Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
7


__ADS_3

"Lo yakin nggak bakal ketauan bapak lo?" Kairan yang malam ini sudah berada di kamar sepupunya, kembali memastikan pada gadis itu bahwa uang jajannya satu bulan ke depan, tidak akan menjadi korban.


"Iyaaa." Sena masih fokus pada riasan wajahnya di depan cermin, sudah rapi dengan baju pesta biasa agar tidak menimbulkan curiga. "Tenang aja si, kalo nanti ketauan, gue yang tanggung jawab," ungkapnya.


"Beneran ya." Sesekali Kairan yang masih berdiri di pintu balkon, melongok ke bawah untuk memastikan tidak ada orang di sana. Baru kali ini memang dia membantu sepupunya kabur dari rumah, biasanya pemuda itu tidak akan mau meski Sena membujuknya. "Demi apa coba gue ini," keluhnya.


Mendengar hal itu Sena tertawa. "Nanti malem lo tidur di sini, tutupin semua badan lo, jadi kalo papi gue nengok ke dalem, dikiranya gue lagi tidur."


"Nggak, nggak," tolak Kairan dengan menggelengkan kepala. "Percobaan bunuh diri," imbuhnya ngeri. Pemuda itu masuk lebih dalam menghampiri Sena yang masih sibuk dengan dandanannya. "Pokoknya kalo terjadi apa-apa, jangan bawa-bawa gue ya," tegasnya.


Sena menurunkan spons bedak di tangannya dari pipi, lalu menoleh pada sepupunya. "Nggak bakal ketauan kalo lo nggak ngomong."


"Gue cuma bantuin lo keluar dari pintu lewat rumah gue, selebihnya gue nggak mau tau."


"Iya ah, bawel banget si." Sena tersenyum di depan cermin, sudah siap untuk berangkat, dia juga sudah menghubungi Julian yang katanya sedang di perjalanan. Pria blasteran anak sahabat sang papi itu, adalah orang yang paling setia mengantarkan dirinya kemana-mana.


"Ada abang gue di kamar, kalo dia nanya gimana?" Kairan yang bersandar pada meja rias, ikut berpikir bagaimana menghindari pertanyaan abangnya.


Arka, abangnya pernah mendapat omelan dari Om Justin saat membiarkan Sena pergi. Sejak saat itu dia tidak mau berurusan lagi.


"Bilang aja gue mau ke kamar lo." Sena memberi saran, pagar balkon tempat mereka melompat memang langsung menghadap pada pintu kaca kamar Arka, mau tidak mau mereka harus melewatinya.


"Lo rapi begini bakal ketauan lah mau pergi. Kecuali lo pake baju tidur."


"Kok lo nggak ngomong dari tadi."


Kairan berdecak, lalu mengikuti Sena yang melangkah ke pintu balkon dengan tidak peduli. "Lo yakin bakal berhasil, gue takut ketauan." Pemuda itu memastikan lagi.


Sena menghela napas, lalu menoleh pada sepupunya yang terlihat khawatir. "Mencoba memang tidak menjamin akan berhasil, tapi diam sudah dipastikan gagal," ucapnya.


Kairan reflek menoyor kepala gadis itu. "Salah server quotes lo," ucapnya mencela.


"Itu quotes bokap gue."


Keduanya lalu tertawa, Sena memukul lengan Kairan dan menyuruhnya untuk berjalan di depan. "Nggak usah takut, kalo uang jajan lo disita, hidup lo gue jamin kalo perlu."


Mendengar itu Kairan mencebikkan bibirnya meremehkan. "Gue nggak peduli masalah duit, dapet sms menang hadiah ratusan juta aja gue cuekin, cuma kepercayaan bokap lo itu yang susah gue dapetin lagi."


Sena memutar bolamatanya jengah. "Itumah sms penipuan," ucapnya. "Udah buruan, Julian udah di depan rumah lo."


Keduanya baru saja keluar dari ruangan, saat ketukan di pintu kamar membuat mereka menghentikan pergerakan.


"Abang lo balik pasti." Kairan menebak.


Sena menepuk keningnya kesal. "Bang Jino jam segini pasti pulang, dia suka meriksa gue ada apa nggak," ucapnya.


"Terus gimana?"


"Bentar." Sena melepas tas kecil yang ia sampirkan di pundaknya, lalu memberikan pada Kairan. Setelah menyuruh pemuda itu untuk bersembunyi, dia kembali masuk ke dalam kamar dan berniat mengganti bajunya.


"Nona Lasena, anda masih di dalam?"


Suara itu membuat gerakan tangan Sena terhenti, demi mengamati suara siapa yang memanggilnya kali ini. "Pasti pengawal baru itu," ucapnya geram. Sena tidak menyahut meski pria itu memanggilnya untuk kali ke sekian.


Sena memakai kaus rumahannya lagi, baru memasukan kepala dan satu tangannya, pintu kamar di belakangnya itu terbuka. Dengan kesal dia menoleh.


"Maaf." Pria itu terlihat menyesal, lalu kembali menutup pintu.


"Eh, lo mau kemana?" Kairan setengah berbisik saat bertanya, ketika melihat Sena berjalan menuju pintu setelah mengenakan bajunya.

__ADS_1


"Gue mau kasih pelajaran." Sena menyuruh Kairan kembali bersembunyi. Lalu membuka pintu dan mendapati pria bernama Askara yang memunggunginya.


"Lo sengaja, kan?" tuduh Sena saat Askara berbalik menatapnya.


"Maaf, Nona. Saya tidak sengaja." Ansel mengulang permintaan maafnya, kali ini dia tidak menunduk, Jino meminta agar dia tidak terlihat lemah di hadapan adiknya. Tentu saja pemuda itu bisa, hanya menghadapi gadis manja yang bertingkah sesuka hatinya, itu mudah.


Melihat keberanian Askara yang membalas ucapannya membuat Sena sedikit terhenyak, orang yang ia kerjai tadi pagi sepertinya penurut sekali. Apa ini orang yang berbeda. "Lo udah kurang ajar sama gue," tudingnya.


"Saya tidak sengaja." Sekali lagi Ansel mengulang kalimat yang sama, tatapannya balik menantang pelototan gadis di hadapannya.


Sena melipat lengannya di depan dada, tersenyum meremehkan pemuda di hadapannya. "Meskipun lo emang nggak bisa tertarik sama perempuan, lo nggak boleh liat tubuh orang sembarangan," semprotnya.


Ansel menghela napas, menahan dirinya untuk tidak melontarkan kalimat yang sama ketiga kalinya. Meski dia memang tertarik pada wanita, tentu saja bukan seperti tubuh tipis gadis di hadapannya. Melihat Sena dengan segala kerampingannya, membuat ia memutuskan untuk lebih menyukai perempuan yang sedikit berlemak.


"Maaf." Merasa malas berdebat dengan gadis itu, dia pun kembali mengulang permintaan yang sama, lalu mengerjap saat gadis itu dengan kuat menutup pintu di hadapannya.


"Dasar anak manja." Ansel nyaris menendang benda di hadapannya, tapi tentu saja dia tahu diri untuk tidak melakukannya.


Di dalam kamar, Sena yang terus mengoceh kesal, mengambil baju yang ia tanggalkan di atas kasur dan memasukkannya ke dalam paperbag. Dia akan mengganti pakaiannya di mobil saja.


"Siapa?" Kairan yang keluar dari tempat persembunyiannya bertanya.


"Orang gila." Dengan bersungut sebal Sena menjawabnya, gadis itu mengambil tas kecil yang tersampir di leher Kairan dan ia satukan dengan bajunya. "Ada abang lo nggak?"


Kairan melongok ke jendela kamar abangnya, tidak tampak pria itu di sana. "Nggak ada, tapi bapak gua belum balik, kalo lo papasan di depan gimana?"


"Lo duluan yang turun, kalo aman baru panggil gue."


"Oke dah." Kairan melangkah lebih dulu, melewati pagar balkon yang berakhir di depan pintu kamar Arka, sialnya benda itu tiba-tiba terbuka.


"Astaga!" sentak Kairan. Sena ikut terlonjak di belakangnya.


"Paan si, Bang. Ngagetin gue aja." Kairan mengusap dadanya.


"Mau kemana apanya? Orang gue mau ke kamar Kairan," sangkal Sena, mencoba untuk bersikap biasa saja.


Arka melirik tidak percaya, pandangannya mengarah pada paperbag yang dibawa sepupunya. "Apaan, tuh?"


Sena menoleh ke tangannya sendiri, kemudian berpikir. "Ini, em hadiah buat emaknya gebetannya Kairan, dia minta dibungkusin sama gue," ucapnya beralasan.


Arka mengerutkan dahi. Tahu betul dengan sifat sang sepupu, tampaknya pemuda itu tidak bisa dikelabuhi. "Lo bukan mau pergi, kan?" tuduhnya.


"Mau pergi kemana si, lo nggak liat baju gue biasa aja?"


"Kok, dandan?"


"Ini abis video call sama mantan gebetan. Harus cantik dong gue, kenapa lo sirik sama kecantikan gue!?"


Diam-diam Kairan mengerutkan dahi di tempatnya berdiri. Ada saja kalimat gadis itu untuk menjawab introgasi sang abang, guna mematahkan tuduhan bahwa dia akan pergi. Entah sampai di ujung mana perdebatan mereka akhirnya berhenti, Sena mengajaknya undur diri.


"Rese banget abang lo, pacarnya lagi pms kali ya." Sena berceloteh saat mereka berlalu dan masuk ke kamar Kairan.


"Orang dia lagi patah hati, baru putus dia." Kairan menanggapi.


"Serius? Pantes ngeselin."


"Sayang banget ya, padahal pacarnya masih cantik. Gue gebet aja ah entar." Sembari mengintai keluar pintu kamar, untuk memastikan tidak ada siapa-siapa di rumahnya, Kairan terus menanggapi obrolan gadis itu.


Sena berdecak. "Gue tau abang lo sayang banget masih sama ceweknya, mau berantem lo."

__ADS_1


"Nggak apa-apa, kata abang gue kalo ada yang nantangin hajar aja. Kan gue punya bpjs."


"Tolol."


"Siapa yang tolol."


"Abang lo."


"Iya emang tolol banget dia."


Sena merasa ikut tolol jika terus menanggapi obrolan pemuda jangkung yang menghalangi pandangannya. "Awas napa pala lo gue mau liat ada orang nggak."


"Dih, elah. Nggak ada ayo buruan turun." Kairan lebih dulu melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, sedikit mengendap-endap takut ada sang ibu yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Benar saja, samar-samar suara wanita itu tengah mengobrol dengan suaminya. Kairan lalu berbalik membuat Sena terkejut dengan tingkahnya.


"Ngapa, si?" Dengan sewot Sena bertanya, nyaris tersandung saat pemuda itu mendorong tubuhnya.


"Bokap gue baru balik."


"Sial bener dah ah."


"Lagian lo kabur jam segini."


"Kalo pagi-pagi bukan kabur, sekolah gua."


"Maleman kek."


"Bubar acara temen gue dong."


Keduanya bersembunyi di balik pot besar, setelah memastikan mereka berlalu ke dalam kamar. Kairan kembali memimpin untuk turun dari tangga di rumahnya, lalu melepaskan Sena untuk keluar dari sana.


Sena berharap tidak akan ada drama lagi setelah ini, ketika melewati pintu utama dan mendapati pak satpam tidak ada di tempatnya. Dia merasa keberuntungan tengah berpihak pada dirinya.


Gadis itu sudah masuk ke dalam mobil sport hitam yang terparkir tidak jauh dari sana. Julian sudah menunggunya.


"Kabur lagi?" Pemuda berrambut pirang itu bertanya, mata birunya menatap Sena dengan curiga.


"Tenang aja, nggak bakal apa-apa."


Belum sempat Julian melajukan kendaraannya, mobil mewah yang Sena hapal betul plat nomornya itu, muncul dari arah berlawanan lalu mendekat. Sena membeku di tempatnya.


"Itu mobil papi kamu, kan?" tanya Julian.


Mampus. Dalam hati Sena merutuki kesialannya. "Iya."


***


Netizen: Kenapa si thor sekarang updatenya jadi 3 hari sekali, mau alesan revisi Bang Ar lagi??


Author: kaga alesan emang bener itu, tapi disambi sama jualan peralatan ngepet. Puas lu.


Netizen: Pantesan gakelar-kelar repisinya, bosen gua.


Author: Daripada bosen mending lu ke k b m a p p aja, baca kisah Bang Nino, Bang Jino, Bang Arka, Bang Raksa, Bang Bian (anaknya Ipang). Udah tamat gapake nungguin gua update.


Netizen: Bisa aja promosinya 😒


Author: Ya sapa tauuu.


Kalo mau nanya nanya tentang aplikasi sebelah dm ig aku aja ya adeannisa66. Polow dulu. ❤❤

__ADS_1


Jan lupa besok yang punya angka buat vote kasih ke sini yaa ☺☺


__ADS_2