Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
43


__ADS_3

Mendengar jawaban yang berbeda dari Bastian, Sena tentu saja bingung. "Kata Ansel kalian berteman sejak sma."


Bastian sedikit tertawa. "Iya sih, bisa dikatakan begitu. Saat sma aku adalah murid baru pindahan dari luar negri. Tapi kami tidak dekat waktu itu."


"Ceritain dong  gimana kalian bisa dekat." Sena sedikit menggerakan kakinya untuk memainkan ayunan yang ia duduki. Tidak berharap banyak pria itu mau bercerita sebenarnya, hanya berbasa-basi saja.


"Kami pernah satu sekolah saat sma, tapi kami dekat saat aku justru kembali ke luar negri dan berkuliah di tempat yang sama. Tapi hanya beberapa tahun saja. Saat aku kembali ke negara ini, Ansel masih di sana."


"Ooh." Sena mengangguk mengerti, namun tidak banyak menanggapi, sampai pria itu bercerita lagi.


"Ansel bukan tipe orang yang mudah didekati, dia punya dunianya sendiri yang diciptakan oleh orangtuanya." Bastian tampak menerawang saat menceritakan tentang hal itu.


Sena sepertinya mengerti, Ansel juga pernah bercerita tentang kehidupannya yang sedikit berbeda. "Terus, kenapa kalian bisa dekat?"


"Dia pernah menolongku. Sejak itulah aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi temannya, yang ternyata hanya aku saja." Bastian tertawa miris, dia lalu menceritakan pada Sena tentang kehidupan Ansel yang seperti di penjara. "Kami bahkan hanya bertemu di kelas saja. Papanya melarang dia untuk bergaul dan memiliki teman. Sepertinya Ansel memang sengaja diasingkan dengan berdalih melanjutkan kuliah. Di sana dia dijaga ketat untuk tidak pergi kemana-mana, bahkan jika ingin menemuinya saja begitu susah."


Sena merasa miris mendengar cerita dari Bastian. Pantas saja selama ini Ansel begitu kaku dan sulit mengungkapkan perasaannya. Pria itu memang selalu sendiŕìan. 


"Makanya saat dia bercerita tengah dekat denganmu, aku nyaris tidak percaya."


Sena hanya tersenyum menanggapinya, kemudian menoleh ke arah gerbang saat Ansel terlihat mendekat. Sena mengangkat tangannya yang tidak memegang es krim untuk melambai.


"Lasena Maura," ucap Bastian lirih saat Sena masih fokus pada kekasihnya.


"Iyah." Sena pun menoleh.


"Meski Ansel tidak pandai mengungkapkan perasaannya, tapi percayalah. Dia sangat mencintaimu." Bastian terlihat begitu tulus saat mengutarakan tentang hal itu, dari kedua sorot matanya Sena juga dapat melihat ketulusan seorang teman di sana.


"Terimakasih. Apa dia cerita banyak padamu?" Sena balik bertanya dengan kembali menoleh pada Ansel yang menerima panggilan telepon entah dari siapa.


Bukan langsung menjawab Bastian justru malah tertawa. "Ansel tidak pernah banyak bercerita jika kita tidak bertanya. Jadi jika kau ingin tahu sesuatu tentangnya, lebih baik langsung tanyakan saja."


"Apa emang dia gitu orangnya?"


Bastian mengangguk. Tidak lagi menanggapi kalimat itu saat Ansel sudah begitu dekat dengan mereka, dia pun beranjak berdiri dan berpamitan untuk pergi dari sana.


"Kalian membicarakan apa?" Ansel bertanya setelah sahabatnya pergi meninggalkan mereka. Pria itu duduk di ayunan kosong sebelah kekasihnya.

__ADS_1


"Banyak. Dia anak yang asik."


"Kamu pasti merasa nyaman, kan?"


"Nggak senyaman sama kamu sih."


Ansel tampak tersipu, senyum manis itu tidak pernah luntur dari bibirnya.


Sesaat Sena terdiam, dia lalu berpikir apakah benar yang dikatakan oleh Bastian. Ansel tidak akan menceritakan sesuatu jika dia tidak bertanya, dia lalu memutuskan bertanya untuk apa Bastian menemuinya dan apa yang mereka bicarakan.


"Kamu ingin tau?" Ansel balik bertanya.


"Kalo kamu keberatan buat cerita, ya nggak usah."


"Aku meminta Bastian untuk meretas cctv di mansion Bagaskara."


Bukan menanggapi, Sena justru malah terdiam. Sekarang dia jadi bingung harus apa yang ditanyakan. Bolehkah dia ikut campur dengan urusan mereka.


"Kamu bukannya masih di sana?" Dengan sedikit ragu Sena bertanya.


Ansel mengangguk. "Memang. Untuk mengurangi kecurigaan mereka bahwa mama tidak ada, aku harus tetap di sana. Tapi aku berniat untuk tinggal di apartemen dulu."


Dugaan itu membuat Ansel sedikit tertawa. "Mereka tidak sepeduli itu," ungkapnya. "Aku ikut makan malam jika ada yang ingin mereka bicarakan. Dan Paman Lim pasti akan memberitahukannya."


"Ah, gitu ya," gumam Sena. Dia jadi merasa tidak enak karenanya. "Maaf."


"Kenapa harus minta maaf." Ansel mengambil tisu lagi dan membersihkan tangan Sena yang kotor setelah eskrimnya habis.


"Tadi kamu ngapain, kok cepet."


"Cuma kasih tanda tangan buat persetujuan aja."


"Ooh." Sena tersenyum menanggapi keterbukaan pria itu.


"Kenapa? Ngeliatinnya kok gitu." Ansel terlihat salah tingkah.


Sena menggeleng. "Abis ini mau ke mana?"

__ADS_1


"Udah sore,  kamu mau pulang."


"Katanya sampe malem."


"Yaudah, kamu mau kemana lagi. Aku ikutin."


**


"Pi, Sena belum pulang." Jino menghampiri sang papi yang tengah menonton televisi di ruang keluarga.


Sekilas pria paruh baya itu menoleh, namun kembali fokus pada layar dan mengganti saluran dengan remot di tangannya.


"Udah malem loh, Pi," adu Jino lagi. Biasanya sang papi paling anti jika anak gadisnya itu pulang larut malam begini. Jika bukan dengan Kairan atau Julian, Sena pasti tidak diperbolehkan pergi, itupun dengan catatan tidak boleh pulang pagi.


"Sena kan bersama Askara."


"Papi nggak khawatir?"


"Sebelumnya Aska juga jadi pengawal Sena, mereka selalu pergi bersama. Apa yang perlu papi khawatirkan?"


"Papi sepercaya itu pada putra ke tiga Bagaskara? Kalo sena diapa-apain gimana?"


Sesaat Justin tertegun, kemudian menoleh pada Jino. "Kan Askara nggak suka perempuan."


"Hah?"


***


Netizen: Oalah, papi masih ngira Bang Ansel Lekong gess.


Author: Bang Jino takut adeknya digrepe ***** padahal mah Bang Ansel yang ternoda.


Netizen: Kaga kaga, gue mah tetep nyalahin elu


Author: 😒😒😒


__ADS_1



__ADS_2