada Alex sebelum mobil itu berjalan lebih dulu.

__ADS_1


***


Jam kerja pagi sampai tengah hari berjalan lancar seperti yang Reina harapkan. Kini, Reina sedang merapikan berkasnya sebelum memutuskan keluar, menghabiskan waktu istirahat yang perusahaan berikan. Tetapi, belum satu langkah dirinya hendak meninggalkan meja kerja, Sekretaris Pribadi Alex menghampiri, membuat Reina mengurungkan niatnya.


“Siang, Bu Reina. Pak Alex tadi menyuruh saya untuk memanggil Ibu, ditunggu di ruangannya sekarang juga, ya, Bu.” Wanita yang nampak masih mudaitu berbicara ramah.


“Sekarang juga?” Reina memastikan, dibalas anggukan Sekretaris itu.


Dengan mengiyakan apa yang wanita itu katakan, Reina segera bergegas menuju ruangan Alex. Meskipun masih satu gedung kantor, tempat mereka bekerja rupanya cukup jauh. Ruangan Alex bisa dibilang sangat tersembunyi, membuat Reina sesekali membuang napas jengah, melihat seberapa jauh lagi ia akan berjalan.


Setibanya di depan ruangan, Reina mengetuk pintu tiga kali sampai sebuah suara bariton milik Alex menyahut dari dalam. Pintunya sedikit terbuka, jadi suara pria itu terdengar jelas. Alex nampak langsung berdiri menyambut kedatangan Reina. Pria itu mempersilakan Reina untuk duduk di sofa dalam bilik untuk berbicara, tak lupa wanita itu menutup pintu terlebih dahulu.


“Aku mau istirahat, jadi jika tidak begitu rumit, tolong percepat,” ucap Reina tak berantusias. Ia cukup kesal karena Alex merusak jam istirahatnya.


Alex menatapnya sekilas. “Ini rumit, jadi tak usah berbicara.”


“Jadi?” tanya Reina singkat, meminta penjelasan.


Alex menarik napas sebelum duduk di sofa, berseberangan dengan Reina. “Sehabis dari sini, kita ke rumah Daddy dan Mommy. Jelaskan maksud kita untuk kembali menikah.”


To the point memang, tetapi justru membuat Reina nampak sedikit ragu untuk menjawabnya.


“Hari ini juga? Apa tidak besok saja? Atau saat waktu libur nanti?”


“Ini sangat mendadak.” Reina memprotesnya.


Alex menggeleng. “Tak usah membantah, aku ingin pernikahan dilakukan secepatnya agar tidak rumit menutupi hubungan seperti saat berangkat tadi.”


“Tetapi kau tidak berpikir! Bagaimana mungkin aku bertemu Mommy dan Daddy tanpa persiapan seperti ini?!” ucap Reina sedikit membentak, membuat Alex menatap sekilas keluar, takut-takut seseorang sedang mendekat dan mendengar suara wanita itu.


“Semua akan baik-baik saja, apa yang harus kau persiapkan? Kau harus percaya, Reina.”


Belum sempat Reina menjawab, pria itu menambahkan. “Ini semua demi kebahagiaan anak-anak kita, jadi berhentilah bersikap egois.”


Pernikahan.


Ini semua tentang sebuah pernikahan. Tentu saja, itu membutuhkan restu dari orang tua. Terlebih lagi, Alex dan Reina akan melibatkan dua anak yang terbilang asing untuk kedua orang tua Alex, meskipun mereka memang anak kandung Alex.


Dengan menggigit jarinya gugup, Reina sama sekali tak berniat menjawab. Ia ingin mengiyakan tetapi ia tidak siap, ia ingin berkata tidak tetapi itu hanya akan membuat sebuah perdebatan kembali berlangsung di antara mereka berdua. Akhirnya Reina memilih berpamitan tanpa jawaban, ia meninggalkan ruangan Alex dan menuju ke arah kantin kantor sebab waktu istirahat tinggal sedikit lagi.

__ADS_1


__ADS_2