Fake Bodyguard

Fake Bodyguard
24


__ADS_3

"Bergabunglah dengan perusahaan saya."


Ansel terkejut, tentu saja. Ditatapnya sang tuan dengan pandangan tidak percaya, kemudian kembali menunduk dan berpikir apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


Justin yang tampak menunggu kemudian mengangkat alis. "Bagaimana?" desaknya.


Ansel memilih diam saja dan terlihat semakin menunduk, tanpa diduga dia lalu berlutut di hadapan Justin. "Tawaran seperti itu sungguh sebuah kehormatan untuk saya, yang sebenarnya tidak pantas mendapatkannya. Jika boleh memilih, saya lebih baik dipenjara untuk menebus kesalahan saya," ucapnya.


Justin terkesan tentu saja. Kesetiaan pemuda itu pada keluarga, patut ia hargai setinggi-tingginya. "Bangunlah."


Ansel masih diam, rasanya begitu lancang saat dia berani menolak penawaran Justin yang tentu saja tidak sembarangan, sungguh dia tidak pantas melakukannya.


"Bangunlah," ulang Justin, dengan menepuk bahu pemuda yang berlutut di hadapannya.


Perlahan Ansel beranjak berdiri, mundur beberapa langkah untuk kembali ke tempatnya semula. "Sungguh saya minta maaf, Tuan," sesalnya.


Justin tampak mengangguk, pria itu sedikit tertawa. "Justru saya merasa aneh jika kamu tidak menolaknya," ucap pria itu.


Ansel terdiam, membiarkan saja pria paruh baya itu meneruskan kalimatnya.


"Kamu tidak harus menjawabnya sekarang, pikirkan saja dulu," ucap Justin seraya beranjak berdiri, setelah merapikan berkas-berkas di atas meja, dia lalu melangkah menghampiri Ansel yang masih menunduk di tempatnya. "Saya mengajak kamu bergabung ke perusahaan saya, bukan untuk membalas keluargamu. Saya hanya ingin mereka tahu tentang potensimu."


"Terimakasih, Tuan."


Justin tersenyum, lalu menepuk pundak pria di hadapannya sekilas. "Menetaplah dimana kau bisa dihargai. Ansel Bagaskar, Dwitama perlu nama itu untuk menjadi salahsatu pemimpin di perusahaannya. Percayalah."


Ansel mengangguk, pujian dari pria itu sungguh membuatnya tersenyum. Dia benar-benar merasa terharu.


"Pulanglah, titipkan salamku untuk Dwitama. Katakan padanya bahwa aku mengundang dia untuk bersantai lain waktu, kami perlu membicarakan bagaimana cara dia mendidikmu."


Ansel yang tidak berani mendongakkan kepala pun hanya bisa menggeleng. "Pujian itu terlalu berlebihan untuk saya, Tuan. Saya tidak pantas menerimanya."


"Kenapa?" tanya Justin pura-pura tidak mengerti, dia tentu tengah menggali tentang pemuda itu lebih dalam lagi. "Apa bahkan Dwitama juga tidak tau cara melakukannya?"


Berhadapan dengan Justin membuat Ansel lebih banyak diam. Dia takut salah menjawab semua pertanyaan yang ia duga adalah jebakan.


"Terkadang seseorang menjadi lebih kuat bukan karena didikan dari orangtua. Bisa karena keadaan, atau bahkan desakan." Justin menepuk pundak pria itu lagi kemudian melangkah pergi.


Ansel mengekorinya di belakang, saat sudah berada di luar ruangan, Ansel kembali berterimakasih atas kebaikan Justin, juga untuk tawaran yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Sekali lagi pria itu meminta maaf karena sudah lancang masuk ke wilayah kekuasaannya.


Justin berhenti melangkah di pintu penghubung ruangan selanjutnya, dia lalu berterimakasih juga. "Terimakasih karena kau sudah menjaga putri saya " ucapnya. Meski Ansel hanya berpura-pura, tapi pemuda itu sungguh-sungguh menjalankan tugas-tugasnya. Dan Justin tentu saja merasa bangga.


Ansel berpamitan kembali untuk pergi dari rumah ini, namun Justin berpesan lagi. "Katakan pada Handi, siapa kamu sebenarnya. Dia harus tau juga."


"Baik, Tuan." Ansel nyaris lupa bahwa Paman Handi adalah orang yang amat berjasa membawanya masuk ke rumah itu. Meskipun secara tidak sengaja.


"Nak Ansel?" Justin yang hendak melangkah pergi kemudian menoleh. "Jika nanti kita bertemu lagi jangan panggil saya tuan," ucapnya. "Putra Bagaskara memanggil saya Om."

__ADS_1


Ansel tertegun. Dari semua rekan sang papa, hanya Justin yang tahu dengan keberadaannya. Hanya pria itu yang menganggap dia bagian dari Bagaskara.


"Saya berbeda dengan mereka, Tuan."


Justin mengangkat alis. "Tidak apa menjadi berbeda. Jika mereka semua menertawakanmu karena kamu berbeda, maka kamu pun berhak tertawa saat mereka semua terlihat sama."


***


Menemui Justin selalu menumbuhkan semangat di hati Ansel, pria itu lalu kembali ke kamar untuk mengambil barang-barangnya. Siang tadi Ansel sudah berpamitan pada Sena, haruskah dia kembali menemuinya. Sepertinya tidak perlu, tapi entah kenapa dia ingin sekali melihatnya. Mungkin untuk yang terakhir.


"Kamu jangan ngaku-ngaku yah, keponakan saya ada di sini. Kamu mau menipu saya." Handi tampak mengomel di balik sambungan telepon yang ia tempelkan pada telinga. Dia berdiri di depan pintu kamar Ansel, ingin menemui pemuda itu saat ada yang mengaku sebagai keponakannya.


Ansel menduga, mungkin keponakan asli Paman Handi lah yang saat ini menghubunginya. Dia masih berdiri di belakang sang paman, pria berseragam security itu masih mengobrol, menanyakan siapa nama ibu dan adiknya jika memang benar dia keponakannya.


Dan saat Handi terlihat diam saja, Ansel tahu pria itu telah sadar siapa dirinya. Dia pun berbalik, terkejut saat mendapati Ansel sudah berdiri di hadapannya.


"Kamu?"


Ansel diam, bingung harus berkata apa. Dia pun hanya bisa meminta maaf selama ini telah menipunya.


"Jadi kamu bukan keponakanku?" Handi masih tidak terima, dia berharap Ansel akan menyangkalnya dan meyakinkan bahwa dia telah salah. Dan pemuda yang menghubunginya adalah seorang penipu.


Bagaimana dia harus menjelaskan pada sang Tuan tentang kecerobohannya. Bagaimana majikannya bisa memaafkan kebodohan dirinya.


"Jika kamu bukan keponakanku. Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu berbohong?" Handi mencengram kedua lengan Ansel, meminta penjelasan.


Belum sempat Ansel bersuara, Lilis yang membawa pesan dari tuannya sedikit kebingungan melihat mereka.


Mendengar itu raut wajah Handi terlihat pucat. "Apa saya akan dikelurkan? Apa saya akan mendapat hukuman?" tanyanya entah pada siapa. Lilis pun tidak mengerti dengan maksudnya.


"Tidak Paman, saya yang bersalah. Saya sudah menjelaskan semuanya pada Tuan Justin. Paman tidak bersalah, dia tidak marah pada paman."


"Benarkah begitu?"


Ansel mengangguk. "Maaf, Paman. Selama ini sudah membohongi paman. Terimakasih karena sudah menerima saya di sini."


"Sebenernya kamu itu siapa?" tanya Handi dengan tatapan bingung.


"Akang, ini ada apa sih. Siapa yang bohong?" Lilis yang juga tidak mengerti ikut bertanya.


Ansel sedikit mengulas senyum. "Saya pamit, Mbak Lilis, Paman Handi, terimakasih."


***


Sena tengah memainkan ponselnya, berbaring di atas kasur saat pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.


"Non Sena! ini Lilis."

__ADS_1


Sena berdecak, kemudian berteriak bahwa pintu tidak dikunci. Dia menyuruh asisten rumah tangganya itu untuk masuk.


"Non Sena, Non. Kenapa Kang Aska mau pergi? Emang nggak kerja lagi sama Non Sena. Kang Aska salah apa?" Dengan mendekati anak majikannya, Lilis bertanya, duduk di tepi ranjang Sang Nona yang begitu tak acuh menanggapinya.


"Dia udah mengundurkan diri," balas Sena dengan masih mengarahkan pandangannya ke layar ponsel. Entah memainkan apa, dia sudah tidak fokus karena aduan dari asistennya.


"Kenapa dikasih atuh, Non."


"Lah, emang gue punya hak apa?"


"Kan Non Sena majikannya."


"Ya terus kalo gue majikan, dia mau berenti kerja nggak gue bolehin?" Sena menatap Lilis dengan tatapan entah. Sepertinya dia juga kecewa dengan keputusan itu.


"Jadi Non Sena nggak bisa nyegah Kang Aska?" Lilis terlihat pasrah.


"Nggak bisa, Mbak Lilis."


"Yah, siapa dong jodoh Lilis Gumelis kalo Kang Askanya pergi." Perempuan itu tampak menangis, memainkan ujung kemeja dengan kedua tangan. Raut wajahnya terlihat bingung. "Padahal Kang Aska itu tipe Lilis tau Non."


"Yatapi mau gimana, tipe dia bukan lo."


"Non Sena kok ngomongnya gitu ih, bikin Lilis tambah sedih aja." Lilis terlihat tidak terima, namun sang nona cuek-cuek saja.


"Lilis mau liat Kang Aska lagi ah." Setelah mengutarakan kalimat itu, Lilis pun beranjak keluar dari kamar anak majikannya.


Sesaat Sena menghentikan gerakan tangannya yang terus menggulir layar ponsel, dia lalu meletakan benda itu di atas kasur, beranjak ke balkon dan berdiam di sana.


Dari tempatnya berdiri, Sena dapat melihat Ansel keluar gerbang. Mobil sport hitam tampak menunggunya di seberang jalan.


Sebelum masuk ke dalam mobil Ansel mendongak, pandangan mereka lalu bertemu. Tidak ada senyum, atau lambaian tangan seperti perpisahan pada umumnya. Dan saat Sena lebih dulu memutus pandangan mereka, Ansel sudah masuk ke dalam mobil saat gadis itu menolehkan kepala.


Mungkin Ansel tidak akan kembali, meski sang papi berkata tidak ada yang hilang di rumah ini. Nyatanya separuh hati gadis itu dibawa pergi.


***


Netizen: Papi Entin ngomong apa si thor 🥲🥲


Author: Gue juga nggangertii 🥲


Netizen: 😒😒😒


Btw gess aku udah rilis karya baru di K B M A P P ya, judulnya Titik Balik, nama penanya masih adeannisa, tolong kerjasamanya. Tegakah kalian gamau bantuin akuu 🥲🥲 like ini 1500 loh kalo kalian bantu mengikuti (subscribe) bukuku aku sangat berterimakasih. Janji bakal namatin Sena Ansel di sini kok.


Buat yang udah ikut makasih banyak yaaa.


Yang nggak bisa donload aplikasinya, bisa klik bio aku di instagram yaa adeannisa66 atau dm ke aku juga boleh.

__ADS_1




__ADS_2