Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
31


__ADS_3

Menjelang malam, Sena mengobrol dengan Ansel lewat telepon video. Tentu saja gadis itu yang menghubunginya lebih dulu, Sena merasa dengan pria yang entah bagaimana ceritanya kini sudah menjadi pacarnya itu, dia merasa benar-benar menjatuhkan harga dirinya.


Beruntung kali ini dia bisa menggunakan dalih ingin mengabarkan pada pemuda itu, bahwa sore tadi dia sudah ke rumah sakit tempat dokter teman papinya berjaga. Berhubung masih sibuk, Sena meninggalkan obat-obatan di sana untuk diperiksa.


"Lo nggak rindu apa gimana gitu sama gue, ngabarin aja nggak pernah, nelepon juga gue duluan. Apa-apaan, lo suka sama gue apa nggak sih sebenernya?" Sena lama-lama sewot juga, menjalin hubungan dengan pria yang tidak peka semelelahkan ini ternyata.


Di layar ponselnya itu, wajah tampan Ansel tampak memenuhi layar, terlalu penuh hingga rasanya hanya terlihat bibir, hidung dan matanya saja. Pemuda itu tersenyum menanggapi omelannya.


"Mundurin dikit hapenya mundurin," titah Sena, dengan menggerak-gerakan telapak tangannya agar Ansel menjauh dari kamera. "Munduran dikit gantengnya kelewatan."


"Apah?"


"Muka lo kelebaran. Munduran."


"Seperti ini?" Ansel sedikit menjauh dari kamera yang dipegangnya, kali ini sedikit menampakan bagian leher juga dada.


"Iya gitu emang lo nggak pernah video call apah?"


"Belum pernah. Eh beberapa kali si, jarang."


"Astaga!" Pekik Sena tidak percaya, lo punya hape buat apaa!" Imbuhnya.


Ansel tampak berpikir. "Menghubungi seseorang?"


"Iya, tau-tau." Sena memutar bolamatanya jengah. "Itu lo padahal bisa 'menghubungi seseorang' tapi kenapa nggak pernah telepon gue coba?" todongnya.


"Saya tidak tahu nomor kamu sudah tersimpan."


"Ya Allah Astaghfirullah." Sena menekan keningnya dengan telapak tangan, berguling di atas kasur dengan masih mempertahankan raut wajahnya tetap di layar. "Beneran harus dijadwalin nih berantem sama lo, seminggu tiga kali deh. Cape gue."


Bukan merasa bersalah Ansel malah tertawa. "Saya benar-benar tidak tahu nomor kamu sudah tersimpan."


"Kan waktu gue minjem hape lo itu gue bilang nyimpen nomor."


"Lupa," jawab Ansel tanpa dosa, senyum merekah masih bertahan di bibirnya.


"Lo nggak coba nyari? Ada nggak gitu dalam benak lo pengen hubungin gue."


"Hm?" Ansel tampak berpikir. "Nggak," imbuhnya dengan spontan tertawa.


"Aduuuuh." Sena mengerang panjang, mengusap raut wajah frustrasinya dengan telapak tangan. "Pen gue putusin tapi baru jadian, gimana doong," gumamnya pelan.


Ansel juga tidak mengerti kenapa dia tidak berpikir untuk menghubungi gadis itu. Mungkin karena terlalu fokus pada sang mama membuatnya sibuk pada wanita itu saja.


"Lo belum pernah pacaran?" Sena kembali bertanya, gadis itu beranjak duduk dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.


"Menurut kamu?"


"Belum sih kayaknya."


Ansel kemudian tertawa, hal itu membuat Sena jadi tahu dengan jawabannya. "Lo dua puluh empat taun ngapain?"


"Belajar lah."


"Lo tuh kaya abang gue banget tau nggak?"


"Bang Jino?"


"Bang Nino." Sena meralat tebakan pemuda itu. "Bang Nino juga gitu waktunya abis buat belajar. Kalian itu nggak nikmatin masa remaja."


"Kamu pernah pacaran?" Ansel balik bertanya, pria yang tengkurap di kasurnya itu menopangkan dagu pada bantal.


"Nggak pernah."

__ADS_1


"Bohong."


Sena tertawa. "Menurut lo gue pernah pacaran berapa kali?"


Pertanyaan itu membuat Ansel sontak berpikir. "Emm, berapa ya. Sepuluh?" tebaknya asal.


"Ya ampun dikit banget mantan gue."


"Hah?"


"Bercandaa." Sena kembali tertawa melihat keterkejutan di wajah pemuda itu, padahal dia juga lupa berapa kali berpacaran dengan seorang pria. Sena tidak pernah menghitungnya. "Di sekolahan lo eman nggak ada ceweknya, masa nggak pernah ada yang lo deketin atau deketin lo gitu?"


"Ada, hanya teman. Tidak lebih."


"Temen deket sering jalan bareng? Friendzone gitu ya?"


Ansel menggeleng. "Teman ketemu di kelas."


"Astaga."


"Lo nggak pernah nongkrong?"


"Nggak."


"Ya ampun main lo kurang jauh. Eh tapi lo berapa taun di luar negri, di sana kan pergaulannya bebas."


"Sama saja, mungkin tergantung orangnya."


Sena menggelengkan kepalanya tidak percaya, gadis itu tersenyum takjub menatap wajah pemuda di layar ponselnya. Padahal jika boleh menilai, Ansel adalah pria tampan yang tidak mungkin diabaikan para perempuan di sekitarnya.


Tapi wajar saja jika tidak ada yang bisa mendekatinya, jika bukan Karena Sena yang menanggalkan harga dirinya. Mereka juga tidak akan sedekat itu.


"Sena?"


"Hm?"


Pertanyaan polos itu membuat Sena menahan senyum. "Lo mau tau? Entar gue ajarin."


"Hanya ingin belajar jadi pacar yang baik buat kamu."


"Lo harus rajin telepon gue."


"Untuk?"


"Nanyain kabar gue lah."


"Sebasa-basi itu?"


"Ya ampun basa-basi." Sena naik pitam lagi. "Basa-basinya orang pacaran tuh beda yaa, Masnya. Lo emang nggak seneng buang-buang waktu buat teleponan sama gue kaya gini?" omelnya.


Sepertinya ada yang salah dengan hubungan mereka, Sena merasa pria itu sedikit terpaksa memacarinya.


"Sena?"


"Apah!"


"Kamu cantik saat marah-marah."


Sena menipiskan bibirnya, menahan segumpal emosi yang nyaris melarikan diri entah kemana. Bisa-bisanya dia terenyuh hanya karena gombalan sedatar itu. Yang bahkan dia sering mendengarnya dari mulut laki-laki manapun di luar sana.


"Terus lo nyuruh gue buat marah-marah gitu? Jangan-jangan lo sengaja ya bikin gue emosi mulu."


Ansel sedikit tertawa. "Tidak begitu," ujarnya.

__ADS_1


Sena berdecak malas, keterdiaman dirinya membuat suasana berubah hening beberapa saat. "Yaudah lo tidur gih," titahnya.


"Kamu marah?"


"Nggak. Emang kenapa? Gue berubah jadi jelek kalo lagi nggak marah?"


"Tidak begitu." Sesaat Ansel kembali diam. "Terimakasih untuk peduli pada mama saya," imbuhnya dengan topik yang berbeda.


Sena mengangguk. "Santai aja," ucapnya.


"Besok kuliah?" Ansel bertanya.


"Kenapa? Mau nganterin?"


"Boleh."


Sena berdecak kecil, sepertinya dia harus pintar memancing, pacarnya itu tidak bisa inisiatif sendiri. Ceileeh, pacar. Sena masih tidak percaya status itu sudah mengikat mereka, dengan cara yang paling tidak romantis pula. Dia tidak tahu hubungan mereka bisa bertahan berapa lama.


"Nggak usah nganterin, besok gue ada kelas pagi. Takutnya lo kesiangan. Jemput pulangnya aja ya." Sena menjelaskan.


"Yasudah."


"Hm." Sena bergumam untuk menanggapi percakapan yang semakin garing saja, pria itu benar-benar tidak bisa mencairkan suasana. "Yaudah gue tidur dulu udah malem."


"Ok." Setelah melambaikan tangan sekilas, Ansel lalu mematikan sambungan telepon mereka.


Sena memberenggut kesal, meletakan benda di tangannya ke atas kasur. "Gue waras nggak sih macarin dia, udah yang nelepon duluan gue, malah dia yang duluan matiin. Harusnya kan gue," gumamnya.


Ketukan di pintu membuat gadis itu seketika menoleh. "Siapa?" tanyanya.


"Sena."


Sena segera melompat turun saat yang memanggilnya adalah sang papi, gadis itu lalu membuka pintu. "Ada apa, Pi?"


Justin menyodorkan amplop putih besar di tangannya. "Dari Dokter Arya," ucap pria itu.


"Oh, iya tadi aku nemuin dia tapi dianya lagi sibuk." Sena hendak meraih benda dari tangan papinya, namun pria itu mengelak.


"Punya siapa?" tanya Justin.


Sesaat Sena merasa ragu, namun kemudian bercerita bahwa itu adalah obat-obatan yang dikonsumsi mama Ansel.


"Sudah papi katakan, Sena. Jangan ikut campur dengan urusan keluarga mereka."


"Papi."


***


Netizen: Apakah papi entin akan jadi pemeran antagonis di sini. Eeaàa


Author: Seantagonis-antagonisnya Bang Entin, inget dia adalah kucing persia.


Netizen: Iya juga.


Author: Mulai tanggal 16 aku mau update Titik balik lagi, bantuin subnya napah.


Netizen: Kan blom tamat Senanya.


Author: Soalnya kalian pada komen jan buru buru ditamatin, jadi bingung aku.



__ADS_1


__ADS_2