Failed Marriage!

Failed Marriage!
EP 19


__ADS_3

Pagi hari sekali Amora Cleo Reina terbangun dari tidurnya dan segera beranjak dari ranjang. Wanita itu bercermin, matanya nampak sangat sembab sebab ia menangis semalaman kemarin. Sudah sejak ia pergi menggunakan mobil Alex, lalu sampai ia di rumah dan bercerita kepada Alex, semuanya membuat air mata wanita itu terkuras dan menyisakan kantung di bawah matanya.


Malam tadi terasa sangat panjang dan entah kali ke berapa, hati Reina terus memanjatkan rasa syukur dan terasa lebih lega dari tahun-tahun sebelumnya.


Satu malam yang menyembuhkan luka bertahun yang bertahan.


Waktu menunjukkan pukul 4 pagi, netra Reina beralih ke arah ranjang tidurnya dan melihat kedua putra dan putrinya masih tertidur pulas dan nampak sangat menggemaskan. Ia bersyukur kembali, ketika ia mengingat bahwa semalam ia bahkan sudah tidak memikirkan antara hidup dan mati saat membawa mobil Alex pergi bersamanya.


“Bagaimana nasib kedua malaikatku itu jika kemarin aku benar-benar pergi? Aku tidak bisa membayangkannya.”


Reina menarik napas panjang lalu beranjak ke arah lemari.


Tangan mulus wanita itu menarik pintu lemari perlahan, takut suaranya membangunkan kedua anaknya dan ayah mereka. Di lemari itu matanya menangkap sudah ada beberapa baju anak yang belum ia lihat kemarin. Pikirnya mungkin itu baju yang pembantunya belikan.


Reina terlihat lega mendapati bajunya sudah lengkap. Wanita itu lantas segera memisahkan empat pasang baju untuk dipakai Alex, Railo dan Raisya, serta untuk diri sendiri tentunya.


“Sedang apa?” Suara Alex itu sedikit mengejutkan Reina yang sedang asyik memilih baju.


Bukan apa-apa, pasalnya suara milik Alex itu disertai dengan tangan kekarnya yang melingkar di pinggang Reina, tak lupa dagu yang Alex topangkan di pundak wanita itu.


Reina gelagapan, tak lama ia salah tingkah, sebuah kecupan mendarat di pipinya membuat ia seketika menoleh. Hanya ada wajah Alex yang tersenyum di sana.


"You're mine, Reina. I'll always right by your side."


Entah ide yang berasal dari mana, Reina membalikkan badannya dan membalas pelukan Alex yang sejak tadi belum pria itu lepaskan. Alex terkejut senang, senyum manis melintang dengan sangat baik di wajahnya.


"Terima kasih," ucap keduanya bersamaan, membuat sepasang calon pengantin itu tersenyum satu sama lain.


Sedang asyik berpelukan, suara Railo mengerang bangun menghentikan keduanya. Reina segera menghampiri lelaki kecil itu dengan tersenyum. "Pangeranku sudah bangun?"


Wajah mengantuk Railo seketika tersenyum mendengar suara itu. "Mommy sudah kembali? Kami tidur karena Mommy sangat lama." Anak itu menguap lebar, membuat Reina refleks menempatkan punggung tangannya di mulut kecil itu. Railo nampak sedikit lesu, Reina langsung menggendong anak itu dan memeluknya erat.


Melihat interaksi hangat antara Reina dan Railo yang kembali tercipta, Alex hanya bisa tersenyum lantas mengambil baju yang sudah Reina siapkan seraya melenggang ke kamar mandi. "Daddy duluan mandi, ya!" ucapnya pada Railo, membuat anak itu tersenyum tipis.


Tak lama sejak Alex masuk ke kamar mandi dan menutup pintu, Raisya terbangun. Gadis kecil itu menangis cukup keras seraya menyerukan kata Mommy, sepertinya ia habis bermimpi buruk.

__ADS_1


"Huaa, Mommy! Mommy!"


Railo yang melihat itu menggelengkan kepalanya seraya menepuk jidat. "Dia ini."


***


"Mommy! Daddy sudah keluar, mari kita mandi!" ucap Raisya ketika melihat ayahnya sudah selesai dengan kamar mandi itu.


Alex menggantung handuk di tempat yang disediakan, lantas menghampiri putrinya dengan wajah gembira. Pria itu menggendong Raisya dengan candaannya. "Raisyaaa, putri Daddy yang cantik!"


"Kau menangis, ya, tadi? Daddy mendengarnya di kamar mandi!" Alex menggelitik perut gadis kecil itu dengan rambutnya. Raisya menggeliat geli, anak itu berteriak ampun sembari tertawa.


"Mommy .... Aku tidak mau sekolah, aku mau di sini saja dengan Mommy," celetuk Railo ketika sang ibu mulai menyiapkan handuk.


Mendengar itu, Reina segera menghampiri putranya, menyetarakan tinggi dengan anak itu dengan berlutut di hadapannya. "Kenapa tidak mau sekolah, Sayang?"


Railo menggeleng. "Tidak tahu, aku ingin bersama Mommy."


Reina yang semalam meninggalkan kedua anaknya tiba-tiba saja merasa bersalah. Ia merasa sepertinya Railo sedang khawatir ia akan pergi sampai malam lagi. Wanita itu lantas melirik Alex seolah meminta jawaban, membuat Alex mengangguk mengiyakan.


Selagi Raisya bersiap, Railo nampak tak mau lepas dari gendongan Mommy-nya. Membuat Alex mau tidak mau harus membantu Reina untuk mengurus Raisya dengan seragamnya. "You look so cute, Princess!" puji Alex pada gadis kecil itu.


Alex berniat mengajak Reina segera ke bawah untuk sarapan, tetapi melihat wanita itu masih sibuk dengan Railo juga dengan baju-baju kotor di kamar, ia mengurungkan niatnya. Pria itu lantas turun terlebih dulu bersama putrinya yang sudah siap.


"Selamat pagi, Mom, Dad." Alex menyapa, membuat Albert dan Jessica tersenyum ke arahnya dan Raisya.


Tidak mau kalah, Raisya dengan rusuh meminta turun dari gendongan Alex. Gadis kecil itu lantas berlari menuju Oma-nya seraya berteriak, "Selamat pagiiii, Omaaaa!!!"


Jessica tersenyum sumringah menyambut gadis kecil itu. "Astagaa! Hampir saja jantung Oma terlepas mendengarmu!" celoteh wanita paruh baya itu.


Selepas memeluk Jessica, Raisya melakukan hal yang sama kepada Opa-nya. "Selamat pagiii, Opaaa!" teriaknya.


Albertonio Bieber hanya bisa tersenyum menyambut cucunya yang menggemaskan itu. Ia segera menggendong Raisya lalu menempatkan anak itu di gendongannya. "Kau ingin sarapan dengan Opa, benar? Baiklah, ayo kita sarapan!"


Reina tidak perlu sulit-sulit menyiapkan sarapan di sini seperti menantu pada umumnya, sebab para pembantu selalu menyiapkan semua dengan baik. Lagipula jika wanita itu ingin mencoba melakukan pekerjaan rumah, ia sudah sangat hafal ia akan dilarang oleh orang tua Alex terutama Jessica.

__ADS_1


Meninggalkan suasana di ruang makan, Reina saat ini sudah selesai membereskan kamar. Tetapi wanita itu belum mau turun, ia terlebih dulu menanyakan sesuatu kepada putranya. "Sayang, apakah Mommy membuatmu khawatir? Kau tidak mau lepas dari Mommy sejak tadi."


"Hm?" ulang Reina ketika tidak ada jawaban dari putranya.


Railo lantas mengangguk. "Aku tidak mau Mommy pergi seperti kemarin. Mommy pergi sangat lama sampai Oma menyuruh kami tidur," keluhnya.


Tepat seperti dugaan Reina, kepergiannya kemarin membuat anaknya khawatir. Meskipun di sisi lain Jessica nampak kagum karena keduanya tidak rewel, tetapi ternyata tetap ada hal yang tersembunyi, terutama pada benak Railo. Anak itu benar-benar seorang pemikir.


"Maafkan Mommy, ya? Mommy akan menemanimu hari ini, okay?" Railo mengangguk-angguk.


***


Reina sudah turun dari kamar dan berjalan ke ruang makan untuk bergabung dalam sarapan keluarga ini. Railo masih ia gendong sebab anak itu tidak mau lepas. Railo nampak sedikit cemberut sebab ia tidak mau ketahuan tak sekolah di hadapan Oma dan Opa.


"Hai? Kenapa cucu tampan Oma cemberut seperti itu, Sayang? Kau tidak sekolah seperti adikmu?" sapa Jessica ketika ibu dan anak itu memasuki ruang makan.


Reina menggeleng memberi isyarat ketika Railo semakin tidak mood kelihatannya. Jessica mengangguk sembari ber-O tanpa suara.


"Ah I see, Cucu sedang tidak mood. Ayo sarapan, Sayang. Oma ingin sarapan dengan Pangeran tampan!" Jessica menambahkan.


Sarapan pun dimulai dengan khidmat, hanya ada percakapan sesekali antara mereka dan anak-anak.


***


"Tunggu."


Ketika selesai dengan sarapan dan seluruh anggota keluarganya Bieber hendak beranjak dari meja makan, Alex tiba-tiba saja membuka suara. Pria itu melirik Reina memberi kode, dengan sigap Reina segera membawa kedua anaknya keluar dari ruang makan.


Alex berniat mengobrol dengan orang tuanya sembari membawa Reina, tetapi melihat Railo yang sedang tidak mood, Alex memilih mengatakannya sendiri saja.


Wajah kedua orang tua Alex sudah penasaran, lantas dengan memastikan anak-anak sudah keluar, Jessica menaikkan alisnya satu kali. "Apa yang ingin kau bicarakan, Nak?"


Alex berdeham keras, seolah tengah melakukan pemanasan suara.


"Aku ingin menikahi Reina lagi, minggu ini."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2