
"Ayo, katanya mau ikut." Sena sudah berdiri di balkon kamar sepupunya, melipat lengannya di depan dada saat Ansel yang berkata ingin ikut malah masih berdiri di tempatnya.
Ansel melirikkan matanya ke taman buatan yang berada di bawah mereka, menghitung seberapa tinggi kalau-kalau dia terjatuh dari sana.
Bahkan saat menyelinap ke rumah ini saja dia lebih memilih lewat pintu menggunakan kunci, pernah memang memanjat pagar pembatas, tapi tentu saja tidak setinggi ini.
"Saya lewat gerbang depan saja." Ansel memundurkan kakinya, tidak jadi mengambil ancang-ancang untuk meloncat ke seberang sana. Dan hal itu membuat Sena tertawa.
"Terserah lo." Setelah mengatakan itu, Sena pun berbalik meninggalkan pengawalnya begitu saja. Dia lalu mengetuk jendela kamar Arka, anak pertama omnya.
Setelah mendapat pemberitahuan dari dalam kamar bahwa pintu tidak dikunci, Sena segera masuk dan mengintip Ansel yang sudah berlalu dari tempatnya.
"Ngapain?" Arka, kakak kandung Kairan yang sibuk dengan laptop di meja belajarnya itu bertanya.
Sena berbalik, melangkah menedekati Arka saat pemuda itu kembali fokus pada benda di hadapannya. "Lo sibuk?"
"Masih bisa diganggu sih."
"Oke iya ini gue mau ganggu." Sena naik ke atas ranjang, bersila dan mengambil bantal untuk ia letakan di pangkuannya. "Lo udah ketemu sama pengawal baru gue belum?" tanyanya.
"Udah. Emang kenapa?"
"Nggak kaya pengawal gue sebelumnya kan?"
"Emang sodaraan?"
"Yamaksudnya dia tuh beda, Ka. Nggak kaya pengawal gitu."
Arka menoleh, menatap sepupunya dengan dahi berkerut. "Kurang gede gitu badannya?"
"Nggak juga."
"Pergi lo sana, bikin pusing gue aja." Bukan menanggapi sepupunya Arka malah mengusir gadis itu.
"Arka ih." Sena yang merasa kesal jadi mengomel. Arka ini sifatnya hampir sama dengan Kairan sang adik, sama-sama menyebalkan di mata Sena. Belum lagi jika ditambah Om Ardi, papi mereka. "Makanya lo dengerin gue dulu sini."
"Apa apa. Gue lagi ngerjain tugas nih."
"Kan katanya bisa diganggu."
Arka menghela napas, mengarahkan kursi putar yang ia duduki, pada Sena yang meminta perhatiannya. "Yaudah iyaa."
"Dia tuh beda dari karyawan-karyawan papi sebelumnya." Sena jadi bingung bagaimana menjelaskan pada sepupunya jika ada yang janggal dari pria bernama Askara.
"Beda kenapa? Yang ini normal? Terus kurang ajar sama lo?"
Sena berdecak sebal, gadis itu menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal. "Dia kaya bukan orang dari kampung gitu gak sih, Ka?"
"Ya kan kata papi lo dia sebelumnya kerja jadi bodyguard di luar negri. Wajar lah kalo agak beda." Setelah mengutarakan kalimat itu. Arka kembali berbalik ke layar laptopnya.
Sejenak Sena berpikir, mungkin membenarkan dugaan pemuda itu. "Dia punya nama keluarga juga loh."
"Semua orang punya keluarga, Sena."
Sena turun dari ranjang, berjalan mendekati Arka dan sedikit membungkuk untuk mencari perhatiannya. "Lo kan sering ikut acara-acara perkumpulan sama papi ya, pernah nggak lo denger nama Askara?" tanyanya.
"Nama dia kan Askara?"
"Itu nama keluarga dia, tadi dia ngaku ke gue nama dia itu Ansel. Terus Askara itu nama keluarga. Lo pernah denger?"
"Nggak pernah."
Jawaban Arka terdengar ngasal. Sena jadi sebal. Dia memutuskan untuk menemui Kairan saja.
"Nama Ansel atau Askara, gue nggak pernah denger. Setau gue ada juga Bagaskara."
"Bagaskara?" ulang Sena.
"Iya, tapi itu rival papi lo. Dari dulu Bagaskara grup nggak pernah mau diajak kerja sama, takut kesaing kali." Arka menjelaskan, cukup akrab dan banyak diajari tentang saham oleh papi Sena, membuat Arka cukup tahu dengan siapa saja yang berurusan dengan pria itu.
Sena yang merasa tidak tertarik dengan pembahasan itu tidak lagi menanggapi ucapan sepupunya, dia lalu keluar ruangan dan menemui Kairan di kamarnya.
Berbeda dengan sang abang yang tengah sibuk mengerjakan tugas di laptopnya. Kairan juga sibuk, sibuk main game.
"Julian kemana si? Katanya mau bantuin gue ngadepin Bari." Sena mengeluh, mengambil toples berisi cemilan di hadapan pemuda itu dan duduk di tepi ranjangnya.
Kairan menurunkan headset dari telinga, tentu saja setelah menekan tombol pause pada laptopnya. "Lo nggak hubungin dia?"
"Nggak."
"Dia jemput omanya di luar kota."
"Bukannya oma dia di luar negri?"
"Turun derajat."
__ADS_1
"Kai!"
"Jadinyaa, si omanya itu dari luar negri mampir dulu ke sodaranya, terus baru hari ini dijemput." Kairan merebut toples di pelukan Sena dan ia letakan kembali di mejanya.
Sena melengos kesal. Kemudian memikirkan Julian yang hari ini tidak masuk kuliah. "Nggak bebas dong dia ya, ada omanya."
"Emang lo mau ngajak ke mana?"
"Kemana aja, yang penting nggak ada lo nya."
"Siyal."
Sena tertawa. Dia lalu teringat dengan pendekatan pemuda itu pada gadis bernama Syabila. "Gimana tadi?" Dia pun bertanya.
"Ya, lumayan."
"Dapet nomornya?"
"Nggak."
"Yhaaa!" Sena tertawa meledek, baru kali ini dia melihat sepupunya kesulitan menghadapi perempuan.
"Yang ini beda lah, gue nggak bisa langsung tancap gas." Kairan yang merasa diremehkan jadi kesal, lalu memberikan alasan.
"Mau lo jadiin selingkuhan?"
"Yakali, bisa temenan aja udah bagus banget gue."
Sena kembali tertawa. "Payah banget lo," cibirnya.
Kairan tidak lagi menanggapi, beralih pada laptop dan memainkan gamenya kembali.
"Lo punya saingan, nggak?" Kali ini Sena sedikit serius saat bertanya. Barangkali, dia bisa sedikit membantu jika bisa.
Kairan kembali menoleh saat berkata, "ada."
"Siapa? Pasti anak ulama."
"Bukan."
"Terus?"
"Kata Bila saingan gue cuma satu. Yaitu seseorang yang namanya udah tertulis di lauhul mahfudz." Kairan mengucapkan kalimat terakhir dengan sedikit menerawang, mengingat lebih tepatnya.
Kairan berdecak sinis. "Lauhul mahfudz, Sena," ralatnya. "Lo sekolah agama nggak si?"
"Sekolah gua. Masuk gerbang terus keluar lewat pintu belakang."
"Pantesan bego."
"Diajakin sama lo."
"Lah iya ya? Masa?"
Sena menatap sepupunya sinis. "Terus itu apaan artinya."
"Lauhul mahfudz adalah kitab tempat Allah menuliskan seluruh catatan kejadian di alam semesta."
Sena sedikit terhenyak, kemudian bertepuk tangan. "Ya ampun, saudara gue ternyata alim."
"Itu gue nanya google."
"Dih."
"Ya intinya saingan gue ya jodoh dia yang udah ditetapkan sama Allah." Kairan menyentuh dadanya saat mengutarakan kalimat itu. Raut wajahnya terlihat pasrah.
"Misal jodoh dia itu ternyata lo?" Sena sedikit memberi harapan pada pemuda itu.
Kairan sontak mengangguk. "Iya juga ya?"
Sena segera menggelengkan kepala. "Etapi nggak mungkin itu, musibah entar buat dia."
"Siyalan." Kairan melengos kesal, kembali mengarahkan tubuhnya pada laptop untuk melanjutkan kegiatan.
"Makanya jangan main game mulu." Sena beranjak berdiri, memukul pelan lengan Kairan hingga pemuda itu menoleh lagi. "Bloon kan lo."
"Eh gue bloon gegara sodaraan sama lo ya." Sangkal Kairan.
"Enak aja." Sena tentu saja tidak terima. "Ada juga gue yang sesat sodaraan sama lo."
"Elo yang nyesatin gue si."
"Dih." Sena melengos, malas berdebat tidak penting dengan pemuda itu dia pun memilih keluar dari sana. Tapi tidak lewat pintu balkon seperti biasa, dia ingin memastikan apakah Ansel benar mengikutinya.
Sena mencium Aroma manis saat menuruni anak tangga. Mungkin berasal dari dapur sang tante yang berada di lantai bawah. Gadis itu lalu melangkah menghampirinya, tanpa ia duga ternyata sang pengawal tengah berada di sana. Membantu tantenya mengaduk entah apa di pancinya.
__ADS_1
"Eh Sena, tadi tante ketemu Askara di depan, tante ajak aja ke sini. Katanya lagi nungguin kamu." Karin, sang tante yang sibuk memotong buah-buahan lalu berkata.
Sena mengangguk. "Bikin apa, Tante?" tanyanya dengan melirik sekilas pada Ansel yang masih mengaduk pelan masakan tantenya.
"Ini puding buah, buat dibawa sama Kania ke sekolah besok. Eh kamu lewat balkon? Bahaya tau."
"Udah biasa, Tante."
"Kairan jangan diikutin." Karin menasihati.
Sena pun mengangguk, memang tidak salah selama ini. Kairan lah yang membawa pengaruh buruk bagi dirinya, bahkan ibunya sendiri pun mengakui itu.
"Ini sudah mendidih, Tante Karina." Ansel yang masih memegang sendok panjang di tangannya itu berkata.
"Oh, yaudah matiin aja." Karin tersenyum pada pemuda itu, "makasih ya, nanti tante bagi buat kamu."
"Tidak usah, Tante Karina."
"Nggak apa-apa, kamu kan udah bantuin tante."
"Saya senang melakukannya, tidak perlu dibalas."
"Nggak apa-apa, Aska."
"Udah buat aku aja buat akuuu, ribet amat si." Sena yang merasa jengah melihat tarik ulur antara keduanya lalu sewot sendiri, hal itu membuat mereka pun menoleh.
"Iya nanti buat kamu beda lagi, buat Aska lain juga."
Ansel nyaris membuka mulut saat Sena mengacungkan telunjuk ke arah hidungnya.
"Bilang nggak usah lagi? Ayo!" Sena mengancam pria itu.
"Terimakasih Tante Karina, saya terima."
"Nah, gitu dong." Karin kembali memotong buah di hadapannya, lalu memukul punggung tangan Sena saat gadis itu mencomot dan memakannya. "Buat ditaro di puding loh ini."
"Sama aja, Tante. Kan buat dimakan."
"Biarin aja entar jatah puding kamu nggak ada buahnya."
"Ya Allah pelitnya Kanjeng ribet." Sena terlihat pasrah.
Melihat kebersamaan tante dan keponakannya itu membuat Ansel mengulas senyum. Gambaran keluarga yang begitu hangat terpancar dari mereka. Dia sendiri bahkan tidak tahu punya saudara atau tidak.
"Kamu udah siapin gaun buat besok malem?" Karin bertanya pada keponakannya yang dia suruh mengupas buah.
"Buat apa?" Sena yang tidak tahu besok ada acara apa lalu bertanya.
Sang tante pun bercerita tentang pesta yang diperuntukan bagi kalangan pengusaha terpilih, yang diselenggarakan satu tahun sekali. Di sana akan diumumkan perusahaan mana yang maju pesat dalam setahun ini.
"Males, Tan. Nanti papi jodoh-jodohin aku sama anak temennya," ucap Sena yang sudah selesai dengan tugasnya.
Menanggapi itu Karin pun tertawa. "Tante juga dulu gitu tau. Tapi kamu pasti harus ikut, kaya nggak tau papi kamu aja."
Di tempatnya berdiri, Ansel mendengarkan percakapan keduanya. Jika malam besok mereka pergi semua, kemungkinan besar dia lebih leluasa untuk menjalankan rencana. Kali ini dia pasti bisa melakukannya.
"Ansel Askara."
Ansel menoleh saat sang nona memanggil namanya. "Iyah?"
"Besok lo harus ikut pokoknya."
"Eh?"
***
Author: monmaaf ini aku tegasin lagi ya. Cerita ini aku nggak bisa upate tiap hari. Jadi kalo hari ini udah update besok jangan ditungguin wkwkwk.
Pembaca: gimana si gk update update ntar vote sama poin gua buang ke kali nih. (Serius komennya begini bukan gua yg ngarang 😂)
Author: nggak papa gausah divote, aku sebenernya balik ke nt cuma mau kasih bacaan gratis aja buat pembaca lamaku terutama yg udah ngikutin aku terus, semoga ada pembaca baru juga. makasih banyak pokoknya.
Makasih juga buat yg kasih koin, meskipun tetep blom bisa gajhian eaaa 😂
Jan lupa haha hihi, sehat terus ya.
Netizen: kok nggak ada iklan.🤔
Author: 😒😒😒
__ADS_1