
Beberapa menit kemudian, panggilan video dari pria yang sama membuat Sena melarutkan rasa jengkelnya. Dia mengambil benda itu dan menerima panggilannya dengan segera.
"Apa! Mau bilang salah pencet buat yang ke dua kali?" Sindir Sena dengan kesal yang begitu kentara di raut wajahnya.
Bukannya merasa bersalah, Ansel malah tertawa. "Bercanda," ucapnya.
Sena menghela napas jengkel, mengambil bantal untuk ia pangku dan menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Bercandaan pria itu selalu membuatnya merasa kesal. "Udah baca pesan dari gue kan?"
Ansel tampak mengangguk. "Tapi saya tidak enak-,"
"Gue susah bujukin papi gue ya," serang Sena. Tentu saja dia tidak menerima penolakan apalagi dengan alasan tidak enak.
Sesaat Ansel terlihat diam, hingga kemudian dia pun berkata, "Besok saya ke kantor papi kamu," ucapnya.
Sena mengangguk, dia lalu bingung harus membahas apa lagi dengan pria itu. Akhirnya memutuskan untuk menyudahi percakapan mereka.
"Sena?"
Panggil Ansel saat Sena hendak mematikan sambungan telepon di ponselnya.
"Terimakasih." Ansel tersenyum saat mengucapkan kata itu.
Sena membalas dengan tindakan serupa. "Sama-sama," ucapnya.
"Mas pacar?"
Mendengar hal itu Sena tertawa. "Nggak Mas pacar lah, kan udah putus."
"Nggak mau." Ansel terlihat begitu sedih saat mengatakan dua kata itu, Sena jadi tersipu.
"Lo lagi bercanda?"
"Nggak."
"Jadi?"
"Panggil saya Mas pacar lagi. Saya suka panggilan itu."
"Bukan karena lo suka jadi pacar gue?"
"Saya suka jadi pacar Lasena Maura."
__ADS_1
***
Beberapa hari berlalu selepas percakapan telepon video itu, keduanya semakin dekat.
Ansel pun sudah mulai bekerja di perusahaan Justin. Dengan dibantu oleh Nino, pria itu mulai mempelajari apa saja yang harus ia kerjakan setiap hari.
Pada awalnya Nino tentu tidak setuju, memasukan Ansel yang adalah putra dari rival mereka tentu sama saja dengan menaruh musuh di dalam selimut. Bisa saja sewaktu-waktu pria itu membelot, kembali pada ayahnya dan dengan mudah menghancurkan mereka.
Jino tidak setuju akan pernyataan abangnya. Jika memang Ansel adalah orang yang seperti itu, sejak awal menyusup di keluarga mereka, dia pasti sudah melakukannya. Mereka memang kalah pada saat itu, tapi bukan karena dicurangi. Dan kemampun putra ke tiga Bagaskara itu amat disayangkan jika harus mereka lewati.
Justin tentu bukan tanpa perhitungan memasukan pemuda itu ke dalam perusahaannya. Selain karena bujukan Sena, ada sesuatu yang ia rencanakan sebelumnya.
.
"Gimana kabar Tante Anna?" Sena bertanya pada Ansel lewat sambungan video yang rutin mereka lakukan hampir setiap malam.
Sejak pria itu mulai sibuk, mereka jadi jarang bertemu. Meski belum resmi balikan, Ansel tampaknya mau berubah dan mencoba lebih aktif menunjukan perasaannya.
"Kondisi mama masih belum ada perkembangan yang berarti. Tapi aku akan terus mengusahakan yang terbaik." Ansel sebelumnya pernah bercerita. Setelah sang mama menjalani pemeriksaan medis kejiwaan dari ahlinya, wanita itu kini mendapatkan penanganan khusus di tempat rehabilitas terbaik di kotanya.
Dulu memang sang papa sempat ingin memasukan wanita itu ke rumah sakit jiwa, tapi setelah kecurangan obat-obatan itu terbongkar, dia sekarang berpikir pria itu tentu hanya ingin mengasingkan mamanya.
"Terkadang, sebuah kebenaran lama terungkap agar kita bisa lebih siap menghadapinya." Sena memberikan sanggahan saat Ansel menyesal kenapa tidak menyadari lebih awal, tentang kecurangan yang dilakukan oleh papanya.
"Tapi sekarang beda, kamu udah bisa ngambil keputusan buat Tante Anna."
Ansel tampak tersenyum, Sena memang menyuruh pria itu agar tidak terlalu kaku. Dan Ansel mengganti sร paan saya menjadi aku, saat berbicara dengan gadis itu. "Bijak banget sih, kamu."
"Itu kata papi gue."
Jawaban jujur itu membuat Ansel tertawa. "Kapan kita ketemu."
"Kapanpun bisa, kangen sama gue ya."
"Iya."
Sena selalu merasa gugup saat pria itu membalas candaannya dengan jawaban yang serius. "Yaudah main."
Ansel mengangguk. "Nanti aku main."
"Ke rumah?"
__ADS_1
"Iya."
"Kabarin dulu." Sena memberi saran, bagaimana jika ternyata dirinya sedang tidak ada di rumah.
"Nggak, biar jadi kejutan aja."
Sena berdecak sebal, dia lalu menduga sendiri, tidak mungkin hari minggu besok karena Ansel pasti akan mengunjungi mamanya.
"Om Bagaskara nggak pernah nanya Tante Anna kemana?" Sembari merebahkan kepalanya ke atas bantal, dengan hati-hati Sena bertanya. Ansel selalu terlihat tidak nyaman jika sudah membahas sang papa.
"Nggak, dia memang setidak peduli itu." Sebelumnya Ansel menceritakan tentang keterkejutan keluarga Bagaskara saat suster Monik tiba-tiba mengundurkan diri, setelah itu Ansel berkata bahwa dia tidak memerlukan bantuan suster lagi.
Sena terdiam, hanya mengulas senyum prihatin yang tidak terlalu ia tunjukan. Semakin dekat dengan pemuda itu dia jadi tahu, seberapa dalam luka di hatinya.
"Kamu sudah bertemu dengan Sandi?" tanya Ansel.
"Beberapa hari yang lalu, sempet ketemu. Dia tanya kenapa nomor gue susah dihubungi," ucap Sena.
"Kalian membuat janji?"
"Nggak." Sena bercerita bahwa dia tidak sengaja bertemu Sandi di cafe dekat kampusnya, "dia sama cewek."
"Terus?" Ansel tampak terkejut. Dia memang selalu serius ketika menanggapi hal apapun. Padahal Sena sudah tertawa saat menceritakannya.
"Kata Sandi, dia bisa jelasin. Terus gue bilang nggak perlu."
Ansel terlihat begitu antusias saat Sena menceritakan pertemuannya dengan sang kakak. "Nanti aku kenalin kamu sama mereka," ucapnya.
"Sama keluarga Bagaskara?" Sena bertanya, raut wajahnya terlihat tidak percaya. Pasalnya beberapa minggu lalu dia sempat ke sana juga dengan Sandi, bagaimana jadinya jika dia ke sana lagi dengan putra yang berbeda. "Mau lo kenalin sebagai apaa coba?"
"Calon istri."
***
Author: Ini gue lagi nulis bab selanjutnya, tapi takut kalian ngamuk jadi update dulu haha.
Netizen: btw minyak udah ada thor?
Author: Tadi gue ke maret-maret tulisannya minyak kosong, minyak tawon ada. Pen gue beli tapi gabisa bat goreng telor kayaknya
Netizen: ๐๐๐
__ADS_1