Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
23


__ADS_3

"Karena lo adalah satu-satunya manusia yang berhasil ngajarin gue, bahwa nggak semua keindahan di bumi ini bisa gue miliki," ucap Sena. Tanpa dia pungkiri, terlahir dari keluarga kaya raya membuat dia bisa membeli apa saja jika menginginkannya. Dan Askara adalah salah satu keindahan yang tidak bisa ia tukar dengan uangnya.


Om Alvin asisten khusus sang papi menemukan bukti bahwa dia memang putra Bagaskara. Dugaan sementara kenapa Dwitama menyembunyikan keberadaannya, mungkin untuk membuat rencana. Dan salah satunya adalah masuk ke rumah Justin dan menjadi seorang mata-mata.


Sang papi tentu sudah mewanti-wanti agar Sena tidak menaruh hati, pada pria yang sampai saat ini masih berstatus sebagai pengawalnya.


Sena merasa hal itu teramat lucu, dia dipinta untuk melepaskan sesuatu, yang bahkan belum sempat ia genggam di tangannya. Semenyakitkan itu.


"Maksudnya?" Entah benar tidak mengerti atau hanya berpura-pura, Ansel bertanya dengan menunjukan kebingungan di raut wajahnya.


Sena mengibaskan sebelah tangan. "Lupain aja," ucapnya kemudian melangkah pergi dari sana.


"Nona Lasena Maura." Dengan lengkap, Ansel memanggil nama anak majikannya.


Sena yang menghentikan langkah kemudian berbalik. Kedua bola mata pria itu tampak menyiratkan apa yang akan terjadi di antara mereka, Sena tahu Ansel akan pergi meninggalkannya. "Kenapa?"


"Terimakasih sudah diizinkan menjadi pengawal Nona."


"Jangan panggil gue Nona, panggil aja Sena. Gue tau kok lo siapa."


Meski pernyataan itu tidak membuat Ansel terkejut, dia terdiam. Tentu saja Ansel sudah menyangka bahwa sang nona sudah tahu semuanya, yang tidak habis pikir kenapa mereka tidak menghakiminya.


"Maaf." Ansel menyesal, meski dia mendapat kabar baik bahwa sang papa telah memenangkan proyek yang diinginkannya. Dia benar-benar merasa gagal. "Maafkan saya," ulangnya.


Sena bingung harus berkata apa, papinya tidak pernah mengajarkan dirinya untuk marah dalam menghadapai setiap masalah. Selama ini Sena tidak pernah menerapkannya, tapi pada Ansel entah kenapa dia begitu lemah.


"Kalo lo mau kasih gue alasan, silahkan." Sena memberikan kesempatan jika Ansel ingin meluruskan semuanya. Tapi pria itu justru diam saja.


Ansel bingung harus melontarkan alasan apa, dia jelas-jelas bersalah. Dan perbuatannya sungguh sangat merugikan keluara Sena. Selain diam saja dan meminta maaf untuk ke sekian kalinya, dia harus apa?


"Yaudah kalo lo emang nggak bisa kasih alasan apa-apa, tugas lo udah selesai kan. Lo boleh pergi." Sena mengalihkan pandangannya ke arah manapun, entah kenapa dia justru merasa sedih dengan perpisahan ini.


Ansel menatap gelang pemberian gadis itu yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia sungguh sangat merasa bersalah tentu saja.


"Apa Nona membenci saya?" Ansel bertanya.


Sena lalu menoleh. "Harus, kan? Gue emang udah seharusnya benci sama lo, yang udah berani masuk ke keluarga gue buat...." ucapannya terhenti, terasa begitu sesak di dalam dadanya saat dia menyadari bahwa mereka telah dibodohi. "Yaudahlah, alasan gue benci sama lo bukan karena itu."


"Apapun alasan Nona, saya menerimanya." Ansel berucap lirih, terlepas dari bagaimana gadis itu menyusahkan dirinya selama ini, Sena adalah seseorang yang membuatnya merasa berguna. Terlebih saat gadis itu mengucapkan terimakasih kepadanya.


Sena mengangguk. "Benci sama lo bahkan nggak bisa ngelupain semuanya. Makasih udah mau jagain gue," ucapnya.


***


Mendapat kabar baik bahwa sang papa telah berhasil mengalahkan para pesaingnya, Paman Lim menyuruh Ansel untuk segera pulang ke rumah. Ansel benar-benar merasa bersalah pada Justin, pria itu pasti sangat membencinya. Tapi bagaimanapun juga, ada yang harus ia sampaikan sebelum pergi dari sana.


Ansel mengetuk pintu ruangan kerja Justin, dari Lilis dia tahu bahwa Tuannya berada di dalam sana. Tidak berani melakukannya dua kali, Ansel nyaris beranjak pergi saat suara benda terbuka membuat ia menoleh.

__ADS_1


"Tuan." Ansel mengangguk hormat, tanpa berkata apa-apa, dia berharap pria paruh baya itu sudah tahu alasan kedatangannya.


"Masuklah." Justin membuka pintu untuk tamunya, kemudian ia tutup lagi dan kembali duduk di kursinya.


"Silahkan duduk," ucap Justin, namun Ansel menolaknya. Pemuda itu berkata ingin meminta maaf atas kesalahannya. Lalu menyerahkan diri dan siap dilaporkan pada polisi jika Justin menginginkannya. Satu hal yang Ansel pinta, dia tidak ingin sang papa sampai terbawa-bawa.


Justin menyimak pengakuan itu dengan sedikit senyum, namun tidak disadari oleh pria yang menunduk di seberang mejanya.


"Melaporkanmu pada polisi? Apa saya tidak akan dianggap orang gila. Karena bahkan jejakmu saja tidak ada di rekaman cctv rumah saya."


Ansel semakin menyembunyikan wajahnya, sungguh dia begitu malu akan perbuatannya yang menjijikan itu. "Maaf, Tuan. Jika anda mau, biar saya yang menyerahkan diri saja."


"Tanpa bukti?" sindir Justin lagi. "Jadi, sebenarnya apa yang kamu inginkan sampai menyelinap di rumah ini?"


"Se, saya mencuri, Tuan," akunya dengan menyesal.


Justin mengangkat alis. "Apa yang kamu curi? Saya bahkan tidak merasa kehilangan apapun."


Ansel lalu mengaku telah menyelinap ke ruang kerja Justin, untuk mencuri data-data akurat tentang klien mereka. Juga mempelajari ide yang pria itu tuangkan di sana.


"Kenapa harus repot-repot ke rumah saya, kau bisa memintanya pada ayahmu," ucap Justin merasa aneh.


Ansel pun terdiam, dia tidak berani mengatakan bahwa hubungannya dengan sang papa memang berantakan.


Justin beranjak berdiri, mendekati Ansel yang masih enggan membuka suara. "Ayahmu tidak memberikan informasi itu, karena dia tidak percaya pada kemampuanmu. Dia justru mengutusmu untuk mencuri ide saya. Dan kau memberikan idemu sendiri lalu memenangkannya. Wow!"


Justin menggelengkan kepala. "Sebenarnya, apa yang terjadi dengan keluargamu?"


Pertanyaan itu membuat Ansel perlahan mendongak, semakin bingung harus memberikan jawaban bagaimana.


Justin mengangkat kedua tangannya. "Oke, mungkin ini terlalu pribadi, saya tidak berhak mengetahuinya bukan. Tapi bahkan, kau sendiri sudah memasuki ruang-ruang pribadi saya."


"Maaf, Tuan. Saya mengaku salah."


"Saya juga menaruh cctv di depan jendela kamar putri saya, yang tirainya selalu terbuka."


Ansel kembali menunduk, kemudian menggeleng. "Saya tidak pernah sengaja melihatnya, Tuan."


"Oh, jadi tidak sengaja?"


"Eh, em. Maksud saya...." Entah kenapa Ansel berubah gugup saat membahas tentang hal itu. Beruntung, Justin tidak lagi merisaukannya.


Setelah menepuk lengan atas Ansel, sebagai ungkapan bahwa dia tidak serius mempermasalahkan hal itu. Justin kembali duduk di kursinya dan menyandarkan punggungnya di sana.


"Jadi benar, kau putra Dwitama Bagaskara?"


Ansel mengangguk kecil. "Iya," singkatnya.

__ADS_1


"Setahu saya, Dwitama hanya memiliki dua putra dan satu anak perempuan, jadi kau ini?"


Ansel paham, pria itu tengah mencari tahu tentang dirinya. Mungkin tidak masalah jika dia sedikit mengungkap keluarganya.


"Saya putra ke tiga Bagaskara, berbeda ibu dengan ketiga saudara saya."


Justin tampak berpikir, mencerna kalimat yang terlontar dari pria muda di hadapannya. Yang tidak mereka ketahui, Dwitama ternyata memiliki istri dua.


"Oke." Justin bergumam, meski masih tidak mengerti dengan keluarga macam apa yang disebunyikan oleh rivalnya. Justin tentu tidak berhak untuk bertanya. Dia menduga, mungkinkah Ansel adalah putra yang tidak diakui Bagaskara. "Saya hanya tahu dua putra Bagaskara, mereka dipercaya memimpin perusahaan cabang. Kenapa kau tidak bergabung dengan mereka?"


Ansel terdiam, haruskah dia mengatakan bahwa hubungan mereka tidak seharmonis itu. Haruskah dia menceritakan juga tentang keberadaannya yang tidak diakui oleh sang papa. Haruskah....


"Ansel Bagaskara?"


Panggilan itu membuat Ansel mendongak, tatapannya yang penuh luka tidak berhasil ia sembunyikan dari pria paruh baya di hadapannya.


"Bergabunglah dengan perusahaan saya."


***


Netizen: Kok Papi entin tau si nama Asli Ansel thor.


Author: Nggak ada yang Justin nggak tau pokoknya, bahkan yang gua gak tau aja dia mah tau.


Netizen: yamasaaa


Eh btw aku udah kasih pengumuman di ige aku adeannisa66 ngabarin gak jadi update karya baru hari ini, disitu kusertakan alasannya pokoknya. Wkwkwk


Besok abis duhur aku update karya baru di K B M A P P nya ya, tolong kerjasamanya gess 🤣🤣


Netizen: Abis duhur jam berapa thor.


Author: Ya pokoknya sebelum ashar itu abis duhur. Tapi mepet mepet abis isya lah.


Netizen: Sebelum subuh tuh jan jangan.


Author: Iya bisa jadi .


Netizen: Serah luu 😒😒


Yapokoknya aku minta tolong bantu sub biar ceritaku naik ya. Nanti aku kasih link di ig sama facebook dah biar gak donload apliÄ·asi.


Yg kemaren komen kebanyakan minta tolong kebanyakan pengumuman. Yamaapin ya netizeen, yakalo gaiklas ya gausah gapapa. Namanya juga minta tolong gamau yagapapa. Eeaaa 😆


Wegileh sih kepanjangan iklannya gesss 🥲 yaudah segitu aja dah.


__ADS_1



__ADS_2