Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
1


__ADS_3

Hallo assalamualaikum!!


Ini cerita Lasena Maura anak Bungsunya papi Entin yang di Oh My Boss, tapi Senanya belom nongol. Sabar yaa ❤❤


Aku udah janji bakal kasih satu cerita gratis dari keturunannya Justin Nena. Si abang kembar udah tamat di sebelah, sisa bungsunya aja. ❤❤


Selamat membacaa ❤❤


*****


"Kau yakin aku akan berhasil?"


Di dalam mobil hitam yang terparkir jauh dari keramaian. Pria bernama Ansel Bagaskara merapikan topi juga masker untuk menutupi wajahnya.


"Tenang saja, aku akan mengawasimu dari sini." Bastian menunjukkan cctv di rumah besar itu yang berhasil ia retas dan disambungkan ke laptopnya. Dia adalah satu-satunya teman dekat yang Ansel kenal sejak sma.


Ansel menghela napas. "Aku tidak bisa," keluhnya. Bertahun-tahun menuntut ilmu di luar Negri, sama sekali tidak pernah dia mempelajari cara untuk menyelinap ke rumah orang dan mencuri.


"Jadi? Kau ingin menyerah." Bastian mengalihkan tatapannya dari laptop yang menyala di atas pangkuannya, menoleh pada Ansel dengan tatapan tidak terima. "Kita sudah sejauh ini dan kau ingin menyerah?" ulangnya.


Pergerakan mereka memang sudah terlanjur jauh, beberapa hari yang lalu keduanya bahkan rela menyamar jadi tukang service ac gadungan, agar dapat menyambangi rumah besar tersebut dan mengumpulkan benda yang diperlukan.


"Kau punya kunci, anggap saja seperti masuk ke rumahmu sendiri. Aku akan menghapus jejakmu di cctv setelah kau kembali." Bastian mengalihkan tatapannya pada laptop di pangkuannya lagi. Meyakinkan pria disebelahnya itu bahwa apa yang dia takutkan tidak akan pernah terjadi.


Sejenak Ansel berpikir. Selama ini, hidupnya memang tidak pernah berarti. Sang papa pernah berkata bahwa kehadirannya adalah sebuah kesalahan, yang tidak pernah diharapkan di keluarga, sebisa mungkin pria itu menyembunyikan keberadaannya dari dunia.


Ansel yang diasingkan dengan dalih berkuliah di luar Negri, kini kembali dan ingin membuktikan pada sang papa, bahwa keberadaannya bisa sedikit lebih berguna.


Dan pria itu malah memintanya untuk melakukan ini semua. Entah kenapa Ansel merasa sang papa memang sengaja ingin membuangnya, karena jika dia gagal maka tidak akan pernah lagi ia dianggap sebagai anaknya.


"Ayolah, kau akan baik-baik saja." Bastian kembali bersuara setelah terjeda beberapa lama, mereka memang sengaja menunggu malam agar penghuni rumah terlelap semua.


Ansel menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, kembali mengatur detak jantungnya yang ribut sendiri. "Aku bahkan bisa membayar orang lain untuk melakukan ini," keluhnya lagi.


Bastian menggeleng. "Tidak ada yang dapat menggaruk kulitmu dengan baik selain tanganmu sendiri. Jangan pernah mengandalkan orang lain," ucapnya. "Kau hanya perlu cari tahu Proposal yang akan mereka presentasikan, untuk proyek besar yang perusahaan kalian perebutkan. Tidak harus membawanya," imbuh pria itu lagi.


"Itu mencuri, Bas," sangkal Ansel.


"Kau tidak membawanya."


"Tapi aku mencuri isinya."


"Itu berbeda."


"Sama saja."


"Anggap saja berbeda agar kau tidak merasa berdosa." Bastian memberi saran.

__ADS_1


Ansel kembali terdengar menghela napas. Bastian tahu sahabatnya itu teramat berat melakukannya.


"Hanya sekali ini saja, kerugian itu tidak akan membuat mereka jatuh miskin. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah." Bastian kembali menghibur sahabatnya.


"Kau yakin aku hanya disuruh melakukan ini sekali?" Ansel bertanya.


Bastian mengerutkan dahi. "Kalian sudah membuat perjanjian tentang itu. Lagipula ayahmu terlalu meremehkan kemampuan putranya. Tanpa harus berbuat curang seperti ini aku yakin kau bisa menang dalam proyek itu," ungkapnya.


Ansel terdiam, hening yang terasa sedikit lebih lama membuat Bastian kembali menoleh.


"Sepertinya ayahmu memang sengaja ingin membuatmu celaka. Untuk itu, buktikan padanya bahwa kau bisa."


"Jika dia menginginkan aku melakukan kecurangan itu lagi?"


"Jangan turuti." Bastian kembali mengamati cctv di dalam laptopnya, "setidaknya dia bisa menepati janji agar kau tidak dicoret dari kartu keluarga, demi ibumu, kalian punya hak untuk itu."


Ansel kembali berpikir. Membahas tentang sang ibu membuat semangatnya kembali menggebu. Dan tepukan di pundaknya membuat dia lalu menoleh.


"Sudah aman, lakukanlah." Bastian berucap dengan tatapannya yang begitu yakin.


Ansel lalu menganggukkan kepala.


.


Dengan mengendap-endap dan sesekali menoleh ke sekeliling, Ansel yang berhasil masuk ke dalam rumah tanpa kesulitan yang berarti kini mulai kebingungan harus ke arah mana kakinya melangkah. Terlalu gugup membuat dirinya sulit berpikir.


Di depan pintu besar ber cat putih gading, Ansel tampak terlihat ragu. Tangan kanannya yang terulur kembali ia turunkan dan membuat suara Bastian terdengar mengomel di telinganya.


Dari cctv yang beberapa hari ini mereka amati, kunci pintu di hadapannya itu terletak di dalam laci sebuah lemari, yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ansel lalu mengambilnya, kembali meletakan benda itu di tempat semula saat mendengar arahan dari Bastian untuk melakukannya, tentu saja setelah benda di hadapannya itu selesai ia buka.


"Cepat, jangan lama-lama!"


Ansel mengernyit saat suara Bastian terdengar nyaring di telinganya. Setelah menyalakan lampu untuk menerangi ruangan itu, dengan cepat Ansel memilih berkas-berkas yang berhubungan dengan proyek yang dicarinya.


"Diamlah, aku akan menemukannya jika kau berhenti berbicara." Ansel berucap geram, tangannya sedikit gemetar saat menguak tumpukan dokumen yang tersusun rapi di atas meja. Dan dia merasa lega saat berhasil menemukannya.


Ansel menoleh ke arah jam dinding, memeberikan dirinya waktu beberapa menit untuk membaca sebelum kembali merapikannya.


Belum selesai ia memahami isi dokumen itu, suara Bastian kembali terdengar dan mengabarkan bahwa pintu kamar utama terbuka, seorang pria paruh baya tampak keluar dari sana.


Bastian sudah ribut memberitahu bahwa pria si pemilik rumah menuju ke ruangan kerjanya, tapi Ansel masih tetap membaca berkas yang ia buka dengan mendengarka ocehan Bastian. Pemuda itu terus mengabarkan tanda bahaya sudah sampai di mana.


"Cepat, Bodoh!"


Bersamaan dengan makian itu, Ansel menutup berkas di tangannya, lalu mulai berpikir kemana dia harus bersembunyi agar tidak tertangkap basah.


Bastian mewanti-wanti agar dia segera keluar dari ruangan itu, sembunyi di dalam hanya akan membuatnya terjebak jika nanti ruangan itu kembali dikunci.

__ADS_1


Kamar mandi juga bukan tempat yang aman, karena akan percuma jika pemilik rumah ternyata menggunakannya.


Ansel merasa benar-benar buntu. Dia bingung harus bagaimana, beruntung Bastian mengabarkan bahwa pria itu berbalik arah dan kembali ke kamarnya. Dia menyuruhnya untuk segera keluar dari sana.


Langkah kaki Ansel terayun cepat, seiring dengan detak jantungnya yang semakin menggila. Pria itu tidak pernah dihadapkan dalam keadaan seperti ini sebelumnya.


Bastian melarangnya untuk keluar lewat pintu utama, karena satpam di sana tampak terjaga dari tidurnya.


"Kau bisa lewat pintu dapur, kuncinya pasti tersangkut di sana. Lakukan dengan cepat!"


Suara Bastian kembali memberi arahan. Ansel merasa panik saat tidak menemukan kunci yang seharusnya tersangkut di daun pintu. Sahabatnya itu lalu menyuruhnya untuk mencari jalan lain di rumah itu.


"Siyaal!" Ansel mengumpat frustrasi, kepanikan membuatnya tidak sengaja menyenggol hiasan di atas meja hingga terguling dan menimbulkan suara. Dengan cepat pria itu mengamankannya.


Namun ternyata suara itu membangunkan satu wanita pekerja rumah tangga yang kemudian keluar dari kamarnya. Melihat hal itu, Bastian menyuruhnya untuk segera pergi dari sana.


Ansel merasa beruntung saat pintu samping di rumah itu masih tersangkut anak kunci yang akan membawanya keluar.


Bastian berkata bahwa dia tidak bisa menangkap pergerakannya, sepertinya cctv di tempat itu memang tidak berfungsi. Pria itu lalu menyuruhnya untuk melompat pagar tempat dia masuk sebelumnya.


Hati-hati Ansel melompat keluar, namun jaket yang ia kenakan tersangkut pagar besi yang membutnya jatuh berdebam. Dengan tertatih, pria itu berjalan menuju mobil bastian yang terparkir tidak jauh dari sana.


Pintu gerbang utama terbuka, seorang bapak berseragam security keluar dari sana, mungkin karena tidak sengaja mendengar keributan yang membuatnya curiga. Dan Ansel berusaha tenang seolah tidak terjadi apa-apa, dia akan berpura-pura menjad warga sekitar yang kebetulan lewat di sana.


"Kamu baru sampe? Kenapa malam sekali, saya sudah menunggu kamu dari sore."


Kalimat panjang itu membuat Ansel mengerjap terkejut, pria paruh baya yang merupakan petugas keamanan di rumah itu lalu mendekatinya, memeriksa keadaannya.


"Kamu kenapa berantakan begini?" Dia kembali bertanya, "ayo masuk?" ajaknya.


"Eh?"


...


Cerita ini nggak aku ikutkan lomba apapun, bukan cerita yang outlinenya dikasih dari mangatoon juga. Aku mikir senďiri, pake imajinasi sendiri, jadi kalo nanti suatu saat ada yang nyamain bilangin aku ya. ❤❤


Kalo ada kata kata atau kalimat yang janggal kasih tau aja, aku masih belajar soalnya 😂😂


Netizen: Thor ini gratis sampe tamat apa mau dipindahin.


Author: Sampe tamat tenang aja, meski kalo suatu saat dipindahin aku bakal taro di tempat yang gratis tenang aja.


Netizen: Bakal ada seson dua gak nih, entar season dua dipindahin ke sebelah 😒


Author; Kagaa 😂😂 Cerita ini aku tamatin gak pake season seasonan, kalo udah tamat ya udah. Palingan kalo ada spin off itu udah beda cerita, bukan tentang mereka.


Netizen: ini vote poin apa jangan.🤔🤔

__ADS_1


Author : vote duooong aku kan udah lama banget gak malakin poin kalian 🤣🤣🤣


__ADS_2