
Pagi ini hari sangat cerah, menambah semangat dalam diri Alexander Leonel Bieber dalam perjalanan menjemput anak-anaknya.
Sedangkan di apartemen Reina, koper-koper sudah berjejer tanda siap untuk di angkut. Railo dan Raisya pun sudah siap dari pagi-pagi sekali karena begitu antusias, tak sabar akan tinggal bersama ayahnya.
Kedua anak kembar itu terus saja berteriak, "Kita pindah! Kita pindah!"
Kini, mereka sudah mulai merasa bosan dan mulai mengeluh kapan ayah akan datang, kenapa lama sekali, dan banyak ocehan lainnya.
Reina hanya tersenyum melihat banyak ekspresi random yang anak-anaknya keluarkan. Mereka sungguh menggemaskan. Reina jadi teringat dengan kejadian kemarin, jika saja ia tidak menerima permintaan Alex, ia rasa ia tak akan bisa hidup lagi. Kedua buah hatinya tak bisa lagi ia perhatikan seperti sekarang ini.
Wanita itu kini sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Tak lupa menambah satu porsi karena bisa saja Alex sudah datang sebelum mereka sarapan. Mau tak mau, ia harus mengajak Alex sarapan, bukan?
Meski ia tak yakin pria itu menerimanya, tapi sediakan sajalah.
"Railo, Raisya, ayo kita sarapan dulu!" panggil Reina.
__ADS_1
Tapi baru saja kedua anak itu beranjak hendak ke meja makan, suara bel mengalihkan atensi mereka. Mereka sudah yakin itu adalah ayah mereka sehingga keduanya berlari menuju pintu dan membukakannya.
"Daddy!" seru keduanya.
Alex langsung memeluk kedua anak itu, tak lupa mencium pipi keduanya.
"Mulai nakal, ya! Mommy menyuruh kalian makan, malah berlari menyambut Daddy yang datang. Ck ck ck, ayo cepat! Sarapan dulu, ya?" cerocos Reina seraya berkacak pinggang, dengan raut wajah marah yang hanya dibuat-buat.
Kedua anaknya cengengesan, mereka langsung turun dari pangkuan Alex dan berlari menuju meja makan. "Kita makan!" teriak keduanya.
"Sudah, kau tidak usah khawatir. Sekarang ikut saja ke meja makan, aku yakin kau belum makan," ucap Reina seraya melenggang menuju meja makan, menyusul kedua anaknya yang sudah mengoceh di sana.
"Apa kau serius menawariku sarapan?" tanya Alex basa-basi dengan mengikuti langkah Reina.
"Aku sedang tidak bercanda. Kalau kau tak mau, aku tidak memaksa," sahut Reina dengan nada yang cukup ketus.
__ADS_1
Alex terkekeh kecil, lantas mendudukkan dirinya di salah satu kursi meja makan. Pria itu memutuskan itu sarapan bersama. Lagipula memang benar apa yang Reina katakan, ia belum sarapan karena ini masih pukul setengah tujuh kurang, bukan waktu Alex biasanya melakukan sarapan.
***
Sarapan keempat anggota keluarga kecil itu kini selesai. Alex sudah memasukkan satu persatu koper yang sudah Reina siapkan ke bagasi mobilnya. Sedangkan barang-barang penting lain yang mungkin diperlukan, Alex akan menyuruh asistennya membereskan itu semua.
Railo dan Raisya tak henti-hentinya mengoceh girang, kebahagiaan keduanya masih terpampang jelas di wajah polos mereka. Reina merasa bahagia, rasanya ia tak salah mengambil keputusan.
"Sudah jangan terus mengoceh, Mommy pusing mendengarnya," ucap Reina membuat kedua anaknya menutup mulut mereka gemas.
Mobil mulai melaju ketika Alex menginjak pedal gas. Perjalanan terasa cukup lama bagi anak-anak itu karena mereka sangat tidak sabar untuk sampai ke rumah sang ayah.
Dengan terus bermain di mobil bersama, Railo dan Raisya akhirnya bisa melihat tampak rumah baru mereka. Alex dan Reina keluar dari mobil terlebih dahulu setelah dibukakan pintu oleh pekerja yang sudah menunggu di sana.
Mereka berempat langsung saja memasuki mansion itu dengan meninggalkan koper-koper mereka di mobil, membiarkan para pekerja yang menyelesaikannya setelah diberi arahan oleh Alex.
__ADS_1