Failed Marriage!

Failed Marriage!
Ep 18


__ADS_3

Reina dan Alex sampai di rumah orang tua Alex tepat pada pukul 01.30 dini hari waktu setempat. Di samping kebahagiaan perasaan keduanya, mereka sudah pasrah, tidak dapat membayangkan bagaimana paniknya kedua anak mereka ketika sudah tengah malam mereka belum juga kembali. Namun, memang benar-benar dua malaikat kecil.


Sesampainya Reina di sana, kedua anak mereka, Railo dan Raisya sudah tertidur pulas dengan gemasnya.


Justru yang masih menunggu kedatangan keduanya adalah Mommy Jessica dan Daddy Albert. Keduanya kompak tidak dapat memejamkan mata mereka sebelum Alex dan Reina sampai ke rumah.


“Lihat, anakmu sangat baik Reina. Mereka bahkan tidak menangis sama sekali ketika tahu sang Ibu tidak ada di samping mereka. Mereka juga menurut ketika Mommy suruh tidur, hanya perlu dongeng singkat dan mereka tertidur pulas.” Selepas melihat Reina keluar dari kamar Alex untuk memeriksa kedua anaknya, Jessica sangat bangga bercerita.


Alex menatap Reina sembari tersenyum. Ada rasa bangga tersirat dalam tatapannya. “Aku bangga padamu, Sayang. Kau membesarkan dua anak dengan sangat baik. Maafkan aku karena aku tidak ada di sampingmu padahal kau pasti sangat kesulitan waktu itu.”


Baik Reina maupun Jessica yang mendengarnya merasa sangat tersentuh. Bahkan Jessica tidak percaya bahwa sang anak yang terkenal dingin juga tidak berempati dapat berbicara seperti itu. Ini terasa seperti mukjizat bagi Jessica.


“Aaah, Mommy sangat tersentuh mendengarnya.” Jessica bersikap seolah ia meleleh mendengar Alex, membuat Alex sedikit kembali menaikkan egonya. Menurut pria itu, sang ibu terlalu berlebihan.


“Kau belajar dari mana dapat meluluhkan hati wanita seperti itu, hah?” lanjut Jessica.


Alex mengendikkan bahunya, tangan kanan pria itu tergerak merangkul Reina. “Haruskah aku belajar itu dari orang lain? Reina-lah yang membuatku dapat berbicara seperti itu Mommy tahu?”


Jessica menutup mulutnya yang ternganga. Ia berniat bertepuk tangan, tetapi khawatir akan berisik dan membangunkan kedua cucunya. Wanita paruh baya itu lantas memelankan tepukan tangannya. “Bravo! Reina kau berhasil melunakkan hati yang dulu sekeras batu!” puji Jessica.


Reina tersenyum kikuk, ia merasa tersanjung dengan sikap Alex yang baru berubah ini.


“Ini sudah malam, cepat kalian pun ikut tidur. Ibu minta usahakan jangan keluar lagi malam ini, meskipun itu menyangkut pekerjaan,” pinta Jessica.


Alex dan Reina mengiyakan permintaan wanita paruh baya itu. Keduanya segera masuk ke kamar dan membersihkan diri sebelum merebahkan badan di atas ranjang untuk beristirahat. Tak lupa, Alex menggenggam tangan Reina ketika mereka masuk ke dalam kamar, membuat Jessica lagi-lagi tersentuh dengan perubahan yang terjadi pada anaknya.


Pintu tertutup, Reina melenggang ke arah lemari untuk mencari piyama-nya, tetapi terhenti ketika tangan kekar Alex mencegahnya. Reina menatap tangan yang mencegahnya lalu beralih ke arah wajahnya.


Sembari menyelesaikan melepas jaketnya, Alex berkata, “Jangan, biar aku ambilkan saja.”

__ADS_1


Reina terkejut, ia merasa seolah Alex tahu apa yang penyebab ia pergi dari rumah beberapa jam lalu. Ia lantas menurut saja tanpa banyak bertanya. Di samping itu Alex langsung mencarikan baju yang cocok untuk Reina.


“Kau pakai yang ini saja. Ini selalu canik ketika kau pakai.” Alex menyerahkan sepasang piyama berwarna hitam. Kalimat terakhir yang ia lontarkan membuat Reina cukup tersipu, ia lantas segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


Selepas kembalinya Reina dari kamar mandi, Alex nampak sudah terbaring di ranjang. Memang kebetulan sebelum Reina tadi pergi dari rumah, Alex sudah lebih dulu membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


Reina mendudukkan dirinya di sudut ranjang, hatinya merasa sedikit canggung berada satu tempat tidur dengan Alex. Reina mengira bahwa Alex sudah tidur, rupanya pria itu hanya memejamkan matanya. Alex turun dari ranjang dan mendekati Reina ketika menyadari wanita itu sudah keluar dari kamar mandi.


“Kau belum mau bercerita?” tanya Alex. Pria itu rupanya masih ingat apa yang Reina katakan ketika wanita itu menangis di rumah tua yang tidak Alex kenali.


“Tentang?”


“Kau bilang kau memiliki masa lalu yang tidak aku ketahui. Apa itu?”


Ya, Reina ingat ia mengatakannya kepada Alex. Tetapi, alih-alih menjawab, Reina malah menarik napasnya dalam-dalam. Membuat Alex sedikit menyesal karena menanyakannya.


Melihat itu, Alex segera merangkul Reina, mengajaknya menuju sofa, menjauhi kedua anaknya agar mereka tidak tiba-tiba terbangun karena mendengar mereka berbicara terlalu dekat.


“Kita bicara di sini, mereka tidak akan mendengarnya.” Alex melepas rangkulannya ketika Reina sudah terduduk di atas sofa.


“Bagaimana? Apa yang ingin kau ceritakan?”


Reina menarik napasnya dalam-dalam. Wanita itu memberanikan diri menatap Alex, geriknya itu lantas dibalas oleh sang empu dengan senyuman. Senyuman yang Alex lemparkan cukup membuat hati Reina tenang untuk mulai berbicara.


“Aku tidak tahu harus bercerita dari mana. Tetapi, malam ketika aku bertemu denganmu saat itu, aku sedang hancur.”


Alex terdiam menunggu Reina melanjutkan ucapannya. “Aku baru pulang setelah merantau, tetapi aku menemukan fakta bahwa Ibuku telah tiada tanpa sepengetahuanku.”


Reina mulai berkaca-kaca, Alex segera menangkup kedua sisi pipi Reina. “Tunggu-tunggu, kau tidak boleh melanjutkan cerita jika itu membuatmu bersedih.”

__ADS_1


Reina tersenyum sembari menggeleng. “Tidak, aku harus mengatakannya kepadamu apa yang terjadi. Kau tahu? Aku saat itu tak dapat bercerita kepada siapapun, karena setelah fakta bahwa Ibuku telah tiada, aku diberi tahu bahwa beliau bukanlah Ibu kandungku, melainkan Ibu yang mengangkat seorang yatim piatu dari panti asuhan dua puluh tahun sebelumnya.”


“A-apa? M-maksudmu …?” sela Alex.


“Ya, aku bukan anak kandung Ibu, aku adalah anak yatim piatu yang bahkan tidak pernah tahu orang tua kandungku siapa. Aku tidak tahu mereka siapa.”


“Malam itu, istri dari paman yang menjadi wali di pernikahan kita menyalahkanku atas kematian Ibu. Dia mengatakan bahwa akulah yang menyebabkan Ibu tiada sebab Ibu mengalami kecelakaan ketika hendak menyusulku.”


“Seperti yang kau tahu, aku sudah tak punya Ayah. Dan bibi mengungkit kematian Ayah sebagai kesalahanku juga.”


“Dia mengatakan, Ayah meninggal karena menyelamatkanku dari tabrakan truk merupakan bentuk bahwa aku adalah pembawa sial. Aku mendengar semua makian itu sampai akhirnya aku lepas control.”


Reina menangis.


Ya, ia sudah tidak kuat lagi mengingatnya. Ia tidak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar.


Alex dengan sigap segera mendekat pada Reina dan memeluknya. Ia sangat merasa bersalah atas apa yang ia lakukan malam itu pada seorang gadis yang sedang hancur sehancur-hancurnya.


Lantas apa yang bisa ia lakukan untuk menebus kesalahannya itu? Alex tidak tahu.


Untuk pertama kalinya, Alex menangis di hadapan Reina. Ya, ia bahkan tidak kuasa menahan tangisnya sendiri kala ia memeluk erat Reina untuk menenangkannya sekuat tenaga yang ia punya. Tetapi lihatlah, bahkan dia yang kini sedang menghapus air matanya.


“Reina, aku mohon maafkan aku karena aku membuatmu semakin buruk di tahun itu. Aku meminta maaf karena sifat egois dan semena-mena yang aku punya rupanya membuatmu begitu tersiksa.”


Reina terenyuh, ia hanya bertahan di dalam pelukan itu sampai malam itu menjadi malam terbaik bagi Reina di seumur hidupnya.


“Aku akan menebus semua kesalahanku itu sebaik mungkin.”


“Salah satunya dengan mencintaimu. Seutuhnya.”

__ADS_1


__ADS_2