Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
25


__ADS_3

Setelah berterimakasih pada Bastian yang sudah mengantarkannya pulang, Ansel masuk ke dalam rumah dan langsung mencari ibunya.


Seorang perempuan berpakaian rapi menghadangnya di bawah tangga. Ansel kenal wanita itu adalah suster yang merawat ibunya. "Nyonya sedang beristirahat, Tuan muda," cegahnya.


"Saya mau bertemu dengannya." Ansel yang tidak peduli lalu melangkah lagi, namun perempuan itu bergerak menghalangi.


"Nyonya sedang tidak bisa diganggu, Tuan muda."


Ansel tentu saja merasa kesal, belum sempat menanggapi perempuan itu, seseorang yang merasa terganggu dengan kehadirannya kemudian menyela.


"Ada apa sih ribut-ribut." Sarah, ibu tiri Ansel bertanya dengan melipat kedua lengan di depan dada. Raut wajahnya memang selalu tidak ramah saat bertemu dengan dirinya.


"Saya ingin bertemu dengan mama saya," ucap Ansel dengan sedikit enggan. Bagaimanapun juga, selain sang papa, wanita itu punya kendali penuh atas semua perintah.


Sarah menoleh pada suster yang merawat madunya, perempuan itu tampak menunduk. Sarah pun memberi perintah untuk membiarkan saja Ansel berbuat apa.


Pria itu menaiki anak tangga dengan sedikit berlari, membuka pintu kamar sang ibu yang tidak pernah sekalipun terkunci.


"Mama!" Ansel menjatuhkan tas yang tersampir di pundaknya, dengan cepat berlutut di hadapan sang mama yang kedua tangannya diborgol ke lengan kursi. Mengapa tega sekali mereka memperlakukan ibunya seperti ini. "Mama, apa yang terjadi."


Wanita itu menoleh dengan raut ketakutan di wajahnya. Dari mulutnya yang terbuka secelah seperti ada yang ingin dia katakan pada putranya.


Ansel menoleh saat suster yang merawat sang ibu masuk ke dalam ruangan, tentu saja dia begitu marah. "Apa yang kalian lakukan pada mama saya!" teriaknya.


Sang suster menunduk takut, selama bekerja di rumah ini, belum pernah dia melihat anak majikannya semurka itu. "Tu, Tuan Besar yang menyuruh saya melakukannya, Tuan muda," jawabnya terbata.


Ansel mengeratkan gigi, merasa marah sekali. Apa pengorbanannya selama ini belum cukup sampai dia harus menyakiti mamanya seperti ini, padahal wanita itu adalah istrinya sendiri.


"Akhir-akhir ini nyonya sering mengamuk, Tuan muda. Jadi Tuan besar menyuruh saya untuk memborgolnya."


"Kau mengatakan mama saya baik-baik saja saat saya bertanya." Ansel mengepalkan jemarinya, setiap kalimat yang keluar selalu penuh penekanan karena terlalu emosi. Kesabarannya terasa habis sampai di titik ini. "Apa yang kalian takutkan? Mama saya bahkan tidak bisa berjalan!" bentaknya kemudian.


"Maaf, Tuan. Saya hanya mengikuti perintah."

__ADS_1


"Berikan kuncinya."


"Se, Saya–,"


"Berikan kuncinya!!" bentak Ansel lagi, kali ini teriakannya sampai mengundang Sarah dan putri bungsunya masuk ke ruangan itu.


"Ada apa ini, kenapa ribut sekali!" Sarah yang tidak senang dengan kegaduhan yang ditimbulkan pemuda itu lalu mengomel.


Ansel beranjak berdiri, melangkah pelan menghampiri wanita itu. Tatapannya yang begitu tajam membuat Sarah memundurkan kakinya satu langkah.


"Kenapa Tante melakukan ini pada mama saya."


"Wanita  gila itu mengamuk, kamu seharusnya berterimakasih pada saya. Kamu mau melihat mamamu menyakiti dirinya sendiri."


"Mama saya tidak gila, Tante." Ansel tidak membentak saat mengutarakan kalimat itu, hanya saja terlalu dingin hingga membuat mereka nyaris beku. "Katakan di mana Tante menaruh kuncinya."


Langkah Ansel sudah semakin dekat, Sarah merasa tersudut. Wanita itu lalu menunjuk laci meja yang tidak jauh dari madunya. "Ambil saja di sana," ucapnya terdengar takut.


Ansel menoleh sekilas, namun kemudian beralih pada wanita itu lagi. Dia terus melangkah hingga Sarah nyaris berteriak memanggil suaminya.


Ansel menghentikan langkah, nyalang di kedua matanya berangsur meredup. Dia lalu membelokan kakinya menuju meja untuk mengambil kunci yang tersimpan di lacinya.


Melihat hal itu Sarah mendengus lega, tanpa ia sadari telah menahan napasnya beberapa lama. "Dasar ibu dan anak sama-sama gila," umpatnya sebelum melangkah pergi dari sana.


Saci ikut sedih saat melihat sang kakak membuka borgol di kedua tangan ibu tirinya, ingin menangis saat wanita itu dengan erat memeluk tubuh pria itu. Tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka, Saci pun melangkah pergi dari sana. Sang mama selalu marah jika dia terlalu membela kakak ke tiganya.


***


Selepas menenangkan ibunya yang terlihat ketakutan, Ansel pun menemui sang papa di ruang kerjanya. Pria itu  tidak tampak terkejut dengan kedatangannya.


"Kenapa papa melakukan itu pada mama?" Ansel bertanya dengan masih berdiri di seberang meja, pria itu duduk membaca berkas entah apa di kursinya.


"Duduklah," ucap Dwitama. Setelah meletakan benda di tangannya begitu saja, dia lalu menatap putra ke tiganya. Pria itu menjelaskan tentang kondisi mental sang istri yang bisa melukai dirinya sendiri. "Semua itu papa lakukan demi mamamu."

__ADS_1


Ansel yang sudah duduk di kursi tampak melengos, apapun alasannya, perlakuan pria itu tidak bisa dibenarkan. Dia lalu menagih janji pada papanya, tentang hak sang ibu jika berhasil memenangkan proyek Luxury Hotel tempo lalu.


Entah kapan pria paruh baya itu menghubungi para pengawalnya, dua orang bertubuh besar melangkah masuk ke dalam ruangan dan berdiri di antara mereka. Ansel tahu, sang papa akan memutuskan sesuatu yang mungkin tidak disukainya.


"Hak ibumu adalah mendapat pengobatan penuh dan diterima di rumah ini, apa lagi?" ucap Dwitama.


"Aku mau membawa mama pergi dari rumah ini." Ansel mengutarakan keinginannya.


Mendengar pernyataan itu Dwitama tertawa remeh. "Memangnya kamu bisa apa? Untuk mengurus dirimu sendiri saja kamu belum tentu mampu. Biaya ibumu lebih mahal dari yang kamu tau."


"Untuk itulah aku meminta hak mama di rumah ini, aku akan mengolahnya dengan baik untuk keperluan kami."


"Apa kamu pikir saya akan percaya kepadamu?" Pertanyaan itu terlontar dengan senyum remeh di bibir Dwitama, dia tidak percaya pemuda itu dapat membangun sebuah usaha tanpa dirinya.


Ansel menyandarkan tubuhnya pada kursi, kesabarannya kian menipis. Sikap meremehkan pria itu benar-benar melukai perasaannya. Tapi tidak masalah, toh dia memang sudah terbiasa.


Sekali lagi Dwitama menegaskan bahwa hak wanita itu adalah mendapat biaya pengobatan dari dirinya. Dia juga berkata bahwa mereka tidak boleh pergi ke mana-mana.


"Tapi papa sudah berjanji akan memberikan apapun jika aku berhasil menjalankan tugas!" Dengan marah Ansel beranjak berdiri. "Aku ingin membawa mama pergi dari sini!" tegasnya lagi.


Dua pengawal sang papa menghampirinya, meminta Ansel untuk kembali duduk, namun pemuda itu menolaknya.


"Saya akan memberikan pengobatan terbaik untuk ibumu, juga tempat yang layak seperti istri saya yang lain. Dan kau juga boleh bekerka di perusahaan saya. Perlu apa lagi?"


Ansel tahu, sejak dulu tidak ada yang bisa menentang keputusan pria itu. Dia pun kembali mengalah untuk ke sekian kalinya. Tapi sebagai gantinya, dia meminta sang mama dipindahkan dari rumah utama, wanita itu tidak nyaman berada di tempat ini dengan mereka. "Mama butuh ketenangan," ucapnya.


Dwitama lalu memberi pilihan pada Ansel untuk memindahkan ibunya ke mana saja. Yang penting tidak keluar dari mansion Bagaskara.


Ansel pun meminta gedung utara untuk ditempati mereka, sebuah rumah sederhana yang dilengkapi dengan danau buatan juga taman di sekitar bangunannya. Di tempat itu dia yakin, sang mama akan mendapatkan ketenangan.


Dwitama lalu setuju, dia sedikit memberi kelonggaran pada pemuda itu. Dan berkata akan memikirkan pekerjaan apa untuk Ansel di kantornya.


Ini kepanjangan jadi dibagi dua moga langsung muncul ya.

__ADS_1


Kalo belum muncul juga bisa ke w a t t p a d pasti udah muncul.


nggak pasang foto soalnya banyak yg komplen gasesuai imajinasi wkwkwk yaudah biar berimajinasi sendiri aja ya.


__ADS_2