
"Kita harus menikah," celetuk Alex membuat mata Reina seketika membulat. Terkejut dengan apa yang pria di hadapannya ini katakan.
"Apa kau sadar dengan yang kau katakan? Itu hal yang bodoh," umpat Reina. Entahlah, wanita itu sudah tak bisa lagi menahan kekesalannya. Rasanya ia sangat ingin mencaci maki pria di hadapannya itu.
"Walaupun bukan karena cinta, kita harus menikah demi kebahagiaan anak-anak."
"Aku tahu mungkin kau tidak bisa melakukannya karena melihatku. Tapi coba lakukan itu dengan melihat anak-anakmu, lakukan itu demi Railo dan Raisya."
Kalimat terakhir yang Alex katakan, netra Reina seketika menatap kamar kedua anaknya. "Haruskah?"
Reina memalingkan wajahnya. "Apa yang akan kau berikan kepadaku untuk itu. Aku tak mau jika itu hanya menguntungkanmu dan malah merugikanku," tutur wanita itu mencoba jual mahal. Sebenarnya untuk memastikan bagaimana kepastian nasibnya juga nasib Railo dan Raisya.
Alex mengangguk-angguk. Ia mengerti, sekarang Reina lebih pintar dari sebelumnya, ia menjadi lebih penuntut dalam segala hal yang menyangkut kedua anaknya.
"Kau bebas meminta apapun dariku entah untukmu ataupun untuk anak-anak. Aku hanya ingin menjamin hidup mereka. Tidak mungkin aku membiarkan mereka hidup denganmu dan menunggu lama untuk setiap keinginan kecil mereka, karena kau pasti tak bisa langsung mewujudkannya," jelas Alex bertutur panjang lebar.
Reina menatap Alex intens. Netra wanita itu tatapannya begitu mengintimidasi, seolah ia memastikan kesungguhan dalam wajah Alexander Leonel Bieber.
Alex sedikit kikuk sebab ini pertama kalinya ia merasa Reina begitu serius dan merasa Reina begitu berani berhadapan dengannya. Tapi karena egonya, ia tak mungkin menunjukkan perasaan kikuknya itu dengan jelas. Ia terus berpura-pura tenang dan memutus kontak mata dengan Reina.
"Apa ini memang jalanku?"
"Tapi aku sudah berusaha untuk tidak berhubungan dengannya lagi."
"Tapi Railo dan Raisya?"
Berbagai macam perdebatan dengan dirinya sendiri Reina rasakan dalam pikirannya. Ia tak tahu pilihan apa yang harus ia tentukan saat ini, dan ... Railo dan Raisya? Ia harus memikirkan kebahagiaan mereka juga.
Reina berdiri, menghadapkan badannya ke arah Alex. "Berjanjilah, kau tidak akan semena-mena padaku dan pada anak-anakku. Jika itu terjadi, kau akan melihat sisi lain dari diriku," tegas Reina. Membuat Alex seketika meneguk ludah.
"Oh ayolah! Dia hanya seorang Reina. Mengapa kau sangat takut dalam menghadapinya?" batin Alex menepis ketegangannya.
"Apa kau serius mengancamku?" tanya Alex mengalihkan pembicaraan.
Kini, giliran Reina yang merasa kikuk karena tersadar dengan apa yang telah ia lakukan.
Dia sangat berani rupanya.
Reina menepis rasa kikuk itu dengan berdeham. "Apa kau melihat keraguan dalam wajahku?"
__ADS_1
"Katakan kau berjanji, aku setujui permintaanmu," lanjut wanita itu.
Alex mengangguk-angguk. "Baik, aku berjanji. Peganglah janjiku itu."
Reina membuang napas lega. Ia harap, keputusannya ini tak akan pernah menjadi kesalahan di masa depan.
***
Setelah baru saja kedua pasangan muda itu melakukan perbincangan dengan berpikir matang, kini waktunya mereka memberitahu kedua anaknya tentang hasil perbincangan itu.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang terdengar lembut itu mengalihkan perhatian Railo dan Raisya. Dengan segera, Railo beranjak dari ranjangnya dan membukakan pintu, berniat mempersilakan masuk orang yang mengetuk pintu itu. Tetapi, lelaki kecil itu tak mood untuk menyapa dan membukanya sebelum ia kembali berlari menuju tempat tidurnya.
Alex dan Reina tersenyum melihat tingkah kedua anaknya yang tengah merajuk itu. Dengan sabar, keduanya duduk di ujung ranjang Railo dan Raisya. Mencoba berbicara dengan keduanya.
"Raisya sayang, Daddy di sini apa kau tidak mau lihat?" ucap Alex lembut seraya menarik pelan selimut yang menutupi Raisya.
Gadis kecil itu menurut, menurunkan selimutnya tetapi dengan wajah yang tetap cemberut. Nampak mata gadis kecil itu sembab sebab menangis. Ia lantas memalingkan wajahnya ke arah Railo.
Dengan tangan kekar penuh kasih sayang miliknya, Alex menggendong Raisya dan mencium kening putrinya itu. Ia memeluknya, berharap gadis kecil itu tak lagi marah kepadanya.
"Aku tidak mau kita berpisah lagi," gumam gadis kecil itu menjawab pertanyaan dari sang Ayah.
Reina sangat tersentuh dengan sikap lembut Alex ketika berhadapan dengan anak-anaknya yang masih kecil itu. Ia tak bisa membayangkan jika anak-anaknya harus terus bertumbuh kembang tanpa kasih sayang dari sang ayah.
Wanita itu mengusap rambut Railo di sampingnya yang terlihat masih cemberut, marah kepada kedua orang tuanya.
"Railo tidak mau memeluk Mommy?" tanya Reina. Tetapi lelaki kecil itu hanya diam dengan tangan terlipat depan dadanya.
Alex yang melihat Reina nampak sedih karena diabaikan, langsung membuka suara. "Railo, Pangeranku yang tampan, kenapa begitu kesal?"
"Tidak tahu! Aku tidak suka Mommy dan Daddy!" ketus Railo.
Alex dan Reina terkekeh kecil. "Apa kalian akan terus marah? Tak mau mendengar apa yang akan Daddy katakan?" tanya Alex kepada kedua anaknya.
Seketika wajah Railo dan Raisya mendongak. Alex tersenyum pada Reina melihat respon mereka. Seolah menunjukkan bahwa dirinya selalu berhasil membujuk kedua anak kecil itu.
"Mommy akan ikut, kalian akan ke rumah Daddy bersama Mommy," ujar Alex seraya menurunkan Raisya dari pangkuannya.
__ADS_1
Railo dan Raisya terlihat antusias, keduanya berteriak senang.
"Benarkah?"
"Benarkah Mommy akan ikut?"
Alex mengangguk menanggapi keduanya. "Tapi kalian harus janji untuk tidak bersikap nakal, mengerti?" ucap Alex memberi sembarang syarat. Hanya sebagai bentuk didikan agar mereka mau bersikap baik sejak dini.
"Jadi aku tak akan meninggalkan Mommy sendirian, kan? Tidak akan?" cerocos Railo, dibalas anggukan Alex dan Reina.
Keduanya sontak memeluk Alex dengan bahagia. "Terima kasih, Daddy!"
"Terima kasih pada Mommy. Mommy yang membujuk Daddy agar kita tinggal bersama," ucap Alex beralasan agar Reina tidak merasa ia tidak dianggap.
"Terima kasih, Mommy! Kami sayang Mommy!" ujar kedua anak kembar itu bersamaan.
"Sama-sama, sayang. Kita pergi ke rumah Daddy besok, ya?"
Railo dan Raisya begitu bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya. Mereka langsung membayangkan betapa senangnya hidup bersama sang Ayah yang mereka sangat harapkan sejak lama.
***
Alex berpamitan setelah puas mengobrol bersama kedua anaknya. Hari juga sudah malam, ia harus segera pulang dan menpersiapkan kamar ketiga anggota keluarganya besok.
Reina memilih mengantar Alex sampai ke parkiran. Tak lupa Alex berpesan untuk mempersiapkan anak-anak mereka agar besok hanya harus memindahkan barang-barang saja. Tak perlu menunggu persiapan yang lebih lama.
"Aku ingin kau menjaga anak-anak dengan baik," pesan Alex sebelum memasuki mobil mewahnya.
Setelah mengantar Alex dan menatap mobilnya pergi, Reina kembali ke kamar apartemennya untuk segera berbenah barang-barang ia dan anaknya. Tetapi sepertinya itu akan sulit, karena anak kembarnya itu malah asyik berceloteh mengenai ayahnya.
"Pangeran dan Princess-nya Mommy belum juga tidur?"
"Aku tidak bisa tidur, Mommy! Aku tak sabar pindah ke rumah Daddy besok!" ucap Raisya bersemangat, disambut anggukan Railo.
Reina terkekeh. "Baiklah, kalau begitu. Yang tidak tidur tidak akan diajak besok. Karena akan sulit bangun pagi, Mommy tinggalkan saja, ya?" ancam Reina membuat kedua anaknya lantas cepat-cepat memejamkan mata.
"Bagus. Yang bangun lagi, Mommy pastikan tidak akan ikut, ya."
"Baik, Mommy!" teriak keduanya dengan mata yang terpejam. Reina terkekeh melihat tingkah anaknya itu. Wanita itu lantas melenggang dari kamar kedua anaknya dan menutup pintu kamar itu.
__ADS_1