Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
18


__ADS_3

Ansel memastikan semua penghuni rumah sudah pergi saat dia menyelinap ke ruangan kerja Tuan Justin, yang tentu saja dia tahu di mana pria itu meletakan kuncinya.


Para pekerja di rumah besar ini sudah pasti berada di kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Pada Paman Handi Ansel meminta izin keluar rumah untuk berobat, meski nyatanya dia tidak benar-benar pergi dari sana.


Ansel mengenakan sarung tangan, agar tidak meninggalkan jejak sidik jari saat dia menyentuh apapun.


Bukan berkas-berkas yang bertumpuk, pemuda itu justru malah mengambil bingkai foto yang terletak di atas meja. Potret anak kembar Tuan Justin yang tengah merangkul Sena di tengah mereka.


Ansel tentu dapat menebak bahwa Tuan Justin begitu menyayangi putra putrinya. Apakah sang papa menyimpan foto anak-anaknya di meja kerja seperti ini juga? Yang pasti tidak akan ada potret dirinya di sana.


Ansel meninggalkan benda itu, beralih pada sesuatu yang ia cari saat ponsel di saku celananya bergetar tanda telepon masuk dari seseorang.


Bastian. Pria itu terdengar menguap saat dia menerima sambungan. Kemudian meminta maaf karena baru terbangun dari tidurnya.


Ansel berdecak kecil. Dia menyuruh temannya untuk membantu mengawasi lewat cctv, takut kalau-kalau penghuni rumah ini telah kembali.


"Jadi, kau akan segera pulang setelah ini?" Bastian bertanya di seberang telepon.


Mendengar itu sesaat Ansel terdiam, sedikit ragu saat menjawab iya pada sahabatnya.


Bastian berkata akan menjemputnya, lalu bertanya kapan dan jam berapa dia akan pergi dari sana.


"Itu....." Ansel bingung harus menjawab apa, seperti ada sesuatu hal yang belum ia selesaikan di rumah ini. Begitu berat rasanya saat memutuskan untuk pergi. "Nanti aku kabari lagi," ucapnya kemudian.


Ansel lalu menutup sambungan, kembali fokus dengan apapun yang dia cari untuk dilaporkan pada sang papa. Dan setelah itu tugasnya akan selesai dan dia bisa pergi dari sana. Untuk sekarang ini, hanya itu harapannya.


.


Di tempat berbeda, sebuah pesta yang diperuntukan bagi kaum sosialita selalu membuat Sena merasa bosan berada di dalamnya.


Para orangtua membanggakan putra putri mereka yang begitu sukses di usia muda. Beruntung sang papi ada si kembar yang tentu saja begitu membanggakan tanpa harus dia umbar. Dan untuk dirinya, tentu saja cukup menuai pujian karena tumbuh dengan begitu cantik jelita.


"Apakah ini putri bungsu anda? Wah, cantik sekali. Sayang putra saya semuanya sudah beristri."


Kalimat itu tidak hanya sekali Sena dengar dari teman-teman sang papi. Dia hanya perlu tersenyum ramah dan mengangguk sopan pada mereka yang terus memujinya.


Sena mengedarkan pandangannya mencari sosok Julian, sama seperti dirinya, anak itu selalu dipaksa menghadiri pesta yang serupa. Dan cukup jauh dari mereka dia melihat pemuda itu tengah bersama keluarganya dan dikenalkan dengan seorang wanita muda. Sudah biasa.


"Mi, aku ke Kairan ya." Sena menunjuk Kairan yang berdiri sendirian di dekat meja berisi buah-buahan, pemuda itu terlihat sibuk mengunyah, berbeda dengan Arka sang kakak yang tengah diperebutkan oleh anak rekan kerja papinya. Memang Kairan benar-benar tidak ada yang bisa dibanggakan di keluarga, selain terlahir tampan tentu saja. Iya, sama seperti dirinya.


"Mau ke mana si." Sang mami terlihat tidak suka. "Udah sini dulu," ucapnya.


"Bosen, Mii." Sena kembali berbisik pada ibunya.


"Nggak, sini aja," tegas Nena. "Kamu kalo udah sama Kairan pasti pulang deh."


"Nggak, Mi. Ngobrol doang."


"Udah sini aja."

__ADS_1


Perintah tak terbantahkan itu membuat Sena mau tidak mau menurutinya. Meski sedang kesal dia tentu harus tetap terlihat ramah. Sungguh bukan dirinya.


Pria berseragam rapi yang Sena tahu bernama Alvin mendekat. Dia adalah asisten khusus sang papi, orang kepercayaan keluarga mereka yang sudah seperti saudara sendiri.


Alvin mengatakan bahwa Tuan Dwitama Bagaskara mengajak pria itu untuk melupakan semua masalah di antara mereka.


Beliau mewakili Bagaskara grup ingin menjalin tali silaturahmi dengan saling menyapa dan membicarakan proyek pembangunan luxury hotel, yang akhir-akhir ini menjadi tujuan keduanya.


Sebagai pemilik perusahaan yang sama-sama bergerak di bidang kontruksi, keduanya kerap kali berselisih. Dan mungkin saja, hubungan baik yang terbangun malam ini akan berdampak baik juga untuk perusahaan mereka nanti.


Mau tidak mau, Sena yang berdiri di sebelah papinya itu mendengarkan percakapan mereka. Sang papi tampak setuju, pria yang sering dia panggil Om Alvin itu menceritakan tentang keluarga Bagaskara, yang memiliki dua putra dan satu anak perempuan yang masih sekolah. Dengan pengetahuannya yang luar biasa, dia juga membeberkan informasi apa saja tentang keluarga Bagaskara, agar mereka lebih akrab nantinya.


Sena nyaris kabur dari tempatnya berdiri, saat sang mami menarik lengannya dan memperkenalkan sekali lagi pada keluarga yang mereka temui.


"Dizar Bagaskara." Pria berpakaian rapi yang merupakan anak pertama keluarga Bagaskara memperkenalkan dirinya. Lalu disambut dengan ramah oleh Justin juga keluarganya.


Dwitama yang merupakan ayah dari pria itu kemudian menepuk lengan putranya. Membeberkan pencapaian apa saja yang sudah berhasil diraih oleh dirinya.


"Ini putra ke dua saya, namanya Sandi. Kebetulan, Sandi ini belum ada calon loh, Pak Justin. Barangkali cocok dengan putri bapak." Dwitama menepuk pundak putra ke duanya.


Sena hanya tersenyum, menanggapi candaan itu. Tampaknya Sandi juga melakukan hal yang sama.


"Saya yakin perempuan pasti banyak yang mendekati Nak Sandi ini, hanya saja mungkin belum ada yang cocok."


Mereka lalu terlibat percakapan yang mengundang tawa untuk saling menghargai satu sama lainnya.


"Bukankah anda juga punya seorang putri yang cantik?" Justin bertanya setelah Alvin membisikan sesuatu di telinganya.


"Itu istri saya. Dan juga putri bungsu saya." Dwitama memperkenalkan mereka.


Melihat seorang gadis yang menghampiri mereka Sena tertegun. Dia seperti pernah melihat anak itu sebelumnya, atau memang kebetulan hanya mirip saja.


Setelah mencium punggung tangan kedua orangtua Sena untuk berkenalan, gadis cantik yang masih terlihat amat muda itu mengulurkan tangan pada Sena. "Saci," ucapnya.


"Saci?" Ulang Sena. Jika hanya wajah yang terlihat sama, kemungkinan mereka hanya mirip saja. Tapi namanya pun ternyata sama juga.


"Iyah, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Ah? Enggak." Sena tersenyum ramah, lalu kembali teringat pada Ansel dan semua kebohongannya.


Dia adikku. Kalimat itu berputar-putar di kepala. Namun Sena memilih untuk diam saja.


.


"Balik yuk." Ajak Sena dengan menarik lengan Kairan yang masih terlihat sibuk nemilih buah.


"Acaranya belom kelar, lo mau diomelin bokap lo." Kairan menolaknya.


"Yaudah gue balik sendiri."

__ADS_1


"Eh!" Kairan menarik lengan gaun yang dikenakan sepupunya. "Mau ke tempat pesta temen lo?" tudingnya.


Sena berdecak. "Nggak, orang gue mau pulang ke rumah," ungkapnya.


Melihat raut wajah murung gadis itu Kairan jadi bingung. "Lo kenapa si?" Dia lalu bertanya.


"Gue mau balik, lo mau nganterin nggak. Kalo nggak yaudah, gue balik sendiri."


"Yaudah-yaudah, Iya."


.


Di tempat berbeda, kontras dengan hingar bingar pesta. Ansel masih mengamati berkas-berkas yang ia buka di atas meja.


Getar ponsel yang ia taruh di saku celana membuat dia sedikit terlonjak, panggilan telepon dari Bastian. Dia lalu mengangkatnya.


Bastian mengabarkan tentang sebuah mobil yang memasuki gerbang rumah itu. Ansel melirik jam yang tersangkut di atas dinding, bingung kenapa mereka pulang secepat ini.


Dengan panik Ansel merapikan kembali berkas-berkas yang berserakan di atas meja. Bastian mengatakan bahwa si pemilik rumah sudah turun dari mobilnya.


Ansel menyibak tirai ruangan itu yang terletak di lantai dua. Dia dapat melihat Sena yang keluar dari mobil sepupunya.


"Apa dia masuk rumah?" Dengan kedua tangan yang sibuk merapikan barang-barang di atas meja. Ansel bertanya.


Bastian berkata, perempuan itu tidak masuk ke ruang utama. Malah belok ke pintu utara.


Mendengar pemberitahuan itu Ansel tertegun, itu adalah arah ke ruangan khusus karyawan. Apa Sena tengah mencarinya?


.


"Askara ada di kamar nggak, Pak?" Sena bertanya setelah turun dari mobil yang dikemudikan oleh Kairan. Mendapat perintah untuk kembali lagi ke pesta setelah mengantarkan sepupunya, Kairan lalu pergi dari sana.


"Nak Aska sedang tidak ada di kamar, Non. Dia meminta izin untuk berobat," jawab Handi yang memang tengah bertugas jaga malam ini.


Sena yang merasa tidak yakin lalu berjalan ke arah kamar pengawalnya, memastikan apakah pemuda itu benar tidak ada di sana.


"Askara!" Sena mengetuk pintu kamar, dia ingin menanyakan perihal perempuan bernama Saci yang ia akui sebagai adiknya. Kenapa pemuda itu membohonginya. "Aska buka!" Teriaknya dengan kembali menggedor pintu di hadapannya.


"Non Sena?"


Panggilan itu membuat Sena menoleh, menatap pria bernama Askara yang baru datang entah dari mana.


"Gue mau ngomong sama lo."


**


Author: Mon maaf ini perasaan gua tiap hari minta maap mulu 😂


Netizen: ya emang lu kebanyakan dosa, ini juga minta maaf lagi btw.

__ADS_1


Author: Lah iya haha.


jan pada kabur ya, pasti ceritanya aku lanjutin kok.


__ADS_2