Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
19


__ADS_3

Sena mendongakkan wajahnya, menantang. Kedua lengannya ia lipat di depan dada. "Kenapa lo bohongin gue," tudingnya.


Ansel yang masih berdiri di tempatnya itu lalu mengangkat alis, terlalu banyak kebohongan tentang dirinya di hadapan gadis itu. Dia bahkan bingung yang mana yang saat ini Sena tahu. "Maksudnya?"


"Gue tadi ketemu sama cewek yang namanya Saci. Dia adalah putri bungsu keluarga Bagaskara." Sena membeberkan pertemuannya dengan seorang gadis, yang pria itu akui sebagai adiknya.


Ansel terhenyak di tempatnya. Dia merasa detak jantungnya seketika berhenti, akankah riwayatnya tamat sampai di sini.


"Jadi lo sebenernya pernah jadi pengawal putri bungsu keluarga Bagaskara?"


"Hah?" Ansel masih mencerna ucapan gadis di hadapannya. Pengawal keluarga Bagaskara. "Maksudnya?"


"Ngapain lo harus ngaku kalo dia itu adek lo? Kenapa lo nggak bilang aja kalo lo pernah jadi pengawal dia."


"Saya–,"


"Udalah." Sena mengibaskan sebelah tangannya. Membuat pria itu menghentikan ucapannya. "Gue males sama orang yang suka bohong," tukas gadis itu. Setelah menunjuk hidung Ansel dan memberikan tatapan jengkelnya, dia lalu berbalik dan melangkah pergi dari sana.


Ansel yang kebingungan lalu menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu memutuskan untuk mengejar gadis itu yang sudah masuk ke dalam rumah. "Nona!" panggilnya saat Sena mulai menaiki anak tangga.


Sena yang menghentikan langkahnya kemudian berbalik. Entah tengah kesal atau mungkin kecewa, raut wajah perempuan itu tidak dapat Ansel baca.


"Saya minta maaf."


Sena kembali menuruni anak tangga, mendekat pada pemuda itu. "Menurut lo kenapa gue marah?" tanyanya.


Sejenak Ansel berpikir. "Karena saya sudah berbohong?"


Sena mengangguk, pandangannya ia alihkan ke arah lain, lalu kembali pada pemuda itu. "Nggak gue maafin," tukasnya.


"Apa saya harus memohon?"


"Emangnya maaf gue penting buat kelangsungan hidup lo?"


Ansel terdiam. Jikalau memang dia harus meminta maaf, tentu untuk kesalahan lain yang dia telah perbuat. Pria itu pun menunduk. "Saya minta maaf," ulangnya.


"Gue maafin lo tapi dengan satu syarat, gimana?" Sena memberikan penawaran.


"Apa?" tanya pemuda itu dengan mendongakkan kepalanya.


"Nanti aja, nanti gue kasih tau syaratnya apa." Setelah mengutarakan kalimat itu, Sena lalu berbalik dan kembali menaiki anak tangga. Meninggalkan Ansel yang masih berdiri di tempatnya.


Ansel nyaris melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana. Dan kembali menoleh pada sang nona saat perempuan itu memanggil namanya.


"Kalo nanti ada yang nanya tentang foto gue yang ada di hape lo. Jangan bilang kalo itu foto adek lo."


Ansel mengangguk. "Baik, Nona," balasnya dengan menunduk.


"Bilang aja cewek lo."


Ansel kembali mendongakkan wajahnya, bingung. "Apah?"


.

__ADS_1


Ansel masuk ke dalam kamarnya dengan masih memikirkan percakapannya dengan sang Nona. Tanpa memberikan penjelasan apa-apa gadis itu melangkah pergi meninggalkannya.


Dia cukup penasaran dengan syarat apa yang gadis itu pinta pada dirinya. Bagaimanapun, dia sudah berjanji untuk menyanggupinya.


Mengenyahkan pikirannya tentang gadis itu, Ansel mengambil laptopnya yang ia letakan di dalam lemari. Menulis laporan terakhir untuk sang papa yang ia dapat malam ini.


Ansel kembali ragu saat menuliskan apa saja yang ingin dia kirimkan pada sang papa, pria itu lalu mengusap wajahnya.


Ansel meyakinkan dirinya sendiri bahwa hal ini bukan apa-apa, sedikit kerugian yang akan dialami keluarga ini tidak akan membuat Tuan Justin gulung tikar. Dia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan, yang sudah seharusnya ia selesaikan.


Getar ponsel yang ia letakan di atas meja membuat pria itu mengalihkan pandangan dari laptop di hadapannya. Ditatapnya benda yang ia ambil dari sana dan ia tempelkan di telinga.


"Nggak apa-apa, Bas." Ansel menjawab pertanyaan Bastian tentang bagaimana keadaannya. Dia lalu bingung saat sahabatnya itu bertanya kapan dia akan pergi dari sana. "Besok, atau mungkin Lusa. Setidaknya aku harus berpamitan dulu pada mereka."


Ansel mematikan benda ponselnya, lalu kembali pada laptop dan melanjutkan ketikannya.


.


Saat Sena bersiap akan tidur, ketukan di pintu membuat gadis itu berteriak bahwa benda itu tidak dikunci oleh dirinya. Dan seseorang yang masuk ternyata sang ayah.


"Tadi kenapa kamu pulang lebih dulu? Sakit?" Justin melangkah masuk, bertanya pada putrinya yang duduk menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.


Sena menggeleng. "Nggak apa-apa, kok. Cape aja." Sena tersenyum saat menjawabnya, "pasti papi ngira aku kabur-kaburan lagi yah?" tuduhnya.


Justin sedikit tertawa, pria itu lalu duduk di tepi ranjang putrinya dan menepuk kaki gadis itu. "Sejak ada Aska kamu jarang kabur lagi," tuturnya.


Sena mencebikkan bibir. "Emang lagi males kabur-kaburan aja sih," sangkalnya.


"Masa?"


"Mau mastiin aja kamu ada di kamar."


Jawaban itu membuat Sena berdecak kecil, lalu berpura-pura tersinggung dengan kecurigaan papinya.


"Kamu tadi ketemu kan, sama anak-anaknya Pak Dwitama?"


"Dwitama?"


"Dwitama Bagaskara." Justin menegaskan.


Sesaat Sena terdiam, raut wajahnya tampak berpikir. "Iya, kenapa?"


"Kamu nggak tertarik sama salah satu dari mereka?" Dengan hati-hati Justin mengutarakan kalimatnya.


"Papi nyuruh aku pilih salah satu dari kedua putra Bagaskara?" Sena mempertegas maksud papinya.


Hal itu membuat Justin sedikit tertawa. "Nggak juga," kilahnya.


"Terus?"


"Ya, siapa tau kalian mau saling mengenal dulu. Ànaknya juga sepertinya baik."


Sena tampak berpikir, dia tahu sang papi tengah berusaha menjalin hubungan baik dengan keluarga itu. Meski tidak memaksa, jelas sekali bahwa pria paruh baya itu berharap banyak pada dirinya.

__ADS_1


"Aku nggak kenal sama mereka, nggak berminat buat lebih mengenal juga."


"Coba saja dulu," bujuk Justin. "Kata Alvin, putra pertama Bagaskara punya pasangan, tapi keluarganya sepertinya belum setuju. Entah karena apa."


"Mungkin beda kasta?"


"Entah." Justin mengangkat bahu. "Atau putra ke dua Bagaskara, dia memegang peran penting di perusahaan ayahnya. Tampan juga."


Sena sedikit tertawa. "Putra ke tiganya ada nggak?" tanyanya. Mereka berdua nggak masuk kriteria cowok idaman aku," tukas gadis itu.


Justin berdecak lucu, lalu mengusap rambut kepala gadis itu. "Mana ada. Putra Bagaskara hanya dua bersaudara. Yang ke tiga perempuan."


"Papi yakin?"


Sesaat Justin berpikir, kemudian mengangguk. "Setahu papi sih gitu," balasnya.


Ada yang ingin Sena bicarakan pada sang papi, tapi terlihat ragu. Dan Justin terlalu peka untuk mengabaikan kejanggalan dari raut wajah gadis itu.


"Kamu kenapa?"


"Ada yang mau aku omongin sama papi."


"Ngomong aja."


.


Tidak ada yang berbeda dengan Sena maupun sang papi setelah obrolan panjang yang mereka diskusikan tadi malam. Pagi ini keduanya ikut sarapan seperti biasa.


Pak Handi yang merupakan security di rumah itu mendekat, meminta maaf karena sedikit mengganggu acara sarapan majikannya.


"Ada apa, Pak?" tanya Nena, saat menaruh gelas berisi air putih di hadapan suaminya. Berdiri di sebelah Sena yang juga ikut menoleh pada pekerja mereka.


"Keponakan saya, Askara. Mau mengundurkan diri katanya."


***


Author: Ini pendek cuman 1000 kata doang, minta maaf nggak ya?


Netizen: 😒😒 katanya repisi Ng udah kelar kok upnya masih lama si.


Author: iya maapin aku lagi nabung bab buat update karya baru di sebelah. Nanti bantu subscribe ya.


Netizen: Bakal tambah lelet dong updatenyaa.


Author: update kaya biasa insya Allah.


Netizen: Biasa lelet.


Author: ya udah biasa lah pokoknya 😂


Sena askara bakal kutulis gratis sampe tamat kok, nanti awal Januari bantuin aku yaaaaaaaa bantu sub doang kok.


__ADS_1



__ADS_2