
...
Sena berjalan lebih dulu menuju ruang kelas pagi ini. Sesekali dia menoleh pada Askara yang melangkah di belakang mengikutinya. Tatapan pria itu tidak terbaca, Sena tidak tahu apa yang kini tengah dipikirkannya.
Setelah menurunkan sedikit harga diri untuk meminta Askara mengantarkannya masuk ke dalam kelas. Pria itu memang menurut, tapi dia jadi bingung harus memulai percakapan apa, atau memang tidak perlu melakukannya. Kenapa dia jadi ingin mengajak pria itu berbicara.
"Makasih." Sembari masih melangkahkan kakinya pelan, Sena berucap demikian guna mengawali sebuah percakapan. Namun saat tidak ada tanggapan dari pria di belakangnya, dia pun menoleh. "Eh, kirain pergi," ucapnya sembari membuang tatapannya lagi.
"Setelah mengusir saya, lalu sekarang menyuruh saya untuk mengikuti, apakah kali ini Nona ingin saya pergi lagi?" Ansel bertanya tidak mengerti, sesaat tadi gadis itu mengaku tidak ingin diikuti dan muak melihat wajahnya. Kini permintaannya sedikit berbeda.
Sena melengos kesal, lalu kembali melangkah. "Tugas lo kan emang ngikutin gue, jadi kalo gue bilang jangan diikutin ya jangan nurut-nurut banget dong," omelnya.
"Ok, baiklah."
"Gue pikir lo tadi bakal berantem," gumam Sena.
"Saya jarang melakukan hal-hal yang tidak berguna." Ansel menyahuti. 'Kecuali mengikuti seorang Lasena Maura ke kampusnya.' Lanjutnya dalam hati.
"Tapi sebenernya gue lebih suka kalo tadi lo berantem, terus tonjok mukanya Bari. Kesel banget gue," ucap Sena berapi-api.
Ansel menghela napas pelan. "Apa perlu saya melakukannya?"
"Nggak usah." Sena berbalik, melangkah mundur menghadap pada pria itu. "Makasih tadi lo udah muncul terus bantuin gue ngadepin Bari."
Ansel mengangguk. "Memang sudah tugas saya melindungi Anda," ucapnya tanpa ekspresi.
Sena tidak dapat menangkap seraut rasa bangga di wajah pria di hadapannya. Padahal dia sudah berterimakasih dan memuji bahwa dia sedikit lebih berguna. Yaa, meskipun di dalam hati.
Sena masih melangkah mundur saat Ansel mengulurkan tangan dan menyentuh pundaknya. Dengan lembut pria itu menariknya.
"Sory!" Seorang pria yang tampak buru-buru meminta maaf saat tidak sengaja sedikit menabrak bahu Sena. Beruntung Ansel menarik tubuhnya menjauh.
"Berapa jam nona di dalam?" Ansel bertanya setelah memutar tubuh Sena hingga menghadap pintu kelas, yang perempuan itu sebutkan sebelumnya.
Sena menoleh. "Dua jam, lo mau ke mana? Apa ke tempat yang nggak bisa gue liat lagi?" tanyanya.
Sesaat Ansel tertegun, mungkin mencari jawaban yang meyakinkan untuk berbohong. Tapi sepertinya dia sulit menemukannya. "Saya akan kembali sebelum anda keluar dari ruangan ini." Tanpa memberikan alasan mau ke mana, Ansel berjanji pada gadis di hadapannya.
Sena pun mengangguk. "Ok," ucapnya. Lalu berbelok ke arah pintu. Mungkin memang tidak penting juga dia harus tahu ke mana perginya pria itu. Tapi bagaimanapun juga, Askara adalah pengawalnya. Bagaimana jika saat pria itu tidak ada, dirinya malah dalam bahaya.
Saat Sena berbalik untuk memastikan agar pria itu bisa tepat waktu. Askara ternyata sudah tidak ada. "Cepet banget perginya," gumam Sena. Gadis itu kembali melangkah ke dalam kelas, duduk di salah satu kursi dan membuka ponselnya yang sejak tadi ribut sendiri.
Pip Pip Pip Pip Calon Mantu.
Zaqia Amel
Sen lo masih idup?
Senaaa!!
Sen jawab, Sen!
Inggit Tiara
Kenapa si?
Zaqia Amel
Sena nggak dateng ke pesta ultahnya Angga.
Inggit Tiara
Gue juga nggak dateng. Tapi masih idup ko.
Zaqia Amel
Aduh, Git. Lo lupa ya, si Sena itu kan taruhan sama Bari.
Inggit Tiara
Lah iya. Kenapa nggak dateng dia?
Zaqia Amel
Pasti ngga boleh sama papinya, atau abangnya.
Inggit Tiara
Telpon telpon. Janjangan lagi dikerjain Bari.
Zaqia Amel
Kaga diangkat.
Inggit Tiara
Gimana dong gimanaaa?
__ADS_1
Zaqia Amel
Udah tungguin dia nongol.
^^^Lasena Maura^^^
^^^Gue masih idup.^^^
Zaqia Amel.
Serius, Sen?
Tadi Bari nyariin lo
Gue bilang aja nggak tau.
Ya emang gue nggak tau. Tapi dia nggak percaya.
^^^Lasena Maura^^^
^^^Iya, tadi udah ketemu.^^^
Zaqia Amel
Serius??
Inggit Tiara
Lo diapain, Sen?
Lo nggak beneran jadi babu Bari selama Sebulan kan?
Gila aja.
^^^Lasena Maura^^^
^^^Entar.^^^
^^^Entar aja gue ceritain^^^
Zifi Hanami
...
...
Serius Nanya ini siapaa??
Zaqia Amel
Apaan sih Fi?
Dateng-dateng gajelas banget.
Inggit Tiara
Ganteng si, tapi gue nggak kenal.
Zifi Hanami
Di parkiran gue liat dia masuk ke mobil Sena, terus pergi.
Zaqia Amel
Yakin mobil Sena?
Zifi Hanami
Iyaaaaaaa. Gue hafal plat nomornya
^^^Lasena Maura^^^
^^^Iya itu pengawal baru gue.^^^
Zaqia Amel
Serius??
Zifi Hanami
AAAAAAAA
Inggit Tiara
AAAAAAAAAAAAAAAA
__ADS_1
***
Setelah memastikan cctv dan gps di dalam mobil yang ia bawa sudah tidak berfungsi. Ansel membelokan kendaraan ke rumah orangtuanya.
Tidak banyak orang di dalam rumah, hanya para pekerja juga Satpam penjaga gerbang yang kemudian menunduk hormat begitu melihat wajahnya.
"Tuan besar belum berangkat ke kantor, Tuan muda ke tiga." Bapak security yang membantu membukakan pintu mobil untuknya, memberikan informasi saat Ansel bertanya ada siapa saja di dalam. Tuan muda ke tiga adalah panggilan untuk dirinya yang memang anak ke tiga di rumah itu. "Non Saci tidak sekolah hari ini, katanya malas."
"Terimakasih." Ansel menepuk pundak bapak itu, kemudian berpesan untuk cukup beristirahat. Beberapa hari menjadi seorang bawahan membuatnya berpikir, hal itu lebih sulit dari dirinya yang tidak diakui oleh ayahnya sendiri.
Saci adalah anak bungsu, perempuan satu-satunya di keluarga itu. Sifatnya kurang lebih seperti Sena jika Ansel mau membandingkannya, hal itu juga yang membuat dia merasa seperti di rumah meski berada di kediaman rival papanya. Sama-sama membuatnya tidak nyaman, maksudnya.
Tentu saja hal itu membuat si bapak security terkejut akan perubahan sikap atasannya. Beberapa hari tidak terlihat di rumah ternyata pulang dengan jiwa yang sedikit berbeda.
"Kak Ansel!" Seorang gadis berrambut sebahu menghampirinya dengan sedikit berlari. "Kemana aja, kok nggak pulang?"
Sesaat Ansel tertegun. Bingung harus menjawab apa. "Ada masalah?" Dan pertanyaan itu sepertinya membuat gadis di hadapannya salah tingkah. Mereka memang tidak sedekat itu sebenarnya.
"Ya enggak sih. Cuma aneh aja, setelah bertahun-tahun tinggal di luar negri, pas baru pulang masa pergi lagi."
Ansel sedikit tertawa. "Bukannya memang itu yang kalian mau, aku tidak ada di rumah ini?"
"Kak Ansel!" Gadis kelas satu sma itu telihat marah dan melipat kedua lengannya di depan dada. Lalu tertegun saat sang kakak mengusap puncak kepalanya.
"Sekolah." Setelah mengucapkan kata itu, Ansel pun beranjak menaiki anak tangga. Namun kembali berhenti saat seorang pria paruh baya memanggil namanya.
"Kemarilah. Saya ingin bicara."
Ansel mendekat, duduk di kursi saling berhadapan dengan pria yang tidak ingin menyebutkan dirinya sebagai papa.
"Bagaimana dengan tugasmu?"
Mendapat pertanyaan langsung seperti itu Ansel terdiam, tidakkah seharusnya dia menanyakan kabarnya lebih dulu. Lalu selanjutnya ingin tahu bagaimana dirinya bisa masih hidup sampai sekarang.
"Belum." Dengan tanpa menatap pria itu, Ansel menjawabnya.
Dwitama Bagaskara. Tidak ada yang tidak mengenalnya di sosial media, menjadi pengusaha ternama di negaranya membuat pria itu tidak sulit mengendalikan berita buruk tentang dirinya. Termasuk saat dia memiliki seorang anak yang ia sembunyikan dari dunia.
Sebelum pergi meninggalkan Ansel begitu saja, pria itu berpesan untuk menyerah jika dia tidak mampu melakukannya.
Di kursi yang masih ia duduki Ansel tertawa, bahkan pria itu benar-benar meremehkan kemampuannya. Setelah beranjak berdiri, dia lalu kembali menaiki anak tangga.
"Kak Ansel!" Gadis bernama Saci itu menghampirinya lagi, ikut menjejakkan kakinya di undakan anak tangga, kemudian berhenti. "Kak Ansel, besok bisa anterin aku sekolah nggak?" tawarnya.
Ansel yang berbalik lalu mengangkat alis. "Kau kehabisan pekerja yang bisa melayanimu?" sindirnya.
Saci menggeleng. "Nggak mau sama pelayan, maunya sama kakak," tegasnya.
"Dari semua kakak yang kamu miliki, kenapa harus aku?"
"Mereka sibuk."
Mendengar alasan itu Ansel sontak tertawa. "Maaf, Nona kecil. Jadi aku yang pengangguran ini pun terlalu sibuk untuk bisa mengantarkan kamu ke sekolah besok." Setelah mengutarakan kalimat sarkas itu, Ansel berbalik pergi. Lanjut menaiki anak tangga lagi. Nona kecil adalah panggilan gadis itu di rumah, tapi dia lebih suka dipanggil Nona muda satu-satunya. Entah, Ansel tidak tahu kenapa.
"Kenapa kita harus berantem? Kenapa kita semua nggak bisa akur kaya keluarga yang lain?"
Sesaat Ansel terdiam, namun tidak menoleh. Hingga kemudian gadis itu mengutarakan kalimatnya lagi.
"Coba sebentaaar aja luangin waktu kalian buat perhatiin wajah kalian di depan kaca. Kita itu mirip, banyak kesamaan di diri kita satu sama lain. Kita saudara."
Ansel memilih untuk tidak menanggapi gadis itu, lalu kembali melangkah pergi.
"Kak Ansel!"
Teriakan itu masih bisa ia dengar saat sudah berada di dalam kamar sang ibu, Ansel lalu menutup pintu dan menguncinya.
Kenapa adik bungsunya itu tidak mencoba tanyakan hal yang sama pada papa mereka, atau kedua kakaknya yang lain. Karena hal itu juga sampai saat ini masih menjadi pertanyaan untuk dirinya.
Ansel menghampiri seorang wanita yang tengah duduk di depan tirai jendela yang terbuka. Meraih jemari dan berlutut di hadapannya yang menduduki kursi roda.
"Mama."
....
Author: Monmaaf ini harusnya update kemaren ya, tapi ternyata wifi tetanggaku mati gess 😂😂 canda.
Tapi serius ini wifi di tempatku mati, beberapa hari berasa di guha pokoknya, nebeng wifi tetangga gatau sandinya. Siyal bet emang.
Netizen: Beli kuota apa thor jan pura-pura miskin.
Author: Monmaaf biasanya aku pura-pura kaya ya.
Ya pokoknya sabar sabar aja ya, aku up cerita ini tuh nyantai tapi berharap ada yg baca wkwkwk.
__ADS_1